Reaching Dream Bag. 20: On Becoming A Researcher

Benar-benar aku mencari waktu agar dapat menuliskan ini. Di tengah hari-hariku merenung-renungkan saja perkembangan pengerjaan tesisku yang lambat, tiba-tiba aku duduk tegak tersadar akan sesuatu, bahwa aku ini seharusnya sangat bersyukur. Allah sedang mengabulkan satu doaku.

Aku sungguh-sungguh ingin menjadi ilmuwan dan peneliti di bidang psikologi. Selalu bermimpi, suatu saat nanti aku akan menulis buku yang berisikan kesimpulan akhir riset-risetku. Selalu bermimpi, suatu saat nanti akan menulis buku seperti buku-buku yang selama ini kubaca di perpustakaan kampus, yang tebal referensinya. Selalu bermimpi, suatu saat nanti akan menulis artikel-artikel ilmiah yang dimuat di jurnal-jurnal psikologi penting tingkat internasional dan nasional. Selalu bermimpi, suatu saat nanti akan melakukan banyak penelitian, melakukan penelitian-penelitian besar, dan berakhir menyusun suatu teori psikologi. Selalu bermimpi, suatu saat nanti akan bergaul dan bekerja sama dengan beragam ilmuwan dari seluruh dunia.

Untuk itu semua, aku harus belajar meneliti. Setelah menyelesaikan skripsi waktu S1 lalu, skripsiku waktu itu studi fenomenologi terhadap dua orang mahasiswa berprestasi, aku berketetapan dalam hati, aku harus belajar meneliti dengan metode yang lain. Karena itulah, di awal masuk S2 aku membeli Handbook of Qualitative Research-nya Danzel dan Lincoln. Aku ingin selanjutnya belajar meneliti dengan pendekatan grounded theory. Aku mewujudkannya! Saat ini, tesisku menggunakan pendekatan itu dan aku jadi belajar menggunakan metode ini, meskipun macam-macam tantangannya. Alhamdulillah.šŸ™‚

Aku pula berpikiran, untuk bisa berkarya yang lebih baik, aku tidak mungkin mewujudkan itu dengan meneliti sendirian. Aku perlu bekerja sama dengan banyak orang demi suatu penelitian besar. Untuk itu, aku harus belajar meneliti dalam tim. Dan… sekarang pun aku sedang melakukan itušŸ˜€

Tidak aku sangka pada awal semester keempatku di kampus psikologi UGM aku diajak salah seorang dosenku untuk membantu penelitiannya. Langsung saja kuterima, meskipun waktu itu aku tak ingat mimpiku untuk bekerja dalam tim itu. Penelitian pertama waktu itu tentang konstruksi teori kepemimpinan di kalangan mahasiswa. Metode yang digunakan adalah metode indijenus, yang menurutku mirip-mirip metode grounded theory dalam proses analisisnya. Aku membantu melakukan analisis data dan satu dua kali memberikan pendapat tentang hasil yang kuperoleh. Aku bersyukur sekali diajak meneliti oleh dosenku.

Penelitian kedua, dosenku ingin mengkonstruk konsep ketangguhan. Ia lalu memberiku tugas untuk mencari teori-teori psikologi apa saja yang bisa menjelaskan “ketangguhan”, baik itu fisik maupun mental. Aku menghabiskan sebagian masa liburanku untuk studi literatur dan membaca aneka artikel penelitian dan menuliskan rangkumannya. Akhirnya, aku menulis tentang grit, hardiness, joy, mental toughness, patience, dan persistence-perseveranceĀ dalam hal definisi, aspek-aspek, pengukuran, dan sekelumit dinamikanya berdasarkan hasil sejumlah penelitian.

Penelitian ketiga, kali ini sungguh serius, aku diikutkan “secara resmi” dalam tim penelitian konseptualisasi perilaku korupsi dari perspektif psikologi. Ini dalam rangka mendukung gerakan anti-korupsi lewat ikhtiar akademis yang sedang dilakukan di lingkungan kampus UGM. Aku merasakan suatu kebetulan yang aneh. Penelitian tesisku tentang sikap hidup antimaterialistis, yang mana itu sedikit banyak, langsung atau tidak langsung, berkaitan dengan perilaku makan uang haram ini. Segera saja aku berkesimpulan, subhanallah, Allah yang mengatur semua ini.

Di dua penelitian sebelumnya, aku belum kenal betul kemampuanku jika bekerja dalam tim peneliti. Aku sebelumnya hanya membantu analisis dan membuat review teori-teori dan hasil-hasil penelitian. Kali ini aku awalnya dimintai mencari variabel psikologi apa saja yang sekiranya berhubungan denganĀ perilaku korupsi. Karena ternyata penelitian psikologi tentang perilaku korupsi sangat jarang, padahal kasusnya sedemikian massif di negeri ini, aku masuk ke bacaan-bacaan kriminologi, khususnya kejahatan ekonomi/ finansial. Aku menyetorkan tulisan pertamaku tentang psikologi korupsi berdasarkan temuan-temuan psiko-kriminologi.

Kali kedua, aku mendapatkan tugas yang lebih penting untuk menemukan grand theory psikologi yang dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku korupsi, terutama terkait sebab-sebab dilakukannya. Aku akhirnya menyelesaikan tugas tersebut, tetapi yang ingin aku catat dalam diari kali ini adalah sedikit perkataan dosenku tentang diriku: aku bagus dalam telaah literatur. Tiba-tiba saja terasa terang mataku ini. Aku ditunjukkan Allah apa sesungguhnya dapat aku lakukan dalam sebuah tim peneliti; itulah kemampuanku.

Dalam rapat hari itu, aku memandang ke arah orang-orang yang hadir bersamaku. Ada satu dosen yang menjadi pemimpin tim. Ada satu dosen yang menjadi think tank penelitian, yang mengarahkan ini dan itu, mulai dari teori-teori apa saja yang harus digunakan, data macam apa yang harus dikumpulkan, bagaimana cara mengumpulkan data tersebut, dan apa tugas setiap orang, termasuk diriku, ada satu dosen yang menjadi koordinator pelaksana penelitian di lapangan, ada aku mahasiswa S2 yang bertugas di bagian kajian pustaka, dan ada tiga orang mahasiswa S1 yang juga bertugas di bagian kajian pustaka dan pengumpulan data di lapangan.

Dalam hati aku, “O… ternyata begini kerja tim peneliti itu!”Ā Ada pemimpin, ada tujuan, ada rencana kerja yang jelas, dan ada orang-orang yang mengerjakan tugas-tugas.Ā Ini sungguh pengalaman berharga, bisa bekerja dalam tim dan meneliti bersama-sama.

Penelitian ini panjang dan insya Allah akan berlangsung dua tahun lamanya. Selama waktu itu, aku ingin tetap berada di Yogyakarta, ingin bisa bersama tim dan melihat bagaimana kelanjutan dan akhirnya.

Di luar pengalaman itu, aku merenungkan cita-cita pencapaianku yang lain. Aku ingin belajar banyak hal tentang bagaimana meneliti itu. Dulu cuma bisa fenomenologi, sekarang bisa grounded theory. Dulu cuma penelitian pada dua orang subjek, sekarang bisa pada 11 orang subjek. Dulu cuma meneliti sendirian, sekarang bisa mengalami meneliti bersama dalam tim yang terorganisasi. Alhamdulillah, dan aku masih tetap punya pertanyaan-pertanyaan.

Bagaimana rasanya menulis untuk publikasi penelitian. Bagaimana rasanya melakukan penelitian lanjutan. Bagaimana rasanya meneliti untuk menyusun teori baru. Bagaimana rasanya meneliti dalam tim, tidak lagi cuma sebagai penelaah pustaka, tetapi juga pengambil data, dan bahkan ketua timnya! Bagaimana rasanya melakukan penelitian yang berkelanjutan dari waktu ke waktu demi mengejar jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.

Aku ingin bisa penelitian dengan metode kuantitatif, terutama dengan SEM-nya anak-anak S3 itu. Aku ingin mahir dalam aneka statistika untuk penelitian. Aku ingin mahir menguji aneka hipotesis, dengan uji beda, uji korelasi, uji model, macam-macam. Ingin juga bisa menguasai aneka pendekatan dalam penelitian kualitatif, termasuk hermeneutika yang kontroversial itu. Ingin tidak cuma bisa wawancara subjek mahasiswa, tetapi orang-orang dari aneka latar belakang. Tidak cuma bisa meneliti kasus-kasus yang aman dan nyaman, tetapi juga yang menantang.

Ya Allah, bagaimana Engkau akan membawaku sampai pada keinginan itu semua? Jika keinginan-keinginan itu baik, kabulkanlah Ya Rabbi. Syukur alhamdulillah atas kehidupan akademikku selama semester empatku di kampus UGM ini. Kelak nanti aku insya Allah menjadi peneliti, semoga pengalaman ini bermanfaat dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dengan kemaslahatan banyak orang. Aamiin.šŸ™‚

*Sekarang bulan Ramadhan…šŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s