Suatu Hari Bersama Rumi: Syair-syair Pilihan dari “Matsnawi”

Kebersamaan dengan Rumi adalah kebersamaan yang menyenangkan. Butuh bertahun-tahun bagiku untuk akhirnya menyentuh sebagian kecil Matsnawi-nya ini. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan dulu, pada November 2006 ketika membeli buku berjudul Hari-hari Bersama Rumi: Ajaran-ajaran Harian Sang Maestro Sufi (Timothy Freke, 2003). Mungkinkah sebenarnya aku sudah tahu bahwa diriku di masa depan akan mencari dalam tasawuf?🙂 Haha… mana aku tahu.

Aku tidak tahu bagaimana aku akan memasukinya, tetapi bisa sampai pada hari ini adalah salah satu akhir dari perjalanan pencarian. Yang membuatku sampai tidak hanya berawal dari ketertarikan pada psikologi dan psikologi Islami, tetapi juga kekecewaan dan ketidakpuasan pribadi atas ajaran-ajaran agama yang kering dan ketidakmampuanku memahami keadaan di dunia dalam maupun luar yang kacau-balau. Pertanyaan besar yang sangat umum yang terlontar olehku: Apakah kebahagiaan itu ada?

Jika kebahagiaan adalah cermin kebijaksanaan dan kebenaran, aku ingin sekali bertemu kebahagiaan yang membuat diri tertawa dari dalam hati, bukan kebahagiaan yang mengernyitkan dahi. Setelah delapan tahun bergaul dengan psikologi, aku sampai pada kesimpulan bahwa psikologi tak bisa membawaku berjalan lebih jauh. Daratannya sudah habis, aku sudah sampai pada tepiannya. Aku butuh sesuatu yang bisa membawaku berani terus masuk ke dalam lautan. Tetap hanya bersama psikologi hanya akan membuat hati menangis🙂

Prinsip yang sama dipegang oleh semua ilmuwan muslim adalah bahwa ilmu pengetahuan itu terbatas, sehingga pada suatu ketika kau mau tak mau harus berpaling kepada agama, jika berkehendak melanjutkan perjalanan intelektual.

Persoalan pribadiku adalah perjalanan intelektual rupanya diikuti rapat oleh perjalanan spiritual. Apa yang masuk ke dalam kepalamu adalah juga akhirnya masuk ke dalam hatimu. Ia tidak hanya mengguncang keyakinan tentang apa yang benar dan apa yang salah, tetapi juga rasa bahwa sesuatu itu benar atau salah. Pengetahuan tentang rasa itulah, sesuatu yang bisa kau tahu dari gejolak di dadamu ketika kau gembira atau sedih atau merasa biasa saja, yang ingin kudalami agar aku bisa tahu tentang mana perasaan yang benar dan yang salah, perasaan apa yang seharusnya dirasakan oleh seorang yang beriman, dan apa sebab-sebabnya.

Ada saat di mana aku mempertanyakan, mengkritisi, kegembiraan dan kesedihan yang kurasakan lantaran sesuatu hal. Kenapa karena ini aku merasa gembira, kenapa karena itu aku merasa sedih? Mengapa perasaanku begitu terpengaruhi oleh keadaan demi keadaan? Perasaanku bagaikan pendulum yang begitu ringan, bergerak ke arah mana pun angin selemah sampai sekuat apapun bertiup. Mengapakah sebabnya aku mencintai kegembiraan dan membenci penderitaan? Jika semua adalah bersumber dari Tuhan, tidakkah sesungguhnya jika begitu, aku masih kafir dalam hatiku?

Dari situ aku menginterpretasi ulang dan memunculkan makna-makna baru atas kegembiraan dan penderitaan. Kebahagiaan tentu ada di atas kegembiraan dan penderitaan, di atas peristiwa, di atas faktor-faktor dan keadaan apapun yang sifatnya tergantung keadaan yang lain yang mungkin ada mungkin tidak. Kebahagiaan sejati tentu ibarat karang yang tidak berubah meskipun dilamun ombak dan badai karena dapat merangkul baik kegembiraan maupun penderitaan sebagai sesama teman sejati yang menyertai diri selama hidup. Jika pada prinsipnya ia pasti bergantung pada Entitas yang Tidak Berubah, sebaiknya aku berusaha mengenali Tuhan sekali lagi.

Bergaul dengan para sufi adalah bergaul dengan orang-orang yang berusaha “mampu melihat Tuhan” atau berusaha “merasa dilihat oleh-Nya”, berusaha menghadirkan Tuhan dalam kehidupan, berusaha “menyimpan Tuhan di dalam diri”. Jangan memahami itu secara literal, karena kau yang masih mengandalkan rasio tak akan dapat. Seperti kata Rumi, “Juallah kepandaianmu dan belilah kebingungan.” Sepanjang kau merasa tahu dan mengerti, tolaklah itu karena sesungguhnya kau belum tahu dan belum mengerti. Begitulah, langkah meninggalkan daratan dan memasuki samudera.

Dalam tulisan kali ini, aku ingin berbagi sedikit syair-syair Rumi yang telah dipilihkan oleh Timothy Freke dari puluhan ribu bait Matsnawi yang sebenarnya. Aku mendapati ini semua bermanfaat untukku, semoga pula bagi teman-teman yang membaca.

Alhamdulillah.

***

Jalaluddin Rumi

1#

“Intuisi adalah bahasa asing bagi ego.”

 

2#

Bagaimana kalau seseorang berkata
kepada embrio di dalam rahim,

“Di luar dunia hitammu ada alam raya yang tertata secara ajaib;
bumi yang luas terselubung makanan lezat;
pegunungan, samudera, dan daratan,
kebun buah-buahan nan semerbak
dan ladang-ladang yang penuh hasil bumi;
langit yang berkilauan di luar jangkauanmu,
dengan mentari, cahaya bulan,
dan bintang-bintang yang tak terbilang;
dan ada angin selatan, utara, dan barat,
dan taman-taman yang dipenuhi bebungaan nan harum
laksana perjamuan di pesta perkawinan.

Apa yang tengah engkau kerjakan
dengan hidup dalam penjara nan gelap,
meminum darah melalui pembuluh itu?”

Namun, dunia-rahim ini hanya yang diketahui embrio
dan ia tak akan terkesan oleh kisah menakjubkan itu,
seraya berkata dengan kasar:

“Gila kau! Itukan fantasi belaka yang memperdaya.”

 

3#

Pencarian intelektual sungguh indah laksana permata dan karang,
tetapi ia berbeda dari pencarian spiritual.
Pencarian spiritual ada pada tataran yang sungguh berbeda.
Anggur spiritual mempunyai rasa yang lebih halus.
Akal dan indera menyelidiki sebab akibat.
Pencarian spiritual menyerah pada keajaiban.

 

4#

Tetangga seorang yang tuli sedang sakit. Ia berpikir:

“Kalau aku tandangi pemuda malang ini, aku tak akan dapat mendengar apa yang dikatakannya. Akan tetapi, bila aku tidak pergi, ia akan menganggapku kejam. Aku hanya mesti menebak apa yang dikatakannya. Pertama aku akan katakan:

‘Bagaimana perasaanmu, sobatku yang malang?’ Ia akan menjawab, ‘Aku baik-baik saja’ atau semacam itu. Lalu aku katakan:

‘Alhamdulillah. Engkau mesti minum apa?’ Ia akan menjawab, ‘Serbat’ atau mungkin ‘Sup buncis,’ dan aku akan katakan:

‘Bagus sekali! Dokter siapa yang merawatmu?’ Ia akan menjawab, ‘Dr. Anu,’ dan akan kukatakan:

‘Bagus. Kau beruntung berada di tangan yang sangat handal.'”

Setelah mempersiapkan dengan hati-hati, orang tuli itu melakukan kunjungan. “Bagaimana kabarmu?” ia bertanya.

“Sekarat,” jawab orang yang sakit itu dengan lemah.

“Alhamdulillah,” ujar orang tuli itu. “Kau mesti minum apa?”

“Racun,” bisik orang sakit itu.

“Bagus sekali! Dokter manakah yang merawatmu?” tanya orang tuli itu.

“Malaikat maut,” ujar si sakit, yang berubah pucat, dengan gemetar.

“Bagus itu. Kau beruntung berada di tangan yang handal,” ujar orang tuli itu, dan ia pun pergi dengan perasaan gembira.

Orang yang tengah sakit itu, sebaliknya, bertanya-tanya sendiri apa gerangan yang telah dilakukannya sehingga menjadikan tetangganya begitu membencinya.

 

5#

Dengarkan, lidah, kaulah harta tiada pernah habis.
Dengarkan, lidah, kaulah penyakit tanpa obat.

***

Biasakanlah tutup mulut.

***

Jika engkau bukan lidah Tuhan,
maka jadilah telinga.

 

6#

Kebijaksanaan berulang seperti seekor nuri terbang
kala kau sangat membutuhkannya.

Sungguh mati, Tuan Sok Tahu,
Sekalipun engkau menuliskannya dalam buku kecilmu
dan membual tentang betapa berpengetahuannya engkau,
ia akan terbang dari sangkar ini.

Lupakan apa yang dikatakan orang lain.
Tunjukan saja cinta dan kasih sayang pada Kebijaksanaan,
maka Ia akan menjadi seekor burung peliharaan
yang tenggerannya adalah tapakmu yang terbuka.

 

7#

Hai, Tuan Ilmuwan!
Bagaimana ilmu akan membantumu mengetahui
segala sesuatu di alam raya,
bila engkau tidak tahu sama sekali
ihwal dirimu sendiri?

 

8#

Tatkala kau berkata kepada seorang yang haus,
“Di sebelah sini! Ada air di cangkir ini,”
apakah orang yang haus itu menjawab,
“Itu kan pendapatmu saja.
Mana buktinya untuk membenarkan pernyataanmu
bahwa ini adalah cairan encer?”

Manakala seorang ibu berteriak pada bayinya
yang masih menyusu,
“Kemarilah nak. Akulah ibumu,”
apakah anak itu menjawab, “Itu kan menurutmu.
Tunjukanlah bukti kepadaku.
Maka aku akan merasa nyaman
menyusu payudaramu.”

 

9#

Beberapa orang India menaruh seekor gajah
di dalam ruangan gelap.
Karena tidak mungkin melihat gajah dalam kegelapan
orang-orang yang ingin mengetahui
binatang luar biasa ini harus merabanya
dengan tangan mereka.

Orang pertama masuk ke ruangan gelap itu
dan meraba belalai gajah dan menyatakan,
“Makhluk ini adalah seperti pipa air.”

Orang berikutnya meraba telinga gajah
dan menegaskan,
“Tidak. Ia seperti sebuah kipas raksasa.”

Orang ketiga meraba kaki gajah
dan mengatakan,
“Salah itu. Binatang ini menyerupai tiang.”

Orang keempat merasai punggung gajah
dan menyimpulkan,
“Salah sama sekali. Ia seperti singgasana.”

Sudut pandang yang berbeda
melahirkan pendapat yang berbeda-beda.
Bila seseorang membawa masuk lilin,
mereka semua tentu
merasa seperti orang-orang bodoh.

 

10#

Seseorang memberi uang kepada
empat kawan -orang Farsi, orang Arab,
orang Turki, dan orang Yunani.

Orang Farsi menganjurkan, “Ayo beli anggur dengan uang ini.”
“Tidak”, ujar orang Arab, “aku ingin membeli inab.”
Orang Turki meminta, “Kita harus membeli uzum.”
Orang Yunani berteriak, “Hentikan semua perbantahan ini. Kita akan membeli istafil.”

Maka mereka mulai bertengkar
-semua gara-gara merasa tidak tahu
bahwa mereka masing-masing
tengah berbicara tentang buah anggur.

 

11#

Galen pernah meminta obat penyakit
kepada salah seorang sahabatnya.
Sahabat itu menjawab, “Tuan,
engkau seorang ilmuwan besar,
mengapa engkau membutuhkan obat ini?”

Galen menjawab, “Tadi, seorang gila
menatapku seperti seorang teman lama,
menarik lengan bajuku, dan mengedipkan mata,
kepadaku. Bila tidak ada kemiripan di antara kami,
bagaimana orang ini bisa begitu akrab?
Orang hanya merasa seperti itu pada sesamanya.”

Itu benar.
Ketika dua orang saling berpelukan, tentu
ada suatu kesamaan di antara keduanya.
Burung terbang hanya bersama kawanannya.

Satu-satunya tempat yang kita kenali
bersama orang-orang yang tidak memiliki kemiripan
dengan kita adalah
di dalam kuburan.

 

12#

Seorang penjual sayuran
mempunyai seekor burung beo
yang pandai sekali berbicara.
Ia terkenal duduk di luar warung
dan saling bersenda-gurau
dengan pembeli.

Suatu hari,
burung beo itu terbang dari tenggerannya dan
menumpahkan sebotol minyak mawar yang mahal.
Ketika pemilik mengetahui apa yang telah terjadi, ia
murka, dan memukul kepala burung itu keras-keras
sampai bulu-bulunya rontok,
dan menjadikan kepalanya botak.
Burung beo itu sangat terkejut sampai-sampai
ia tak pernah berbicara lagi.

Penjual itu sangat sedih dan menyesal sekali.
Ia memohon kepada setiap sufi yang lewat
agar membujuk beo itu untuk berbicara lagi,
tetapi tidak ada yang berhasil.
Demikianlah, sampai satu hari,
seorang guru yang berkepala botak
datang ke warung itu, dan beo itu
menatap dan berkata, “Maaf! Apakah engkau juga
menumpahkan sebotol minyak mawar?”

Semua orang yang ada di warung tertawa,
tetapi betapa banyak di antara kita juga memproyeksikan
pengalaman kita sendiri pada orang lain,
dan benar-benar menyalahpahami kebenaran?

 

13#

Burung beo memperhatikan bayangannya,
meyakini bahwa beo dalam cermin
tengah mengajarinya bagaimana berbicara.

Sesungguhnya, guru bersembunyi di belakang cermin.
Burung beo belajar dengan mudah
karena ia diperdaya untuk berpikir bahwa
ia tengah belajar dari salah satu jenisnya.

Ia tak tahu tentang orang tua cerdik
yang sebenarnya berbicara.
Walaupun ia telah belajar segala
dari seorang manusia,
burung beo itu tetap tidak tahu
bagaimana rasanya menjadi seorang manusia.

Dengan cara yang sama,
seorang murid yang egois beranggapan
bahwa gurunya sama dengan dirinya.

Ia tidak melihat Kesadaran Universal
bersembunyi di belakang cermin,
yang mengajarinya melalui manusia
yang diyakininya berbicara.

Ia mempelajari kata-kata yang diucapkan,
tetapi tak tahu sama sekali pembicaraan sesungguhnya.
Bagaimana mungkin ia bisa?
Ia tetap saja seekor burung beo,
bukan seorang pelaku Perjalanan.

 

14#

Seseorang meminta kepada seniman tato,
“Tolong tatokan aku seekor singa yang mengamuk
untuk menunjukan pada dunia betapa beraninya aku.”
Tetapi, ketika jarum mulai menusuknya,
orang itu mulai berteriak, “Hentikan!
Engkau menyakitiku. Apa yang engkau lakukan?”

Seniman tato itu menjawab, “Aku tengah menato
seekor singa, seperti permintaanmu.”

“Bagian mana yang tengah engkau tato?”

“Ekor,” jawab seniman itu.

“Baik, singa ini tidak membutuhkan ekor.
Tinggalkan itu dan lanjutkan,” kata laki-laki itu.
Seniman itu mulai bekerja lagi, tetapi orang itu
berteriak lagi, “Sekarang, apa yang engkau lakukan?”

“Aku menato telinga singa,” jawab si seniman.

“Baik, tak usah pakai telinga juga,” ujar orang itu.
Akan tetapi, begitu seniman mulai menggunakan
jarumnya lagi, orang itu mulai memekik, “Sekarang apa?”

“Aku menato perut singa,” jawab seniman.

“Kalau begitu, tanpa perut. Singa akan bagus tanpa itu,”
teriaknya.

Mendengar itu, seniman tato melemparkan
jarumnya dengan marah dan berkata, “Tak ada seorang
pun yang melihat singa tanpa ekor, telinga, atau
perut. Singa ini hanya akan mengungkapkan kepada
dunia betapa pengecutnya engkau.”

 

15#

“Pahlawan-pahlawan kecil mengejar musuh mereka. Pahlawan-pahlawan besar menaklukan diri mereka sendiri.”

 

16#

“Kala egoisme datang, kebaikan pergi.”

 

17#

“Banyak kesalahan yang engkau lihat dalam diri orang lain adalah kesalahanmu sendiri yang terefleksikan kembali padamu. Sesungguhnya engkau mencap dan menyalahkan dirimu.”

 

18#

Hidup menyuguhkan bentuk makanan ternak
yang berbeda di hadapan kita
untuk melihat binatang macam apakah kita.
Ketika seekor serigala kawin dengan rusa
dan engkau ingin tahu sifat anaknya,
jatuhkan tulang dan rumput di hadapannya
dan perhatikan apa yang terjadi.

 

19#

“Konflik orang dewasa sama tidak berartinya dengan percekcokan anak-anak.”

 

20#

Hanya cinta
melahirkan kesepakatan dari perbantahan.

 

21#

Pemahaman bersama muncul
dari membicarakan kebijaksanaan yang sama,
bukan berbicara bahasa yang sama.

Lebih baik berbagi satu hati daripada satu lidah.

 

22#

“Mereka yang pura-pura waras dalam dunia yang sedemikian gila, jelas-jelas gila.”

 

23#

“Kita terpenjara di dunia ini, hingga kita mengaku bangkrut.”

 

24#

Dengarkan, hatiku,
selagi engkau merasakan perbedaan
antara senang dan sedih,
engkau akan tercabik-cabik.

 

25#

Seorang gadis cantik berakhir
menjadi seorang tua dungu yang jelek.
Dari bidadari menjadi perusak pemandangan
dalam beberapa tahun!

Dalam diri manusia, keelokan hanyalah dipinjam.
Sedikit demi sedikit,
Tuhan menarik kembali pinjaman itu.
Hari demi hari, pohon muda menjadi layu.

Tahukah engkau bacaan yang berbunyi:
“Mereka yang diberi anugerah kehidupan pun
dihukum membusuk?”
Aku senantiasa berpikir tentang itu.
Sekarang aku mencari Keindahan itu sendiri.
Aku telah berhenti mencari tulang-belulang.

 

26#

“Induk segala berhala adalah berhala yang engkau sebut AKU.”

 

27#

Seorang ulama angkuh tengah berlayar dengan perahu. “Pernahkah engkau mengkaji kitab-kitab, saudaraku?” ia bertanya kepada tukang perahu:

“Tidak,” muncul jawaban yang memalukan.

“Kalau begitu hidupmu sampai sekarang telah sia-sia,” ujar sang ulama.

Tak lama kemudian, pusaran air menangkap perahu itu dalam arusnya. “Pernahkah Anda belajar berenang, Tuan?” tanya tukang perahu.

“Tidak. Aku tidak punya waktu untuk senang-senang semacam itu,” ulama itu menjawab.

“Kalau begitu,” ujar tukang perahu, “hidup Anda mulai sekarang telah sia-sia, karena kita akan tenggelam.”

 

28#

Mereka mengatakan bahwa jalan tengah adalah jalan kebijaksanaan,
tetapi itu terlampau relatif.
Bagi seekor unta, sungai kecil tidaklah berarti,
namun, bagi seekor tikus, itu adalah lautan.

Menetapkan tengah, engkau harus mengetahui
di mana persoalan berawal dan berakhir.
Tetapi, ketakberhinggaan tidaklah terbatas seperti ini.
Siapa yang tahu jalan manakah yang di tengah?

 

29#

Kita menamakan sesuatu menurut rupanya.
Tuhan menamakan sesuatu menurut sifat hakikinya.
Musa menyebut tongkatnya “tongkat,”
tetapi Tuhan menyebutnya “ular.”
Umar disebut “penyembah berhala,”
tetapi Tuhan tahu bahwa namanya adalah “mukmin.”
Kita menyebut “benih”, Tuhan menyebut
“yang sudah ada di sisi-Ku.”
Itu seperti ini -tujuan kita adalah
nama sejati kita di sisi Tuhan.

 

30#

Seseorang meminta kepada pandai emas, “Tolong buatkan aku timbangan. Aku mau menimbang emas.”
Pandai emas itu menjawab, “Maaf, aku tidak mempunyai pengayak.”
“Aku tidak ingin pengayak. Aku katakan timbangan, bodoh kau,” jawab orang itu.
“Maaf, aku tidak mempunyai sapu juga,” ujar pandai emas itu.
“Hentikan omongan ngelantur ini,” kata orang itu. “Engkau mendengar aku tidak?”
“Aku mendengarmu cukup baik dan aku bukan orang bodoh,” kata pandai emas.

“Aku lihat bahwa engkau adalah orang tua yang gemetaran. Kedua tanganmu sedemikian bergetar sehingga engkau bakal menumpahkan emas ketika engkau meletakkannya di atas timbangan. Emasmu ini adalah bubuk yang halus. Engkau nanti akan memintaku membuat sapu. Kalau kau menyapu, engkau akan mendapatkan baik debu maupun emas, dan engkau akan memintaku membuat pengayak untuk memisahkannya.

Engkau lihat, aku melihat yang akhir dari yang awal.”

 

31#

Setiap saat jutaan pertentangan
sama-sama saling membinasakan,
kemudian saling menciptakan kembali satu sama lain.
Ada arus perjalanan berkesinambungan
yang bergerak antara ketiadaan dan ada.

Setiap malam semua pemikiran larut
ke dalam laut ketiadaan nan gelap,
tetapi fajar memunculkannya
dari kedalaman bagai ikan-ikan.

Musim Gugur merampas kehidupan dari dunia,
dan gagak berduka dengan setelan hitam dan dasinya.
Tetapi Musim Semi memulihkan
kebaikan yang terampas.

Sahabatku, pikirkanlah ini sejenak-
Musim Semi dan Musim Gugur
senantiasa ada dalam dirimu.

 

32#

“Sebelum racun atau gula sama bagimu, engkau takkan menangkap aroma Kesatuan.”

 

33#

Segala sesuatu di dunia ini makan dan dimakan.
Orang-orang yang memahami Allah menerima ini.
Di dunia ini, semua perjalanan berakhir dalam tragedi,
tetapi di dunia lain kita berjalan selamanya.
Di dunia ini, pecinta tak pelak terpisahkan,
tetapi di dunia lain mereka bersatu selamanya.

 

34#

Kita telah mengalami milyaran kelahiran-kembali.
Dari materi mati,
kita tanpa sadar berevolusi menjadi kesadaran nabati.
Lalu menjadi kehidupan binatang
dengan semua kesulitannya yang terkait.
Lalu berlanjut ke rasionalitas dan ketajaman moral.
Dan kemudian ke kesadaran intuitif
tentang apa yang berada di luar jangkauan bukti indera.

Jejak-jejak kaki merentang sejauh daratan.
Di luar itu ia menghilang ke dalam Samudera.

 

35#

“Jangan menjadi sufi untuk menghindari terjerat dengan dunia. Kaum sufi memahami bahwa hanya Allah sajalah yang ada.”

 

36#

Bagimu ini adalah penjara
tetapi bagiku ini adalah taman.
Bagiku, kesibukan dengan dunia
telah menjadi kebebasan spiritual.
Kakimu mandeg di lumpur,
tetapi lumpurku adalah pupuk untuk mawar.
Engkau berkabung kala aku memukul genderang.
Aku boleh jadi hidup bersamamu di sini di bumi,
tetapi aku pun menduduki galaksi-galaksi
di luar Saturnus.

Sesungguhnya, aku sama sekali
tidak duduk di sini di sisimu-
itu hanyalah bayang-bayangku.

 

37#

Engkau bukanlah produk dari imajinasiku.
Aku adalah produk dari Imajinasi-Mu.
Aku telah menyusun fabel tanpa akhir tentang-Mu,
tetapi, sesungguhnya, aku adalah
karakter dalam novel-Mu.

***

Aku telah ceritakan begitu banyak kisah fantastis.
Sekarang aku sadar bahwa
aku sendiri adalah sebuah fiksi,
sama mustahilnya dengan kisah fiksi yang lain.

 

38#

Kebingungan mistis adalah burung indah
yang hinggap di kepalamu.
Engkau tak ingin bernapas
takut-takut kalau engkau mengganggunya.
Dan bila seseorang mengatakan sesuatu,
engkau letakkan telunjuk di mulutmu
dan berbisik, “Ssst!”

— Rumi, “Matsnawi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s