Poetry of the Week: Apologia

APOLOGIA

Aku minta maaf…
karena tak akan kukatakan entah mengapa
ada diriku yang merindukan masa lalu
pada hari aku mengandaskan sebuah asa
sementara janji terbesarku pada diriku
tak akan mengingatnya lagi

Tak akan aku katakan entah bagaimana
takdir mengkhianati diriku
takdir membuatku mengkhianati diri
waktu yang lama mati berputar lagi
detik, menit, dan jamnya, mentari dan bulan
kembali menyakiti, aku merintih:

Maafkan aku…
karena aku tak tahu harus bagaimana
yang aku rasakan adalah hal
yang tidak dibutuhkan ataupun diharapkan
aku tercampakkan dan membatu
dalam nestapa yang lama

Mengapa aku tahu mengapa
tak mampu kupikirkan ulang
tak ingin terus bertanya
terus menyanggah diri sendiri
dan mengalahkannya sebagai musuh
membunuhnya seakan ia iblis

Mengapa aku tahu mengapa
yang kumiliki adalah dan hanya air mata
dalam samudera sanubari
yang tak kutemukan pantai dan dasarnya
aku terenggut dari manapun
perahuku terombang terseret gelombang

Karena jiwaku ternyata lapar
setelah lama melupakan apa itu lapar
karena jiwaku mendapatkan denyutnya
setelah lama hanya tahu apa itu mati
karena jiwaku memelihara kata demi kata
sehingga aku tahu ini apa: kesempatan kedua

Dengan pahit getir yang sama
dengan harap berakhir kecewa yang sama
dengan segalanya yang berlangsung sama
dengan perpisahan dan senyum yang sama
dan dengan janji yang sama
“Aku tak akan mengingatnya lagi”?

Mengapa aku tak tahu tentang apa dan bagaimana
untuk menjadikan hal-hal berbeda
kenyakinan runtuh kembali
kepercayaan yang tidak menghibur
keteguhan tak ubahnya ranting patah
dan aku kembali membenci diri

Mengapa hidup tidak mengajariku sesuatu yang besar
untuk menerawang masa depan dan
melihat akhir segala sesuatu
untuk memurnikan segala tafsiran dan
mengimani segala yang tak bisa dilihat
di hadapan-Mu aku seperti ini…

Aku minta maaf, Tuhan.

***

Apa yang ada di dalam hatimu?
Bagaimana agar aku yakin ada sesuatu yang kini indah di sana?
Apa yang ada di dalam hati ini?
Jawaban panjang yang sudah kau tahu apa
Apa yang ada di dalam hati kita?
Kebisuan ruang tanpa isi

Semarang, 22 April 2015

white roses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s