Belajar Mendirikan Shalat

Bermula dari sebuah mimpi, beberapa bulan yang lalu, beberapa hari setelah mengerjakan salat mohon petunjuk lantaran sebuah urusan. Diceritakan dalam mimpi itu aku tak dibolehkan mendapatkan apa yang kuinginkan betapa pun aku keras berargumen dan berusaha untuk mewujudkannya. Uniknya, sebabnya diberitahukan: karena aku selama ini tidak salat. Benar-benar… Itu mimpi petunjuk yang aneh, karena kenyataannya aku selalu salat (!!!) kecuali di saat berhalangan salat. Dalam mimpi itu aku hanya menangis dan tak protes. Rasanya semua itu benar dan setelah aku bangun, yang harus kulakukan tampak jelas meski aku belum tahu bagaimana menseriusinya.

Di akhir bulan Sya’ban seorang teman menyarankanku untuk belajar fikih dan aku menyanggupinya, menjadikan belajar fikih program belajar pribadiku di bulan Ramadhan. Ketika pulang ke rumah aku mencari dalam perpustakaan keluarga kami buku-buku fikih. Aku teringat buku fikih tujuh mazdhab dan buku fikih wanita. Ketika hendak mencari buku itu di lemari buku, aku melihat tiga jilid buku yang pernah dulu sekali aku baca. Buku Pedoman Shalat, Pedoman Puasa, dan Pedoman Dzikir dan Doa, yang ditulis oleh Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash Shiddieqy. Mimpi itu teringat lagi dan kupikir, rasanya akan lebih penting bagiku untuk membaca kembali perihal salat, sebelum yang lainnya. Aku memutuskan mengambil Pedoman Shalat (Bulan Bintang, 1989).

Di bis, di perjalanan kembali ke Yogyakarta, aku membuka buku itu dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan, apa takwil mimpi itu. Memang benar, dengan pengertian yang baru tentang salat yang kudapat dari buku itu, aku dapat menilai kalau yang selama ini aku lakukan belum dapat dikatakan shalat sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.

Alhamdulillah wa syukurillah… Astaghfirullah…

***

1# Nasihat untuk Diriku

Ketika aku mengevaluasi shalatku, aku menemukan beragam persoalan yang menghambatku untuk shalat dengan benar. Bukan masalah aku tak hafal dan tak paham bacaan atau tak benar dalam gerakan, tetapi tentang bagaimana menghadirkan hati dalam shalat, bagaimana memaknai shalat, dan bagaimana menjadikan shalat pangkal mula kehidupan dan keseharian yang baik. Bagaimana menjadikan shalat bertalian erat dengan kehidupan?

Aku belajar melihat kesalahan-kesalahan dalam shalatku. Meski aku shalat, jarang sekali aku bersemangat menuju shalat atau suka dengan shalatku. Shalatku masihlah hasil mekanisme kebiasaan: dahulu ketika masih di rumah, dengar adzan-diingatkan ibu shalat-shalat, atau sekarang, dengar adzan-menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dulu-shalat. Tak pernah aku menginginkan shalat dari dalam hatiku. Shalat selalu saja adalah aktivitas setelah-yang-lain-selesai, atau pelarian ketika ada masalah, atau penggugur kewajiban saja.

Selain itu, meski aku shalat, sering kali aku tak khusyuk. Tak sadar dengan bacaan yang dibaca karena saking hafal dan terbiasa membacanya. Tahu-tahu sudah selesai saja pembacaannya, sampai-sampai kadang lupa sudah Al Fatihah atau belum. Atau tahu-tahu sudah sampai pada gerakan ini dan itu. Aku selalu berpikir berkonsentrasi dalam shalat, memusatkan perhatian pada bacaan dan maknanya, adalah hal yang sulit dilakukan. Mudah sekali pikiran-pikiran lain masuk dan mengambil alih perhatian. Aku tak tahu bagaimana itu berkomunikasi dengan Tuhan dalam shalat.

Selain itu, meski aku shalat, aku tidak paham maksud ayat-ayat Al Quran bahwa shalat itu mencegah pekerjaan keji dan munkar, bahwa shalat itu penolong bersama dengan kesabaran, bahwa shalat itu, sebagai dzikir, menjadikan hati tenang, bahwa shalat itu tiang agama. Aku tidak mengerti kenikmatan macam apa yang sering diceritakan orang-orang yang shalat di buku-buku. Aku juga tak tahu ada kepuasan macam apa yang akan muncul dari shalat, atau bahwa ketika shalat sesungguhnya aku sedang menghadap Tuhan.

Selama ini aku membiarkan saja masalah-masalah itu tanpa berusaha kuselesaikan. Benar, itu benar-benar pertanda betapa aku tidak menganggap penting ibadah shalat. Aku sudah shalat, dan aku merasa cukup dengan itu. Cuma, Prof. Hasbi mengatakan bahwa perintah shalat adalah perintah mendirikan shalat, dan mendirikan shalat itu tidak sama dengan melakukan shalat. Shalat itu ibadah lahir dan juga batin. Selama ini baru sisi lahirmu yang shalat, tetapi jiwamu tidak. Jika begitu keadaannya, memang benar, kamu belum shalat, kalau bukan tidak shalat.

Astaghfirullah…

 

2# Shalat Itu Doa

Dalam ilmu fikih, shalat sebagai nama ibadah yang menjadi tiang agama Islam adalah beberapa ucapan dan beberapa perbuatan yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat-syarat yang telah ditentukan. Pengertian ulama fikih itu hanya menyentuh rupa shalat saja, belum mengenai hakikat dan ruh dari shalat, padahal itulah yang dibutuhkan untuk perbaikan shalat.

Pelajaran terbesar yang kudapat kuperoleh justru dari hal yang sangat sederhana, yaitu dari pengertian shalat yang lain. Perkataan “shalat” dalam bahasa Arab berarti “doa mohon kebajikan dan pujian”. Itulah hakikat shalat: doa.

Ahli hakikat mengatakan bahwa shalat itu adalah berhadapan hati (jiwa) kepada Allah secara yang mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan dalam jiwa rasa keagungan atas kebesaran dan kesempurnaan-Nya. Lewat shalat, seseorang men-dhahir-kan hajat dan keperluannya kepada Allah yang Mahabesar dan Mahasempurna. Dalam shalat, seseorang mengharapkan mendapatkan sesuatu yang dihajati, memohon suatu nikmat, atau berharap supaya terhindar dari suatu kesusahan atau kekurangan. Lebih lanjut, ruh shalat terletak pada kekhusyukan, keikhlasan, kehadiran hati, baik dalam berdzikir, doa, maupun memuji ketika berhadapan dengan Allah.

Dari memahami hakikat shalat tersebut, aku menyadari sesuatu bahwa selama ini aku mengingat dan memahami hal yang kurang tepat dalam ajaran agama. Andai ada yang bertanya padaku apa itu shalat, sebelum mengetahui ini aku akan menjawab secara sederhana bahwa shalat itu kewajiban orang Islam; salah satu rukun Islam. Namun, apa yang menjadikan ini kewajiban dan rukun agama? Mengapa shalat sepenting itu? Aku tidak tahu.

Namun, saat ini bagiku, shalat adalah ibadah yang, lewat puji-pujian kepada Tuhan, menjaga hubungan antara hamba dengan Tuhan, dan lewat doa demi doa, menjaga hubungan antara hamba sebagai makhluk yang senantiasa punya keinginan, keperluan, dan kebutuhan, dengan pencipta-Nya yang Maha Memberi. Dengan pengertian itulah makna shalatku dapat beranjak dari sekadar kepatuhan pada aturan yang menghindarkan diri dari hukuman Ilahi, menjadi aktivitas yang dibutuhkan karena adanya kebaikan dan manfaat dari Tuhan kepada diri pelakunya, berupa pahala dan pertolongan menghadapi persoalan kehidupan.

Rasanya sekarang aku mengerti, itulah yang dimaksud dalam QS Al Baqarah 2: 45-46, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhan-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Ya Allah, astaghfirullah…

 

3# Arti Mendirikan Shalat

Mendirikan shalat adalah mewujudkan ruh dan hakikat shalat dalam rupa lahirnya yang sempurna, serta mewujudkan bekas-bekasnya sesudah shalat itu.” (h. 70)

Mendirikan shalat itu: 1) memelihara waktu-waktunya (shalat pada waktunya), 2) menyempurnakan wudhunya, 3) melaksanakan shalat dengan sesempurna-sempurnanya (sempurna berdiri, sempurna ruku’, sempurna i’tidal, sempurna sujud, sempurna duduk di antara dua sujud, sempurna duduk tasyahhud, sempurna dzikir, sempurna doa, sempurna khusyu’, sempurna kehadiran hati, sempurna takut, dan sempurna segala adabnya).

Tuhan memerintahkan kita mendirikan shalat, bukan bershalat. Maka, seseorang yang mengerjakan shalat menurut kaifiah/ cara yang telah ditentukan itu, tetapi kosong dari maknanya, yakni tiada berjiwa yang wajib ada beserta tubuh shalat itu, dikatakan padanya “ia bershalat,” bukan “ia mendirikan shalat”. Dikatakan “ia mendirikan shalat” hanyalah ketika ia laksanakan shalat menurut kaifiah yang telah diterangkan syara’ dengan sebaik-baiknya, dengan disertai khusyu’, serta memahamkan makna, dan sungguh-sungguh menghadapkan dirinya kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya. Di ketika ini, barulah ia dipandang mendirikan shalat.

Ta’rif kebanyakan ulama, yaitu mengerjakan shalat ialah “menyempurnakan suci, mencukupi rukun sunnatnya” itu, hanya mengenai rupa shalat yang lahir saja, tidak mengenai jiwanya; karena jiwa shalat “berhadapan jiwa kepada Allah Swt. dengan khusyu’ yang sungguh-sungguh serta merasa berhajat kepada-Nya.” Apabila shalat kosong dari makna ini, kosonglah dia dari jiwanya dan sendinya yang paling penting. Shalat yang demikian itu, hanya berharta pada mata manusia saja, tidak pada pandangan Allah Swt.

Rasanya sekarang aku mengerti, itulah yang dimaksud dalam QS Al Ma’un 107: 4-7, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.”

Ya Allah, astaghfirullah…

 

4# Syarat Diterima Shalat

Dalam suatu hadits Qudsy yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa syarat diterimanya shalat adalah:

1. Merendahkan diri kepada Keesaan Allah Swt., menjauhkan takabur, ujub, dan dusta.

2. Berkasih sayang, hidup rukun, dan damai, dan tidak berlaku curang terhadap makhluk Allah Swt.

3. Merasa menyesal terhadap kesalahan-kesalahan yang telah dikerjakan lalu bertaubat, dan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan itu.

4. Tiada lalai hati dari mengingat Allah Swt. dan terus-menerus menyebut-Nya.

5. Mencintai orang miskin, berlaku ihsan kepada mereka, memberi sedekah kepada mereka, dan memuliakan mereka.

6. Menolong orang-orang perantauan dan orang-orang dalam perjalanan.

7. Memberi pertolongan kepada para janda.

8. Meringankan kesusahan seseorang yang tertimpa bencana.

 

5# Martabat Orang-orang yang Bershalat

Ada lima martabat muslim yang mengerjakan shalat.

Pertama, orang yang menzalimi diri sendiri, yaitu orang yang sangat berlaku ceroboh terhadap shalatnya, yakni tidak menyempurnakan wudhu-nya, tidak menjaga waktu-waktunya, batasan-batasannya, dan rukun-rukunnya. Golongan ini akan disiksa.

Kedua, orang yang menjaga dan memelihara waktu-waktunya, batasan-batasannya, rukun-rukunnya yang dhahir, juga wudhu-nya, akan tetapi tidak melawan nafsunya, yakni tidak melawan lintasan-lintasan yang terlintas di dalam hatinya dan berjalan menuruti was-was dan aneka rupa pikiran yang merusak shalat. Golongan ini akan dibuat perkiraan.

Ketiga, orang yang memelihara segala batasan-batasan dan rukun-rukunnya, serta berdaya upaya menolak lintasan-lintasan pikiran, dan dia berusaha terus-menerus melawan musuh (nafsu) supaya musuh itu tidak merusak shalatnya. Golongan yang shalat dan berjihad ini akan dimaafkan.

Keempat, orang yang apabila berdiri untuk shalatnya ia menyempurnakan segala hak shalat: rukun-rukunnya, batasan-batasannya, dan seluruh hatinya dipakai untuk menjaga shalat dan haknya, supaya tidak hilang barang sedikit juga dari shalatnya. Hasilnya, seluruh himmah-nya dipergunakan untuk mendirikan shalat sebagaimana mestinya ia pergunakan sepenuh hatinya untuk shalat dan pengabdian kepada Allah. Golongan ini akan dipahalai.

Kelima, orang yang apabila berdiri untuk shalat melaksanakan shalat seperti keadaan orang yang keempat, tetapi dapat memerintahkan hatinya dan meletakkannya di hadapan Allah. Ia dapat memandang Allah dengan hatinya. Hatinya penuh dengan rasa cinta dan kebesaran Allah. Ia berdiri seakan-akan ia melihat Allah dengan mata kepalanya. Lintasan-lintasan hati tak ada pada hatinya. Hijab tersingkap antaranya dan Tuhannya. Golongan ini akan didekatkan kepada Allah.

Di manakah martabat kebanyakan orang yang bershalat?

Ya Allah, astaghfirullah…

***

Bagiku, bisa belajar ini adalah berkah Ramadhan tahun ini, diberi kesempatan untuk mengevaluasi diri dan mengarahkan diri menuju perbaikan. Butuh 25 tahun bagiku untuk belajar shalat secara lengkap, betapa apa yang diajarkan semasa kecil dan apa yang diamalkan semasa dewasa banyak kekurangannya. Inilah gambaran beramal tanpa cukup ilmu. Belajar ilmu pengetahuan macam-macam dan sampai ke mana-mana, tetapi yang paling dekat dengan diri dan yang paling penting bagi keselamatan di dunia dan akhirat, yaitu shalat, terabaikan.

Astaghfirullah…

Ya Allah, hamba-Mu ini ingin memperbaiki shalatnya. Semoga Engkau memudahkannya untuk mendirikan shalat sebagaimana yang Engkau kehendaki. Semoga shalatnya bukan menjadi sebab kecelakaan baginya di dunia dan akhirat nanti. Semoga Engkau senantiasa memberikan pelajaran dan nasihat agar hamba senantiasa memperbaiki shalat, aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s