Bertanya pada Yang Membuat Hidup

Ada seseorang, ada beberapa orang, ada banyak orang, yang bertanya kepada Yang Membuat hidup, “Kenapa hidup saya ditakdirkan seperti ini?” Neges karo sing gawe urip…

Ada orang-orang yang aku tahu berakhir menderita gangguan jiwa karena bertanya yang demikian. Mereka memaksa diri mereka dengan persoalan yang sesungguhnya sulit sekali diketahui jawabannya tanpa iman yang benar pada takdir ketentuan dan ketetapan Allah. Mereka berburuk sangka kepada Allah bahwa Allah tengah berbuat jahat pada diri mereka, Allah sedang menegakkan ketidakadilan… “Jika Tuhan Mahakuasa, mengapa saya dibuat hidup menderita?”

Aku pernah mengalami hal yang seperti itu, di masa yang sudah lalu. Bagiku, satu hal yang menyelamatkan aku dari terjebak dalam persoalan pelik dan berbahaya ini adalah sebuah doa. Semoga Allah memberiku peringatan jika aku bersalah… Semoga aku dimudahkannya untuk senantiasa menjadi hamba yang kembali… betapapun beratnya itu semua.

Hidup, kebahagiaan dan penderitaan manusia adalah hal terbaik dalam psikologi. Tanpa persoalan yang eksistensial itu, rasanya psikologi tak akan menjadi bunga yang mekar. Dari tahun ke tahun selalu dibuat formula antipenderitaan, mulai penuhi saja semua hasrat duniamu sampai kondisikan pikiranmu, mulai dari bahwa kebahagiaan terletak di luar sana sampai kebahagiaan di dalam sini. Semua orang diberikan hak yang sama untuk bahagia… Kebahagiaan adalah hak semua manusia!

Tapi sungguh itu banyak hanya teori karena kita sendiri yang menjalani hidup mengerti bahwa kebahagiaan bukan hal yang diberikan begitu saja asal kita manusia. Betapa beratnya… betapa sulitnya mencintai perjuangan untuk bahagia. Kita mencari-cari ke dalam diri dan kebahagiaan yang katanya ada ternyata tidak ada.

Lama aku bergelut dengan persoalan itu dan merasakan sendiri hidup. I have life, with family, with money. I am healthy and getting high education. I live in a safe place, can enjoy books and have friends… Jadi di mana masalahnya?

Ada titik di mana akhirnya aku melenting dan menghirup kembali udara yang membebaskan setelah cukup dalam tenggelam. Aku tahu benar-benar bahwa pada kenyataannya kebahagiaan adalah pemberian, anugrah, nikmat Allah. Ia hadiah terbesar bagi siapapun yang Taat dan mensyukurinya dengan memperbaiki ketaatan.

Ada banyak sekali yang bisa diberikan agama bagi dirimu jika kau beriman pada Tuhan. Sense of purposefulness misalnya bukan hal yang simsalabim dapat ada dalam hatimu atau dapat dengan mudah kau ciptakan. Ia berangkat dari keyakinan bahwa Allah menciptakan sesuatu dengan tujuan, tidak sia-sia. Bisakah kau menciptakan sendiri tujuan yang benar untuk dirimu sementara pengetahuanmu akan hakikat hidup sangat sempit?

Ada nilai yang sangat besar dalam penghambaan diri pada Tuhan. Dia yang Maha Mensyukuri akan membalasmu dengan kebaikan. Kau harus percaya, salah satunya bernama kebahagiaan. Insya Allah…

Tapi satu persoalan lain muncul: percaya pada Allah bukan hal mudah. Bibirmu dapat mengucapkannya dengan lancar, tapi perhatikan hatimu yang sering gagal kita deteksi kebohongannya. Aku pernah mengalami ini. Ada kekafiran terselubung sungguh pun kau katakan dirimu muslim dan mukmin.

Satu hal yang jelas sekali kupelajari adalah keimanan yang sebenarnya tak bisa dipaksakan. Memahami Kebenaran firman dan janji Allah tak bisa dipaksakan. Inilah seni menjalani kehidupan. Sering tak ada yang bisa kau lakukan kecuali mengalir bersama waktu. Sering kemampuan untuk mengerti apa maksud semua ini membutuhkan peristiwa demi peristiwa. Apakah kita bisa mengendalikan peristiwa? Tidak. Itulah kehidupan yang akan mengajari sesuatu asal hatimu bersedia ridha… dan mempertahankan sekecil apapun kepercayaan yang tersisa tentang Allah: Dia selalu memutuskan dan memberikan yang terbaik.

Allah yang akan menambah keimananmu setelah itu.

Banyak peristiwa yang terjadi dalam hidupku dan aku mensyukurinya. Peristiwa-peristiwa itu membentukku dan membantuku merumuskan prinsip-prinsip hidup. Rasa menderita pun dapat disyukuri karena itu membuat diri sedikit demi sedikit mengenal Yang Membuat hidup.

Hal-hal yang sering kita pahami sebagai keajaiban menjadi peristiwa sehari-hari. Betapa tenang menyadari bahwa Allah ikut “bermain” dalam setiap perjalanan hidup dan liku-likunya. Betapa senang mengetahui bahwa Allah mengatur hidup ini setiap detiknya dan apa yang akan didapatkan jika patuh dan mencintai-Nya adalah kebaikan dan kebaikan saja.

Betapa ringan hati mengulang-ulang doa yang indah ini: Ya Allah, Engkau Maha Tahu sedangkan hamba tidak. Engkau Maha Kuasa sedangkan hamba tidak. Jika diri, hidup, dan cita-cita ini baik, kabulkanlah, mudahkan jalannya, dan berikanlah rahmat. Jika tidak, berikanlah keridhaan untuk lepas darinya.

Apakah takdir itu? Ia difirmankan tertulis di Lauh Mahfudz. Jika kau memahami hakikat kebaikan dan Kebaikan, tak peduli lagi, tak memikirkan lagi apakah besok akan mati atau hidup, apakah akan sukses atau gagal, akan bahagia atau bersedih, akan berkelimpahan atau kekurangan. Yang terpikir adalah bagaimana menjadi baik dan itu tak butuh angan-angan yang panjang dan masa depan yang entah apa yang akan terjadi nanti. Rasa bersalah dan penyesalan pun hanya karena ketidakmampuan menjadi baik.

Allah…

5 thoughts on “Bertanya pada Yang Membuat Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s