Apapun yang Dirasakan, Tuhan Tidak Pergi

Teringat masa sering berdiskusi dengan seseorang dulu. Ada satu pertanyaan yang tertahan, tidak pernah kusampaikan. Pertanyaan tersebut masih kubawa sampai hari ini, dan akhir-akhir ini sedang “meledak”, berbulan-bulan menjadi teman yang mengganggu untuk dicarikan jawabnya.

Perasaan seperti apa yang seharusnya ada dalam diri seorang mukmin?

Pertanyaan itu muncul di tengah momen penting pencarian agama ketika akhirnya aku mencapai kedewasaan. Saat itu aku habis-habisan mempertanyakan baik keislaman maupun keberimananku. Mengapa aku tak pernah mengalami “penemuan”, seperti yang dialami orang-orang yang menjadi mualaf, ketika mereka melihat kebenaran? Agamaku adalah pemberian dan pengajaran orangtua dan masyarakat, dan aku merasa kosong. Aku merasa tidak benar dengan perasaan “biasa”, ketika agama menjadi sekedar kebiasaan hidup. Kisah-kisah orang yang mengalami pencerahan dan mendapatkan hikmah dari Tuhan begitu asing, seakan-akan itu hanya cerita yang tak bisa hadir ke dalam kenyataan.

Perasaan kosong dan biasa itu ternyata menimbulkan kesedihan, juga pemberontakan. Aku muak dengan orang-orang yang mendakwahkan agama sebagai tuntutan, tetapi tidak mengajarkan tentang jalan mendakinya. Apa yang harus dilakukan dengan perasaan bosan karena rutinitas yang monotan, rasa berat karena bosan dan tak mencapai makna, rasa lelah karena rasa berat, rasa enggan karena lelah, rasa lelah karena kebingungan, tak mengerti, tak paham, apa mau Tuhan dengan semua itu? Apa yang harus dilakukan dengan semua perasaan ini, karena merasakan hal ini adalah hal yang aku tahu tidak betul sebagai akibat beragama.

Persoalan itu makin berat, karena aku dulu termasuk orang yang aktif dalam organisasi pengembangan Psikologi Islami di kampus. Benar-benar ironis, ke mana-mana membawa hipotesis Islam rahmat bagi seluruh alam, termasuk pada jiwa manusia, tetapi aku sendiri tak bisa merasakan rahmat itu. Apakah pengalamanku sendiri justru akan membuktikan bahwa hipotesis itu tak berarti, hanya idealisme yang tidak bisa dialami?

Lama-kelamaan rasa cemas muncul, apa yang disebut dalam psikologi sebagai neurosis, akibat dari itu semua. Mungkin benar kata Frued bahwa agama itu ilusi yang dibuat manusia untuk menentramkan jiwanya. Kecemasan timbul karena kekhawatiran akan reaksi orang-orang yang tenggelam dalam ilusi agama, yang akan menekanmu jika kau tidak beragama, yang akan membencimu jika kau keluar dari aturan, yang akan memarahimu jika kau tidak melakukan yang diperintahkan. Kau beragama karena takut pada orang, takut dinilai jelek, hanya untuk melindungi diri, dan menghindarkan diri dari masalah di lingkungan tempat tinggal dengan orang-orang yang religius.

Tidak mudah mengeluarkan diri dari jerat psikologis itu. Dua puluh tahun hidup dalam keluarga Islam, beragama hanya karena diperintah dan diawasi orangtua. Dua puluh tahun terbiasa seperti itu, tanpa bisa mengerti bagaimana bisa agama menjadi kebutuhan yang hakiki dan penuh manfaat, seperti yang dikatakan dalam buku-buku agama? Ada titik di mana meski dari luar aku masih ber-Islam, di dalam aku merasa kacau dan mungkin hanya tersisa sedikit keimanan yang membuatku tetap merasa berdosa. Aku lantas membuat keputusan besar untuk memulai kembali belajar agama dari awal dan meninggalkan pengetahuan-pengetahuan masa kecil yang tidak banyak berguna ketika aku dewasa.

Orang itu datang sebagai teman berdiskusi dan membuatku memahami kembali pokok-pokok agama. Setelah pikiran terpuaskan betapa secara logika agama ini benar, pertanyaan besar itu muncul. Apa yang seharusnya aku rasakan setelah aku mengerti secara lebih baik? Ia tak menjawab sampai sejauh itu, dan aku memulai kembali perjalanan untuk mencari perasaan itu dan mendapati pengalaman beragama yang personal, yang tidak bisa dibagi dengan orang lain, yang tidak bisa dimengerti orang lain, yang keluar dari formalitas, yang terkadang kontroversial dan membuat orang memperingatkanku ini dan itu, tetapi memberi apa yang aku cari: rasa beragama.

Aku hanya membaca Al Quran dari awal kembali, sebagai orang yang mencari. Aku mencermati ini dan itu, membacanya dengan dibantu buku tafsir yang ada, dan memperoleh pengertian pribadi tentang agama ketika lalu aku memperhatikan keadaan dalamku. Aku menyadari beberapa hal. Aku berterima kasih dan bersyukur atas kedua orangtuaku, tetapi mereka hanya bisa mengenalkanku, mengantarkanku, dan membukakanku pintu gerbang agama. Aku berterima kasih dan bersyukur atas temanku itu, tetapi ia hanya bisa membantuku beberapa jauh saja sampai aku bisa berjalan sendiri. Aku berterima kasih dan bersyukur kepada Allah, aku dimampukan berjalan sendiri dan mengalami macam-macam peristiwa yang menjadikan rasa beragama semakin kaya. Aku akhirnya sampai pada isu-isu eksistensial.

Aku ingin terbebas dari perasaan-perasaan buruk yang banyak sekali tadi tersebut di atas. Tetapi, mengapa aku ingin terbebas dari itu semua? Aku ingin hidup dengan perasaan-perasaan yang baik. Tetapi, mengapa aku menginginkan itu? Aku merasakan hidup yang berat dan susah. Tetapi, mengapa berat dan susah yang kurasakan ini? Aku merasakan hidup yang juga ringan dan senang. Tetapi, mengapa pula? Aku merasakan benci dan cinta. Mengapa? Aku merasakan penderitaan. Mengapa aku merasakan penderitaan?

Aku ingin bisa merasakan khauf dan raja’ yang terkenal itu. Aku ingin bisa merasakan hati yang bergetar karena mengingat Tuhan. Aku ingin bisa merasakan cinta pada Tuhan yang dimulia-muliakan itu. Tetapi, aku mengalami benar hidup yang naik dan turun, dekat dan jauh… membuatku mencela diriku sendiri atas keimanan yang naik dan turun, hubungan dengan Tuhan yang dekat dan jauh… Sungguh manusia biasa. Bahagiamu karena nikmat Tuhan, deritamu karena sedikit ujian dan cobaan. Ada kalanya dapat bersyukur, ada kalanya mengaduh dan mengeluh. Tidak ada kekuatan, justru kelemahan yang semakin dimengerti. Mengapa manusia dibuat selemah ini sehingga kesalahan demi kesalahan, kegagalan demi kegagalan, saja yang selalu dibuat?

Tuhan memang menakutkan dengan segala siksa dan adzab yang Ia janjikan atas kedurhakaan dan kekafiran manusia, tetapi mengapa pada akhirnya, Ia Menetapkan kasih sayang atas diri-Nya dan Maha Menerima taubat?

Aku hanya sekarang jadi bertanya: adakah yang seharusnya dalam hidup ini, yang seharusnya dirasakan? Perasaan bukan hal yang mampu dihadirkan berdasarkan kemauan manusia. Tidak berlebihan jika kukatakan itu adalah nikmat yang dianugerahkan, ketika seseorang sedikit demi sedikit mengenal Tuhannya. Meski cuma sedikit sekali, sekadar tahu Ia Maha Penyayang. Itu bermakna besar, meski berawal dari pengetahuan yang sedikit sekali tentang Tuhan. Mungkin cara kerja akal dan hati memang berbeda. Akal tak puas sebelum kau memasukkan sebanyak-banyaknya tentang Tuhan yang diketahui manusia. Tetapi, hati tidak demikian. Ia tak butuh penjelasan.

Tidak ada yang bermasalah ketika kita hidup dengan benar sesuai petunjuk-Nya. Ada kalanya kita tak merasakan apa-apa, tetapi ada kalanya kita merasakan sesuatu dan banyak hal tentang-Nya. Ada kalanya kita diliputi kemarahan, kekesalan, kekecewaan, kesedihan, atau apapun, tetapi ada kalanya kita merasakan ketenangan, kelegaan, kepuasan, kebahagiaan, dan seterusnya. Hati manusia mencerminkan kehidupan manusia yang ditakdirkan susah dan senang, ia pun mengalami hal yang sama dan itu bukan tanda kita sakit, karena sama seperti peristiwa, perasaan hadir dan berlalu, hadir dan berlalu. Kita tak perlu merasakan satu hal yang diinginkan secara terus-menerus karena tak bisa, karena yang tak ingin dirasakan pun ada gunanya. Untuk mengenal diri tetap dan selamanya manusia. Untuk mengenal Ia tetap dan selamanya Tuhannya manusia.

Bersyukur atas perasaan berani, bersabar atas perasaan kecut. Bersyukur atas perasaan senang, bersabar atas perasaan susah. Bersyukur atas perasaan ringan, bersabar atas perasaan berat. Bersyukur atas perasaan bersemangat, bersabar atas perasaan bosan. Bersyukur atas perasaan tenang, bersabar atas perasaan khawatir dan cemas. Bersyukur atas perasaan damai, bersabar atas perasaan takut. Bersyukur atas perasaan bahagia, bersabar atas perasaan menderita. Bersyukur atas perasaan tercerahkan, bersabar atas perasaan tersesat dan bingung. Bersyukur atas perasaan dekat, bersabar atas perasaan jauh. Bersyukur atas perasaan rela, bersabar atas perasaan terpaksa. Bersyukur atas perasaan puas dan cukup, bersabar atas perasaan kurang dan selalu butuh. Bersyukur atas perasaan mampu, bersabar atas perasaan sakit. Bersyukur atas perasaan cinta, bersabar atas perasaan benci. Bersyukur atas perasaan diridhai, bersabar atas perasaan berdosa.

Bersabar atas perasaan berani, bersyukur atas perasaan kecut. Bersabar atas perasaan senang, bersyukur atas perasaan susah. Bersabar atas perasaan ringan, bersyukur atas perasaan berat. Bersabar atas perasaan bersemangat, bersyukur atas perasaan bosan. Bersabar atas perasaan tenang, bersyukur atas perasaan khawatir dan cemas. Bersabar atas perasaan damai, bersyukur atas perasaan takut. Bersabar atas perasaan bahagia, bersyukur atas perasaan menderita. Bersabar atas perasaan tercerahkan, bersyukur atas perasaan tersesat dan bingung. Bersabar atas perasaan dekat, bersyukur atas perasaan jauh. Bersabar atas perasaan rela, bersyukur atas perasaan terpaksa. Bersabar atas perasaan puas dan cukup, bersyukur atas perasaan kurang dan selalu butuh. Bersabar atas perasaan mampu, bersyukur atas perasaan sakit. Bersabar atas perasaan cinta, bersyukur atas perasaan benci. Bersabar atas perasaan diridhai, bersyukur atas perasaan berdosa.

Apapun yang dirasakan, Tuhan tidak pergi darimu berusaha menuju kebaikan, keluar dari keburukan. Apapun yang dirasakan, Tuhan yang paling mampu mengerti ketimbang dirimu sendiri. Dia yang menciptakan hatimu bersifat seperti itu. Apapun yang dirasakan, it’s okay.

Mungkin itu jawaban yang bisa kuberikan untuk diri sendiri, setelah sekitar empat tahun bertanya-tanya.

***

 

Islam yang Meringankan Hati

Ada orang yang putus asa dan membuat bermacam-macam “boleh jadi” terhadap Tuhan. Dan berkata:

“Boleh jadi saya telah ditentukan bernasib jelek, apa guna saya berikhtiar lagi. Boleh jadi saya telah ditentukan masuk neraka, apa guna saya sembahyang.”

Ini namanya su’u dzan, jahat sangka dengan Tuhan, bukan husnu dzan, baik sangka. Lebih baik merdekakan pikiran yang demikian dari ikatannya. Paham demikian bukan dari pelajaran agama, tetapi dari pelajaran filsafat yang timbul setelah ulama-ulama Islam bertengkar-tengkar tentang takdir, tentang azali, tentang qadha dan qadar.

Masakan Tuhan (Allah) akan begitu kejam, menentukan saja seorang mesti masuk neraka, padahal dia mengikut perintah Tuhan?

— HAMKA, “Tasawuf Modern”, h. 231 (edited)

 

Ada satu bagian dalam buku “Tasawuf Modern” yang sangat menyentuh hatiku. Hanya sekali membacanya, tutupan yang selama ini mengaburkan penglihatanku terangkat. Hal di atas yang kukutip itulah, satu bagian yang kumaksud. Hanya sedikit dari bab qana’ah, tetapi besar pengaruhnya: aku memperbaiki cara berpikirku dan keyakinanku tentang Tuhan.

Agama yang sebenarnya tentulah seharusnya seperti ini. Dalam berbagai cara, ia berbaik hati kepada manusia. Bukan menakut-nakuti, bukan memberatkan, bukan membuat putus asa, bukan mengecilkan hati, atas keimanan dan ketakwaan yang diusahakan manusia. Aku termasuk orang yang lama sekali dihantui oleh pemikiran “aku bukan muslim yang baik” karena aku tak bisa melakukan ini dan itu. Dan ustadz-ustadz yang mengisi kajian selalu punya kecenderungan menceramahkan bagaimana seharusnya seorang muslim mengerek tinggi dan semakin tinggi standar ketakwaan.

Aku tak menemukan seorang pun yang berkata dengan lemah lembut, “Alhamdulillah. Lakukanlah apa yang mudah dan menyenangkan hatimu ketika beribadah kepada-Nya. Sedikit tapi istiqamah lebih baik daripada yang banyak, tetapi melelahkanmu sehingga kamu tak ada semangat lagi melakukannya. Allah tak akan bosan dengan ibadahmu sampai kamu sendiri yang bosan.” Akhirnya, aku mengatakan itu sendiri pada diriku.

Ada perasaan ingin agar perasaan diri yang ingin ber-Islam dengan baik ini dinilai dengan bijak. Andai manusia dapat melihat jauh ke dalam hati, tentu tidak ada tuntutan-tuntutan berdasarkan kriteria ini dan itu tentang seperti apakah seorang muslim yang baik menurut pemikiran manusia, yang hendak menyeragamkan perilaku beribadah manusia.

“Lakukanlah apa yang kamu bisa. Nikmati dan syukurilah kebersamaan dengan Tuhan lewat ibadah apa yang kamu bisa. Atas apa-apa yang kamu belum bisa, periharalah keinginan mewujudkan itu, bersabarlah, dan berdoalah, semoga Allah memudahkan dan membimbingmu menempuh pendakian yang lebih tinggi lagi.”

One thought on “Apapun yang Dirasakan, Tuhan Tidak Pergi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s