Hati yang Percaya

Semoga orang itu tidak punya kesukaan mengunjungi blog ini. Kalaupun dia mengunjungi blog ini, semoga dia tidak membaca tulisan kali ini. Kalaupun dia membaca tulisan ini, semoga dia tidak salah paham. Kalau dia salah paham, akan kukatakan sekarang, aku hanya sedang belajar untuk memahaminya.

***

Aku bukan seorang psikolog ataupun ahli psikologi, tetapi kehidupan selalu memberiku cerita untuk kujadikan “kasus”, bahan perenungan demi perenungan. Ada titik di mana teori-teori psikologi menjadi tak begitu berguna, dan uniknya itulah saat di mana aku mendapatkan pemahaman yang personal tentang manusia, yang lebih menyentuh hati nurani, dan berkekuatan mengubah.

Aku ingin bercerita tentang apa yang kualami setidaknya dua sampai tiga minggu terakhir. Aku sungguh mengalami minggu-minggu yang gelap. Tidak kusangka aku akan mengangkat kembali satu isu yang kupikir “sudah” lama selesai dalam hidupku: rasa percaya atau trust. Rupanya yang pernah kulakukan hanya memahami satu wajah dari rasa percaya. Yang menjadi masalahku kini, aku mendapati wajahnya yang sama sekali baru dan asing.

Persoalan rasa percaya dan tidak percaya orang lain termasuk masalah psikologisku yang pertama aku selesaikan dalam diriku. Aku mencatat itu dalam satu tulisan lama, yang sampai saat ini apa yang kurasakan ketika menulis itu masih teringat dengan cukup baik. Ada peristiwa yang menyedihkan ketika kudapati kepercayaan diriku, perfeksionismeku, ambisiku pada kesempurnaan, orientasiku pada hasil terbaik, dan individualismeku membuatku mengorbankan orang lain yang berhak untuk ikut berproses dan merasakan hasil usahanya.

Saat itu aku gadis yang sangat bossy. Membagikan tugas kepada teman-temanku, tetapi berakhir menjadi yang mengerjakannya karena tidak puas pada hasil kerja mereka yang di bawah standarku. Benar, aku punya beberapa kemampuan untuk memastikan suatu hasil yang baik, tetapi dampaknya… bukan hanya mereka menjadi bergantung padaku, tetapi juga membuat mereka malas memperjuangkan diri mereka sendiri. Apa artinya hasil kerja yang baik jika proses yang terjadi justru menciptakan monster? Aku sadar aku sedang menghancurkan hidup teman-temanku sendiri, juga hidupku.

Aku ingin menempuh jalan yang lebih baik dalam mengelola orang-orang. Aku ingin bukan aku saja yang merasakan nikmatnya berjuang mencapai sesuatu. Pada akhirnya aku mengubah cara pandangku. Standar-standar yang tinggi menjadi berkurang signifikansinya. Memang kenapa dengan hasil yang biasa-biasa saja, tetapi dicapai dengan melibatkan semua orang? Mengapa aku harus takut prestasiku terancam, nilai-nilaiku buruk, gara-gara tugas kelompok yang kurang memuaskanku? Aku mengenali baik-baik dan melepaskan rasa takut itu, lalu pelan-pelan belajar mengalah, “butuh” orang lain. Aku belajar mempercayakan tanggung jawab dan fokus pada bagianku saja, tanpa mempermasalahkan bagaimana mereka dan apapun hasil mereka.

Untuk selanjutnya, aku tak punya cerita yang berakhir sempurna seperti di film-film atau novel-novel yang mengangkat tema kerja sama tim, dan sejenisnya. Waktu berlalu begitu saja tanpa aku ketahui apa dampak keputusan pribadiku itu pada diri orang-orang di sekitarku. Tetapi, aku menyadari satu hal: aku berubah. Cara pandangku terhadap sesama berubah. Sikapku terhadap sesama berubah. Sekalipun tentu tak sempurna, dengan merasa percaya, dengan memberikan kepercayaan, aku menghargai orang.

Sekalipun sesekali aku masih melakukan kesalahan, aku bukan aku yang dulu yang merasa takut bahwa orang lain akan merugikanku, akan menghambatku, atau akan mengacaukanku. Sekalipun aku masih merasa seperti social alien sampai hari ini lantaran buruknya keterampilan sosialku, hatiku tak kehilangan rasa percaya bahwa orang-orang, manusia, pada dasarnya baik. Yes, for many people I am not friend and friendly, but I do not hate. Even though I am rarely successful, I am trying to love and live together with people. Aku tak bisa berpikiran jelek tentang apa, siapa, bagaimana, dan mengapa diri mereka seperti itu sebagai pribadi.

Itu pencapaian tujuh tahun yang lalu. Aku hidup dengan prinsip semacam itu tujuh tahun lamanya, dengan jatuh bangun hubungan persahabatan dan pertemanan yang dibingkainya. Hari ini situasiku benar-benar berbeda dan pertanyaanku pun berbeda: apakah hati ini bisa percaya pada orang yang tidak pantas dipercaya? Ini pertanyaan yang kejam sekali, bukan? Siapakah orang di dunia ini yang tak pantas dipercaya?

Aku merasa selama ini hidup di dunia “atas” lantaran idealisme-idealismeku menjagaku senantiasa di jalur yang ideal. Tapi, aku lantas mendapati dalam hidupku datang berbagai macam orang, meskipun jumlahnya tidak banyak, yang membuatku mendefinisikan ulang apa itu kehidupan yang normal bagi lebih banyak orang. Aku yang senantiasa mencegah diriku dari kesalahan-kesalahan sungguh sulit mengerti orang yang hidup dengan mengandalkan kesalahan-kesalahan mereka.

Berusaha memahami mereka, aku seperti dibawa masuk ke dalam dunia bawah tanah yang gelap, dalam, dan penuh rahasia. Orang-orang di sana hidup dengan cara mereka sendiri, bukan caraku, dan mungkin, itu adalah satu-satunya standar yang selama ini kugunakan untuk menilai pantas tidaknya seseorang untuk dipercaya. Aku tidak percaya mereka karena mereka bukan aku dalam berbagai cara.

Ada seseorang di antara mereka yang membuatku memikirkan ulang banyak hal: apa aku, siapa aku, bagaimana aku hidup, dan mengapa begitu. Aku dihadapkan pada kesadaran bahwa untuk sampai pada diri yang sekarang, banyak orang telah melewati banyak hal. Sungguh alasan yang bagus untuk tidak lebih suka menilai harga seseorang. Tapi, pemahaman itu hanya teori pada suatu ketika. Ketika kebutuhan untuk melakukan yang demikian hadir dalam kenyataanku, sesungguhnya aku tak mengerti tentang membangun rasa percaya pada mereka yang demikian.

It’s really hard and sad for me to hear such beautiful sentence… “Kamu tidak usah belajar berbohong, tetapi pahamilah ada orang-orang yang terpaksa harus berbohong.” Aku tak perlu belajar melakukan kesalahan untuk memahami kesalahan, tetapi akan baik bagiku jika memahami ada di dunia ini ada orang yang terpaksa harus melakukan kesalahan.

Hatiku yang lama mampu percaya lantaran keyakinan bahwa semua manusia pada dasarnya baik dan ingin hidup dengan baik. Tapi, aku tak bisa memutuskan sekarang dengan benar, bagaimana agar dapat mempercayai bahwa yang ada jauh di dalam hati mereka yang berbuat kesalahan jugalah kebaikan?

Berhari-hari aku bersama dengan pertanyaan itu. Tak bisa tidur dengan nyaman. Tak bisa makan dengan enak. Tak bisa memikirkan hal yang lain dengan jernih. Aku dipercayakan sebuah persoalan yang besar dan tugas yang diberikan padaku adalah bagaimana memahaminya. Tapi, sekalipun aku berhasil mendapatkan pengetahuan tentang hubungan sebab dan akibat, alasan-alasan dari kesalahan, aku merasa kosong dan hatiku justru dipenuhi ketakutan yang lama. Apakah aku akan dirugikan? Disakiti? Dihambat? Diganggu? Apakah aku akan menjadi korban kenaifan, kepolosan, kesederhanaan pikirku? Apakah bisa aku percaya?

Aku ingin percaya, tetapi aku berakhir bertempur dengan diriku sendiri. Pihak-pihak yang bertarung, apakah mempercayai atau mencurigai, meyakini atau meragukan, semua memiliki argumen.

Mengapa manusia punya masa lalu, punya hal-hal yang ia sembunyikan, punya hal-hal yang telah terjadi dan ia sebut sebagai aib? Dan, mengapa aku pun demikian? Mengapa hidup berlangsung sedemikian rupa sehingga rasa percaya bukan hal yang alami lagi bagi seseorang? Apa yang salah dengan hati yang ingin berjaga-jaga, yang penuh keraguan, kehati-hatian, kewaspadaan? Apa yang salah dengan hati yang ingin melindungi si pemiliknya yang lemah dari semua ancaman itu?

Tak ada yang salah, tetapi… itu akan mengorbankan satu hal: hati orang yang berusaha keras untuk yakin dan mempercayai hatimu itu, hati yang penuh ragu dan curiga itu.

Ini bukan hal yang besar. Hanya perasaan-perasaan yang bertentangan, yang dapat ada dalam diri siapa saja. Perasaan-perasaan itu dapat disembunyikan dan dilapisi aneka keindahan kata-kata manis dan perbuatan-perbuatan yang terpuji. Tapi, itulah isi hati dan setiap hari semua orang memilikinya, mengalaminya, merasakannya. Dapatkah kita benar-benar percaya pada keluarga, orangtua, saudara, suami, istri? Pada teman dan kekasih? Pada guru dan murid? Pada orang-orang di televisi, di jalan-jalan, di tempat umum? Pada orang-orang yang terpasung, terpenjara, terhukum, terhina, tersingkir?

We do love beautiful and right things, don’t we? But we do love what apparently beautiful and right more. That’s why we lose our wisdom, authenticity, and kindness…

Bagaimana aku bisa meragukan kejujuran seseorang yang sudah jujur mengaku dirinya pernah berbuat tidak jujur? Betapa orang ingin bisa bicara tanpa rasa takut akan disalahpahami dan dituduh aneka macam tuduhan. Betapa orang ingin punya kebebasan untuk mengakui apa yang telah diperbuat tangannya, ingin beban dalam hatinya terangkat, dan hatinya kembali bersih dari rasa bersalah yang tidak terselesaikan. Mengapa kita menjadi orang yang mencegah orang-orang merasakan nikmat kehidupan itu dengan melabuhkan rasa tidak percaya kita dan menutup kesempatan kedua, ketiga, keempat untuknya?

Siapa orang di dunia ini yang tidak mengharapkan kesempatan kedua? Kesempatan untuk memperbaiki keadaan, memperbaiki diri, meraih keberhasilan yang tertunda, menebus kesalahan, bertaubat, melanjutkan perjuangan, dan kerja keras… Kesempatan untuk membangun kembali kepercayaan terhadap diri bahwa diri mampu menjadi dan melakukan yang diharapkan. Kesempatan untuk membangun kepercayaan yang lebih besar bahwa kehidupan akan berlaku baik bagi siapa pun yang ingin berubah menjadi baik. Kesempatan untuk percaya bahwa Tuhan Mahaadil dan tidak melupakan manusia.

Aku sekarang berpikir bahwa memiliki rasa percaya sungguh adalah suatu bentuk kebaikan dan kekuatan hati. Karena memiliki yang sebaliknya dapat merupakan petunjuk suatu kelemahan. Kita dapat mengantisipasi perilaku orang yang mungkin akan menyakiti kita, tetapi kupikir, adalah suatu kesalahan jika kita curiga pada hatinya, bahwa tidak ada sesuatu yang indah di sana. Rasa percaya adalah kunci membuka pintu-pintu hati, dan ketika hati sudah terbuka, semoga Allah saja yang menjaganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s