Hidup dengan Tasawuf yang Benar: Persoalan Psikologi Sufi, Sejarah Perkembangan Tasawuf, dan Pemurniannya

Aku bersyukur dengan hidupku, setidaknya satu tahun sampai enam bulan terakhir. Aku memasuki secara lebih serius sebuah bidang ilmu yang sebelumnya hanyalah sebuah minat. Aku belajar tasawuf.🙂

Tasawuf berkenaan dengan aspek batin ajaran agama. Aku memutuskan menghindari masuk dalam perdebatan di antara ulama fikih tentang status tasawuf, juga para murid dan pengikut mereka. Cukup tahu saja, oke, seperti itu pendapat mereka. Yang menarikku pada tasawuf adalah kebermanfaatannya yang nyata ada pada diriku. Selain itu, tasawuf bagiku memberikan psikologi cukup tempat dalam dunia keilmuan Islam.

Aku membaca beberapa buku untuk ini. Dua karya Syekh Ragip Frager al Jerrahy (Obrolan Sufi dan Psikologi Sufi) dan dua karya Prof. Dr. HAMKA (Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya dan Tasauf Modern). Dan hasilnya… aku cukup berpikir keras mencari cara bagaimana agar ide-ide ini bisa sama-sama didudukkan tanpa saling jotos dengan yang lainnya. Tasawuf dari kacamata Islam tidak sama dengan tasawuf dari kacamata psikologi transpersonal dan psikologi humanisme.

Jadi, bagaimana sebaiknya memulai tulisan ini? Hmm… Kita mulai dari pertanyaan pertama: seberapa benar tasawuf itu sebagai ilmu maupun praktik?

***

1#

Gagasan tasawuf atas sufisme yang ditawarkan Ragip Frager di bukunya Obrolan Sufi hampir semua menarik dan lolos filter keilmuanku, sampai aku tertumbuk pada kalimat-kalimat pertama di pendahuluan buku keduanya, Psikologi Sufi, yang mengganggu:

Para sejarawan umumnya menggambarkan tasawuf sebagai dimensi-dimensi utama dalam Islam dan menyebut kemunculannya pada abad ke-9 Masehi, sekitar dua ratus tahun sesudah lahirnya Islam. Dalam pengertiannya yang universal, tasawuf mencakup dimensi mistik dari seluruh agama. Agama ibarat sebatang pohon yang akar-akarnya berupa amalan-amalan keagamaan. Dahan pohon tersebut adalah mistisisme, dan buahnya adalah kebenaran.

Tasawuf tidaklah berbeda dengan mistisisme dari semua agama. Laksana sungai yang mengalir melewati banyak negara dan yang diaku sebagai milik masing-masing negara tersebut, ia sebenarnya hanyalah bermuara satu. Seluruh mistisisme memiliki tujuan yang sama, yakni pengalaman ketuhanan langsung.” (h. 11)

Itu gagasan yang “agak berbahaya” secara akidah, hematku. Agama antara satu dan lainya memiliki baik kesamaan maupun perbedaan. Agama-agama sama di satu aspek, dan berbeda-beda di aspek lainnya. Sifat yang tidak absolut sama maupun absolut berbeda itu menjadikan “mempersamakan” tasawuf dengan mistisisme dari semua agama adalah pendapat yang berlebihan; karena setidaknya akan ada hal yang menjadikan tasawuf sebagai mistisisme Islam berbeda dan unik, dan tentu lebih benar di sisi Allah, daripada mistisisme pada agama lain.

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19)

Yang di atas tersebut adalah satu persoalan.

Pada kalimat yang lain, “Kebanyakan para sufi meyakini bahwa terdapat kebenaran mendasar dari seluruh agama. Agama-agama besar memiliki inti ajaran yang sama. Beragam nabi dan guru spiritual bagaikan bola-bola lampu yang menyinari sebuah ruangan. Bola lampu tersebut berbeda-beda, namun sinarnya berasal dari sumber yang sama, yakni Tuhan. Di dalam sebuah ruangan dengan beragam bola lampu, Anda tidak dapat membedakan cahaya dari bola lampu satu dengan cahaya bola lampu lainnya. Seluruh cahaya tersebut sama, dan setiap bola lampu tersebut menerima aliran listrik dari sumber yang sama, walaupun sebagian bola lampu itu memberian lebih banyak cahaya dari bola lampu lainnya. Kualitas cahaya tersebut sama, demikian juga dengan sumbernya.” (h. 12)

Ini persoalan kedua: bersinggungan dengan filsafat perenialisme yang menolak eksklusivitas religius bahwa “di luar agamaku tak ada keselamatan” dan menyatakan bahwa semua agama hakikatnya sama membawa pada kesalamatan, meskipun tampaknya berbeda dalam metode dan praktik. Bagi orang-orang yang hati-hati, kekhawatirannya tentu adalah jika tasawuf menjadi jalan bagi pluralisme dan sinkretisme agama. Bagi orang-orang yang berlebihan, tasawuf bisa menjadi jalan untuk “meruntuhkan” bangunan agama yang formal karena berfokus pada yang hakikat dan spiritual saja (spiritualisme).

Apakah masalahnya berhenti sampai di dua persoalan itu? Tidak. Aku menemukan satu lagi.

Aku mencermati fenomena orang-orang memasuki suatu tarikat sufi di Amerika Serikat (dalam buku tersebut) yang mana tarikat itu (mungkin karena perenialisme dan spiritualisme) menjadi terbuka bagi siapa saja, apapun latar belakang agama mereka. Aku pribadi tak bisa membayangkan bagaimana bisa orang dari agama yang berbeda-beda memasuki suatu tarikat sufi dan mempraktikkan Islam secara begitu saja. Ada dalam hati ini perasaan tak bisa menerima jika makna dari praktik-praktik keagamaan Islam, sesuatu yang sejak awal bernilai ibadah untuk menyembah Allah, tereduksi sedemikian rupa menjadi sekadar metode untuk mencapai tujuan manusia yang menginginkan ketenangan hidup di dunia.

Pertanyaan terbesarku: Is it okay for Islam  to be practiced pragmatically like that? Is it okay for tasawuf itself to be practiced by people only as tool, as method, TO GAIN HAPPINESS living in this world, and lose its ubudiyyah nuance? 

Keadaan macam ini benar-benar membuatku membayangkan akan datangnya suatu masa di mana Islam menjadi sekadar komoditas duniawi, di mana nilai penghambaan diri pada Allah dalam “ibadah” ternetralkan. Orang-orang akan melakukan salat seperti melakukan yoga atau teknik meditasi lainnya, berdzikir seperti merapal mantra saja, dan sebagainya. Orang-orang akan menjadikan agama sebagai teknik terbaik, cara hidup terbaik di dunia, tetapi mereka kehilangan Tuhan. Agama mungkin akan tersebar ke seluruh dunia dan bermanfaat bagi siapa saja, tetapi sebenarnya ia tengah berkarat dan mengeropos. Masa di mana spiritualitas dicapai dengan agama, tetapi agama tidak membawa manusia kepada Tuhan, hanya pengalaman ketuhanan semata.

Terkait dengan psikologi, tidakkah mengkhawatirkan jika nantinya praktik-praktik Islam bermanfaat HANYA sebagai semacam metode psikoterapi, relaksasi, atau metode memusatkan pikiran? Saat ini orang-orang banyak meneliti tentang manfaat ibadah ini dan itu terkait kepentingan dunia manusia, apakah untuk kesehatan fisik maupun jiwanya. Bagaimana jika nanti orang melakukan “ibadah” hanya demi manfaat-manfaat itu dan lupa bahwa sesungguhnya itu untuk Allah dan Allah-lah yang menentukan apakah ibadah itu akan bermanfaat atau tidak?

Selama ini aku biasa meremehkan orang-orang yang beribadah tanpa tahu apa manfaat ibadah itu bagi dirinya. Mereka beribadah hanya karena tahu itu perintah Allah yang wajib dan berpahala. Tetapi jika dibandingkan dengan orang-orang yang ber-“ibadah” demi kepentingan diri mereka sendiri, aku sekarang menilai mereka yang untuk beribadah saja butuh memaksa diri atau dipaksa orang lain dan merasa terpaksa adalah lebih baik. Kesimpulanku, motivasi intrinsik dalam beribadah tak selamanya baik dan benar.

***

2#

Bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa psikologi, yang hendak mempelajari tasawuf sebagai sebuah ilmu untuk dipraktikkan, ada baiknya kita mengetahui secara cukup sejarah dari tasawuf, terutama terkait mengapa ia sampai ada. Mungkin ada banyak buku tentang ini, tetapi carilah penulisnya yang terpercaya sehingga mampu memberikan pandangan yang proporsional. Sama seperti ilmu-ilmu lainnya, tasawuf tidak bebas dari kesalahan manusia yang mengembangkannya, meskipun dikatakan bersumber dari Al Quran dan sunnah nabi.

Aku bersyukur mendapati buku Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya ada di rumah. Dalam buku ini, aku mencapatkan cerita tentang perkembangan tasawuf dari masa ke masa, bahkan sejak pertama kali Islam itu lahir.

Akar dari perkembangan tasawuf adalah kerohanian manusia yang hidup dan senantiasa melawan gangguan-gangguan hawa nafsu. Tasawuf mencerminkan ikhtiar untuk mengendalikan hawa nafsu yang sangat dipengaruhi oleh alam kebendaan dan dapat merusak hubungan seorang hamba dengan Tuhan-nya. Pada akhirnya, dinamika ikhtiar, naik dan turunnya usaha, tersebut membuahkan kepribadian yang baik dan akhlak mulia atau yang sebaliknya.

Ajaran Islam sejak awal berupaya menghidupkan sisi rohani manusia, sisi diri manusia yang berpikir dan merenung, serta merasa, dan memberikan suatu cara pandang menghadapi kehidupan. “Orang yang masuk dalam kehidupan kerohanian ini, tidaklah berubah baginya baik memakai pakaian yang terbikin dari bulu (shufi) atau pakaian lambang kekuasaan.” (h. 19) Penilaiannya akan segala sesuatu di dunia tidak terikat atau terpengaruh oleh kondisi keduniaan, karena yang menjadi parameter baik dan buruk baginya adalah ketakwaan, sebuah mutiara, terutama yang tersimpan di dalam hati. Cara pandang yang seperti itulah yang kemudian membentuk sikap hidup dan perbuatan, baik terhadap diri sendiri, sesama, alam, dan yang terbesar, Tuhan.

Ada masanya di mana tasawuf adalah Islam itu sendiri, yaitu pada tahun-tahun awal Islam di mana nabi dan para sahabatnya hidup. Tujuan “tasawuf” adalah tujuan ajaran Islam itu sendiri, yaitu agar muslim mampu mengendalikan jiwanya dan menempuh hidup dalam rangka mencari keridhaan Allah, agar muslim tidak terperdaya oleh kebendaan (kehidupan dunia dan kesenangannya). Sesederhana itu.

… sejak lahirnya agama Islam kehidupan Tasauf itu telah timbul dalam kalangan Muslimin sendiri karena membaca Qur’an dan Hadist.” (h. 38) Pada abad pertama dan kedua hijriah, “Hidup kerohanian itu belumlah terpisah dari kehidupan sehari-hari. … Sahabat-sahabat nabi yang utama, yang mencontoh kehidupan Nabi Muhammad telah dapat menggabungkan kehidupan lahir (duniawi) dengan hidup kerohanian di dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun mereka menjadi Khalifah yang utama, seperti Abu Bakar, Umat, Utsman, dan Ali, namun segala warna kehidupan itu telah mereka pandang dari segi hidup kerohanian. Di kala Umar bin Khattab memerintah, meskipun kunci kekuasaan seratus persen terpegang di tangannya, namun kehidupan sehari-hari tidaklah berubah dari kehidupan orang Islam yang lainnya.” (h. 67)

Baru di abad ke-3, tasawuf menjadi ilmu yang teratur. Tasawuf adalah satu di antara ilmu-ilmu syariat Islam, bersumber dari amal-amal perbuatan orang-orang terdahulu yang saleh, dari Nabi, sahabat Nabi, dan orang-orang yang mengikuti setelah itu. Tujuannya adalah menuruti jalan kebenaran dan petunjuk Allah. Pokok-pokok tasawuf saat itu adalah bertekun beribadah, memutuskan jalan yang lain dan tetap hanya tertuju kepada Allah, menolak kemegahan dan perhiasan dunia, dan menyendiri dari makhluk dalam rangka beribadah.

Ketika tasawuf menjadi ilmu tersendiri, mulailah terjadi spesialisasi di kalangan umat Islam. Beberapa nama sufi yang terkenal di abad kedua Hijriah adalah Hasan Bashri (w. 110 H) yang mengemukakan konsep khauf dan rajaa dan Rabi’ah al ‘Adawiyah (w. 185 H) yang mengajarkan zuhud hidup karena cinta kepada Allah. Bagi mereka, gabungan di antara ilmu batin dengan ibadah yang lahir itu adalah puncak kebahagiaan tasawuf. “Tasawuf adalah pakaian hati dalam melaksanakan amal ibadat, rukun, dan syariat.” (h. 91)

Di abad kedua, tasawuf hanya terkenal di Kuffah dan Bashrah (Irak), tetapi seiring dengan perkembangan peradaban Islam, di abad ketiga dan keempat, tasawuf menyebar ke berbagai penjuru dunia Islam. Tasawuf muncul terpicu oleh krisis moral ada masa itu lantaran pemerintahan Islam yang cinta dunia dan bermewah-mewah. Pusat perkembangan tasawuf ada di Persia (sekarang Iran), lalu ke Mesir, Syria, dan Jazirah Arab.

Di abad ketiga dan keempat, selain konteks perkembangan pemerintahan Islam, filsafat Yunani dan ilmu lainnya pun masuk dan berkembang pula ilmu Islam lain, terutama ilmu kalam. Kesemuanya sama-sama berusaha mencapai kebahagiaan dengan mencari Tuhan, tetapi ilmu kalam dengan logika dan filsafat, sementara tasawuf dengan rasa. Akhirnya, ada ulama yang mengkhususkan diri pada ilmu fikih saja (sehingga muncul mazhab-mazhab fikih), ada ulama yang mengkhususkan diri pada pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan (sehingga muncul nama-nama seperti Ibn Sina, Al Farabi, dan sebagainya), dan ada pula yang mengkhususkan diri pada alam kerohanian saja. Muncul nama-nama seperti Zun Nun al Mishri, Abu Yazid Bustami, Yahya bin Ma’az, Al Junaid, dan Abu Bakar Sybli.

Ulama tasawuf mendalami aspek-aspek kerohanian dalam ajaran Islam, seperti tauhid yang murni, mengenal dan cinta kepada Allah, kearifan, kezuhudan, ke-tawadhu-an, taubat, dan sebagainya, dan juga muncul konsep-konsep baru seperti empat bagian dalam ilmu lahir dan batin, yaitu: syari’at, thariqat, hakikat, dan ma’rifat, dan  “hulul” atau berpadu antara hamba dan Tuhan, yang sangat mengganggu ulama fikih sampai-sampai menimbulkan perselisihan besar.

Al Hallaj (244-309 H) adalah seorang sufi besar yang menjadi martir membela filsafat tasawufnya: hulul, al haqiqatul Muhammadiyyah, dan kesatuan segala agama. Terkait hulul, menurutnya, jika seorang insan telah suci bersih dalam menempuh perjalanan kerohanian, akan naiklah tingkatnya dari satu maqam ke maqam lainnya, yaitu dari muslim, mukmin, shalihin, dan terakhir, muqarrabin, yaitu orang yang paling dekat dengan Tuhan sehingga bersatulah ia dengan Tuhan, seperti persatuan api dan besi yang merah ketika besi dibakar. Namun, ada disclaimer yang patut diperhatikan bahwa persatuan itu hanyalah suatu rasa, bukan persatuan sejati. Katanya, “Barangsiapa yang menyangka bahwa ketuhanan bercampur dengan keinsanan jadi satu, atau keinsanan masuk ke dalam Tuhan, maka kafirlah orang itu. Sebab Allah Ta’ala itu bersendiri dalam Dzat-Nya dan sifat-Nya daripada makhluk dan sifatnya pula. Tidaklah Tuhan serupa dengan manusia dalam bentuk yang mana jua.” (h. 122).

Terkait kesatuan agama, ia pun menjelaskan argumennya. Nama agama yang berbagai macam, ada Islam, Nashrani, Yahudi, dan yang lain, hanyalah perbedaan nama dari hakikat yang satu saja. Namanya berbeda, maksudnya satu. Orang memilih suatu agama, atau lahir dalam satu agama, bukanlah atas kehendaknya, tetapi dikehendaki untuknya. Cara ibadah bisa berbeda warnanya, namun isinya hanya satu. Pendirian tersebut disandarkan pada keyakinannya tentang ketentuan (Takdir) yang telah ditentukan Allah. Baginya, tidak ada manfaatnya bagi seseorang mencela orang yang berlainan agama, karena itu adalah takdir Allah untuk orang itu. Tidak ada gunanya berselisih dan berbuat macam-macam, tetapi berpeganglah dalam agama masing-masing.

Kesatuan agama, tetapi tidak mencampur-adukkan agama.

Pendirian itu tidak dapat diterima oleh ulama-ulama fikih. Dia dianggap telah melampaui batas-batas yang dimaklumi dalam agama. Selain itu, pemikiran Al Hallaj pun dekat dengan pemikiran kaum Syiah Isma’iliyah yang percaya bahwa dunia ini diatur oleh seorang imam yang gaib. Suasana politik sangat gaduh pada saat itu. Akhirnya disarankan agar Khalifah Al Muqtadir, pada masa itu, untuk menghukum mati Al Hallaj, agar Al Hallaj tidak mempengaruhi pikiran orang-orang awam. Diceritakan, pada hari eksekusinya, banyak rakyat yang menonton, terutama kaum sufi yang dipandang sebagai oposisi bagi kerajaan yang karam dalam kemewahan. Ulama dan pemimpin kerohanian yang berani, yang “keramat”, dipandang sebagai pelipur lara rakyat yang sengsara.

Ulama fikih berbeda sikap terkait kasus Al Hallaj. Semacam Ibn Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim, mengkafirkannya dengan alasan konsep hulul adalah kesyirikan yang besar sehingga ia patut dihukum mati. Tetapi ada pula ulama yang bersimpati kepadanya, seperti Imam Ghazali yang memahami bahwa perkataan-perkataan Al Hallaj adalah ekspresi kecintaan yang luar biasa besar pada Allah. Al Hallaj pun membuka jalan bagi kemunculan sufi-sufi besar lainnya dalam sejarah Islam, seperti Ibnu ‘Araby, Ibnul Faridh, Jalaluddin Rumi, dan Suhrawardi. Pada akhir abad keempat itulah, tasawuf dan fikih saling bertolak punggung dan berada dalam puncak permusuhan.

Namun, di abad kelima, datanglah Al Ghazali (450-550 H) yang berhasil mendekatkan dan mempertautkan kembali perpecahan dua bidang ilmu yang timbul. Al Ghazali menuntut ilmu fikih, ushul fiqh, ilmu kalam, filsafat Yunani, filsafat Islam, dan tasawuf. Al Ghazali memiliki pandangan yang proporsional baik untuk ilmu fikih maupun tasawuf. Tidak dipungkiri bahwa ahli-ahli tasawuf sebelumnya memiliki beberapa kesalahan, tetapi baginya itu bisa diperbaiki dengan ilmu da amal. Tasawuf tidak kurang pentingnya daripada ilmu fikih, karena ia tidak hanya mementingkan akal, tetapi juga rasa, serta mengutamakan pula latihan-latihan jiwa yang bermanfaat untuk menguatkan sifat-sifat yang terpuji dan menahan hawa nafsu, dalam rangka takwa dalam koridor syariat.

Al Ghazali pun menulis Ihya ‘Ulumuddin. Dalam buku itu dipersatukannya ajaran agama antara yang lahir dan yang batin, antara fikih dengan tasawuf dan ilmu kalam. Al Ghazali bisa dikatakan juga termasuk seorang sufi. Pemikirannya tentang ma’rifatullah, tingkatan manusia, dan kebahagiaan adalah konsep-konsep yang sampai hari ini sangat diandalkan terutama dalam pengembangan psikologi Islami.

Apakah di abad selanjutnya situasi menjadi tenang? Tidak, bahkan pemikiran tasawuf menjadi lebih keras. Pada abad keenam dan ketujuh Hijriah (atau 12-13 Masehi) muncul aliran baru dalam tasawuf, yaitu perpaduan tasawuf dengan filsafat. Sufi pada abad ini memiliki tujuan yang “istimewa”, yaitu ingin tahu rahasia apa yang ada di balik tabir, membuka penutup yang membatasi kehidupan di alam lahir dan alam rohani. Latihan dan perjuangan batin lebih diperkuat lagi dalam rangkah melemahkan kekuatan indera dan menguatkan indera batin, memberi makan bagi ruh dan akal dengan ibadah dan zikir. Hasilnya, beberapa “ilmu-ilmu ganjil” yang dahulu belum dikenal, akhirnya disusun, dan muncul istilah-istilah “aneh” seperti Kasyaf (Tirai Tersingkap), Tajallali (Tuhan telah jelas nyata), Al-Wihdat’ul Muthalaqah (Kesatuan Yang Mutlak), dan Al-Hulul (Penjelmaan ‘Abid dengan Ma’bud).

Tokoh-tokoh pada masa ini di antaranya adalah Suhrawardi (w. 587 H) dan Muhyiddin Ibn ‘Arabi (w. 638 H). Pemikiran-pemikiran tasawuf keduanya yang “aneh” dipandang lebih berbahaya karena semisal konsep hulul dan wihdat ul wujud yang semakin tidak ragu-ragu lagi ditegakkan, tidak lagi sekadar ekspresi rasa cinta seperti pada kasus Al Hallaj, melainkan suatu filsafat pandangan hidup yang mempengaruhi cara hidup. Kepercayaan persatuan agama Ibnu ‘Arabi sangat berpengaruh, sehingga misalnya menginspirasi Jalaluddin Rumi (w. 672 H) di Persia dan Raja Akbar Khan dari Kerajaan Mughal (abad 10 H) di India untuk membentuk suatu gabungan keagamaan yang dinamakannya “Dinul Ilahy”, untuk menyelesaikan persoalan teologis dan sosial di lingkungan kerajaannya di antara para pengikut Kristen, Hindu, dan Islam. Di zaman modern, gagasan persatuan agama semacam ini mendorong gerakan teosofi oleh Balavatsky dan Annie Bessant (tokoh perenialisme).

Dengan berakhirnya abad ketujuh dan masuk abad kedelapan Hijriyah, tidak ada lagi hal baru yang muncul dalam tasawuf. Itu adalah zaman kemunduran dan keputusasaan dunia Islam di segala lini akibat jatuhnya Dinasti Abbassiyah lantaran serbuan tentara Mongol. Sejak itu pelita di Timur meredup, dan sebentar lagi abad pencerahan muncul di Eropa. Di lapangan segala ilmu pengetahuan yang ada hanya taklid, yaitu menerima dan menurut saja kepada apa yang telah ditulis dan dijelaskan oleh orang-orang di masa lalu dan orang-orang tidak berani keluar dari garis-garis yang telah ditetapkan oleh mereka.

Sejak itu, “kebodohan” merajalela. Dari kalangan tasawuf muncul tradisi di dunia Islam membesar-besarkan kubur orang-orang yang dinamakan wali, misalnya. Orang-orang mendatangi makam ulama-ulama besar untuk mencari berkah. Di kalangan Sunni, orang-orang “menuhankan kubur” Sayyid Abdul Qadir Jailany, di kalangan Syiah, Muza al Kazim, Husain di Karbala, dan Ali di Najaf. Paham-paham bercampur antara ajaran agama, adat, dan filsafat, juga ajaran agama lain. Orang-orang percaya adanya wali yang keramat dan takhayul-takhayul.

Pada masa itu muncul Ibn Taimiyah (w. 727 H) dan muridnya, Ibnul Qayyim. Keduanya menyukai tasawuf, tetapi sangat membenci pemikiran-pemikiran Ibnu ‘Arabi. Keduanya berusaha mencuci bersih paham-paham nyeleneh kaum sufi. Sikap keduanya yang keras dan tak mau kompromi dengan ulama-ulama lain yang berpengaruh di kerajaan menyebabkan keduanya sering keluar masuk penjara. Pemikiran keduanya selanjutnya yang mempengaruhi Syekh Muhammad Ibn Wahhab di abad 12 H (18 M) untuk membangun paham kembali kepada sunnah yang dikenal dengan nama Wahhabi di tanah Arab.

***

3#

Prof. Dr. HAMKA menyimpulkan dalam akhir bukunya: 1) Tasawuf yang Islami telah tumbuh sejak tumbuhnya agama Islam itu sendiri, tumbuh dalam jiwa pendiri Islam itu sendiri yaitu Nabi Muhammad, dan bersumber dari dalam Al Quran. 2) Jika selama dan dalam perjalanannya tasawuf berkembang ke segala arah dan liar akan pemikiran-pemikiran filsafat, Al Quran tetap Al Quran. Kepada Al Quran-lah dikembalikan segala perjalanan pikiran yang bersimpang alur bagi umat Islam. 3) Mari kita semua kembali pada sumbernya, yaitu Al Quran dan Sunnah, dan jadikan segala kemajuan pikiran dan pendapat orang yang terlebih dulu ada sebagai BAHAN PEMBANDING untuk mengecap Kebenaran yang Hakiki, yaitu Al Quran.

Aku kira, itu juga adalah nasihat yang baik untuk para mahasiswa, terutama yang ingin mengembangkan Psikologi Islami lewat pintu tasawuf atau sufisme. Segala pemikiran ulama-ulama sufi besar, betapapun besar namanya, termasuk Syekh Ragip Frager, hanyalah bahan pemikiran, bahan pembanding untuk mempelajari Kebenaran Al Quran terutama terkait ilmu ruhani ini, bukan sebagai sumber utama.

Membaca sejarah tasawuf dan sedikit, sekelumit, dan sekilas pemikiran para ulama, sekalipun kita menyebut mereka ulama, mereka tidak bebas dari kesalahan pemikiran. Namun, kita sebaiknya melihat seperti Al Ghazali melihat masalah ini bahwa ilmu fikih dan tasawuf tidak sebaiknya dibuat bertempur, melainkan dipersatukan karena keduanya saling membutuhkan dan melengkapi. Memahami dan mengamalkan agama butuh baik akal pikiran maupun rasa dan intuisi. Tidak bisa hanya salah satunya.🙂

Akhir kata, insya Allah sebentar lagi akan diadakan Konferensi Internasional Psikologi Islam lo… Ada yang ingin menulis tentang tasawuf untuk konferensi tersebut? Bolehlah kita bertukar pikiran untuk itu. Semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin… dan menjadi pengingat bagi penulisnya untuk berilmu dan mengamalkan ilmunya. Aamiin.

3 thoughts on “Hidup dengan Tasawuf yang Benar: Persoalan Psikologi Sufi, Sejarah Perkembangan Tasawuf, dan Pemurniannya

  1. Eh, di mana itu ada konferensi psikologi internasional, Tin? Kapan? Kamu ada posternya gak? Atau tautan daring gitu…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s