“Kebenaran” Menurut Psikologi Sufi dan Neuro Sains

Ini benar-benar dua hal yang berbeda: psikologi sufi (sufisme) dan neuro sains. Yang pertama tentang dimensi immaterial pada diri manusia, spiritualismenya, dan kedua tentang dimensi yang cukup material, otak manusia.

Masuk dalam daftar bacaanku bulan ini adalah Psikologi Sufi untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh karya Robert Frager, Ph. D atau Syekh Ragip al-Jerrahi (Zaman, 2014; judul asli Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony) dan Born to Believe: Gen Iman dalam Otak karya Andrew Newberg dan Mark Waldman (Mizan, 2013; judul asli Born to Believe: God, Science, and the Origin of Ordinary and Extraordinary Beliefs).

Membaca di saat-saat begini bagiku sesungguhnya pilihan yang berisiko. Aku sudah hampir tiga bulan tidak membuat kemajuan berarti untuk tesisku! Ada banyak sekali hal-hal yang mengalihkan perhatian, mulai dari sebulan kursus stir mobil, berminggu-minggu berusaha lulus ujian SIM A dan masih gagal sampai hari ini, dan sakit. Seharusnya aku segera bergegas kembali pada tesis, tapi apa boleh buat. Aku gagal menahan keinginan membaca. Aku berharap, semoga semua ini bermanfaat, tak ada yang tersia-sia atau merugikanku.

Setelah menulis ini, setelah hati ini lega, plong, menceritakan semua hasil membaca, aku akan dengan semangat mengerjakan tesisūüėÄ Alhamdulillah, hari-hari ini begitu menyenangkan…

Membaca buku ini membuatku banyak melihat ke belakang, pada saat aku memilih untuk menjadi mahasiswa psikologi. Setelah aku ingat-ingat betul, keputusan itu sesungguhnya bukan karena ibuku yang merasa anaknya cocok belajar psikologi, melainkan karena diriku sendiri yang jatuh cinta pada belajar tentang manusia. Ada hasrat untuk memahami apa itu manusia, dan itu pun berarti hasrat memahami diri sendiri yang merupakan manusia.

Sufisme atau tasawuf dan neuro sains adalah dua hal pertama yang membuatku memasuki psikologi. Termasuk buku-buku psikologi pertama yang kubaca di masa SMA adalah tentang kisah-kisah sufistik dan¬†non-fiksi¬†populer tentang otak manusia. Termasuk cita-cita masa remajaku adalah menjadi seorang neurolog, ahli otak. Aku selalu penasaran sekali tentang otak manusia. Ingat dulu di masa kecil aku pernah bertanya pada teman, “Menurutmu, organ tubuh mana yang paling penting bagi manusia?” Dia jawab jantung, aku jawab otak.

Aspirasi pada sufisme dan nauro sains pupus di bangku kuliah. Dua hal tersebut tidak populer di kampus yang hanya mengajarkan bidang-bidang psikologi yang umum-umum saja. Keduanya termasuk topik pengayaan yang sebaiknya kau gali sendiri jika kau ingin tahu. Aku sempat ditawari untuk bermain ke Fakultas Kedokteran oleh Bu Hartati Kartawa, dosen Psikologi Faal, setelah mengutarakan kepada beliau bahwa aku suka neuro sains. Tapi, berpikir realistis… itu agak tidak mudah untuk menekuni topik yang tidak umum di kampus. Akhirnya aku lupakan saja baik tawaran itu maupun keingintahuanku pada neuro sains. Mengenai sufisme, aku tidak tahu betul itu sampai akhirnya aku purna tugas dari kelompok studi pengembangan psikologi Islami di kampus dan punya banyak waktu untuk melakukan eksplorasi sendiri tentang topik-topik dalam psikologi Islami. Itu sangat terlambat… tapi memang buku-buku bagus tentang sufisme pun baru muncul di tahun-tahun belakangan ini.

Apa yang membuat dua buku kali ini menarik dan penting?

Ada kebaruan wawasan yang ditawarkan keduanya. Itulah yang akan kuceritakan di sini.ūüôā

***

1# Psikologi sufi

Sufism

Ini adalah buku kedua dari Syekh Ragip Frager yang aku punya. Sebelumnya pernah aku mengulas tentang buku Orolan Sufi. Jika diminta memilih, sesungguhnya aku lebih menikmati membaca Obrolan Sufi karena gaya bahasa penulisannya yang ringan dan mengalir. Tetapi mengenai kepadatan dan kelengkapan materi jika kita ingin mengetahui apa itu psikologi sufi, maka buku Psikologi Sufi lebih enak dibaca. Hanya saja karena mirip buku teks, aku pribadi merasakan isinya jadi kurang menyentuh. Tapi itu bukan masalah.

Psikologi sufi adalah khazanah “baru” dalam bidang psikologi transpersonal, dan dapat diklaim merupakan bagian dari psikologi Islam. Ia berangkat dari satu premis yang benar-benar berbeda dari psikologi Barat, yaitu bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk spiritual yang berusaha hidup sebaik-baiknya meskipun dengan tubuhnya yang material di dunia ini. “… kita bukanlah makhluk duniawi yang mencari spiritualitas; kita adalah makhluk spiritual yang berusaha menemukan diri kita yang sejati.” (h. 87)

Keyakinan ini lantas memberikan sejumlah perbedaan mendasar antara psikologi sufi, psikologi yang Islami, dan psikologi Barat.

Pertama. Dalam teori psikologi Barat, manusia didominasi oleh keterbatasan dan kelemahan kepribadiannya dan kecenderungan spiritualnya sangat kecil dan minim. Psikologi sufi adalah psikologi spiritual yang sangat dalam karena menaruh fokusnya pada hati manusia. Ia bukan mengabaikan kecenderungan negatif kepribadian manusia, melainkan menempatkannya pada tempatnya, bukan sebagai sesuatu yang mendominasi dan menyingkirkan spiritualitas. Kecenderungan yang negatif hanya akan mendominasi jika manusia berpihak pada kecenderungan itu dan mengikutinya.

Kedua. Dalam psikologi Barat, diyakini bahwa alam semesta ini secara keseluruhan bersifat materi, tanpa makna dan tujuan. Psikologi sufi berpandangan bahwa alam semesta ini diciptakan berdasarkan kehendak Tuhan dan mencerminkan keberadaan Tuhan. Alam semesta ini lantas menjadi tempat bagi manusia untuk mencari Tuhan dan itulah tujuan diciptakannya manusia. Manusia terbaik menurut keyakinan ini adalah yang mampu “menjumpai” Tuhan.

Ketiga. Dalam psikologi Barat, diasumsikan bahwa manusia tidak lebih dari tubuh, dan pikirannya berkembang dari sistem saraf tubuhnya. Psikologi sufi adalah sebaliknya, bahwa elemen terpenting dalam kemanusiaan adalah hati spiritual, tempat tumbuhnya intuisi batiniah, pemahaman, dan kearifan. Manusia lebih dari sekedar tubuh dan pikiran. Manusia adalah perwujudan ruh Ilahi.

Keempat. Dalam psikologi Barat, penggambaran sifat manusia terpusat perhatiannya pada keterbatasan manusia dan tendensi-tendesi neurotis (psikologi klinis), atau pada kebaikan lahiriah dan sifat positif dasarnya (psikologi humanistik). Menurut psikologi sufi, manusia berkedudukan ibaratnya di antara malaikat dan hewan. Manusia memiliki kedua kecenderungan tersebut. Ia berpotensi untuk melebihi malaikat atau jatuh lebih rendah dari hewan. Mengatasi kecenderungan hewani yang negatif menuju kecenderungan yang positif adalah perjuangan batiniah.

Kelima. Menurut psikologi Barat, puncak kesadaran manusia adalah kesadaran rasional, tetapi psikologi sufi menunjukkan bahwa bagi kebanyakan manusia, kesadaran rasional merupakan kondisi “tidur dalam sadar” lantaran banyak manusia yang terbiasa lalai dan tidak peka terhadap diri maupun dunianya. Manusia memiliki kesadaran lain dan tertinggi, yaitu kesadaran spiritual yang mana dengannya manusia menjadi senantiasa ingat pada Tuhan, bersahaja, dan khusyuk.

Keenam. Menurut psikologi Barat, hal penting dalam diri manusia adalah harga diri dan perasaan kuat akan jati diri ego atau ke-aku-an. Hilangnya harga diri dan ego adalah penyakit. Tetapi, dalam psikologi sufi, perasaan tersebut (ego yang mementingkan diri sendiri) justru adalah yang mengacaukan kenyataan dan menghalangi manusia untuk mengetahui sifat ketuhanan dalam dirinya. Tujuan sesungguhnya manusia adalah mentransformasikan ego dan menghilangkan perasaan identitas yang terpisah dari Tuhan untuk selanjutnya membangun ego yang positif, yaitu ego yang tunduk pada Kehendak dan Aturan Ilahi.

Ketujuh. Psikologi Barat mengasumsikan bahwa kepribadian adalah struktur yang relatif utuh, sementara itu psikologi sufi memandang manusia terdiri atas kumpulan dari bermacam-macam sifat dan kecenderungan. Kesatuan kepribadian adalah ilusi, lantaran banyak dari manusia yang tidak seiya sekata antara pikiran dan perbuatannya. Kesatuan yang sejati antara sisi batin dan lahir adalah hal yang langka dan itulah yang ingin diwujudkan dalam psikologi sufi.

Kedelapan. Psikologi Barat menempatkan nalar logika sebagai puncak keahlian manusa dan jalan untuk memperoleh pengetahuan dan kearifan. Dalam psikologi sufi, kecerdasan macam itu adalah kecerdasan tingkat rendah. Ia sangat berguna hanya untuk kepentingan dan kesuksesan duniawi. Ada kecerdasan yang lebih tinggi yang memungkinkan manusia memahami kebenaran spiritual dan makna kehidupan yang bersumber dari hati manusia.

Kesembilan. Psikologi Barat meyakini bahwa hampir seluruh pengetahuan penting hanya dapat disampaikan melalui kalimat-kalimat rasional dan tertata logis. Psikologi sufi memahami bahwa kalimat tertulis memiliki keterbatasan karena kondisi perkembangan spiritual tertinggi melampaui penjelasan rasional. Satu cara komunikasi yang mengungkapkan perkembangan spiritual yang dikenal di tradisi sufi adalah puisi. Puisi-puisi para sufi besar dipandang menyimpan kebenaran spiritual.

Kesepuluh. Bagi psikologi Barat, iman berarti meyakini sesuatu yang tidak nyata atau sebuah ide yang tidak memiliki bukti kuat. Bagi psikologi sufi, iman berarti meyakini kebenaran yang berada di balik beragam penampakan benda material. Iman menempatkan seseorang ke dalam hubungan yang benar dengan alam semesta dan Tuhan. Tanpa keimanan, pemahaman apa pun terhadap diri kita maupun alam semesta akan terdistorsi, karena kita memutuskan diri dari satu-satunya sudut pandang yang membawa kita pada pemahaman yang benar.

Apa yang hendak dibangun lewat psikologi sufi bukanlah sekedar kecerdasan dan ketajaman pikiran, melainkan kearifan, kebijaksanaan. “Kearifan sejati adalah mempelajari sesuatu dengan baik, kemudian menerapkannya.” (h. 51). Sekedar mengetahui sesuatu hanya membentuk pengetahuan yang sifatnya lahiriah, tetapi menerapkannya dan mengalami apa yang terjadi setelah menerapkannya adalah sumber pengetahuan batiniah yang mana dengan itu kita bisa menangkap realita secara lebih baik.

Kebijaksanaan terbentuk bukan tanpa syarat. Ada hati yang harus dibuka terlebih dahulu. Hati yang dimaksud di sini bukanlah hati dalam artian fisik (jantung), melainkan hati spiritual batiniah kita yang merupakan sumber cahaya batin, inspirasi, kreativitas, dan rasa kasih sayang. Karena itulah pengelolaan hati menjadi bagian penting dalam praktik sufi.

“Qalbu jasmani (jantung) mengatur fisik; qalbu ruhani (hati) mengatur psikis. … hati memelihara ruh dengan memancarkan kearifan dan cahaya, dan ia juga menyucikan kepribadian dari sifat-sifat buruk. Hati memiliki satu wajah yang menghadap ke dunia spiritual, dan satu wajah lagi menghadap ke dunia diri rendah (nafs) dan sifat-sifat buruk kita. … Jika hati ruhani kita terjangkiti sifat-sifat buruk dari nafs, maka kita akan sakit secara spiritual. Jika hati tersebut sepenuhnya didominasi nafs, maka kehidupan spiritual akan mati.” (h. 60)

Dalam psikologi sufi, nafs dikenali sebagai apa yang dikenali psikologi Barat sebagai ego, self, diri. Ego punya kecenderungan pada kenikmatan duniawi dan menjauhi kesengsaraan. Inilah kecenderungan yang dapat membuat manusia memiliki sifat-sifat buruk dan berperilaku jahat. Ego dapat menjadi tirani bagi manusia ketika manusia menggunakan segala potensinya justru untuk melayani kemauan ego.

Ego ini dapat disadari keberadaannya dan lalu dikendalikan, dikembalikan ke jalan yang benar. Ego dapat diketahui lewat keberadaan suara dalam diri kita. Misal, kita pernah mengalami peristiwa menyontek ketika di bangku sekolah. Jika hati kita tergoda ingin melakukan itu, tetapi juga merasa berat karena sadar itu perbuatan dosa, rasa berat itu adalah bentuk pemberontakan ego terhadap perintah Tuhan untuk harus bertindak jujur. Ego tidak suka itu, ia ingin keinginannya terwujud. Ada kalanya karena terbiasa rasa berat itu hilang. Itulah tanda kemenangan ego menjajah kita. Namun, ada pula orang berhasil menolak godaan tersebut dan hatinya menjadi lega dan tenang. Ego dapat dikenal dari gejolak-gejolak dalam diri kita, pertarungan-pertarungan internal, tarik-menarik antara yang benar dan yang salah.

Psikologi sufi sejauh ini telah berhasil meneorikan tingkatan-tingkatan hati dan nafs manusia, beserta praktik-praktik yang bermanfaat untuk membersihkan hati dari nafsu-nafsu yang rendah dan meningkatkannya secara spiritual. Praktik-praktik tersebut di antaranya dzikir, meditasi, ibadah, dan segala macam perilaku sosial yang penuh kasih sayang.

Bagi sebagian orang, mungkin muncul pertanyaan apakah kaitan sufisme dengan asketisme atau kezahidan. Sejauh pemahamanku, psikologi sufi ini memiliki menganut prinsip yang seimbang sebagaimana digariskan dalam agama, bahwa manusia hendaknya menjadikan dunia sebagai kendaraan untuk menuju akhirat. Ambil dan nikmati sebagian yang dibutuhkan dari dunia, bukan melupakan atau mengabaikannya. Tangan manusia boleh bekerja dan hatinya senantiasa mengingat Allah. Justru melupakan atau mengabaikan dunia dapat menjadi pisau yang berbalik menikam diri sendiri karena itu termasuk sikap berlebih-lebihan. Apa yang berlebih di satu sisi akan mengurangi di sisi yang lain. Mungkin secara lahiriah ia tampak tak punya apa-apa, tetapi hatinya dipenuhi kesombongan merasa diri lebih baik dalam hal kezahidan. Hiduplah sewajarnya, bekerja seperti biasa, dan patuhi perintah Allah. Itu dia mutiara psikologi sufi.

***

2# Mencari Tuhan dalam otak kita

Neuroscience

“… jika saya berharap untuk mengerti penyebab orang-orang yakin dengan hal-hal yang mereka percayai, saya harus menelaah bagian dari diri kita yang melakukan tindakan percaya ini -pikiran manusia- karena apapun yang kita lihat, pikirkan, atau lakukan, semuanya harus diproses di otak.” (h. 41)

“Bagi mereka yang mempelajari sifat-sejati kesadaran manusia, keyakinan agaknya seperti cantrik sihir yang selalu memainkan tipuan dengan pikiran kita. Namun, keyakinan adalah komoditas manusiawi kita yang terpenting. Berkat keyakinan, kita mampu membangun peradaban, membuat revolusi, menciptakan musik dan seni, serta menentukan hubungan kita dengan kosmos. Keyakinan membuat kita jatuh cinta, tetapi juga mendorong kita ke dalam kebencian. Itulah sebabnya, kita sangat perlu memahami cara kerjanya. Kita semua punya keyakinan, kita semua membutuhkannya, dan ia akan menentukan nasib kemanusiaan.” (h. 56)

Buku kedua tampaknya tidak berkaitan dengan buku yang pertama, tetapi sesungguhnya tidak begitu. Buku kedua justru seperti “laporan penelitian” tentang pengalaman spiritual, pengalaman doa, bagaimana spiritualitas, keimanan, kepercayaan, dan keyakinan manusia yang tercermin dalam perilaku¬†otaknya. Sangat menarik karena bobot psikologinya yang besar, dan terutama seakan-akan ia menjadi justifikasi bagi psikologi sufi. Memang ada sesuatu yang berbeda dalam otak orang-orang yang menumbuhkan jiwa spiritual mereka.

Sebelum masuk pada cerita tentang isi buku ini, aku ingin menulis sedikit latar belakang mengapa buku ini sampai bisa ditulis. Bagiku, ini sangat inspirasional karena sangat menyentuh diri sang penulis, peneliti sejati yang berusaha menemukan “kebenaran”, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasarnya tentang misteri kehidupan yang sudah ada dalam benaknya sejak ia anak-anak: Bagaimana kita mengetahui sesuatu itu nyata? Benar?

Ya. Bagaimana? Itu pun menjadi pertanyaanku sebagai orang yang belajar. Semakin kau belajar, kau akan semakin tahu betapa banyak pendapat manusia berseliweran dan berkelindan di dunia ini. Semakin kau bergaul dengan pendapat-pendapat itu, kau akan tahu betapa pribadinya pendapat-pendapat itu. Betapa berbeda-bedanya. Maka, yang mana yang benar? Yang mana yang senyatanya benar? Sebagian adalah khayalan, sebagian ilusi, sebagian omong kosong, sebagian hanya komentar, sebagian berdasarkan penyelidikan, tetapi bahkan penyelidikan yang paling hati-hati pun tak luput dari keterbatasan dan kekhilafan. Jadi, yang mana yang harus dipercayai?

Kita tidak mampu menemukan secara akurat pengetahuan mana yang harus dipercayai, mencerminkan betapa Kebenaran yang mutlak tidak pernah terjangkau bagi manusia. Ketidakpastian adalah makanan sehari-hari kita yang mana itu menjadi tantangan terbesar bagi kebahagiaan dan kedamaian hidup kita. Jadi, apa yang harus dilakukan?

Jawabannya sederhana ternyata: percaya. Ambil satu hal dan milikilah keyakinan terhadap satu hal itu dengan senantiasa bersiap-siap untuk mengubah atau memperbaikinya sepanjang hidupmu, ketika diperlukan. Tanpa kepercayaan, tanpa keyakinan, tanpa keimanan, kita semua akan menjadi orang-orang yang kebingungan, orang yang senantiasa abu-abu, tak tahu harus berbuat apa.

Kehidupan membuktikan bahwa saran itu cukup benar. Kebahagiaan dan kedamaian tak membutuhkan kebenaran mutlak sebagai syarat utamanya.¬†“Kita tidak perlu memahami kebenaran mutlak untuk bertahan hidup. Kita bisa menghargai misteri alam semesta… Kita bisa belajar untuk mempercayai intuisi kita, untuk percaya dengan dorongan biologis dan bahkan spiritual kita.” (h. 94). Ya, tak perlu kepastian 100% bahwa besok kita¬†masih bisa makan, cukup kepercayaan bahwa besok tetap ada rezeki untuk kita, maka kita dapat tidur nyenyak malam ini.

Bagaimana manusia bisa menjadi makhluk yang “mudah” percaya. Proses bio-psikologisnya sederhana: otak manusia “terprogram”, dilengkapi dengan kecondongan alami, untuk percaya dan kita secara alamiah beranggapan bahwa apa yang dikatakan kepada kita adalah benar. Begitu rangkaian keyakinan pertama terbentuk, otak kita susah menerima gagasan dan keyakinan yang berlawanan, meskipun syaraf kita tidak menutup kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan dalam sistem kepercayaan kita lewat mekanisme penguatan sirkuit-sirkuit saraf baru.

Walaupun kita dirancang (oleh Tuhan) untuk memiliki keyakinan, semua keyakinan memiliki keterbatasan dan masing-masing mengandung asumsi dan ketidaktepatan berkenaan dengan sifat sejati dunia. Di satu sisi ini menegaskan Kemahakuasaan Tuhan yang mengetahui segala yang lahir dan yang tersembunyi, di sisi lain ini menjadi pendorong untuk selalu belajar dan menemukan makna dan kebenaran, membuka pikiran, dan mengubah pola pikir yang tidak relevan lagi, serta berendah hati bahwa sebenarnya kita ini tidak tahu apa-apa. Kita hanya menduga kemungkinan sesuatu itu benar dan pengetahuan terbaik hanya berperan memperbesar kemungkinan semakin mendekati yang benar, bukan yang Benar itu sendiri.

Dari memahami itu, aku jadi berpikir begini. Konsekuensi dari proses di atas adalah sepanjang hidup kita akan berganti-ganti keyakinan. Kita melepaskan keyakinan lama dan memeluk keyakinan yang baru, senantiasa seperti itu. Kita petualang keyakinan dan mencari-cari keyakinan mana yang pas bagi kehidupan kita, yang akan menjaga kita dan memelihara hidup kita.

Persoalan kita adalah, menurutku, yang menyelamatkan kita bukanlah sekedar berkeyakinan, sekedar punya kepercayaan, tetapi mempercayai keyakinan yang benar. Dengan kemampuan kita sendiri kita manusia tidak akan tahu keyakinan mana yang benar untuk diimani dan dijadikan pegangan. Dari sinilah aku mengerti, di antara manusia tidak ada yang bisa memberikan kepastian mana yang benar itu. Hanya Tuhan, dan itulah fungsi terbesar dari kitab suci Al Qur’an sebagai bukti yang nyata. Allah sendiri yang berkata dan menjamin, “Inilah Kebenaran”. Kita punya bukti tertulisnya dan itu menjadi pegangan untuk sampai ke negeri akhirat, karena kita percaya dunia lain itu ada setelah kehidupan di dunia ini.

Masalahnya sekarang hanya satu: percaya pada Tuhan atau tidak. Mereka yang menjawab tidak mungkin adalah yang meragukan bahwa Tuhan itu ada. Karena itu, ada baiknya orang-orang tersebut merenungkan Taruhan Pascal (1623-1662) (Pascal’s Wager) dalam upayanya memutuskan untuk percaya atau tidak percaya pada Tuhan dengan menggunakan argumen kausal: Jika Anda percaya akan Tuhan, dan ternyata Tuhan memang ada, Anda selamat. Jika Anda percaya Tuhan dan ternyata Tuhan tidak ada, Anda juga aman. Tetapi, kalau Anda tidak percaya Tuhan itu ada, dan ternyata Tuhan memang ada, maka Anda mungkin akan merugi, di neraka selama-lamanya.

Secara logika, nasib lebih berpihak kepada Anda jika Anda percaya!

One thought on ““Kebenaran” Menurut Psikologi Sufi dan Neuro Sains

  1. tina, tolong confirm fb ane, kamu dulu pernah delete fb ane. ada status tina yg dulu buat sumber makalah ane. oiy,sedikit aneh sebenarnya seorang mahasiswi cerdas dan berpendidikan tinggi tp nutupi facebooknya dari seolain tmn fb..

    please y, ane mau buat makalah yg bahannya ad komentar ane di fb tina..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s