Mutiara Tasawuf untuk Diri dan Catatan untuk Psikologi Islami

1# Mutiara Tasawuf untuk Diri

Tasawuf bukan ilmu yang ditulis dan dibaca saja, tetapi adalah ilmu yang diamalkan. Aku mendapatkan itu di bagian pembukaan buku Thariqat Menuju Kebahagiaan, karya Allamah Sayyid Abdullah Haddad. Setelah mendapatkan kalimat itu, aku menutup buku itu dan memutuskan mencukupkan membaca buku-buku tasawuf. Benar, tasawuf, sebagai (bagian dari) ajaran agama, tak banyak berguna jika diperlakukan sebagai teori karena ia sebetulnya adalah nasihat untuk diamalkan orang-orang.

Ada banyak sekali buku tasawuf yang sudah diterbitkan, yang lama maupun yang baru, yang ditulis para syeikh dan guru agama maupun para ilmuwan. Sama seperti ilmu-ilmu lainnya, ia tidak bertepi sehingga mengejar khazanah teoretisnya tak akan membuatku mengerti. Aku merasa benar bertekad mencukupkan, kembali kepada prinsipku dalam belajar, sering yang diperlukan seseorang bukan banyak pengetahuan atau pengetahuan yang tidak terbatas, tetapi cukup pengetahuan yang bermanfaat dan sanggup diamalkan.

Aku ingin belajar mengamalkan agama, apa-apa yang sudah kuketahui sejauh dan sebanyak ini, bukan teori-teorinya lagi. Seharusnya aku bisa menyadari ini lebih awal ketika aku tahu, aku sudah bosan dengan ajaran-ajaran agama yang diulang-ulang saja dan tidak menambah suatu pengetahuan yang baru. Ada samudera ilmu yang jauh lebih besar dan lebih dalam yang hampir sama sekali belum terselami olehku. Samudera pengamalan agama.

Dari membaca buku-buku tasawuf, mengenal sejarah kemunculan dan perkembangannya, pokok-pokok pemikiran para tokoh, praktik-praktik yang dilakukan, dan ajaran-ajarannya, apakah itu soal menjaga hati, menyucikan jiwa, mengendalikan nafsu, dan sebagainya, aku mengambil kesimpulan untuk diriku sendiri.

Pertama, bagiku, tasawuf yang sebenarnya, yang benar adalah tasawuf yang bersumber dari memperhatikan sikap hidup dan laku ibadah Nabi saw dan setelahnya, para sahabatnya. Itu yang paling menenangkan hati dan dijamin kelurusannya untuk diikuti dan diamalkan.

Kedua, tasawuf yang sekarang resmi sebagai salah satu ilmu keislaman pada dasarnya lahir dari reaksi terhadap kehidupan yang kacau, dipenuhi kecintaan pada dunia, dan hawa nafsu. Aku ingin mengeluarkan diriku belajar tasawuf lantaran sebab yang sama seperti itu. Dunia memang jangan dicintai, tetapi bukan lantas jadi dibenci karena dunia diciptakan Allah dengan tujuan yang benar.

Ketiga, aku pun ingin mengeluarkan diriku belajar tasawuf lantaran sebab yang egoistis. Aku mengakui bahwa sebagian alasanku mempelajari tasawuf adalah untuk mencari kebahagiaan dan ketenangan, lantaran ketidakbahagiaan dan ketidaktenangan, lantaran kekurangan demi kekurangan dalam kebutuhan dan keinginan diri. Aku sekarang berpikir bahwa kebahagiaan dan ketenangan bukan sesuatu yang hal yang perlu dikejar atau dicari sebagai tujuan pencapaian hidup. Keduanya adalah perasaan yang menyertai ketika kau bertindak lurus dan benar, sesuai petunjuk Tuhan; bukan karena kekurangan yang berhasil tertutupi. Ketidakbahagiaan dan ketidaktenangan pun sama, sekadar perasaan yang menyertai ketika kau keluar dari jalan yang lurus. Apapun perasaan yang kurasakan, aku ingin hidup di jalan yang lurus itu. Ada kalanya kebahagiaan yang datang, ada kalanya ketidakbahagiaan yang datang, begitu pula dengan ketenangan dan ketidaktenangan. Aku pikir dan kurasa, itu bukan masalah lagi sekarang, dinamika yang seperti itu.

Keempat, aku mendefinisikan tasawuf untuk diriku sendiri. Ia bukan hal yang rumit-rumit itu, melainkan perjuangan hati untuk taat mematuhi Tuhan dan Rasul, dan tercermin dalam perbuatan. Tasawuf adalah perjuangan untuk menghidupkan ajaran agama dalam diri dan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan mistisisme. Bukan ilmu kebatinan. Bukan pencarian pengalaman ketuhanan. Jika ia adalah penyucian jiwa, maka itu karena Tuhan memang memerintahkan itu. Jika ia adalah pengendalian diri dan hawa nafsu duniawi, maka itu karena Tuhan memang memerintahkan itu. Jika ia adalah pandangan hidup menuju akhirat, maka itu karena Tuhan memang memerintahkan itu. Jika ia adalah mengingat Tuhan dalam keadaan apapun, maka itu karena Tuhan memang memerintahkan itu. Dan seterusnya.

***

2# Catatan untuk Psikologi Islami

Sebenarnya sulit menyampaikan ini. Kesimpulan akhir yang aku dapatkan dari belajar tasawuf beberapa bulan -bolehlah ada di antara pembaca yang menilai yang kuketahui masih sangatlah dangkal tentang tasawuf itu sendiri- melenceng dari apa yang kuprediksi. Kupikir aku akan nanti bisa menulis tentang psikologi tasawuf atau apa. Tetapi, yang kudapat bukanlah itu.

Jika ada yang bisa kusampaikan sebagai kritik atau masukan untuk mengembangkan psikologi Islami, terkhusus dalam persoalan psikologi sufi atau psikologi tasawuf, maka itu adalah ini. Aku mengira ada banyak orang yang masih mengambang, dan tahu sekadar ingin tahu atau baru tahu saja. Sama sepertiku. Apa yang ingin dikembangkannya lantas sekadar teori-teori baru atau menggali teori-teori lama tentang keadaan dalam jiwa dan perilaku hati manusia, atau tentang penyakit-penyakit hati, atau tentang kelompok-kelompok manusia berdasarkan ajaran sufi sebagai tipologi kepribadian baru, atau tentang rahasia-rahasia ibadah berupa manfaat psikologisnya, atau bagaimana hubungan antara praktik sufisme dan kebahagiaan. Itu bagus, tetapi aku melihat adanya dua arah baru, yaitu pertama, dari mempelajari pengalaman hidup orang-orang yang bersama tasawuf, dan kedua, dari mempelajari pengalaman pribadi hidup bersama tasawuf itu sendiri.

Kupikir sekarang, ilmu itu ada dua, yaitu yang diperoleh dari melihat, mendengar, dan membaca, dan yang diperoleh dari pengalaman mengamalkan. Banyak orang yang ahli di bagian yang pertama, betapa ia menjadi ilmuwan yang mahir dengan berbagai metode ilmiah untuk mengungkap ini dan itu, menemukan apa, mengapa, dan bagaimana dari segala sesuatu, tetapi jauh sangat sedikit orang yang mantap di bagian yang kedua, yang mampu merasakan pahit getir, susah senang perjuangan mengamalkan apa yang diketahui, dan menyadari bahwa kemampuan dan keberhasilan mengetahui dan memahami (terutama dalam hal ini adalah agama) ada kalanya tidak berhubungan dengan kemampuan dan keberhasilan mengalami dan mengamalkan apa yang diketahui dan dipahami.

Hanya orang yang bersedia mengalami dan mau melakukanlah yang akan lebih mengerti. Orang yang mengalami dan melakukanlah yang selanjutnya yang jauh lebih mengerti. Itu hal terbesar yang kucatat sejauh ini. Dan ada ayat Al Quran yang kupahami, yang membuatku semakin paham gambaran persoalan ini, dalam QS At-Taubah (9): 41, “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di Jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Perasaan ringan dan berat, itulah yang akan sulit dipahami orang-orang yang sekedar tahu, tetapi tidak pernah berangkat mengamalkan apa yang diketahui.

 

 

Dengan adab, ilmu dapat dipahami.
Dengan ilmu, amal dapat diperbaiki.
Dengan amal, hikmah dapat diperoleh.
Dengan hikmah, kezuhudan dapat berdiri tegak.
Dengan zuhud, dunia dapat diabaikan.
Dengan pengabaian dunia, akhirat dapat dicintai.
Dengan cinta akhirat, rahmat Allah dapat diperoleh.

— Yusuf bin Husain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s