Madame Bovary, A Tragic Love and Marriage Story

Kalau kata penulisnya, Gustave Flaubert (1821-1880), sebagai penutup bagi novelnya, “Sungguh akhir yang sangat tragis, dan semuanya karena takdir.” Sungguh itu kesimpulan yang lucu. Siapapun yang membaca dan mengambil pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan cintanya masing-masing, akan menyimpulkan bahwa semua itu dikarenakan oleh egoisme dan pilihan-pilihan yang salah.

Madame Bovary bercerita tentang keluarga Bovary yang berakhir tragis lantaran kesalahan-kesalahan yang dibuat secara sadar dan tidak sadar oleh suami-istri Bovary, Charles dan Emma.

Charles Bovary diceritakan sebagai seorang lelaki yang biasa saja, tidak menarik, pemalu, namun baik hati, berasal dari keluarga yang pas-pasan. Karena kerja kerasnya di sekolah kedokteran, ia berhasil menjadi dokter dan bekerja di sebuah desa kecil dengan penuh pengabdian. Ia tak memiliki ambisi macam-macam, kecuali hidup layak dan bahagia dengan seorang wanita yang penuh cinta.

Pada awalnya, karena tertarik pada keuntungan materi, ia menikahi seorang janda tua kaya yang ditawarkan oleh ibunya. Belakangan diketahui bahwa kekayaan itu adalah tipuan dan berakhirlah kehidupan rumah tangganya yang pertama. Dalam kehidupan pernikahannya itu, ia tak pernah bahagia hidup dan tidak mencintai istrinya. Wanita itu sudah tidak menarik lagi, bertemperamen buruk, jauh lebih tua darinya, sangat pengatur, dan penuh cemburu. Di dalam hatinya ada wanita yang lain.

Setelah kematian istrinya tak lama setelah kebohongannya terkuak, ia menikahi seorang gadis bernama Emma. Emma adalah anak perempuan dari petani tua yang pernah disembuhkannya. Bagi petani tua itu, Charles adalah penyelamatnya. Mempertimbangkan pendidikan dan kemapanan Charles, serta kepribadianya yang pekerja keras, beban pak tua yang berat karena utang-utang akan sedikit terangkat. Anaknya pun gembira dengan pilihan tersebut karena sudah beberapa lama ada rasa di dalam hati keduanya.

Keduanya menikah dan permasalahan pun muncul, berpusat pada diri Emma. Emma adalah gadis cantik dan cerdas yang seumur hidup dibesarkan di pedesaan yang monoton dan membosankan. Menyadari bakat dan kesempatan-kesempatan bagus yang mungkin dimilikinya, ia mendambakan hidup di kota dan mengikuti gaya hidup saat itu, yang selama ini hanya ia tahu dari buku-buku yang dibacanya. Ia dipenuhi imajinasi dan imajinasinya itu membangkitkan ambisinya untuk mewujudkan mimpi-mimpinya akan kehidupan yang romantis, penuh kebaruan, hal-hal yang menarik, barang-barang bagus, dan cinta dari laki-laki kaya tampan. Seperti di cerita-cerita.

Emma tidak mampu mengakurkan antara impian dan kenyataannya. Dengan suaminya Charles, meskipun Charles sangat mencintainya, ia senantiasa merasakan ketidakpuasan demi ketidakpuasan. Sampai suatu ketika ia tersadar, merasa telah mengambil keputusan yang bodoh, telah menikahi pria yang tidak bisa memenuhi hasratnya tersebut. Cinta dan kebahagiaan yang awalnya ada pelan-pelan pudar dan hilang sama sekali, dan ia mulai menjalin cinta dengan laki-laki lain.

Emma berselingkuh dengan dua orang laki-laki dan pandai sekali ia menyembunyikan itu dari suaminya yang baik. Hubungan itu memberikan kesenangan yang singkat, tetapi berakibat jangka panjang yang sangat fatal. Bersama selingkuhannya ia hidup bersenang-senang dan menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang-barang mahal sebagai hadiah bagi sang kekasih atau bagi kepuasan pribadinya sendiri. Ia melupakan suami dan putri kecilnya dan hidup dalam dunianya sendiri.

Bencana tiba ketika hubungannya dengan selingkuhannya memburuk, dan ia pun mulai terjerat oleh utang-utangnya untuk membiayai gaya hidup yang wah. Lelaki-lelaki yang berhubungan dengannya, meskipun mencintainya, tetap tidak bisa meninggalkan realita bahwa tidak mungkin hidup semata-mata demi cinta dan kesenangan, seperti yang dimaui Emma. Ketika Emma akhirnya ditinggalkan, dan bersamaan dengan itu lintah darat mulai mengejar-ngejarnya. Ia kehilangan seluruh harta beda dan dihadapkan pada ketakutan suaminya mengetahui semua perbuatannya. Ia memutuskan bunuh diri sebagai jalan keluar dari semua itu.

Sementara itu, Charles yang tidak tahu-menahu kehidupan Emma masih sangat mencintainya dan sangat kehilangan. Ia jatuh dalam kesedihan mendalam, betapa selama ini, yang ia tahu, ia sudah mencintai Emma sebaik-baiknya. Namun, tragedi tidak berakhir di situ karena akhirnya semua yang dirahasiakan Emma terkuak, termasuk hubungan gelapnya dengan laki-laki lain yang terungkap lewat surat-surat yang disembunyikan. Ia tidak percaya bahwa dua laki-laki yang menjadi kekasih Emma adalah orang-orang yang dipercayainya dengan baik. Hal itu menjadi bom bagi dirinya. Ia tak mampu menyalahkan siapa-siapa lagi, apakah itu semua selingkuhan Emma, Emma, maupun dirinya sendiri, kecuali takdir. Dalam kesedihan yang jauh lebih dalam, ia akhirnya pun meninggal.

Tertinggal di belakang mereka adalah putri mereka, Berthe, yang masih kecil dan hidup terlunta-lunta dalam kemiskinan.

Ketika semua barang telah dijual, yang tertinggal hanyalah 12 Franc, cukup untuk membiayai Mademoiselle Bovary ke rumah neneknya. Wanita itu meninggal di tahun yang sama. Karena kondisi kesehatan sang petani Rouault tidak terlalu sehat untuk menjaga Berthe, dia diasuh oleh salah satu bibinya. Berthe tinggal bersamanya, namun bibinya yang miskin itu kemudian mengirim gadis kecil itu bekerja di sebuah pabrik kapas. Sungguh akhir yang sangat tradis, dan semuanya karena takdir.” (h. 154-155)

 

Madame Bovary

***

Sebagai pembaca muslim, mudah bagi saya menempatkan cerita tersebut dalam perspektif. Ada terlalu banyak hal yang seharusnya tidak terjadi dan ada banyak pula yang seharusnya ada terabaikan dalam kehidupan rumah tangga keluarga Bovary. Pertama, kita dapat menyalahkan niat awal pernikahan yang orientasinya keduniaan semata. Kedua, kita dapat menyalahkan orang-orang yang terlibat di dalamnya yang tidak mengendalikan nafsu tercela mereka. Ketiga, kita dapat menyalahkan suami-istri Bovary yang sama-sama dikendalikan oleh ego masing-masing. Keempat, kita dapat menyalahkan cara hidup masyarakat di mana keluarga Bovary hidup yang memakan sesamanya, terutama yang naif dan pemimpi.

Meski demikian, apakah arti pemaknaan yang seperti itu? Cerita adalah cerita, tetapi, meski cuma 1% saja, memiliki basis realita. Dalam kehidupan pernikahan perselingkuhan terjadi di mana-mana, ketidakmampuan mempertahankan cinta terjadi di mana-mana, menikah dengan alasan yang salah terjadi di mana-mana, suami-istri yang berpisah jalan terjadi di mana-mana, anggota masyarakat yang bejat ada pula di mana-mana.

Cinta dan pernikahan bisa jadi adalah dua cerita yang berbeda dan tidak berhubungan. Pernikahan ya pernikahan. Cinta ya cinta. Ada pernikahan tanpa cinta, ada cinta tanpa pernikahan. Ada pernikahan dengan cinta yang tumbuh lambat sekali, ada cinta yang mencapai pernikahannya lama sekali. Ada orang yang menghindari cinta meski mengusahakan pernikahan, ada pula yang menghindari pernikahan meski menjalin hubungan penuh cinta. Sulit dimengerti kompleksitas semacam itu, namun pada intinya adalah jalan hidup itu bermacam-macam.

Meski demikian, adakah jalan yang terbaik kalau macam-macam jalan itu bukan sama baiknya? Setiap orang merasakan bahwa jalan hidup yang dipilihnya adalah yang terbaik, sehingga sejelek apapun jalan ceritanya di mata orang lain, miliknya lah yang terbaik. Dalam perjalanan terjadi kesalahan demi kesalahan yang memang takdir Tuhan apa-apa yang dipilih manusia diizinkan terjadi secara demikian dan berakibat demikian. Adakah Tuhan telah menetapkan seperti apakah pilihan yang ideal untuk jalan hidup yang ideal dan akhir yang ideal? Jadi, mengapa kau memaksakan kehendakmu atas cinta dan pernikahan bahwa cinta dan pernikahan seharusnya dan harus begini, begini, dan begini, dan bahwa hanya dengan begitulah kau dapat puas?

Akhirnya, belajar dari Charles dan Emma, berhati-hatilah dengan buku-buku dan cerita yang melambungkan mimpi, imajinasi, dan romantisme, dan berhati-hatilah dengan kenyataan yang kau tahu jika itu hanya menampilkan sebagian sisi yaitu yang tampaknya saja. Sering kau harus menerima kenyataan dan melihat lebih tajam dan dalam pada apa-apa yang ada di balik yang tampak nyata.

 

4 thoughts on “Madame Bovary, A Tragic Love and Marriage Story

  1. sebetulnya ceritanya bisa jatuh membosankan, tapi jeniusanya flaubert disitu, kita bisa melihat penggambaran yg apik dan detail latar belakang atas sebuah masa…ada film komedikal yg mrpkan satire dari novel ini bedanya timeline di tahun kita..judulnya gemma bovery…cukup menarik…

    • Saya baca ada remake film ini di tahun 2014 kemarin.

      Bagi saya yg menarik tdk hanya di detail latar belakang masa, tetapi juga di peristiwa2nya sendiri. Tidak bertele2 tp lengkap. Tdk terlalu banyak percakapan. Dan endingnya yg cm separagraf itu lgsg menggambarkan betapa tragis akhir dari semuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s