Quotations Collection Part. 40: On March 2015

Cara terbaik mengetahui kelemahan dan keterbatasan psikologi adalah dengan mengamalkannya, lalu memeriksa dampak positif dan negatifnya pada diri dan kehidupanmu, bukan dengan sibuk membicarakannya saja dengan teman-temanmu.

Cara terbaik mengetahui kelemahan dan keterbatasan semua ilmu kurasa juga begitu.

— My Own Mind

 

“Do your best, and God will do the rest.”

— motto hidup seorang responden

 

“To be fond of something is better than merely to know it, and to find joy in it is better than merely to be fond of it.”

— Confucius

 

“Skeptisisme menantang lembaga-lembaga yang sudah mapan. Jika kita mengajari semua orang, termasuk katakanlah para siswa sekolah menengah, kebiasaan untuk berpikiran skeptis, mereka mungkin tidak akan membatasi keskeptisan mereka kepada UFO, iklan aspirin, dan medium penghubung dengan dunia ruh berusia 35.000 tahun. Barangkali mereka akan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh tentang ekonomi, sosial, politik, atau lembaga keagamaan. Boleh jadi mereka akan menentang pendapat orang-orang yang berkuasa. Lalu, kita akan berada di mana?”

— Carl Sagan, The Demon-Hounted World

 

“Keyakinan moral boleh jadi matang pada masa remaja, tetapi kemampuan untuk bertindak berdasarkan keyakinan moral itu dengan tingkat konsistensi berapa pun, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengasahnya.”

— dalam Newberg & Waldman (2013, h. 227)

 

Orang-orang pintar, kalau ditempatkan pada posisi berkuasa, dengan cepat membuang ideal-ideal moralnya. Tempatkan orang baik di tempat “jahat”, dan moralitas dengan segera sirna.

— Hikmah penelitian kontroversial Zimbardo, 1971, “Tahanan” Stanford University

 

The Life of Socrates: kekuatan terletak pada pertanyaan, bukan pada keyakinan

***

Merasa tidak pasti memiliki beberapa keuntungan, tetapi juga berarti kita tidak akan pernah bisa menangkap kebenaran.

Socrates meyakini filosofi seperti itu dengan mempertanyakan semua hal dan semua orang dalam pencariannya akan kearifan, dan dia sering berpura-pura bodoh agar orang-orang mempertunjukkan keyakinan mereka. Kemudian, dia akan memberi tahu kesalahan pemikiran mereka. Kekuatan argumen Socrates membuat takut politisi Yunani karena hal ini menantang kepercayaan moral mereka, sehingga mereka menghukum mati Socrates.

Walaupun demikian, dia berkata, “Saya sangat sadar bahwa saya tidak mempunyai kearifan, banyak ataupun sedikit.” Bagi Socrates, kekuatan terletak pada pertanyaan, bukan pada keyakinan.

— dalam Newberg & Waldman (2013, h. 402)

 

“… peta yang kita buat hanya dapat mengira-ngira kebenaran tentang dunia. Karena itu, akan selalu ada kekosongan mendasar antara pengetahuan, kepercayaan, dan kenyataan.”

— Newberg & Waldman (2013, h. 401)

 

“Jika Anda ingin menjadi seorang beriman yang lebih baik, banyak-banyaklah bertanya. Cari tahu, dan jangan terpaku pada fakta yang dangkal. Lihatlah lebih dekat, galilah lebih dalam, dan selidikilah sumbernya. Belajarlah untuk mengatakan perbedaan antara pendapat pribadi dan data aktual. Bersikap terbukalah untuk mengubah apa yang Anda percayai. Lalu, ajukan lagi pertanyaan lain, karena pertanyaan membantu Anda memperluas pengetahuan tentang dunia. Ajukan pertanyaan dengan semangat demi menemukan kebenaran, bukan dengan hasrat ingin melecehkan dan meruntuhkan keyakinan orang lain. Dan yang paling penting, … camkan bahwa kita tidak akan pernah mengetahui secara pasti keakuratan keyakinan mana pun, bahkan keyakinan yang kita pegang teguh.”

— Newberg & Waldman (2013, h. 396), “Born to Believe: God, Science, and the Origin of Ordinary and Extraordinary Beliefs”

 

“Berhati-hatilah membaca buku kesehatan. Anda bisa mati karena kesalahan cetak.”

— Mark Twain

 

Ada tiga jenis kebohongan: kebohongan, kebohongan besar, dan statistik.

— Mark Twain

 

Tak ada yang lebih mudah dari menipu diri sendiri.
Apa pun yang diharapkan setiap manusia, itulah yang dia yakini sebagai kebenaran.

— Demosthenes (384-322 SM)

 

“… kita semua, para filsuf, ilmuwan, dan manusia biasa, bisa ambil bagian dalam diskusi tentang pertanyaan mengapa kita dan alam semesta ini ada. Jika kita menemukan jawabannya, itu akan menjadi kemenangan besar bagi nalar manusia –karena dengan itu kita akan tahu pikiran Tuhan.”

— Stephen Hawking, A Brief History of Time

 

Ketika kau berhasil, kau dapatkan sesuatu. Ketika kau gagal, kau belajar sesuatu. Kau butuh keduanya: keberhasilan dan kegagalan.

— Irfan Ahmed

 

“Berhati-hatilah dengan apa yang Anda doakan, meditasikan, atau idam-idamkan, karena berkemungkinan ia akhirnya menjadi kebenaran menurut Anda pribadi. Jika Anda ingin membuat spiritualitas menjadi bagian inti dari kehidupan Anda .. maka dengan segala cara berfokuslah pada ideal-ideal ini sesering mungkin.”

— Newberg & Waldman (2013, h. 295)

 

Kalau Anda ingin menciptakan teroris, rumusnya, sayangnya, sangat sederhana. Kucilkan anak-anak atau pemuda dari keluarga dan teman-temannya. Ajari mereka bahwa negara atau kelompok mereka hebat, bahwa mereka lebih unggul daripada yang lain, dan bahwa “musuh” memang ingin menghancurkan mereka. Anda bahkan bisa memasukkan gagasan tentang Tuhan yang pendendam, yang akan memberikan pahala bagi tindakan kekerasan terhadap musuh terkutuk. Ulangi meditasi ini beberapa jam sehari, pekan demi pekan, bulan demi bulan. Setelah beberapa tahun, gagasan ini akan terasa sepenuhnya benar, dan akan mengambil realitasnya sendiri. Dengan tubuh dan otak dalam keadaan selalu awas dan marah, para teroris yang dikondisikan ini akan gampang, bahkan berkeinginan, untuk menarik picu atau meledakkan bom –khususnya jika balasan surgawi yang dijanjikan besar. Sebagaimana disampaikan dengan gamblang oleh profesor Mark Juergensmeyer, kekerasan bisa memberdayakan agama.

— dalam Newberg & Waldman (2013, h. 293-294)

 

“Pada usia delapan belas tahun keyakinan kita adalah bukit tempat kita berdiri memandang; pada umur empat puluh lima tahun ia adalah gua tempat kita bersembunyi.”

— F. Scott Fitzgerald

 

Banyak anak kecil tidak dapat mengatakan apakah mereka akan dihukum atau dipuji perilakunya oleh Tuhan Yang Mahakuasa dan tak terlihat. Sebagian orangtua secara naluriah mengenali kekuatan ini dan karenanya boleh jadi condong pada menanamkan ketakutan akan kemurkaan Tuhan saat mereka berusaha untuk mendorong anak mereka bertingkah laku tertentu. Akan tetapi, mungkin ada ruginya melakukan pendekatan ini.

… anak-anak yang tumbuh dalam keluarga fundamentalis memang cenderung mematuhi yang berwenang dan mengikuti peraturan, tetapi mereka juga cenderung merasa benar sendiri, berprasangka, dan tidak sepakat dengan orang-orang di luar kelompok mereka. Mereka mempunyai mentalitas “kita vs mereka”, banyak di antara mereka yang mengusung hal ini sepanjang hayat.

— Altemeyer & Hunsberger, dalam Newberg & Waldman (2013, h. 199)

 

Skeptisisme filosofis berasal dari zaman Plato, yang pertama kali menegakkan mazhab “akademis”, ajaran bahwa dunia tidak dapat dimengerti secara persis dan objektif.

… seorang skeptis adalah seseorang yang memilih untuk mempelajari dengan seksama apakah keyakinannya sudah benar. Seorang skeptis menjaga agar pikirannya tetap terbuka–suatu kesediaan untuk mempertimbangkan argumen dari kedua sisi.

Sebenarnya, kita memerlukan skeptisisme, keterbukaan pikiran, dan rasa percaya dalam dosis yang sehat, khususnya jika itu menyangkut keyakinan-keyakinan diri kita yang mempengaruhi hidup orang lain.

Rasa percaya dan keterbukaan pikiran tanpa sedikit skeptisisme dapat membawa kita ke dalam kesulitan, tetapi skeptisisme tanpa rasa percaya dapat mengurangi kemampuan kita untuk mempercayai apa yang kita perlukan supaya dapat bertahan hidup.

— Newberg & Waldman (2013, h. 45-46)

 

Otak manusia betul-betul merupakan sebuah mesin pemercaya, dan semua pengalaman yang kita punyai mempengaruhi kedalaman dan kualitas kepercayaan ini. Keyakinan itu boleh jadi hanya berisi sekeping kebenaran, tetapi ia selalu memandu kita menuju tujuan kita. Tanpanya kita tidak bisa hidup, apalagi mengubah dunia. Keyakinan itulah kredo kita, yang memberi kita keimanan, dan menjadikan kita seperti sekarang ini. Descartes mengatakan Cogito ergo sum, “Aku berpikir, maka aku ada.” Tetapi dipandang dari lensa neurosains, mungkin lebih baik dikatakan Credo ergo sum, “Aku beriman, maka aku ada.”

— Newberg & Waldman (2013), “Born to believe” h. 31

 

Aku berjumpa dengan seorang Arab-padang pasir yang sedang duduk ditemani setumpuk perhiasan. Ia berkata, “Aku baru saja tersesat di padang pasir dan menghabiskan seluruh makananku. Aku berpikir bahwa aku pasti mati ketika tiba-tiba kulihat sebuah tas tergeletak di pasir. Aku takkan pernah lupa betapa gembiranya saat aku menduga tas itu berisikan gandum kering, tak juga dapat kulupakan betapa sedih dan kecewa yang kurasakan saat kutahu ternyata tas tersebut dipenuhi oleh mutiara.

— Sa’di

 

“Apabila niatmu itu benar, mengumpulkan dan menyimpan kekayaan lebih baik daripada meninggalkannya.”

— Ibnul Jauzi

 

Janganlah engkau peduli dengan orang yang memiliki dunia sehingga engkau ingin mendapatkan belas kasihan, dana, dan perlindungannya.

Selaraskan dirimu dengan syariat dalam semua keadaan.

… sesungguhnya orang baik itu adalah yang tidak pernah menyakiti binatang kecil sekecil semut yang hampir-hampir tak terlihat. Mereka berhubungan dengan Allah lewat ketaatan, dengan makhluk lewat pergaulan yang baik, dan dengan keluarga lewat silaturahim.

Hai orang miskin, tangisilah dirimu. Saat orangtuamu meninggal, dunia seolah kiamat bagimu, sementara saat mati agamamu, engkau tak peduli dan tak menangis. Para malaikat yang mengurusmu menangisimu karena melihat kerugianmu dalam agamamu. Engkau tak punya akal. Kalau engkau punya akal, tentu engkau sudah menangis atas hilangnya agamamu. Engkau punya modal tapi tak kau gunakan. Akal dan rasa malumulah modalmu, tapi engkau tak pandai berdagang dengannya. Ilmu yang tak diamalkan, akal yang tak digunakan, dan hidup yang tak bermanfaat, seperti rumah yang tak dihuni, seperti barang simpanan yang tak diketahui keberadaannya, dan seperti makanan yang tak dimakan.

Seorang mukmin bekerja untuk dunia dan akhirat. Namun, ia bekerja untuk dunia sebatas memenuhi kebutuhannya. Kebutuhannya terhadap dunia sebatas bekal orang yang bepergian, tidak lebih. Orang bodoh gelisah dengan dunia, sedangkan orang arif gelisah dengan akhirat.

— ‘Abdul Qadir al-Jailani, dalam “al-Fath al-Rabbani wa al-Faydh al-Rahmani”

 

“… kefakiran yang disukai oleh Allah dari hamba-Nya bukanlah fakir harta, melainkan perasaan ‘fakir’ (butuh) akan Allah, yakni perasaan sesal yang mendalam (atas dosa-dosa), perasaan tunduk, rendah, hina, dan khusyuk di hadapan-Nya. Perasaan fakir seperti ini tidak menafikan kekayaan harta, dan tidak pula mengharuskan seseorang untuk menjadi orang melarat.

… penyesalan yang mendalam dan perasaan butuh akan keagungan, kemuliaan, kebesaran asma dan sifat-sifat Allah jauh lebih utama ketimbang kemiskinan berupa ketiadaan harta.”

— Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (691-751 H)

 

“Sesungguhnya di antara para hamba-Ku ada yang hanya pantas menjadi orang kaya, yang seandainya ia Kujadikan miskin, niscaya kemiskinan itu merusak hidupnya. Sesungguhnya di antara para hamba-Ku ada yang hanya pantas menjadi orang miskin, yang seandainya Kujadikan kaya, niscaya kekayaan itu merusak hidupnya.

Sesungguhnya di antara para hamba-Ku ada yang hanya pantas menjadi orang sehat, yang seandainya ia Kujadikan sakit, niscaya keadaan sakit itu merusak hidupnya. Sesungguhnya di antara para hamba-Ku ada yang hanya pantas menjadi orang sakit, yang seandainya ia Kujadikan sehat, niscaya kesehatan itu merusak hidupnya.

Sungguh Aku Mengatur para hamba-Ku. Sungguh Aku Maha Mengetahui segala sesuatu tentang mereka lagi Maha Melihat Mereka.”

— Hadist qudsi, riwayat al-Baghawi

 

“… kebanyakan dari kita cenderung mengabaikan ide-ide baru yang bertentangan dengan keyakinan kita. Kita juga mempelajari banyak hal dan kemudian gagal untuk mempertahankannya.”

— Syekh Ragip Frager, Psikologi Sufi, h. 165

 

Seseorang terpuaskan dengan penderitaan, seorang lainnya dengan kesenangan;
Seseorang terpuaskan dengan persatuan, seorang dengan perpisahan;

Aku terpuaskan oleh segala kehendak Yang Maha Tercinta.
Baik kesenangan atau penderitaan, penyatuan atau perpisahan.

— Baba Taher

 

“Sedikit pengetahuan yang diterapkan akan membawa kearifan, sedangkan pengetahuan buku yang berlebihan akan mengakibatkan kelemahan mental dan spiritual.”

–Syekh Ragip Frager, Psikologi Sufi, h. 70

 

“… praktik agama adalah menggunakan nafs sesuai kehendak Tuhan. Ia adalah menundukkan kehendak pribadi kita kepada kehendak Tuhan, mengabdi kepada Tuhan, serta menempuh jalan yang mendekatkan diri kita kepada-Nya.”

— Syekh Ragip Frager, Psikologi Sufi, h. 67

 

“Sibukkan tanganmu dengan melakukan pekerjaan duniawi, dan sibukkan hatimu dengan Allah.”

–Syekh Muzaffer

 

“Akal memberi kita kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang buruk, dan kehendak memberikan kita kemampuan untuk memilih tindakan yang benar.

Sering kali kita mengetahui apa yang harus kita lakukan, namun kita tidak melakukannya; ego kita pun mengambil alih dan kita kemudian membuat alasan-alasan untuk diri kita.”

–Syekh Ragip Frager, Psikologi Sufi, h. 46

 

“Bagi psikolog Barat, iman berarti meyakini sesuatu yang tidak nyata atau sebuah ide yang tidak memiliki bukti kuat. Bagi psikolog sufi, iman berarti meyakini kebenaran yang berada di balik beragam penampakan benda material. Iman menempatkan seseorang dalam hubungan yang benar dengan alam semesta dan Tuhan.

… Tanpa keimanan, pemahaman apa pun terhadap diri kita maupun alam semesta akan terdistorsi, karena kita memutuskan diri dari satu-satunya sudut pandang yang membawa kita pada pemahaman yang benar.”

— Robert Frager, Ph.D (Syekh Ragip al-Jerrahi), dalam Psikologi Sufi, h. 43

 

Jika kau mengira Kebenaran dapat dipahami
dari kata-kata,

Jika kau mengira Sang Matahari dan Samudra
mampu melewati celah sempit
bernama mulut,

Oh, seseorang haruslah mulai tertawa!
Seseorang harus mulai terbahak–
SEKARANG!

— Hafizh

 

“Jangan berdiskusi, apalagi menasihati, siapa yang dapat engkau kalahkan argumentasinya, tetapi dia mengalahkan engkau dengan sikap kepala batunya menolak. Jangan juga kepada yang angkuh dengan pendapatnya sehingga menilaimu menghinanya dengan pendapat dan nasihatmu.”

— kata-kata hikmah

 

“Kebanyakan pemuda itu teradikalisasi oleh situasi di lapangan: pendudukan asing; pembunuhan sejumlah besar penduduk sipil oleh pasukan militer Amerika, Barat, atau Israel; perasaan dihina atau dikalahkan; hasrat balas dendam, terkadang bagi orang-orang yang terbunuh dari keluarga mereka sendiri. Ini merupakan isu-isu konkret sekali dan praktis, sama sekali tidak berhubungan dengan teologi Islam. Apabila suatu pengalaman mengerikan tidak dihayati tangan pertama, maka pengalaman itu ditonton di televisi.

Seseorang yang telah teradikalisasi kiranya tidak akan digentarkan melakukan kekerasan sekadar karena ia mendengar khutbah yang mengatakan bahwa Islam tidak mendukung pengebom bunuh diri atau membunuh penduduk sipil. Seseorang yang sudah punya niat balas dendam terhadap serangan nyata atau imaginatif terhadap keluarga, komunitas, dan agamanya akan tetap berusaha menumpahkan darah musuhnya. Dia akan cenderung berkeliling meneliti pendapat-pendapat teologi sampai dia menemukan yang memberinya izin dan kewenangan bagi amarahnya untuk membunuh.

Amarah itu sudah ada terlebih dahulu, pembenaran teologis datang setelahnya, suatu penguatan moral untuk mendukung sebuah tindakan yang sudah ditetapkan dalam hati. Dalam hal ini, amat sulit untuk sekedar menemukan ungkapan yang meyakinkan dalam Al Quran yang secara mendadak akan menjernihkan pikiran, meredakan amarah, dan menenangkan kebencian. Perasaan hati mendahului pikiran.”

— Graham E. Fuller, subbab motivasi-motivasi bagi terorisme, h. 348-349

 

“Kematian, terutama kematian yang kejam, menuntut makna.”

— Graham E. Fuller

 

“Perang itu dikobarkan oleh emosi, yang senantiasa mengalahkan tujuan. Sekali konflik dimulai, kebencian meningkat di kedua belah pihak, kekerasan menimbulkan kekerasan balasan dalam spiral kekejaman yang terus meningkat, tiada akhirnya, dan tanpa akal sehat.”

— von Clausewitz

 

“Bicara tentang etika dalam perang tampaknya hampir tak bermakna, ketika kematian dan kehancuran menjadi inti sebagian operasi militer. Dalam kerangka absolut, tentu saja mengambil nyawa orang adalah tidak bermoral. Tetapi dalam perang, prinsip-prinsip etika atau moral menjadi relatif. … Hampir semua negara dalam sejarah yang pergi berperang senantiasa mengklaim -dan pada umumnya percaya- bahwa kebenaran berada di pihak mereka dalam menghadapi musuh yang jahat.”

— Graham E. Fuller, Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam? hal. 333

 

“Kita harus bekerja demi keadilan dan keselarasan di antara semua orang. Visi kita harus universal dan tidak sempit …

Keadilan menuntut agar yang salah harus dibetulkan dengan cara-cara yang tepat. Ketidakadilan tak dapat dihilangkan dengan ketidakadilan yang lain. Dua kesalahan tidak membuat satu kebenaran dan tujuan tidak membenarkan cara (yang salah).”

— Dr. Muzammil H. Siddiqi, Ketua Dewan Fikih Amerika Utara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s