Kepantasan

Ada jauh lebih banyak hikmah yang didapat dari mengamalkan apa yang diketahui, ketimbang sekadar tahu. Satu hikmah yang selama ini kucatat adalah tahu mengamalkan membuat seseorang tidak asal dan tidak banyak bicara. Sebabnya, karena mengerti realita rasanya mengamalkan, susah dan mudahnya, duka dan senangnya, pahit dan manisnya, rugi dan untungnya, ia tak semena-mena menceramahi orang, menyuruh-nyuruh orang, untuk melakukan ini dan itu, yang ideal-ideal itu. Ia tahu, hal yang ideal itu adalah tidak mungkin diwujudkan bahkan oleh dirinya sendiri.

Yang seperti itu menggemboskan balon kepalsuan, kesombongan dan kebanggaan diri dengan sangat ampuh. Karena itu, ia menjadi berhati-hati ketika menghadapi orang. Ia tak akan bicara kecuali apa yang ia sudah pernah atau bisa lakukan. Ia tahu untuk banyak hal yang belum mampu ia lakukan dengan baik, ia tidak pantas banyak bicara, tidak pantas menyuruh-nyuruh, tidak pantas menuntut. Ia menjadi berbicara lebih banyak pada dirinya sendiri, menyuruh-nyuruh dan menuntut lebih banyak pada dirinya sendiri  untuk mampu berbuat, dan merasa bersalah, justru ketika banyak menceramahi orang.

Dinamika yang semacam itu indah jika berada dalam kepribadian banyak orang.

Atas berita-berita yang kontroversial di media elektronik, yang menggugah rasa moral banyak orang, aku sering dan suka mencermati warna-warni komentar pembacanya, pertarungan antara yang pro dan yang kontra yang mana memang itu biasa terjadi. Namun, yang paling menarik perhatian adalah selalu ada serangan bagi para moralis. “Memang kamu siapa, bicara sok suci seperti itu? Kayak kamu malaikat saja, sukanya nge-judge orang…” Intinya seperti itu.

Dari mengamati itu aku menyadari satu hal, tentang bagaimana kematian amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan kewajiban sosial umat Islam itu. Amar ma’ruf nahi munkar mati justru di tangan orang-orang yang tahu agama, tetapi gagal mengamalkannya bagi dirinya sendiri. Bukan karena mereka tidak berdakwah, tidak menyuruh yang baik atau mencegah yang buruk, melainkan karena orang yang mendengar tidak percaya. Ini adalah persoalan integritas seorang muslim yang mengaku diri beriman ketika kepalsuan banyak menyebar. Di mulut begitu manis, tetapi justru berbuat hal yang menyakitkan. Atau, di mulut begitu manis, tetapi sebenarnya tidak ada yang sudah dilakukan. Maka, benarkah kemanisan yang dibicarakan itu jika tidak pernah dirasakan sendiri?

Sepanjang ajaran agama dan kebenaran tidak tegak pada diri sendiri, kau tak akan bisa melakukan apa-apa untuk orang lain atau menuntut orang lain untuk berbuat. Kau tidak pantas meskipun ke mana-mana kau membawa ayat-ayat untuk didakwahkan. Ayat-ayat itu akan berbalik menikam dirimu sendiri nanti.

Persoalan kepantasan ini banyak membuatku merenung ketika semakin lama aku sebagai pribadi semakin dituntut untuk berperan sebagai orang dewasa yang layak. Ada adik-adik yang lebih muda, ada anak-anak kecil, dan mungkin nanti akan ada anak-anak dan cucu-cucu sendiri yang berjalan di belakangku. Apakah bisa kau meminta mereka untuk benar sebelum kau sendiri benar? Apakah bisa kau meminta mereka berjalan lurus sebelum kau sendiri berjalan lurus? Apakah bisa kau meminta mereka untuk baik sebelum kau sendiri baik? Apakah bisa kau meminta mereka bersikap jujur sebelum kau sendiri bersikap jujur? Bagaimana bisa kau bersikap tegas kepada mereka sebelum kau sendiri tegas pada dirimu sendiri?

Ini problema moral, karena yang pasti, kesempurnaan tak bisa didapat oleh diri manusia ini. Karena itu, sejak memahami ini aku sekeras mungkin belajar mengamalkan apa-apa yang aku tahu dan tidak tamak pada banyaknya ilmu yang terhidang, sebelum selesai mengunyah satu dan menelannya. Memang betul, nasihat terbaik sampai bukan dari kata-kata yang diucapkan, melainkan dari keadaan diri yang berhasil dilihat. Dan keadaan yang ingin aku tunjukkan sebagai caraku memenuhi kewajiban amar ma’ruf nahi munkar bukanlah hasil mengamalkan, melainkan proses berusaha mengamalkan itu sebaik-sebaiknya, yang mana memang banyak kesalahan dan kegagalannya, tetapi tetap diusahakan untuk mengamalkannya sebaik-baiknya.

Aku mendapatkan pengertian baru. Kebenaran, kebaikan, kejujuran, apapun itu tidak tampak pada hasil akhir, melainkan proses mencapainya. Kebenaran itu ada pada perjuangan menjadi baik. Kebaikan itu ada pada perjungan menjadi jujur. Keindahan hidup ada pada seluruh perjuangan untuk menjadi baik dan benar itu. Sementara manusia hanya tahu dirimu bersalah, gagal, dan tak pantas berkata-kata, ada Tuhan yang mengerti perjuanganmu dengan sebaik-baiknya dan tidak menzalimimu, yang memberimu kekuatan untuk berkata, “Hidup dan beragama dengan baik itu memang tidak mudah, tetapi berusaha tetap menetapi agama itulah yang penting. Maka, sini, mari kuajarkan caranya menetapi agama, apapun hasil usahamu selama ini, apapun keadaanmu…

Dari situ aku belajar makna taubat. Perasaan-perasaan tidak pantas karena belum sempurna, belum bisa, belum berhasil berbuat yang seharusnya, selalu salah, dan selalu berbuat dosa, terobati dengan taubat memohon pengampunan Tuhan, terobati dengan diri yang senantiasa mengembalikan persoalan kepada kemahakuasaan Tuhan yang mengizinkanmu mengalami ketidaksempurnaan itu.

Satu hal pernah kubaca dalam buku Tajul ‘Arus karya Ibnu Athaillah:

Nabi saw. diriwayatkan kerap berdoa: “yaa muqallibal quluubi tsabbit qalbii ‘aladiinika.” Wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu. (HR Tirmidzi & Ibn Majah). Ketika Aisyah bertanya mengapa nabi sering membaca doa di atas, nabi menjawab: “Setiap hati berada di antara jari-jemari Tuhan yang Maha Penyayang. Jika mau, Dia bisa menegakkannya, dan jika berkehendak, Dia bisa menyimpangkannya.” (HR Muslim)

Karena itu setiap muslim dianjurkan membaca doa yang ada dalam QS Ali Imran (3): 8, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk. Karuniakan kepada kami rahmat dari Sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi karunia.”

Hati selalu dalam keadaan bertarung antara lintasan nafsu dan lintasan takwa. Jika lintasan takwa bisa mengalahkan nafsu, berarti kau telah mendapatkan karunia dan anugrah Allah. Namun, jika lintasan nafsu yang menang, berarti kau mendapat sisi kekuasaan Allah. Jelasnya, Allah terwujud padanya nama Al Jalil (Maha Agung) dan Al Qahhar (Maha Memaksa). Jika Dia menakdirkanmu jatuh ke dalam dosa maka kau harus segera bertobat kepada-Nya, karena maksiat juga dapat memberimu manfaat, yaitu maksiat yang mengantarkanmu pada pertobatan yang sesungguhnya.

Dengan demikian, ada maksiat yang jujur dan ada pula maksiat yang dusta. Jika Allah wujud padamu dengan nama Al Qahhar, hadapilah dengan ketundukan, pengabdian, dan sikap menerima ketentuan-Nya. Setelah itu, memohonlah agar Dia menolongmu untuk mengatasi lintasan nafsu dan teguhkanlah tekadmu untuk selalu menetapi jalan takwa.

Memberi dan menahan pemberian bertujuan demi kemaslahatan hamba. Sebab, dengan kedua keadaan itu setiap hamba bisa mengenali Sang Pencipta dan kembali kepada-Nya. Ibn ‘Athaillah berkata, “Ketika Dia memberimu, Dia Mempersaksikan kebaikan-Nya. Ketika Dia tidak memberimu, Dia memperlihatkan keperkasaan-Nya. Pada semua itu Dia memperkenalkan diri kepadamu dan mendatangimu lewat kelembutan-Nya.

Aku memahami, begitulah kepantasan senantiasa dapat lahir kembali, meski dari ketidaksempurnaan yang membawa diri pada taubat dan munajat minta kebaikan dan perbaikan kepada Allah Yang Mahakuasa dan Mahatahu. Dan aku pun mendapatkan pemahaman kedua tentang bagaimana kematian amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan kewajiban sosial umat Islam itu. Amar ma’ruf nahi munkar mati di tangan orang-orang yang tahu agama, tetapi tidak menjadikan taubat, penyucian diri, dan kembali kepada Tuhan sebagai jalan hidupnya.

Tidak ada kebenaran, kebaikan, kejujuran, apapun itu, jika tidak membawamu kembali mengingati Tuhan. Kesalahan, keburukan, kepalsuan, apapun itu, dapat pada hakikatnya adalah kebenaran, kebaikan, dan kejujuran, jika membuatmu belajar dan membawamu kembali kepada Tuhan. Ya, sementara manusia hanya tahu dirimu bersalah, gagal, dan tak pantas berkata-kata, ada Tuhan yang mengerti perjuanganmu untuk kembali kepada-Nya, yang memberimu keberanian untuk berkata, “Hidup dan beragama dengan baik itu memang tidak mudah, tetapi berusaha tetap menetapi agama itulah yang penting. Maka, sini, mari kuajarkan caranya bertaubat, menyucikan diri, dan kembali kepada Tuhan…

***

Pemahaman ini seakan-akan adalah hadiah kedewasaanku. Tidak pernah kumintakan kepada Allah, tetapi lewat peristiwa demi peristiwa, Ia senantiasa mengajariku sampai aku bisa menuliskan hal ini. Sungguh peringatan bagi diri agar senantiasa memelihara kepantasan agar dapat senantiasa memelihara kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.

Aku baru saja menyelesaikan membaca QS At Taubah (Pengampunan). Betapa surat itu berisi pemutusan hubungan dan perang Allah dan Rasul kepada orang-orang yang kafir dan musyrik, namun di seantero surat, tersebar kata-kata taubat. Betapa Allah sangat ingin hamba-hamba-Nya yang menzalimi dirinya sendiri itu mau bertaubat kepada-Nya.

Sebagai penutup, aku ingin mencatat satu hadist yang menjadi kesukaanku sejak aku memahami perihal taubat ini.

Sungguh Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat kepada-Nya, daripada gembiranya salah seorang dari kalian yang bersama tunggangannya di padang pasir tiba-tiba tunggangannya tersebut hilang, padahal makanan dan minuman (perbekalan safarnya) berada di tunggangannya tersebut. Ia pun telah putus asa dari tunggangannya tersebut, lalu ia pun mendatangi sebuah pohon lalu berbaring di bawah pohon tersebut (menunggu mati). Tatkala ia sedang demikian tiba-tiba tunggangannya muncul kembali dan masih ada perbekalannya, maka ia pun segera memegang tali kekang tunggangannya, lalu ia berkata karena sangat gembiranya, ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu.’ Ia salah berucap karena sangat gembiranya.” (HR Muslim)

Ya Allah, sungguh Engkau Maha Penyayang lagi Maha Penerima Taubat…🙂

 

Doa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s