Quotations Collection Part 43: On December 2014

“You don’t become the weaker one because you love more. You become the weaker one because you’re not free at heart. Not the worry of needing to get back as much as you give, but knowing that being able to love is enough to be okay and happy. That’s what it means to be free at heart.”

— It’s Okay, It’s Love

 

“There is perhaps no more dangerous force in social relations than the human mind. People’s capacities to categorize, interpret, and go ‘beyond the information given’ readily lead to the stereotyping and dehumanization that escalate and entrench group conflict.”

— Keltner & Robinson, dalam Eidelson & Eidelson (2003), “Dangerous Ideas: Five Beliefs that Propel Group Toward Conflict”

 

“Satu pembangunan yang hanya mementingkan lahir belaka, materi dan duniawi, dan kurang memikirkan jiwa manusia yang harus dibangun pula, yang pada hakekatnya maksud pembangunan itu, tidak akan mencapai tujuannya, dan pembangunan seperti itu tidak akan bertahan lama.”

— Dr. Abu Hanifah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1949-1950

 

“… kesejahteraan manusiawi tidaklah ditentukan oleh GNP (gross national product) per kapita, tetapi lebih penting lagi oleh kebijakan sosial yang dilakukan pemerintah. Rakyat Sri Lanka yang termasuk kelas termiskin di dunia berdasarkan indeks GNP per kapita ternyata lebih sejahtera. Jumlah pandai baca-tulis lebih tinggi dari umumnya negara-negara lagi berkembang yang lain (data tahun 1970-an). Kebijakan sosial Sri Lanka yang menyediakan pendidikan cuma-cuma, rawatan pengobatan cuma-cuma, ransum beras cuma-cuma, pengangkutan publik yang diberi subsidi.

Saya rasa ada pelajaran yang terkandung dalam pengalaman Sri Lanka ini, juga buat kita Indonesia. Kita ingat penderitaan batin dan dompet orangtua dan anak-anak yang mencari bangku dari sekolah rendah hingga universitas di negeri kita, yang berulang tiap tahun umpamanya. Di Sri Lanka orang tidak menunggu hingga kuenya besar, baru mau dibagi-bagi secara adil. Mereka mencoba membaginya secara adil dari yang sedikit yang ada.”

— Mochtar Lubis, Tanggapan atas Tanggapan Manusia Indonesia Kini

 

… manusia itu sebenarnya ‘binatang biasa’, tetapi kelebihannya karena memiliki akal. Bilamana akal itu dipakai buat kebaikan, maka itu adalah satu manusia komplit, tetapi bilamana akal itu dipakai buat kejahatan, maka manusia itu lebih buas dari binatang biasa.

Aristoteles dalam bukunya: Politics, berpendapat bahwa Manusia: “Bila dididik baik, ia binatang terbaik di dunia, tetapi bila kurang didikannya dan tidak mau tunduk kepada hukum dan keadilan, ia binatang terjelek di dunia. Karena manusia yang tidak memiliki keadilan itu amat berbahaya, sebab ia dipersenjatai dengan akal dan intelek, serta sedikit memiliki hati nurani yang bersih, maka manusia seperti itu adalah yang terbuas di antara binatang-binatang di dunia ini, dengan nafsu-nafsunya dan kerakusan-kerakusannya yang tak ada akhirnya.”

Plato pernah amat jelas dalam hal ini: “Sebenarnya semua manusia percaya dalam hati kecilnya, bahwa ketidakadilan lebih menguntungkan satu individu daripada adanya keadilan. Banyak orang secara diam-diam menyetujui pendapat ini. Andaikata seseorang mempunyai kekuasaan, dan ia tak pernah memakai kekuasaan buat kepentingan pribadinya, maka banyak orang akan mengatakan bahwa orang itu sinting.”

— Dr. Abu Hanifah, Menyambut Ceramah Mochtar Lubis, Renungan tentang “Manusia Indonesia Masa Kini”

 

“Ilmu adalah kekuasaan, dan kekuasaan tidak pernah netral.”

— Mochtar Lubis, “Manusia Indonesia”, h. 51

 

“To settle an argument, think of what is right, not who is right.”

— Author Unknown

 

“I know that in life there will be sickness, devastation, disappointments, heartache — it’s a given. What’s not a given is the way you choose to get through it all. If you look hard enough, you can always find the bright side.”

— Rashida Jones

 

“… we have big houses and broken homes, high incomes and low moral, more comfortable cars and more road rages. We excel at making a living but often fail at making a life. We celebrate out prosperity but yearn for purpose. We cherish our freedoms but long for connection. In an age of plenty, we feel spiritual hunger”

— the American Paradox, Myers, 2008, h. 583-584

 

“Development is costly – for everyone, the developing person and those around him or her. Growth involves a separation from an old system of meaning. In practical terms this can involve both the agony of felt meaninglessness and the repudiation of commitments and investment. … Developmental theory gives us a way of thinking about such pain that does not pathologize it.”

— Kegan, dalam Bjorklund & Bee (2009), “The Journey of adulthood”, h. 288

 

“Life doesn’t always go according to plan. Sometimes heading in a new direction can be scary until you realize you’re headed toward a new and exciting destination.”

— Susan Gale

 

“When you improve a little each day, eventually big things occur. When you improve conditioning a little each day, eventually you have a big improvement in conditioning. Not tomorrow, not the next day, but eventually a big gain is made. Don’t look for the big, quick improvement. Seek the small improvement one day at a time. That’s the only way it happens — and when it happens, it lasts.”

— John Wooden

 

“If you can’t beat them, join them. If you can’t join them, it’s probably because you just tried to beat them.”

— Author Unknown

 

“No matter where life takes you — big cities, small towns — you will inevitably run across small minds. People who think they are better than you, people who think that being pretty or popular automatically makes you a worthwhile human. None of these things matter as long as you have a strength of character, integrity… sense of pride. So when you meet someone for the first time, don’t judge them by their situation in life, because you never know, they may end up being your very best friend.”

— Joey Potter, Dawson’s Creek

 

A vision without a task is a dream
a task without a vision is drudgery
a vision and a task
is the hope of the world

— Simon, Vazquez, & Harris (1996), “Transcultural Leadership”

 

Manusia memiliki kecenderungan untuk menganggap kebaikan yang dilakukan oleh dirinya lebih utama dibanding kebaikan yang dilakukan oleh orang lain.

— Rasyid Isa

 

“Sukar sekali bagi seorang manusia untuk tetap bersikap objektif dalam masalah rasial, umpamanya, dibandingkan dengan reaksi kimia dalam tabung. Atau dalam mempelajari sistem komunisme dalam masyarakat dibandingkan dengan sistem tata surya dalam jagat raya. Keterlibatan secara emosional terhadap nilai-nilai tertentu menyebabkan seorang ahli ilmu-ilmu sosial cenderung untuk ikut bersetuju atau menolak suatu proses sosial tertentu. Menghilangkan kecenderungan-kecenderungan yang bersifat pribadi untuk tetap objektif adalah sukar dalam penelaahan ilmu-ilmu sosial.”

— Deobold B. Van Dalen, “Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial: Beberapa Perbedaan”, dalam Suriasumantri (2012, h. 183)

 

“Kepelikan alam jauh lebih besar daripada kepelikan argumen.”

— Francis Bacon

 

“Kemampuan untuk memperbaiki kesalahan dalam pengujian ini biasanya didapat dari pengalaman. Oleh sebab itu ada baiknya untuk membiarkan sementara para pelajar yang sampai pada suatu kesimpulan yang salah. Biarkanlah mereka berpegang pada pendapat itu sampai mereka mendapat pengalaman yang sebenarnya untuk mengubah pemikiran mereka setelah bukti-bukti yang benar dikemukakan.

Sesungguhnya suatu pendidikan keilmuan belum dapat dianggap sempurna kalau belum mencapai tingkat kemampuan untuk mengugurkan suatu pendapat yang sebelumnya sangat kita hargai. Pengalaman semacam ini biasanya SANGAT PAHIT, menyebabkan perasaan kita terganggu sampai-sampai tak bisa tidur, namun hal ini sangat berfaedah dalam mengembangkan proses pemikiran yang aktif.”

— W. M. Davis, “Kaidah-kaidah Ilmu yang Masuk Akal: Suatu Dongeng tentang Pasang”, dalam Suriasumantri (2012, h. 83-84)

 

“Bagian yang luas dari daerah kenyataan banyak yang belum pernah diselidiki, bahkan banyak yang belum terbuka sama sekali untuk penelitian keilmuan, apalagi hal-hal yang berhubungan dengan manusia. Bahkan bila penelitian mengenai hal ini telah dilakukan, maka yang sudah kita ketahui ternyata baru sedikit sekali. Lantas apakah yang akan terjadi bila manusia ingin mengisi jurang pengetahuan yang luas ini dengan falsafah pribadinya yang sangat kekanak-kanakan dan … (itu) dia kumandangkan sebagai ilmu?

Ilmu menikmati kekuasaan yang sedemikian besar, dan dalam lingkup ini, wakil-wakilnya lalu menjadi sangat berbahaya jika mereka mulai berfalsafah di luar kemampuan mereka. Jadi, berdasarkan alasan ini, seyogyanya masyarakat memperkenankan semacam kemewahan dengan mempunyai beberapa ahli falsafah, di mana meskipun mereka tak bisa menolong menghasilkan pesawat terbang atau bom atom, namun kemewahan ini mungkin merupakan sesuatu yang berfaedah.

Karena falsafah, dan hanya falsafah, yang bisa memperingatkan kita kepada kegilaan -yang didasarkan pada pemikiran yang salah- yang sering mengancam kita dengan dalih kekuasaan keilmuan. Kiranya salah satu dari fungsi falsafah yang terpenting adalah mempertahankan pemikiran yang benar terhadap fantasi dan omong kosong.”

— J. M. Bochenski, “Apakah Sebenarnya Berpikir”, dalam Suriasumantri (2012, h. 77)

 

“… orang yang berpikir harus memihak ilmu dan menentang kekuasaan manusia, bila terjadi suatu kontradiksi antara mereka. Kontradiksi ini mungkin terjadi umpamanya bila ilmu bertentangan dengan ideologi; yakni argumentasi yang disusun berdasarkan kekuasaan, baik berupa kekuasaan manusia, sosial, maupun kekuasaan-kekuasaan lainnya. …

… karena ilmu untuk sebagian besar hanya memberikan pernyataan yang bersifat mungkin, maka bisa terjadi bahwa hal itu lantas ditolak berdasarkan sesuatu yang pasti. Ilmu bukanlah sesuatu yang pasti, dan jika kita menemukan sesuatu yang pasti di mana penemuan itu menentang apa yang dipertahankan ilmu, maka kita harus memihak kepada sesuatu yang pasti tersebut dan menentang teori keilmuan.”

— J. M. Bochenski, “Apakah Sebenarnya Berpikir”, dalam Suriasumantri (2012, h. 76)

 

“Untuk bisa menghargai ilmu sebagaimana mestinya sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakikat ilmu itu sebenarnya. Seperti kata peribahasa Perancis, ‘Mengerti berarti memaafkan segalanya,’ maka pengertian yang mendalam terhadap hakikat ilmu, bukan saja akan meningkatkan apresiasi kita terhadap ilmu, namun juga membuka mata kita terhadap berbagai kekurangannya.

Mereka yang mendewa-dewakan ilmu sebagai satu-satunya sumber kebenaran biasanya tidak mengetahui hakikat ilmu yang sebenarnya. Demikian juga sebaliknya dengan mereka yang memalingkan muka dari ilmu, mereka yang tidak mau melihat kenyataan betapa ilmu telah membentuk peradaban seperti apa yang kita punya sekarang ini, kepicikan seperti itu kemungkinan besar disebabkan karena mereka kurang mengenal hakikat ilmu yang sebenarnya.”

— Jujun S. Suriasumantri, “Ilmu dalam Perspektif”, h. 3

 

“Wajar saja bila seseorang dapat mempercayai sesuatu, namun kepercayaan bukanlah pengetahuan. Kita hanya dapat mengetahui dengan jalan mengamati atau menalar.”

— J. M. Bochenski, “Apakah Sebenarnya Berpikir”, dalam Suriasumantri (2012, h. 71)

 

“Bahwa manusia berpikir tiap saat merupakan gambaran sehari-hari yang teramat biasa, namun bahwa sejarah kemanusiaan akan lebih mudah dipahami bila kita tinjau dari proses belajar, kenyataan ini merupakan konsep yang kurang dikenal. Sebenarnya karena faktor belajarlah maka kita menjadi manusia seperti sekarang ini. … Perkembangan yang berjalan sangat lambat namun mengesankan ini, lewat proses belajar dan belajar, mengandung hal-hal yang memilukan dan memukau.

Lebih mudah menghancurkan umat manusia secara fisik, dengan sebuah kuman atau ledakan, daripada menghancurkannya secara mental. Karena manusia mampu menyesuaikan diri, dan daya penyesuaian ini adalah kemampuan untuk mengubah dan mengembangkan kekuatan pikirannya. Selama manusia menetap di atas planet ini, tirani dan kekejaman apa pun yang mereka hadapi, mereka tetap dan harus tetap berpikir. Karena disebabkan perjalanan pikiran yang penting inilah -tidak sempurna namun menakjubkan, bersifat unik dalam tiap-tiap pribadi- yang telah membawa kita keluar dari kebiadaban ke arah peradaban dan kebijaksanaan, dan akan lebih lanjut membawa kita ke sana.”

— Gilbert Highet, “Pikiran Manusia yang Tak Tertundukkan”

 

“Pada akhirnya kelaliman juga akan gagal. Adalah tidak mungkin untuk menurunkan harkat kemanusiaan semua umat. Beberapa orang tetap akan terlewat, dan mereka akan berpikir. Kelompok penguasa yang lalim itu sendiri harus terus-menerus berpikir. Dan setiap generasi anak-anak baru dilahirkan, maka pemikir-pemikir baru pun akan muncul.”

— Gilbert Highet, “Pikiran Manusia yang Tak Tertundukkan”

 

“Suatu hal yang pasti mengenai karya besar pemikiran adalah bahwa banyak di antara karya-karya besar tersebut diciptakan oleh orang-orang yang memulai kehidupannya sebagai orang biasa, bahkan dalam keadaan tidak menyenangkan, namun kemudian mereka berkembang sedemikian jauh sehingga melampaui asal-usulnya.”

— Gilbert Highet, “Pikiran Manusia yang Tak Tertundukkan”

 

“… pengetahuan adalah kekuasaan. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkat atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada orang yang menggunakan kekuasaan tersebut. Ilmu itu sendiri bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap.

Jalan mana yang akan ditempuh dalam memanfaatkan kekuasaan yang besar itu terletak pada sistem nilai si pemilik pengetahuan tersebut. Atau dengan kata lain, netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologisnya saja: Jika hitam katakan hitam, jika ternyata putih katakan putih; tanpa berpihak kepada siapa pun juga selain kepada kebenaran yang nyata. Sedangkan secara ontologis dan aksiologis, ilmuwan harus mampu menilai antara yang baik dan yang buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap.

Kekuasaan ilmu yang besar ini mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang kuat. Tanpa suatu landasan moral yang kuat, seorang ilmuwan akan lebih merupakan seorang seperti Frankenstein, yang menciptakan momok kemanusiaan yang merupakan kutuk. Semoga hal ini disadari oleh kita semua, terutama oleh para pendidik kita, bahwa tak cukup hanya mendidik ilmwan yang berotak besar, tetapi mereka pun harus pula berjiwa besar.”

— Jujun S. Suriasumantri, “Ilmu dalam Perspektif”, h. 45

 

“… ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, apa pun juga teori yang disusun di antara mereka.”

— Albert Einstein

 

“… tanpa penafsiran yang sungguh-sungguh maka ‘alam akan mendustai kita bila dia mampu’.”

— Charles Darwin

Kritik bagi kaum empiris jika menjadi pengamat tak berotak.

 

“Tiap orang cenderung untuk percaya kepada kebenaran yang pasti menurut mereka sendiri. Lalu bagaimana kita bisa sampai kepada suatu konsensus bila hanya berdasarkan apa yang dianggap benar oleh masing-masing?

Saya kira pengalaman kita sehari-hari menunjukkan dengan jelas betapa sukarnya kita sampai kepada suatu kesimpulan yang disetujui bersama bila hanya berdasarkan pada cara tersebut. Yang benar bagi si A belum tentu benar bagi si B, malah mungkin sebaliknya. Seperti bunyi pepatah: kepala sama berbulu, pendapat berlain-lain.

Cara berpikir seperti ini menyebabkan kita terjatuh dalam SOLIPSISME, yakni pengetahuan yang benar menurut anggapan kita masing-masing.”

— Jujun S. Suriasumantri, “Ilmu dalam Perspektif”, h. 12-13

Kritik bagi para rasionalis sejati. Jahat mengkritik habis-habisan empirisisme, tetapi hancur-hancuran dalam perdebatan sendiri.

 

“Tugas falsafah yang sebenarnya bukanlah menjawab pertanyaan kita, namun mempersoalkan jawaban yang diberikan. Kemajuan manusia dalam berfalsafah bukan saja diukur dari jawaban yang diberikan, namun juga dari pertanyaan yang diajukan.”

— Socrates

 

“Ilmu mengungkapkan kebenaran, agama dan moral mengajarkan kebaikan, dan seni memancarkan keindahan. Namun, semua pengetahuan ini tidak secara langsung mendatangkan kearifan. Kearifan tumbuh dari kesadaran dan keterbatasan, baik itu keterbatasan manusia, maupun keterbatasan pengetahuan manusia. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahhatian bahwa segala sesuatu mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Kita tidak bisa hidup hanya dengan kebenaran tanpa kebaikan dan keindahan. Kebenaran ilmiah bukan satu-satunya kebenaran, bahkan, hanya merupakan kebenaran yang bersifat probabilistik dan pragmatik. Untuk itu selalu ada tempat dalam kehidupan ilmuwan untuk pengetahuan yang lain. Ilmuwan (membutuhkan) agama, moral, dan seni untuk melengkapi kehidupannya.

Ilmuwan tidak selamanya hanya menghirup udara laboratorium yang steril dan antiseptik. Dalam kejauhan dan keraguan, ilmuwan bisa membuka jendela laboratoriumnya lebar-lebar: menghirup udara segar, mendengar daun yang gemerisik; atau, menyimak ayat-ayat yang memberikan ketenteraman dan kepastian.”

— Jujun S. Suriasumantri, “Ilmu dalam Perspektif”, h. xvi

 

“Yesterday is but today’s memory, and tomorrow is today’s dream.”

— Khalil Gibran

 

“… moral exemplars in the fullest sense demonstrate moral (knowing the good) and practical wisdom (knowing how to carry it out in the situation). Moral expertise is applying the right virtue in the right amount at the right time. ‘A wise (or virtuous) person is one who knows what is good and spontaneously does it.'”

— Darcia Narvaez, h. 312

 

“… character education should not be approached as an either/or, as a choice between rational moral education and character education, or between deliberative reasoning and intuition development. Both systems are required for moral agency and moral personhood. The intuitive mind makes decisions and takes actions without conscious awareness most of the time. Yet the deliberative mind is vital for guiding intuition development and countering poor intuitions. A person without one or the other is missing a critical tool for moral personhood.”

— Darcia Narvaez, “Human Flourishing and Moral Development: Cognitive & Neurobiological Perspectives of Virtue Development”, dalam Handbook of Moral and Character Education, h. 312

 

“Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.”

— Pramoedya Ananta Toer, lewat Jean Marais

 

“Kau datang ke sini untuk belajar, bukan untuk menjadi lebih pintar. Kau belajar di sini untuk menjadi lebih bijak, bukan untuk menjadi benar. Itu, obat untukmu yang takut salah dan takut tampak bodoh. Telan, jangan dimuntahkan lagi.”

— My Own Mind

 

“Jangan memaksa diri untuk cepat mengerti. Sering untuk mengerti, seseorang butuh usaha, waktu, pengorbanan, dan peristiwa. Semua hal datang pada waktunya, atas izin Allah, termasuk jawaban dan hikmah. Tinggal persoalannya bagaimana agar kau tak menyerah memelihara pertanyaan dan persoalan tetap ada di dalam batinmu. Ya… Karena tidak ada jawaban tanpa pertanyaan. Tak ada hikmah tanpa keinginan berteman dengan persoalan. Jangan memusuhi masalah. Bertemanlah yang akur dengannya. Dia Karunia Tuhan bagi orang-orang yang mengerti hakikatnya.”

— My Own Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s