Poetry of The Week: Tentang Cinta dan Kasih Sayang

Hari ini aku tersentuh dengan keberadaan seorang gadis dan aku mendoakan untuknya semoga kebaikan hatinya diketahui Allah dan Allah memudahkan baginya jodoh, seorang laki-laki yang mencintainya dengan tulus.

Setiap siang (sepertinya) ia datang ke masjid kampus. Ia memarkir sepedanya dekat dirinya dan duduk di taman di dekat pintu masuk masjid. Ia berjualan, menawarkan makanan kecil kepada orang-orang. Aku sudah beberapa kali melihat dia dan tidak tertarik untuk melihat apa yang dijualnya. Bahkan di kali pertama, sungguh membuatku merasa bersalah, aku tidak “melihat” dia (karena tidak mau dilihat olehnya). Di kali kedua aku melihat dia untuk memperbaiki kesalahanku pada dia. Tersenyum pada dia, muncul rasa kasihan. Penglihatannya cacat. Ia mengenakan kacamata yang sangat tebal.

Dia gadis biasa. Bukan gadis yang jika dilihat akan membangkitkan kekaguman para laki-laki “saleh”. Ia di luar standar ideal menurut manusia-manusia yang saleh. Bukan gadis berjilbab lebar, yang khusyuk terlihat di kajian-kajian atau masjid. Bukan gadis yang dikelilingi murid-murid dan mengajarkan agama dengan panjang lebar. Bukan gadis pandai yang membawa buku-buku, dan dikelilingi orang-orang yang bertanya karena kepintarannya. Bukan gadis yang penuh semangat dan pandai berbicara, yang berteriak kencang mengkritik pemerintah di jalanan.

Dia gadis biasa. Jilbabnya kecil, pakai celana jeans. Bukan siapa-siapa.

Dan hari ini, ingin aku tersenyum lagi padanya, tapi dia yang kini tak melihatku. Ia sedang membaca Al Quran, pelan-pelan, tapi terdengar. Dan begitulah yang aku rasakan, dan inilah yang aku pikirkan: Manusia mungkin tak melihat dia, manusia-manusia yang “saleh” dengan standar manusiawi mungkin tak akan melihat dia. Tapi Allah Yang Melihat dia. Semoga Allah melimpahkan rahmat untuknya.

Allah berfirman bahwa perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik (QS An Nur: 26). Tapi, bukankah kita sering terjebak dalam definisi seperti apakah yang baik itu? Apakah yang baik itu sehingga pantas dipilih? Banyak perempuan berlomba-lomba menjadikan dirinya baik dan tampak baik dengan harapan mendapatkan laki-laki baik. Tapi, ada perempuan yang “tidak mampu mengusahakan apa-apa” karena situasi, keadaan, dan lain sebagainya mencegahnya untuk itu. Ada kebaikan dalam hatinya, tapi ia tak mampu menampakkannya. Aku bertanya kepada Allah, “Bagaimana Engkau akan mempertemukan dia dengan jodohnya?” Sungguh dia tidak diketahui… kecuali mungkin oleh Tuhannya.

Aku mendoakannya, dan aku merenungkan tentang kebaikan yang hanya Allah yang tahu apakah dia.

kind heart

Mengapa kebaikan tidak menjadi hal yang tampak? Mengapa ia tersembunyi dalam tempat yang begitu dalam? Mengapa harus kugali dalam-dalam untuk bisa melihatnya? Mengapa mata dan telingaku menjadi tak berguna di hadapannya? Mengapa ia tak membela diri ketika disalahpahami? Mengapa ia tak membela diri di hadapan manusia? Mengapa hanya Tuhan yang paling mengerti dia?

Permata yang tidak dikenal…
Malang nasibku.

Yogyakarta, 10 April 2015

***

Apa yang akan kau lakukan jika kau sesungguhnya sedang mencintai seseorang, tetapi situasi, keadaan, dan lain sebagainya mencegahmu untuk mengatakannya? Apa yang akan kau lakukan JIKA jika kau mengatakannya, maka orang itu mungkin akan meninggalkanmu? Apa yang akan kau lakukan jika kau tahu usia perasaanmu itu sudah bertahun-tahun lamanya? Apa yang akan kau lakukan jika kau benar-benar tahu bahwa mengungkapkan atau tidak mengungkapkan sama berisiko dan sama sakitnya?

Aku membayangkan itu, dan mendapati hanya Tuhan yang mampu mencegah hati orang itu dari menjadi lebih hancur lagi.

sunset

I am touched by my situation

Too many mysteries and rememberances
Keep doing things contrary to my nature
Facing day by day like the sun… unchanged
Not striving for what I really want and need
Stories unfinished, dreams in hiatus.

Why should we keep living without soul?
There are fakes and fakes.
… and frozen hearts.

Semarang, 7 April 2015

***

Bagaimana dengan cinta yang tidak sampai, cinta yang bermasalah, dan cinta yang justru menyakiti? Aaah… tidak sanggup aku membuat puisi tentang ini.

I have a story.

There was a small yellow duck baby.

It was adored by a young girl stupidly.

She cared the baby, but killed it unintentionally.

She cried, but did not understand what ought to be.

She just bathed it, and soaped it, and dried it under the sun happily.

What a lover-to-be!

Duck is not to be cherished like a dear human baby.

That is the story.

Please, cry.

Yogyakarta, 10 April 2015

yellow duck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s