Nasrudin dan Anak yang Suka Permen

Jika ingin memperbaiki diri, jangan minta nasihat pada ulama (guru dan ahli agama) dan ilmuwan (termasuk mahasiswa, psikolog dan ahli psikologi) yang belum mengamalkan ilmu yang dimilikinya pada dirinya sendiri. Jika ingin memperbaiki orang, jangan beri nasihat sebelum ada amal pada diri sendiri.

***

Di Timur Tengah banyak kisah tentang Nasruddin, seorang sufi yang mengajar dengan humor. Dalam kisah berikut Nasruddin secara jelas membedakan antara pengetahuan pikiran yang abstrak dengan pengetahuan alami yang dialami.

Nasruddin sedang bertugas sebagai hakim ketika seorang wanita datang bersama putranya. Ia mengeluhkan putranya yang sangat gemar makan permen. Ia meminta Nasruddin mengatakan kepada putranya untuk berhenti makan permen, selamanya. Nasruddin meminta wanita itu agar kembali lagi menemuinya empat minggu kemudian. Tepat setelah satu bulan, wanita itu datang lagi bersama putranya. Saat mereka tiba, Nasruddin hanya berkata, “Nak, aku perintahkan kamu untuk berhenti makan permen!”

Sang ibu bertanya, “Kenapa engkau membuat kami menunggu selama empat minggu? Bukankah kau bisa mengatakan itu kepada putraku ketika pertama kali kami menemuimu?”

Nasruddin menjawab, “Tidak, aku tidak mungkin mengatakannya pada putramu dua minggu yang lalu.”

“Kenapa tidak?” tanya sang bunda.

“Agar kau tahu, aku sendiri suka makan permen. Pertama-tama aku harus mengendalikan kegemaranku pada permen baru kemudian bisa meminta putramu untuk berhenti makan permen.”

— Dalam Robert Frager, “Obrolan Sufi”, h. 95-96

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s