Diari Tesis Bag. 7: Mempertanyakan “Sikap Hidup Antimaterialistis”

1# Thesis is not an individual journey…

Tetap tidak mudah melewati dua bulan setelah Maret -_- Waktu demi waktu berlalu dan rasanya… mengambang saja. Tidak tahu apa yang dapat dilakukan sementara diri sudah terdesak untuk harus segera melakukan sesuatu.

Pengambilan data tahap pertama terhadap 11 orang subjek selesai di awal April. Perkembangan semacam itu sudah bagus, tetapi entah kenapa aku tidak bisa merasa puas dengan kelanjutannya. Bulan April kok habis cuma buat transkrip verbatim rekaman wawancara? Begitu selalu yang kupikirkan. Seharusnya bisa lebih dari itu. Tapi ada hal yang membuatku tidak bisa bergerak lebih dari itu! Seharusnya bisa lebih dari itu. Tapi ada hal-hal lain yang terjadi! Seharusnya harus bisa lebih. Tapi tidak bisa!

Seperti itulah… -_- Gila sendiri dibuatnya.

Buat transkripsi itu memang lama. Sepuluh menit rekaman satu jam. Satu jam rekaman enam jam. Rekaman wawancara untuk 11 orang subjek paling cepat butuh 11 hari dengan kerja enam jam sehari. Tidak mudah bisa disiplin sehari bekerja enam jam lamanya. Ada berbagai pengalih perhatian, seperti tugas-tugas di luar tesis. Ada berbagai hal yang menurunkan motivasi, seperti perasaan hasil wawancara yang kurang memuaskan, tiba-tiba kebingungan di tengah jalan lupa arah dan fokus penelitian, dan kesadaran ternyata belum menguasai betul metode analisis datanya, serta fakta ada teman yang sudah berhasil lulus! Tambah semester ini hampir selesai, mahasiswa akan segera libur, yang itu berarti ancaman lain.

Benar-benar… -_- Gila sendiri dibuatnya. Bukan masalah tesisnya, tetapi hal-hal di luar tesis. Ingin rasanya jadi robot yang hanya diprogram untuk memikirkan dan mengerjakan tesis, yang tak bisa memikirkan hal lain, tak bisa merasakan apa-apa. Ingin menjadi robot yang di matanya hanya ada satu hal: TESIS.

Tapi mana mungkin seperti itu… -_-

Ketika aku sendiri bahkan tak bisa menyemangati diri sendiri, aku merasa bersyukur sekali bisa bersama teman-teman yang mengalami masalah serupa. Bukan kebiasaanku mengeluhkan ini dan itu, tetapi lega rasanya bisa bercerita dengan mereka tentang kesusahan-kesusahan (yang sebagian adalah akibat keteledoran sendiri). Kami saling menceritakan keluh-kesah, saling mendengarkan kelelahan dan kegalauan, dan akhirnya memutuskan sama-sama seharusnya bagaimana: Mari tetap maju terus, apapun yang terjadi. Kita lulus sama-sama.

Bagiku… pengalaman seperti ini terasa agak aneh-aneh menakjubkan. Ada sisi lain dari diri yang terungkap dalam proses mengerjakan tesis ini. Aku yang terbiasa bekerja sendirian dan hanya percaya pada diri sendiri, ternyata bisa menikmati kebersamaan.

So happy right now😀 Alhamdulillah wa syukurillah

 

friendship

 

***

2# Mempertanyakan “Sikap Hidup Antimaterialistis”

Aku memprediksi judul tesisku akan berubah ketika penelitianku akhirnya selesai. Judul tesisku mencerminkan asumsiku bahwa ada sikap hidup yang antimaterialistis, tetapi yang kutemukan di lapangan bukanlah sikap hidup yang antimaterialistis ataupun yang materialistis sejati, melainkan negosiasi dan kompromi di antara keduanya, mencerminkan adanya adaptasi. Aku tidak tahu apa namanya itu. Apa yang para subjek dan bahkan diriku sendiri sebut sebagai antimaterialistis atau tidak materialistis adalah sebuah proporsionalitas dalam hal harapan dan gambaran hidup yang diinginkan di masa depan dan gaya hidup saat ini.

Baru satu subjek yang datanya selesai kuanalisis. Dia seorang mahasiswa perantau, asal Sumatera. Ia menghabiskan masa remaja (SMP-SMA) di sekolah asrama berbasis agama (Islam) dan karena itu, ia jauh dari dan jarang berinteraksi dengan orangtua dan keluarganya. Prinsip-prinsip antimaterialistisnya bersumber dari ajaran moral dalam agama yang dididikkan di sekolah, sementara kecondongan pada materialisme (yang tidak lantas hilang karena belajar agama) dipicu oleh pergaulan dengan teman-teman dan kecenderungan psikologis individu masa remaja yang suka berkhayal, punya banyak keinginan, dan ingin coba-coba hal baru, barang-barang baru, mencari pengalaman dengan barang-barang.

Dia berasal dari keluarga yang “pas-pasan”, cukup secara ekonomi, tak kurang, tetapi tak lebih. Kesadaran akan realita berupa keterbatasan itu dan keinginan dan kebutuhan untuk hidup menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan tren individu yang seumur dengannya membentuk aspirasi dan gaya hidup yang tidak materialistis. Apa yang disebut sebagai “materialistis” kukembalikan pada definisi pribadinya, yaitu cara hidup yang cenderung bermewah-mewah, berlebih-lebih dalam penggunaan dan pemilikan harta benda, dan kurang menghargai orang lain yang memiliki cara hidup berbeda, tepatnya yang lebih rendah atau kurang daripada itu.

Apa yang meruntuhkan asumsiku: ia tidak menolak atau anti terhadap materialisme, tetapi tidak juga menenggelamkan diri di dalamnya. Sebagian kecondongan pada materialisme berkaitan dengan tuntutan kenyataan dan kebutuhan-kebutuhan yang riil dibutuhkan, tidak semuanya berasal dari nafsu (desire) atau keinginan semata, meskipun tetap ada dan tetap terjadi hal yang seperti itu. Yang menarik adalah mekanisme kendali membuka dan menutup gerbang hasrat pada materi; mengakui suka pada materi, seperti uang dan barang-barang bagus, dan terpancing untuk memiliki, tetapi tidak mengikuti kesukaan itu secara impulsif. Aku belum berhasil mengidentifikasi semua tekniknya, dan baru mengetahui beberapa.

Cara yang paling ampuh melibatkan keterbatasan finansial yang nyata: tidak punya banyak uang, dan belum bekerja. Itu kenyataan yang tidak bisa ditolak, harus diterima meskipun mungkin pahit, oleh seorang mahasiswa yang masih tergantung penuh secara ekonomi pada orangtua. Keputusan dan tindakan yang paling rasional memang keterbatasan itu membatasi konsumsi, meskipun di dalam hati keinginan ke arah itu ada. Tetapi, apakah yang sebenarnya terjadi ketika yang dikatakan subjek adalah bahwa ia tak punya “banyak keinginan” di dalam hatinya? Ia tak punya banyak keinginan akan harta dan benda yang mendorongnya untuk bekerja, mencari uang sendiri, mencari tahu tentang barang ini dan itu, melihat kepunyaan orang lain dengan pandangan mata iri, dan sebagainya.

Mengapa dan bagaimana bisa tak punya banyak keinginan? Hal apa yang “membunuh” keinginan yang besar dan banyak akan harta dan benda? What makes money and goods less desireable?

Ternyata kesadaran akan realita dan keterbatasan-keterbatasan saja tak cukup untuk menghambat kecondongan pada materialisme. Sejauh ini aku mengidentifikasi dua hal. Pertama, adanya pengalaman yang menimbulkan evaluasi negatif terhadap keberadaan atau dimilikinya uang dan barang (dalam jumlah banyak, misalnya). Kedua, adanya keyakinan moral yang membentuk pola pikir atau sikap terhadap harta benda. Aku “merasakan” di awal ini semua subjekku punya kedua hal ini, meskipun wujudnya berbeda-beda.

Bagi subjek pertamaku ini, pengalaman yang menimbulkan evaluasi negatif adalah pengalaman pernah hidup secara materialistis, memperturutkan segala keinginan akan barang yang disukai ketika ia remaja (sebelum menjadi mahasiswa). Pernah kegemaran itu menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditolak, impulsif. Ingin punya, beli. Ingin punya, beli. Tetapi dari mengalami hal itu, ia kemudian merasa bosan dan capek mengikuti keinginan itu, dan lantas mencapai pemahaman bahwa sebenarnya memiliki barang-barang tersebut tidak banyak gunanya, tidak penting. Evaluasi ini didukung keyakinan moral yang bersumber dari ajaran agama yang dianutnya, bahwa seseorang tidak boleh bertindak boros atau mubazir, yaitu menggunakan uang dan memiliki barang secara berlebih-lebih, sampai terbuang-buang. Agama bertindak lebih jauh menanamkan keyakinan tentang harta benda, seperti bahwa kelak di akhirat akan ada pertanggungjawaban atas apa-apa yang dimiliki. Hal tersebut menimbulkan perasaan “takut” punya harta benda dalam jumlah banyak.

Dua hal itu tidak membunuh secara total keinginan pada harta benda. Subjek lantas memutuskan apa yang baik baginya. Dalam hal gaya hidup, ia tidak ingin mengikuti cara hidup yang materialistis, tetapi ingin tetap hidup dengan baik dan “normal”, biasa saja, di mata orang lain, tidak kurang dan tidak lebih. Dalam hal aspirasi finansial, ia ingin di masa depan menjadi seseorang yang sukses secara finansial, punya kekayaan, tetapi dalam jumlah yang cukup terutama untuk memenuhi kebutuhan, tidak kekurangan dan tidak berlebih. Dalam hal sikap terhadap orang-orang yang materialistis, ia tidak mengikuti dan tidak menyukai cara hidup mereka yang berdampak kurang baik pada kehidupan sosial, tetapi tidak membenci pribadi dan tetap bergaul dengan mereka (meski seperlunya saja).

Kesimpulan sementaraku, sikap hidup antimaterislistis itu bersifat parsial, tidak menyeluruh melawan dan menolak materi, harta benda dan kekayaan, dan keadaan kaya.

***

Aku masih punya banyak hal untuk diceritakan🙂 tetapi karena belum memahaminya dengan benar, aku belum yakin untuk menuliskannya.

Sejauh ini metode analisis dataku agak acak, tidak mengikuti kaidah yang digariskan dalam Charmaz (2006). Tapi, bagaimana lagi, kadang pemahaman itu “melompat”, seakan muncul sebelum “waktunya”. Dari membaca, tahu-tahu mengerti saja, “Aha!”. Hubungan-hubungan terbangun dengan sendirinya setelah unsur-unsur berhasil diketahui.

Ya, mungkin penerapan metode analisis secara lebih rapi akan kulakukan setelah ini. Hanya saja, persoalanku: aku punya 11 orang subjek. Bagaimana merumuskan satu teori/ abstraksi dari pengalaman 11 orang yang berbeda-benda? Aku tidak punya pengalaman menganalisis data dari lebih dari dua orang subjek. Aku merasa, ini akan menjadi sesuatu… -_- mungkin masalah baru yang membuatku kembali berkata…

I feel crazy, but happy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s