Diary Tesis Bag. 6: Memo Penting tentang Antimaterialisme

Tidak mudah melewati tiga bulan terakhir, dari Januari sampai Maret ini. Setelah revisi Bab 1-3 selesai dan aku diizinkan turun untuk penelitian, ada banyak peristiwa yang terjadi dan mengubah hampir seluruh rencanaku. Awalnya direncanakan dan seharusnya memang aku mulai ambil data sejak Februari awal. Rencanaku cukup liburan semester dua minggu saja. Eh, tahunya bablas sampai akhir Februari. Pada awal Maret rasanya sudah panas dingin, sadar betapa banyaknya hari berlalu tanpa tesis. Ada banyak yang dikerjakan sebetulnya, tapi rasanya menyesal juga ambil data tidak termasuk di situ.

Menyelesaikan perizinan di fakultas habis satu bulan. Karena aku harus bolak-balik untuk memperbaiki surat izin yang kurang lengkap, bolak-balik juga Semarang-Yogyakarta. Ada acara membantu penelitian dosen (I do like this one😀 ) Ada acara latihan setir mobil, itu juga habis satu bulan selama liburan di rumah (I like this one too…). Ada acara ke Malang untuk ikut seminar nasional dan presentasi makalah. Ada acara sakit sekitar tiga minggu, yang bikin diri cuma enak tiduran saja (Aah…😦 ), tidak enak makan dan bergerak, hari-hari kuhabiskan untuk membaca saja. Pada akhirnya aku kembali ke Yogyakarta untuk memulai semester baru, rasanya ingin meledak. Harus segera bekerja. Aku harus segera bekerja!

Ditambah dua orang temanku sudah berhasil lulus… Tambah saja rasanya. Aku melihat lagi perencanaanku dan membuat perubahan berarti. Selama ini aku selalu berpikiran bahwa penelitian kualitatif itu lama, sampai-sampai aku mengalokasikan waktu satu setengah tahun untuk tesis saja. Aku harus mengubah itu, akhirnya aku targetkan ambil data dan analisisnya harus selesai Mei 2015 nanti. Juni 2015 waktunya seminar hasil dan Juli 2015 adalah sidang tesis. Insya Allah Oktober 2015 akan wisuda🙂 Amiin, ya Rabb. Siapa pun yang membaca ini, doakan saya ya,😀

Pada awal Maret 2015 aku bisa ambil data. Perjalanku juga tidak mulus. Kali pertama, menemui subjek pertama, aku merasa gagal. Hasil wawancara tidak memuaskan dan masalahnya jelas, dan berbahaya bagi kelangsungan tesisku: aku tidak tahu apa yang aku mau. Aku cuma tahu aku ingin mengeksplorasi tentang ini dan akhirnya akan membuat teori/ penjelasan tentangnya. Tapi untuk sampai ke tujuan itu, entah kenapa aku merasa tersesat. Akhirnya aku menemui subjekku dengan pedoman wawancara yang bersifat uji coba. Benar saja, error.

Aku memutuskan mengubah strategi. Aku harus cari cara bagaimana agar proses wawancaraku tepat sasaran dan aku tidak kesulitan mencari subjek sejumlah 20 orang. Malam itu juga, sampai tengah malam, aku menyusun sebuah kuesioner dan kukirimkan kepada sekitar 50-60 orang mahasiswa yang alamat emailnya kuketahui dari studi awal Oktober 2014 lalu. Tiga minggu akan berlalu dan alhamdulillah sampai hari ini sudah dapat 15 orang mahasiswa yang insya Allah siap diwawancara. Respon-respon mereka di kuesioner sangat membantu karena aku jadi punya gambaran awal seperti apa kehidupan mereka. Sampai hari ini sudah mewawancarai tujuh orang dan aku sangat bersyukur, cerita-cerita mereka sangat inspirasional.🙂

Di tulisan kali ini aku ingin berbagi inspirasi. Ini sebuah pemikiran awal, kesan dan kesadaran yang aku dapat dari merenungkan pengalaman-pengalaman mereka. Rasanya sekarang adalah ingin cepat-cepat menyelesaikan transkrip verbatin semua rekaman wawancara dan masuk analisis data. Aku suka cerita-cerita mereka dan ingin agar orang lain, teman-teman, ikut terinspirasi. Aku ingin bisa segera menemui dosen pembimbingku dan cerita kepada beliau, “Wah Bu, saya senang dengan penelitian saya!”

***

Aku agak tertegun ketika seorang subjekku berkata bahwa kehidupan yang tidak materialistis, yang sederhana, tidak berlebih-lebihan, tidak bermewah-mewah, tidak suka belanja, fokus pada kebutuhan bukan memuaskan keinginan, hidup sekedar untuk cukup, tidak menilai kemuliaan orang dari harta benda, tetap mencari uang tapi itu untuk dibagikan kepada sesama, ingin jadi kaya agar jadi orang yang berguna bisa menolong sesama, sesungguhnya adalah cara hidup yang normal. Normal. Mungkin karena aku terlalu banyak teori dan cenderung pukul rata hasil studi bahwa manusia zaman modern ini cenderung konsumtif, hedonis, dan materialistis, aku berasumsi bahwa orang-orang yang tidak materialistis adalah makhluk langka. Itu tidak benar.

Apakah seseorang materialistis atau tidak, tidak dapat dilihat dari penampilan luar. Kita harus melakukan analisis psikologis untuk mengetahui isi hati dan pikiran mereka. Aspirasi finansial yang menjadi ciri utama materialisme dalam suatu teori pun tidak dapat dijadikan pegangan untuk membuat penilaian tersebut. Aspirasi finansial adalah lower-order goal, sementara di atasnya, yaitu yang berusaha dicapai dengan dimilikinya uang, ada banyak sekali. Aku mencatat bahwa aspirasi higher-order yang paling penting adalah keinginan bermanfaat bagi sesama (sense of community), yang dengan itu aspirasi yang lebih tinggi lagi diharapkan akan tercapai: kebahagiaan. Inilah yang paling memotivasi sikap hidup tidak materialistis.

Perjalanan hampir seluruh subjekku untuk sampai pada kesadaran antimaterialistis tersebut panjang dan tidak mudah. Mereka semua berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada yang orang Jawa asli dan tinggal di Yogyakarta, ada yang perantau dari luar kota bahkan luar pulau. Ada yang berasal dari keluarga kaya, ada pula yang menengah ke bawah. Ada yang berasal dari keluarga pekerja, ada yang dari keluarga priyayi. Ada yang tinggal bersama orangtuanya, ada yang berpisah dari orangtuanya.

Aku mendapati bahwa kesukaan pada hal-hal yang material, seperti barang bagus, mahal, dan bermerek, adalah kecenderungan alami dari manusia. Beberapa subjek bercerita sampai jauh ke masa lalu mereka, ke masa kanak-kanak mereka, di mana pada masa itu mereka sudah kenal perasaan iri ketika melihat teman-teman mereka punya barang bagus. Mereka merengek pada orangtua, ingin ini dan ingin itu. Tapi, yang sangat menarik adalah bahwa mereka punya orang tua yang mampu “menjelaskan”, entah lewat nasihat, tukar pikiran, maupun contoh teladan, mengapa bukan itu jalan hidup mereka. Butuh bertahun-tahun kebanyakan sampai lewat masa remaja sampai mereka mampu mengubah skema kognitif mereka tentang nilai harta benda, nilai uang, bagi kehidupan mereka. Dari yang awalnya emosional, mereka berubah menjadi rasional dalam menilai, tidak hanya mendudukkan fungsi harta benda dan uang pada tempatnya, tetapi juga memahami hakikatnya bahwa dimilikinya harta benda dan uang bukan masalah utamanya, tetapi bagaimana diri mampu memanfaatkannya. Kusimpulkan, antimaterialisme itu kecenderungan yang dipelajari dan agen terpenting dalam proses belajar ini adalah keluarga, terutama orangtua.

Di sinilah titik yang menantang. Tidak mudah mengubah sikap hidup dari materialistis ke antimaterialistis. Kita tahu bahwa harta benda memainkan banyak fungsi simbolis dalam kehidupan ini. Ia menandakan status sosial, baik buruk dan derajat orang di tengah masyarakat, memberikan kesenangan hidup, menjaga lingkaran sosial kita tetap utuh, memberikan ketenangan batin bagi sejumlah kecemasan dan ketakutan akan kemiskinan, menjadi tujuan pelampiasan lantaran aneka masalah psikologis… Dan itulah yang dialami oleh orang-orang. Ada perjuangan mengatasi rasa rendah diri dan inferior karena tidak punya, rasa takut tidak punya teman, rasa takut dilecehkan, rasa takut miskin dan tidak punya apa-apa, rasa takut tidak bisa hidup, rasa takut tidak bisa sama.

Ada hal-hal yang membuat mereka berani, yang membuat mereka mengalihkan kecondongan mereka. Yang membuat mereka menyadari bahwa tanpa barang-barang itu, diri mereka tetap baik-baik saja. Tanpa kekayaan hidup akan tetap baik-baik saja karena yang sebenarnya dibutuhkan hanya sekedar mencukupkan kebutuhan. Sumber daya mereka kemudian mereka alihkan untuk mengejar hal-hal lain yang menurut mereka lebih bernilai: belajar, aktualisasi diri, berbakti pada orangtua, menolong sesama. Aspirasi macam mencari pekerjaan, mencapai sukses finansial, kemudian ada di belakang hal-hal ini.

Dan apa saja faktor yang mencegah diri mereka dari membiarkan materialisme berkembang dalam diri mereka:

1# Terterbatasan Ekonomi

Ada dampak penting dari kecenderungan anak di Indonesia yang masih lekat dan tergantung pada orangtua mereka bahkan sampai mereka melewati usia 17 tahun. Ini kondisi yang berbeda sekali dari yang terjadi di Eropa atau Amerika Serikat di mana anak usia 17 tahun dituntut oleh sosialnya untuk mandiri. Banyak mahasiswa yang masih bergantung pada orangtua mereka secara ekonomi dan belum bekerja sehingga karena itulah kekuatan ekonomi mereka terbatas. Uang saku yang diberikan oleh orangtua tidaklah berlimpah sehingga mau tidak mau mereka harus belajar mengelola keuangan. Salah satu pengaruhnya adalah mereka belajar untuk bersikap rasional dalam menggunakan uang dengan memprioritaskan kebutuhan di atas keinginan dan mengendalikan diri ketika memiliki keinginan atas barang-barang yang kurang kepentingannya. Keterbatasan ini secara tidak langsung membentuk gaya hidup menjadi sederhana, terbiasa untuk hidup secukupnya, dan tidak punya banyak keinginan akan barang.

2# Perasaan terhadap Orangtua

Karena masih tergantung secara ekonomi pada orangtua, kesadaran akan kedewasaan bahwa diri seharusnya sudah mandiri menimbulkan rasa bersalah, rasa tidak ingin merepotkan orangtua, dan rasa ingin meringankan beban orangtua. Ini membuat mahasiswa sungkan meminta uang saku lebih banyak, dan bahkan mulai berusaha untuk mencari penghasilan sendiri. Ada sikap tahu diri, mempertimbangkan kebutuhan dan keadaan orangtua dan saudara-sadara. Ada sikap mengalah. Ada rasa prihatin terhadap kesusahan orangtua yang sudah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka.

3# Lingkungan Pertemanan

Mahasiswa yang tidak materialistis cenderung tidak menyetujui gaya hidup yang materialistis di kalangan anak muda, seperti suka makan makanan mahal, pergi ke mall, gonta-ganti gadget, dan berpenampilan mengikuti mode. Mereka tidak menutup pergaulan pada siapa saja, dan tidak mempermasalahkan rekan mereka yang gaya hidupnya tinggi asal tidak merugikan orang, tetapi mereka memilih untuk diri mereka teman-teman yang sejalan dan sepemikiran dengan mereka.

4# Agama

Agama memiliki peran yang sangat besar sebagai pedoman berperilaku mahasiswa. Beberapa mahasiswa mengutip ayat-ayat kitab suci atau ajaran agama mereka ketika menjelaskan mengapa mereka tidak menjalani kehidupan yang materialistis, seperti tidak boros, tidak bermewah-mewah, tidak menghambur-hamburkan uang, hidup dengan penuh syukur, dan mengutamakan kecukupan, bukan keberlimpahan. Ajaran agama disosialisasikan lewat orangtua kepada anak, lewat diskusi antara ayah/ ibu dengan anak, atau lewat keteladanan. Ada cerita di mana salah seorang subjek jadi suka bersedekah karena melihat ibunya suka bersedekah.

***

Saya bersiap mendengarkan lebih banyak lagi cerita. Membuat memo seperti ini sangat penting. Ini buah pikiran yang tidak boleh hilang karena mungkin akan bermanfaat dalam tesis nanti. Meski begitu, dalam hati juga aku bertanya-tanya, apakah seperti ini memoing yang dikehendaki metode penelitian grounded theory? Ah, harus membaca buku lagi.

Ya Allah, semoga penelitianku berjalan lancar, bermanfaat hasilnya, dan bermakna untuk masa depan. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s