Quotations Collection Part 44: On November 2014

People are often unreasonable, illogical and self-centered;
Forgive them anyway.

If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motive;
Be kind anyway.

If you are successful, you will win some false frieds and some true enemies;
Succeed anyway.

If you are honest and frank, people may cheat you;
Be honest and frank anyway.

What you spend years building, someone could destroy overnight;
Build anyway.

If you find serenity and happiness, they may be jelous;
Be happy anyway.

The good you do today, people will often forget tomorrow;
Do good anyway.

Give the world the best you have, and it may never be enough;
Give the world the best you’ve got anyway.

You see, in the final analysis, it is between you and Your God;
It was never between you and them anyway.

— Mother Theresa

 

“Ketidakterikatan (pada dunia) bukan berarti kau gagal menikmati apa pun yang Tuhan kirimkan kepadamu. Ketidakterikatan berarti kau tidak merasa kehilangan (ketika) karunia-karunia itu diambil kembali oleh Sang Pemilik.

… kita meski menikmati dunia dan hidup dengan layak, tetapi tidak berlebih-lebihan. Kita dapat menikmati dunia tanpa menjadi terobsesi dengannya atau kecanduan kepadanya.”

— Robert Frager

 

“… kita sebenarnya tidak mengetahui apakah Tuhan akan menerima ibadah yang kita lakukan. Kita tidak tahu di mana kedudukan kita… Hanya Allah yang mengetahuinya. Semua penilaian kita itu tidak masuk akal.

Kita menilai semua orang dan segala hal. Kita menilai teman-teman, keluarga, dan tetangga kita. Kita menilai para murid dan guru-guru kita. Kita menilai berbagai kelompok dan para ulama. Hentikan sikap dan perilaku seperti itu, karena semua itu hanya imajinasi dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

Hanya Allah yang mengetahui. … Hanya Allah yang mengetahui doa-doa siapa saya yang diterima. Hanya Allah yang tahu siapa yang hidup dan berjalan dengan Kebenaran. Hanya Allah yang tahu di mana kedudukan seseorang… Hanya Allah yang tahu apa yang terjadi dalam diri kita atau orang lain.”

— Robert Frager, dalam Obrolan Sufi, h. 366-367 (dengan penyesuaian)

 

“… kita tidak pernah menjadi sempurna. Kita tidak diciptakan sempurna. … Kita diciptakan untuk membutuhkan bantuan, kemurahan hati, dan ampunan Allah. … Menjadi sempurna bukan pilihan bagi kita. … kita tidak ‘butuh’ untuk menjadi sempurna dan kita semestinya tidak mencoba ‘menjadi’ sempurna. Kendati demikian, kita harus berjuang keras ‘menuju’ kesempurnaan.

Nafsu sering kali berusaha meyakinkan kita bahwa kita harus sempurna karena tanpa kesempurnaan kita tidak akan pernah membuat kemajuan… Jika kita mengikuti bujukan nafsu, ia menang karena sesungguhnya kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan.

Semestinya kita tidak merasa takut dengan apa yang tidak bisa kita lakukan, tetapi bersyukurlah atas apa yang bisa kita kerjakan. Kemudian, mintalah ampunan kepada Allah atas segala kekurangan.”

— Robert Frager, dalam Obrolan Sufi, h. 364-365

 

“Dalam urusan kebijaksanaan dan perkembangan ruhani, kita harus melihat orang-orang yang jauh lebih maju daripada kita. Kita jadikan teladan mereka sebagai pemicu semangat. Sedangkan dalam urusan materi atau dunia, kita harus melihat pada orang-orang yang lebih kekurangan dibandingkan kita dan bersyukur atas apa yang telah kita miliki.”

— Muzaffer Effendi

 

“Tanamkanlah komitmen dalam diri kita untuk belajar, bukan untuk menjadi benar.”

Ada dua macam orang di dunia ini, yaitu orang yang mengetahui dan orang yang belajar. Orang yang mengetahui adalah orang yang berkomitmen untuk menjadi benar. Mereka berusaha mati-matian mempertahankan pendapat mereka sehingga mereka belajar sangat sedikit. Akibatnya, mereka tidak belajar apa-apa, tetapi mereka akan menjadi “benar”.

Orang yang belajar, di sisi lain, tidak bersikap defensif. Mereka menyambut secara terbuka berbagai pandangan dan pemikiran yang berbeda dan juga informasi yang bertentangan karena mereka mengabdikan diri mereka untuk belajar.

Sebagai manusia, sebaiknya kita menjadi orang yang belajar, bukan menjadi orang yang mengetahui.

— Robert Frager

 

“Kemiskinan yang sesungguhnya adalah takut akan kemiskinan.”

Kita seharusnya belajar untuk tidak takut pada apa pun di dunia ini kecuali ketidaksenangan Tuhan. Secara khusus, kita tidak boleh takut miskin, karena jika kita takut miskin, kita menjadi boneka dunia. …

Kita harus mengatasi rasa takut kita akan kemiskinan. Kita harus bersikap berani dan berkata pada diri sendiri, “Harta benda akan datang dan pergi. Aku akan terus bekerja dan menabung sebanyak yang aku bisa, tetapi akan tiba saatnya ketika aku mungkin tidak memiliki apa-apa. Sedikit pun aku tidak memiliki kuasa. Apa pun yang dikehendaki Tuhan, semuanya berada di luar kekuasaanku.”

— Robert Frager, dalam Obrolan Sufi, h. 320 dan 326

 

“Tuhan mungkin menyingkapkan sesuatu yang buruk atau menyakitkan pada diri seseorang, tetapi bukan tugas kita untuk mengungkapkannya.”

— Robert Frager, Obrolan Sufi, h. 262

 

“Kita semua adalah guru dan murid meskipun sebagian diberi tugas formal sebagai guru sufi. Seharusnya sepanjang hidup kita terus belajar dan mengajar. Jika kita mandek menjalankan peran sebagai guru, kita menjadi stagnan dan gagal untuk belajar dari murid-murid kita. Jika kita mandek menjalankan peran sebagai murid, kita gagal memenuhi kewajiban untuk melayani orang lain dengan mengajarkan apa yang telah kita pelajari.”

— Safer Efendi, dalam Obrolan Sufi (Frager, 2012, h. 225)

 

Jangan bicara soal ukhuwah kalau membabi buta bagian dari kebiasaan.

— dari sebuah tulisan

 

Musuh dalam selimut…
Mereka memang hidup di sekitar Anda
tapi hati dan pikiran mereka tidak bersama anda.

— dari sebuah tulisan

 

Pisau hukum tidak dapat hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas.
Mata hukum tidak dapat hanya tajam ke luar, tetapi buta ke dalam.

— My Own Mind

 

“Sikap meninggalkan perencanaan yang berarti melepaskan diri dari kungkungan sebab-sebab dan tidak memberi ruang bagi segala bentuk instrumen di dalam hati, merupakan kedalaman yang luar biasa… Sesungguhnya sikap tidak memberi pengaruh hakiki terhadap sebab-sebab sambil tetap berinteraksi dengan sebab-sebab itu merupakan bentuk tawakal…”

— Muhammad Fethullah Gulen, bab Tawakal, Taslim, Tafwidh, Tsiqah, h. 138

 

“Hati yang terbuka bagi akhlak mulia sebenarnya serupa dengan sebuah tempat yang luas. Termasuk ketika kegundahannya dapat memenuhi seisi dunia, maka ia tetap dapat menemukan ruang di dalam hatinya untuk memendam kegundahan itu sehingga tidak meluap menjadi amarah.

Adapun pribadi yang berakhlak buruk, mereka memiliki dada yang sempit, sebab merekalah orang-orang dungu yang lebih bodoh dibandingkan gagak seperti yang terjadi pada Qabil. Mereka tidak akan pernah dapat menemukan liang kubur yang cukup luas untuk menjadi tempat mereka memendam kemarahan dan perasaan mereka yang busuk.”

— Muhammad Fethullah Gulen, bab Akhlak, “Tasawuf untuk Kita Semua”, h. 148

 

Keburukan apa pun yang tersembunyi dalam diri seseorang
Meski itu tetap tersembunyi, tetapi kelak pasti akan diketahui

Kesempurnaan manusia adalah dengan akhlak
Keteraturan dunia hanya dapat dicapai dengan akhlak

— Seorang Penyair

 

“The truth is, unless you let go, unless you forgive yourself, unless you forgive the situation, unless you realize that that situation is over, you cannot move forward.”

— Steve Maraboli

 

“Too many people spend money they haven’t earned to buy things they don’t want to impress people they don’t like.”

— Anonym

 

“Wanita diuji ketika pria tidak punya apa-apa. Pria diuji ketika dia punya segalanya.”

— Anonym

 

“Love people for who they are, and not for who you want them to be.”

— Author Unknown

 

“Nobody knows really what they’re doing and there’s two ways to go with that information. One is to be afraid and the other is to be liberated, and I choose to be liberated by it.”

— Conan O’Brien

 

“Even Socrates, who lived a very frugal and simple life, loved to go to the market. When his students asked about this, he replied, I love to go and see all the things I am happy without.”

— Jack Kornfield

 

Nafsu menangisi dunia, padahal ia tahu bahwa
keselamatan di dunia adalah dengan meninggalkannya
Tidak ada tempat tinggal bagi manusia setelah mati
Kecuali di tempat yang ia bangun sebelum kematiannya

Harta yang kita kumpulkan adalah milik ahli waris
Rumah yang kita bangun pasti akan runtuh seiring waktu
Berapa banyak kota yang didirikan di segenap kaki langit
Lalu semuanya runtuh karena kematian mendatanginya
Setiap jiwa pasti punya, meski ia memiliki ketakutan
Mimpi-mimpi dan harapan membuatnya kuat
Manusia memperluas mimpi, tetapi waktu mempersempitnya
Nafsu membentangkannya, tetapi kematian menggulungnya

— Ali bin Abi Thalib, dalam Diwan Amir al-Mu’minin

 

“Air yang ada di dalam kapal adalah penyebab kebinasaannya, padahal air yang ada di bawahnya menjadi tempat jalannya.”

— Jalaluddin Rumi, dalam Mathnawi

 

“Strength of character isn’t always about how much you can handle before you break, it’s also about how much you can handle after you’ve broken.”

— Robert Tew

 

“I have great faith in fools — my friends call it self-confidence.”

— Edgar Allan Poe

 

“We are all much more simply human than otherwise, be we happy and successful, contented and detached, miserable and mentally disordered, or whatever.”

— Harry Stack Sullivan

 

“Never forget that in psychology the means by which you judge and observe the psyche is the psyche itself. Have you ever heard of a hammer beating itself? In psychology the observer is the observed. The psyche is not only the object but also the subject of our science.”

— Carl Gustav Jung

 

“For the only therapy is real life. The patient must learn to live, to live with his split, his conflict, his ambivalence, which no therapy can take away, for if it could, it would take with it the actual spring of life.”

— Otto Rank

 

This vision has ever been lost, but now revives.
These are not for others, but always for myself.

I found my old home.
I found my old me.

— My Own Mind

 

“… apa pun yang kita hakimi atau kritik pada diri seseorang, sesungguhnya keburukan itu juga ada pada diri kita. Keburukan apa pun pada diri orang lain yang membuat kita jengkel, ada pula dalam diri kita. Jika tidak, kita tidak akan begitu jengkel. Ketika seseorang bersikap arogan atau egois, kita kesal padanya karena kita menyadari keegoisan dan kesombongan itu pun ada dalam diri kita.”

— Robert Frager, dalam “Obrolan Sufi”, h. 118-119

 

Ketika sedang mendengarkan orang lain, saya sarankan untuk menerapkan SDT – sabar, diam, dan tawaduk.

Bersikap sabar adalah menahan diri dan tidak terburu-buru memberikan jawaban atas masalah orang lain, menunggu dan tidak tergesa-gesa membuat penilaian atau kesimpulan. Ego kita selalu berusaha memberikan jawaban yang kita anggap cerdas. Akan sangat baik jika kita melawan keinginan ego dan berkata, “Aku tidak tahu.” Mengapa kita berpikir bisa memberikan solusi brilian bagi masalah orang lain? Kita layak mencurigai pemikiran semacam itu, karena sikap itu menandakan keangkuhan.

Sikap diam menuntut kita lebih banyak mendengarkan dan mengurangi bicara. Bersikap diam berarti mendengarkan secara mendalam tanpa melibatkan analisis atau penilaian terhadap apa yang kita dengarkan.

Dan sikap tawaduk berarti selalu ingat bahwa kita tidak tahu semua jawabannya. Tawaduk artinya menjaga penilaian kita dan mengingat bahwa kita tidak pernah benar-benar mengetahui kebenaran suatu masalah. Kita mungkin memiliki pendapat, tetapi kita tidak mengetahuinya secara pasti.

Bersikap tawaduk juga berarti mendoakan orang lain, mengingat bahwa semua solusi mutlak datangnya dari Tuhan. Sering kali kita duduk bersama seseorang, mengemukakan pendapat, lalu lupa mendoakan mereka agar masalahnya cepat selesai. Kita lupa bahwa pertolongan datang dari Allah, bukan dari saran yang kita berikan. Sering kali kita lupa atau enggan mengatakan, “Aku tidak tahu jawabannya, tetapi aku akan mendoakan dirimu.”

… doa yang tulus lebih bermanfaat dibanding saran yang kerap tidak berguna.

— Robert Frager, dalam “Obrolan Sufi”, h. 116-117

 

“Teman dari musuhku adalah musuhku dan musuh dari musuhku adalah temanku.”

— Pepatah Arab

Teman nafsu kita adalah orang yang memuji-muji kita, yang mengabaikan kesalahan kita, dan membuat kita semakin merasa bangga dan angkuh. Musuh nafsu kita adalah orang yang mengkritik kesalahan kita dan mencegah kita membusungkan dada.

— Robert Frager, dalam “Obrolan Sufi”, h. 85

 

“Menjelang pertengahan abad keenam belas, ketika keshogunan Ashikaga ambruk, Jepang menyerupai medan pertempuran raksasa. Panglima-panglima perang memperebutkan kekuasaan, tetapi dari tengah-tengah mereka tiga sosok besar muncul, seperti meteor melintas di langit malam. Ketiga laki-laki itu sama-sama bercita-cita untuk menguasai dan mempersatukan Jepang, namun sifat mereka berbeda secara mencolok satu sama lain: Nobunaga, gegabah, tegas, brutal; Hideyoshi, sederhana, halus, cerdik, kompleks; Ieyasu, tenang, sabar, penuh perhitungan. Falsafah-falsafah mereka yang berlainan itu sejak dulu diabadikan oleh orang Jepang dalam sebuah sajak yang diketahui oleh setiap anak sekolah:

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”
Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ‘ingin’ berkicau.”
Ieyasu menjawab, “Tunggu.”

Buku ini, ‘Taiko’ (sampai kini, di Jepang, Hideyoshi masih dikenal dengan gelar tersebut), merupakan kisah tentang laki-laki yang membuat burung itu ingin berkicau.”

— Eiji Yoshikawa, dalam Catatan untuk Pembaca, dalam Taiko, sebuah novel

 

“Don’t find fault, find a remedy.”

— Henry Ford

 

“… kekuasaan, seperti apapun wujudnya, selain memiliki sumber awal, juga pasti ada sumber akhirnya yang merongrong eksistensinya. Maka, jangan tahu apa itu kekuasaan sesudah kekuasaan itu lewat. (Seperti juga: jangan tahu muda saat sesudah tua, atau tahu sehat saat sakit.) Harus selalu ingat pada saat menang dan saat kalah bahwa sebetulnya kita berhadapan muka ke muka dengan nasib, destiny, yang penuh rahasia. Sejarah selalu berjalan ke depan.”

— Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Mantan Dubes RI untuk AS, Manto Menko Perekonomian, “Menang dan Kalah dalam Politik”, KOMPAS, 8 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s