“Sejarah Islam” Karen Armstrong

Ya Allah, semoga Engkau memberi rezeki agar hamba bisa terus membeli buku. Aamiin…

***

1# Sekilas tentang Sikap terhadap Sejarah dan Masa Lalu

Sejarah selalu adalah subjek favoritku. Satu hal yang kusyukuri dari sekolah adalah ia mengenalkanku pada satu bidang ilmu yang sangat menarik di mana imajinasi dapat nyata sangat berguna. Sejarah tidak pernah kupandang sebagai pengetahuan belaka, melainkan cerita yang mengalir dan kesannya melekat kuat-kuat di dalam benak. Terlebih, memahami sejarah pun berguna bagi psikologi. Banyak kecenderungan dan perilaku masyarakat saat ini yang dapat lebih jelas dimengerti dengan memahami masa lalu kolektif mereka, peristiwa-peristiwa yang membentuk mereka. Hanya sayangnya, pendekatan makro semacam ini kurang tereksplorasi dalam psikologi yang diajarkan di kampus🙂

Di antara banyak cerita, satu yang paling menggugah untuk dipahami adalah sejarah Islam. Ini keinginan yang wajar ada dalam diriku sebagai anggota generasi muslim masa kini yang sedang mencari identitas muslimnya. Ada banyak tradisi, ajaran, dan basis gerakan sosial yang referensinya kembali pada masa lalu. Bahkan, polemik, dilema, ironi, dan krisis-krisis dunia Islam saat ini bisa dicari akarnya pada masa lalunya. Itu jelas-jelas menimbulkan pertanyaan: Ada apa dengan masa lalu? Apa yang sebetulnya terjadi di masa lalu? Bagaimana semua itu terjadi?

Pelajaran sejarah Islam yang diberikan di sekolah tak pernah lengkap. Bahkan, yang diberikan di ruang-ruang kajian pemikiran dan peradaban Islam pun tak pernah lengkap. Selalu ada penggiringan pada kesimpulan bersama tentang betapa jayanya masa lalu dunia dan peradaban Islam dan bahwa kejayaan itu disebabkan oleh kesalehan generasi-generasi terdahulu. Selalu ada penggiringan pada satu wajah peradaban saja, yaitu wajah kemajuan, macam kemajuan ilmu dan pengetahuan masa itu, kemajuan arsitektur, dan kemajuan pemikiran-pemikiran ulama dan ilmuwan muslim, yang mana itu semua bertujuan menggugah satu perasaan yaitu rasa bangga sebagai seorang muslim.

Tetapi, rasa bangga itu sesuatu yang sulit digenggam dalam tangan muslim generasi sekarang. Kita adalah warga dunia kelas kesekian ketika dunia saat ini didominasi oleh kekuatan bukan muslim. Itu menimbulkan pertanyaan lain: Ke mana kemajuan itu pergi? Ke mana kejayaan itu pergi? Apa penyebabnya? Dan penjelasan sederhananya selalu bahwa itu dikarenakan umat Islam meninggalkan agamanya. Tetapi, meninggalkan bagaimana? Meninggalkan seperti apa? Jawaban yang lebih dalam mengatakan bahwa itu adalah takdir Ilahi, betapa Allah mempergilirkan kekuasaan di muka bumi, dan yang lebih ilmiah mengatakan bahwa jatuh bangun peradaban adalah siklus yang alami dan biasa terjadi di sepanjang sejarah umat manusia.

Tetapi, kealamian itu menimbulkan dampak yang luar biasa bagi diri setiap manusia yang mengalaminya. Dapatkan itu dipahami secara dingin sebagai hal yang biasa? Ibarat peristiwa makan dan dimakan yang biasa itu, yang tidak akan pernah dirasakan biasa oleh pihak yang dimakan dan pihak yang memakan. Karena itu, ketimbang sekadar sebuah cerita, sejarah Islam lebih merupakan tragedi suatu umat. Ada detik-detik kebangkitan yang sesungguhnya berlangsung berabad-abad lamanya, ada detik-detik kejatuhan yang juga sesungguhnya berlangsung berabad-abad lamanya. Apa yang terjadi selama masa-masa itu?

Tidak semua muslim tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi di pertengahan itu. Itulah sebabnya, ketika muncul di televisi serial dengan setting kesultanan Mughal, “Jodha-Akbar” dan kesultanan Utsmani, “Abad Kejayaan”, banyak orang mengatakan: hati-hati menonton serial itu; dengan alasan itu penyelewengan sejarah, penyimpangan ajaran Islam, penyusupan ideologi, dan sebagainya. Mereka tidak mengerti bahwa dua kesultanan itu adalah dua mutiara peradaban Islam di masa kejayaannya di abad pertengahan. Mereka ketakutan pada detail-detail cerita, gagal pula menghargai kebesaran fakta masa itu, betapa itulah masa di mana Islam menguasai dunia. Mereka kehilangan hal-hal yang besar dan bermanfaat untuk mengetahui masa lalu Islam karena sikap semacam itu. Baca buku tidak, menonton serial, cara paling menyenangkan untuk belajar, pun tidak mau karena kecurigaan-kecurigaan. Mereka hanya ingin melihat betapa masa kejayaan itu seharusnya berisikan semua deskripsi ideal, dan tidak bisa menerima bahwa zaman di mana pun berlangsung secara sama saja: Di mana ada terang, di situ ada gelap. Siang dan malam pun silih-berganti menerpa peradaban-peradaban. Itulah pelajaran besar yang diberikan dari memahami sejarah.

***

2# “Sejarah Islam” Karen Armstrong

Sejarah Islam Karen Armstrong

Karen Armstrong termasuk pemikir favoritku. “Sejarah Tuhan”-nya separuh kubaca ketika memasuki SMP. “Muhammad Sang Nabi” dan “Berperang demi Tuhan” kubaca ketika kuliah.Dan yang baru kemarin kuselesaikan lewat pembacaan maraton hampir 12 jam lamanya: “Sejarah Islam”. Membaca buku ini aku melupakan waktu.

Buku ini adalah sepotong lagi puzzle pengetahuan tentang sejarah Islam. “Atlas Dunia Islam”-nya suami-istri Ismail dan Lamya al-Faruqi memberikan deskripsi luas, meski tidak dalam, dunia Islam, terhenti di abad 19/20. “The Crusade: Islamic Perspectives”-nya Carole Hillenbrand memberikan deskripsi luas dan mendalam, tetapi hanya pada periode terjadinya Perang Salib. “Sejarah Filsafat Islam” Majid Fakhry berfokus pada pemikiran filsafati dari masa lalu sampai pada abad 20 saja. “Tasawuf: Perkembangan dan Pemurniannya” HAMKA berfokus hanya pada bidang tasawuf. “History of The Arabs”-nya Phillip K. Hitti berfokus pada bangsa Arab dan berhenti pada awal abad 20 saja. Buku-buku sejarah nasional Indonesia cukup memberi pengetahuan tentang Islam di Nusantara, tetapi itu pun sampai masa kedatangan Belanda saja. Sirah-sirah nabi dan sahabat, khusus tentang mereka pada masa mereka saja. Dan, “Muqaddiman” Ibnu Khaldun berhenti di abad pertengahan, meskipun bermula dari masa yang jauh sebelum Islam.

Aku berharap ada satu buku sejarah yang membahas keseluruhan secara berkesinambungan, tetapi itu mungkin belum ada dan mungkin memang sulit untuk diwujudkan. Meski demikian, yang unik dari buku “Sejarah Islam” (Mizan, 2014), meskipun hanya merupakan telaah ringkas:

Pertama, ia cukup komprehensif karena tidak secara eksklusif mendeskripsikan apa yang terjadi di dunia Islam saja (di Afrika Utara, sebagian Eropa, Asia Tengah, Asia Kecil, Timur Tengah, dan India, minus Asia Tenggara), tetapi menyandingkannya (meskipun minor saja) dengan apa yang terjadi di belahan bumi yang lain, terutama Eropa Barat, Rusia, dan Amerika Serikat, dari ketika raksana-raksasa itu bukan apa-apa sampai keduanya menjadi kekuatan dominan dunia selanjutnya, beserta analisis faktor-faktor yang bermain di dalam dinamikanya.

Kedua, penuturannya bermula dari masa nabi dan menembus era kolonialisme abad 18-20 sampai sedikit di dekade pertama abad 21 ini di mana peristiwa-peristiwanya hanya generasi kita yang tahu. Ada efek-efek kolonialisme, imperialisme, dan modernisme, serta fundamentalisme dan terorisme abad 21 yang tidak mungkin tertangkap dan dimengerti oleh sejarawan di masa-masa sebelumnya.

Ketiga, buku ini secara implisit membawa misi mendekatkan, mengakurkan, dan mendamaikan dunia Islam dan Barat yang selama beberapa abad terakhir dan memuncak di abad 21 ini senantiasa berada dalam ketegangan-ketegangan. Buku ini terutama ditujukan kepada masyarakat Barat, dan berusaha memperbaiki stereotipe-stereotipe Barat yang salah kaprah tentang Islam dan umat Islam, menunjukkan betapa kebencian tidak ada dalam diri penulisnya.

Sulit menyampaikan apresiasi apa yang seharusnya kuberikan pada penulis, tetapi sungguh ini adalah pekerjaan besar dan berarti bagi dunia Islam juga. Aku pribadi merasa, inilah pertama kalinya membaca sejarah Islam dari kacamata yang berbeda, dari orang yang bukan Islam tetapi simpatik, sehingga di seantero buku yang kudapatkan adalah evaluasi yang berimbang, tanpa membela faksi, mazhab, atau sekte Islam tertentu, termasuk tanpa membela Eropa. Membaca buku ini, aku mendapatkan banyak nasihat untuk memahami situasi sosial dan politik umat Islam saat ini.

***

3# Fenomena Abad 20-21: Kolonialisme sampai Fundamentalisme

Ketika penulis buku ini menerbitkannya di tahun 2000, ia memprediksi masa depan berdasarkan analisisnya tentang fundamentalisme Islam sebelumnya. “… jika umat Islam terus merasa bahwa agama mereka berada di bawah serangan, kekerasan fundamentalis cenderung menjadi lebih ekstrem dan mengambil bentuk-bentuk baru.” (h. 259) Fundamentalisme berakar dari keyakinan-ketakutan bahwa pemerintahan/ gerakan sekuler dan liberal bertekad untuk menghapuskan agama, terutama yang dilakukan dengan cara-cara yang agresif dan dipaksakan. Semakin kuat serangan kelompok sekular dan liberal, semakin ekstrem respon para fundamentalis dalam rangka mengembalikan kehidupan ke jalan yang benar. Fundamentalisme adalah suatu bentuk pemberontakan dari hegemoni Barat atas dunia Islam.

Akar fundamentalisme Islam berada jauh pada masa Barat pertama kali datang ke dunia Islam pada abad ke-18. Setelah berabad-abad sebelumnya berada dalam pergulatan keluar dari zaman kegelapan, revolusi agama, intelektual, sosial, politik, dan ekonomi berlangsung, dan Eropa pun muncul sebagai kekuatan baru. Tidak seperti negara-negara Islam masa itu yang bercorak agraria konvensional, Eropa berdiri di atas ilmu pengetahuan, teknologi, dan investasi modal, dan tidak lagi tunduk pada batasan budaya yang terikat pada lahan. Masyarakat menata diri berdasarkan norma-norma yang rasional dan ilmiah, lepas dari pengaruh institusi agama yang selama ini justru mengekang perkembangan.

Kolonialisme terjadi atas dorongan kebutuhan menciptakan pasar-pasar baru di luar Eropa, setelah pasar-pasar dalam Eropa sendiri mulai jenuh. Eropa mulai menjajah negara agraris di luar Eropa dalam upaya mengikutsertakannya dalam jaringan perdagangan mereka. Negara jajahan berperan menyediakan bahan baku dengan modal Eropa, untuk dipasok ke dalam industri Eropa. Untuk menyesuaikan cara kerja dengan cara kerja Eropa, negeri jajahan harus diubah dan dimodernisasi, sistem kehidupan dibawa ke dalam sistem Barat, dan itu berarti perubahan dalam diri individu muslim pribumi yang drastis dan radikal.

Perubahan itu adalah sebab masalah sosial dan kemanusiaan yang panjang. Di negeri jajahan, hanya anggota masyarakat kelas atas yang bisa menerima pendidikan Barat dan menghargai dinamika pembaruan tersebut, sementara rakyat kebanyakan dibiarkan dengan cara hidup lama, tanpa pendidikan, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru. Banyak orang yang akhirnya tersingkir dan hidup dalam kondisi miskin dan papa, berbeda jauh dengan kalangan elit yang lebih bisa mengambil keuntungan dari perubahan.

Di level yang lebih makro, muncul ketergantungan negeri-negeri muslim jajahan pada Eropa. Jika ingin modern dan maju, yang bisa dilakukan adalah meniru dan meniru Eropa yang sudah berada jauh di depan dan tak mungkin terkejar. Jika pembaruan dilakukan pun, dinamika yang terjadi sangat dangkal pada aspek superfisial saja, tidak menyentuh pola pikir dan pola hidup yang seharusnya mengikuti. Dunia Islam terguncang oleh perubahan tersebut dan berubah menjadi blok yang tertinggal. Kesenjangan sosial memunculkan masalah inefisiensi dan korupsi di masyarakat.

Di sini, satu hal penting perlu dicatat. Banyak sekali orang yang tidak (mampu) belajar sejarah bangsa-bangsa. Mereka lantas beranggapan bahwa budaya Eropa sudah maju sejak dulu kala. Sementara mereka melihat kenyataan diri mereka yang kini terbelakang, mereka gagal melihat bahwa Eropa dahulu sama terbelakangnya seperti mereka ketika kesultanan-kesultanan Islam berjaya. Mereka mudah percaya bahwa Eropa lebih unggul secara ras dan budaya. Di satu sisi mereka mempertahankan diri dengan cara memusuhi dan marah pada Eropa, di sisi lain mereka dilanda inferioritas.

Republik-republik sekuler maupun republik Islam dengan sistem Barat di dunia Islam pun terbentuk di abad 20. Orang-orang Islam yang berpikir pada masa itu mengatribusikan kemajuan Eropa pada cara hidup Eropa.  Di sini pemikiran intelektual muslim terbelah. Mereka yang terpesona pada Eropa lantas mendorong orang-orang untuk memperoleh pendidikan Barat, menganut ideologi sekuler, dan meninggalkan Islam. Sementara yang lain berusaha menemukan kesesuaian antara ajaran Islam dengan semangat dan cara-cara hidup modern yang ada baik. Mereka lantas membuka kembali pintu ijtihad dan ingin menyesuaikan syariat dengan kondisi terkini. Di luar kedua kubu tersebut ada kelompok ulama yang posisinya semakin ke pinggiran, yang berakhir menutup diri, membenci Barat, tetap fanatik memperjuangkan cara-cara lama sebagai cara hidup terbaik, dan menolak reformasi syariat atas dasar ijtihad apapun. Ketiga kelompok ini bertarung berebut pengaruh politik sampai saat ini.

Permusuhan Barat-Islam sesungguhnya muncul dari kesalingtidaktahuan, kesalahmengertian, dan ketakutan-ketakutan atas potensi mengancam eksistensi dan kepentingan satu sama lain. Pada sebagian kenyataan memang begitulah adanya, tetapi ada orang-orang yang ingin keluar dari pemikiran tersebut dan bertindak dengan cara yang berbeda, baik di pihak Barat maupun Islam.

Di pihak Islam, solusi terbaik untuk keluar dari kebuntuan di atas, terletak pada pandangan para ulama, intelektual, dan masyarakat berpikir yang bersikap moderat: Islamis-demokratis-antisekularisme, seperti yang dimiliki oleh Rasyid Al-Ghannouchi pemimpin Partai Kebangkitan Tunisia.

“Dia menjelaskan dirinya sebagai ‘Islamis demokratis’ dan tidak melihat ketidakcocokan antara Islam dan demokrasi, tetapi dia menolak sekularisme Barat, karena manusia tidak bisa demikian terbelah dan terfragmentasi. Nilai ideal tauhid Muslim menolak dualitas tubuh dan jiwa, kecerdasan dan spiritualitas, pria dan wanita, moralitas dan ekonomi, Timur dan Barat. Kaum Muslim menginginkan modernitas, tetapi bukan yang dipaksakan atas mereka oleh Amerika, Inggris, atau Prancis. Kaum Muslim mengagumi efisiensi dan teknologi Barat yang indah; mereka terpesona oleh cara Barat mengganti rezim tanpa pertumpahan darah. Tetapi, ketika umat Islam melihat masyarakat Barat, mereka tidak melihat cahaya, tidak ada hati, dan tidak ada spiritualitas. Mereka ingin berpegang pada tradisi keagamaan dan moral mereka sendiri dan, pada saat yang sama, mencoba memasukkan beberapa aspek terbaik peradaban Barat.” (h. 256)

Yusuf Al-Qardhawi pun berpikiran sama tentang sikap moderat, dan yakin bahwa “kefanatikan yang baru-baru ini muncul di Dunia Muslim akan memiskinkan orang dengan merampas wawasan dan visi mereka tenang manusia lain.” (h. 256) Fanatisme yang memunculkan pengagungan diri sendiri dan ekstremisme bertentangan dengan QS Al Hujurat 49: 11, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di Sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”

Di pihak Barat, “… mereka harus menghargai bahwa ada lebih dari satu cara hidup. Keragaman memberi manfaat bagi seluruh dunia. Allah memberi manusia hak dan kemampuan untuk memilih, dan sebagian mungkin memilih cara hidup religius -termasuk negara Islam- sementara yang lain lebih memilih ideal sekuler. ‘Akan lebih baik bagi Barat jika kaum Muslim itu agamis, berpegang teguh pada agama mereka, dan mencoba untuk menjadi bermoral.’ … Agama telah membantu manusia menumbuhkan nilai-nilai yang layak. Islam mengajarkan pengertian tentang keadilan sosial, kesetaraan, toleransi, dan welas asih praktis di garis depan hati nurani manusia selama berabad-abad. Kaum Muslim tidak selalu hidup sesuai dengan cita-cita ini dan sering menemukan hambatan untuk mewujudkannya dalam lembaga-lembaga sosial dan politik mereka. Tetapi, perjuangan untuk mencapai ini selama berabad-abad merupakan dorongan utama spiritualitas Islam.”

Karen Armstrong di akhir bukunya pun melanjutkan, “Orang Barat harus menyadari bahwa merupakan kepentingan mereka juga apabila Islam tetap sehat dan kuat. Barat belum sepenuhnya bertanggung-jawab atas bentuk-bentuk ekstrem Islam, yang telah membudidayakan kekerasan yang melanggar kanon yang paling suci agama. Tetapi, Barat pasti telah berkontribusi terhadap perkembangan ini dan, untuk meredakan ketakutan dan keputusasaan yang terletak pada akar dari semua visi fundamentalis, harus menembuhkan apresiasi yang lebih akurat tentang Islam di milenium ketiga Kristen.” (h. 257-258)

***

4# Fenomena Pasca Khulafaurasyidin: Abad-abad Pergantian Rezim yang Berdarah

“Ingatlah ketika Tuhan-mu Berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak Menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak Menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?'” QS Al Baqarah 2: 30

Sejarah Islam tidak hanya dituliskan dengan tinta emas, tetapi juga tinta darah. Belajar sejarah Islam akan memberikan kita peringatan tentang pertumpahan-pertumpahan darah yang dilakukan orang-orang baik muslim maupun kafir dalam usaha menaklukan dan menjatuhkan rezim-rezim yang berkuasa di masa lalu dan naik ke kursi pemerintahan. Kita tidak dapat menghakimi bahwa pertumbahan darah tersebut absolut salah karena norma masa itu yang berbeda dari norma masa kita, tetapi meskipun hanya 1% atau lebih dari itu, pertumpahan darah tersebut adalah suatu bentuk kezaliman. Bertebaran, sambung-menyambung dalam sejarah kerajaan-kerajaan Islam, pemberontakan demi pemberontakan, peperangan demi peperangan, yang menumpahkan tidak hanya darah penguasa, para elit dan keluarganya, serta militer, tetapi juga rakyat sipil.

Itulah fitnah yang hampir selalu ada di seputar kursi kepemimpian dan kekuasaan, kursi seorang khalifah.

Betapa tiga pemimpin kaum beriman terakhir (‘Umar, Utsman, dan ‘Ali), mereka tidak membunuh untuk berkuasa, tetapi berakhir dibunuh. Dinasti Umayyah bangkit setelah kematian ‘Ali, pemberontakan kaum Syiah dan Khawarif. Dinasti Abbasiyyah bangkit setelah pembantai keluarga Umayyah dua abad setelah itu. Di dalam rezim-rezim itu, pertumpahan darah pun terjadi demi mempertahankan kekuasaan dari kelompok-kelompok oposisi. Dinasti Abbasiyah runtuh di abad 13 setelah penyerbuan pasukan Mongol yang luar biasa. Dinasti-dinasti Islam baru kembali muncul dari kekerasan, peperangan, dan pertumpahan darah. Kekuasaan tidak diperoleh lewat jalan damai, melaikan perebutan, atau kudeta militer. Kekaisaran Safawi di Iran, Kekaisaran Moghul di India, dan Kekaisaran Utsmani di abad 16-20 pun mengalami hal yang sama.

Setelah abad 20, ketika negara-negara muslim akhirnya merdeka dari kolonial Barat, kekuasaan-kekuasaan negara juga diperoleh dan dipertahankan lewat jalan kekerasan. Bahkan peristiwa terkini yang belum masuk dalam buku Sejarah Islam, kejatuhan rezim-rezim diktator muslim, Musim Semi Arab, dan Negara Islam di Irak dan Syria, mengulang pola yang sama. Ajaran Islam mungkin berhasil masuk ke dalam sistem pendidikan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan, tetapi ke dalam sistem politik, tidak. Nyaris belum ada tuntunan yang dapat dipraktikkan secara nyata, ketika ajaran masihlah teori di atas kertas. Apakah itu sistem khilafah, misalnya? Dalam sejarah yang panjang itu, ketika para pemimpin menyebut diri mereka dari khalifah, sultan, sampai presiden, manakah yang dapat dikatakan sebagai kekhalifahan yang dikehendaki Islam, yang mampu diterapkan di negara-negara yang penduduknya majemuk, yang wilayahnya sedemikian luas, dan yang masalah-masalahnya kompleks?

Berabad-abad dunia Islam terkungkung dalam monarki absolut, dan itu suatu sistem yang benar karena zaman menjadikan itu cara efektif untuk memerintah, pada saat itu. Mudah memahami bahwa para ulama saat itu tidak mampu memikirkan cara-cara di luar sistem monarki karena mereka berada di dalam sistem itu. Barulah ketika zaman modern muncul, orang-orang Eropa mengenalkan demokrasi dan sistem pergantian kekuasaan dijatah lewat pemilu beberapa tahun sekali, ulama mampu membuat perbandingan mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk, sistem monarki di masa lalu, atau sistem “asing” yang dikenalkan Eropa, meskipun rasanya lebih dekat dengan kebiasaan khulafaurasyidin yang menaikkan pemimpin lewat musyawarah orang banyak, bukan pertumpahan darah.

Sebenarnya, dalam pandanganku, tidak benar menolak demokrasi atas dasar sentimen belaka, atas dasar kebencian keagamaan, atau atas dasar kemarahan dan dendam masa lalu dari kenyataan bahwa dunia Islam memang pernah dijajah bangsa-bangsa Eropa. Analisis maslahat dan mudharat-lah yang seharusnya dikedepankan untuk memutuskan apakah demokrasi itu baik atau buruk, apakah demokrasi itu harus disesuaikan dengan Islam, atau apakah tradisi masyarakat muslimlah yang harus disesuaikan dengan demokrasi modern, atau apakah sistem yang Islam itu sebenarnya sudah ditemukan atau belum, dan seterusnya. Aku berharap bisa menemukan diskursus semacam itu di kalangan cendekiawan muslim, bukan ngotot-ngototan bahwa Islam itu rahmat, bahwa generasi salaf itu lebih baik, termasuk dalam hal sistem pemerintahannya, bahwa masa kejayaan Islam itu sedemikian berkilau, termasuk dalam sistem pemerintahannya, bahwa yang perlu dilakukan sekarang adalah duduk manis menunggu Imam Mahdi menghancurkan orang-orang kafir dan akhir zaman pun tiba.

Adakah buku-buku tentang itu? Tentang ikhtiar politik semacam itu yang akhirnya dapat dimanfaatkan untuk menyetir arah gerak umat ke masa depan. Jika ada, ingin sekali aku membaca itu semua.

Aku termasuk yang mendukung pintu ijtihad untuk dibuka kembali, sehingga berpikir dapat menjadi kesenangan dan ibadah semua orang yang peduli pada agama dan masa depan ummat, bukan hanya kaum ulama, cendekiawan, orang-orang yang belajar di Arab, dan yang bisa berbahasa Arab. Adakah orang-orang tahu bahwa dahulu pintu ijtihad ditutup adalah disebabkan oleh kepentingan politik penguasa, karena mereka memandang syariat adalah oposisi, ancaman bagi kelangsungan kekuasaan mereka?

Begitulah. Syariat dapat dibisukan dan dipetieskan oleh penguasa. Orang-orang yang lahir kemudian hanya tahu bahwa kebekuan itu dikarenakan syariat Islam yang sudah sempurna dan tidak ada lagi mujtahid atau ulama yang mumpuni, sehingga tak ada yang perlu disesuaikan atau diperbaiki lagi. Sungguh kita dibodohi oleh cerita sejarah dari orang-orang Islam yang tidak belajar sejarah! Kita dibuat membebek dalam doktrin dan dibuat merasa berdosa, ditakut-takuti neraka dan adzab, karena mencoba berpikir ulang tentang agama dan syariat.

Dan sekarang, seorang Barat-lah yang mengingatkan kita untuk berbenah.

***

“… terlepas dari keyakinan banyak orang beriman dalam setiap tradisi, yang yakin bahwa agama tidak pernah berubah dan bahwa keyakinan dan amalan mereka identik dengan keyakinan dan amalan para pendiri agama mereka, agama harus berubah untuk bertahan hidup.

… tidak pernah mungkin untuk kembali ke masa lalu. Setiap ‘reformasi’, betapapun konservatif niatnya, selalu merupakan titik berangkat yang baru, dan merupakan adaptasi iman terhadap tantangan tertentu dari zaman sang pembaru sendiri. Jika sebuah tradisi tidak memiliki fleksibilitas untuk berkembang dan tumbuh, ia akan mati,

Islam membuktikan bahwa ia memiliki kapasitas kreatif ini. Islam bisa menarik pada tingkat yang mendalam bagi laki-laki dan perempuan yang hidup dalam kondisi yang sangat berbeda dari era Nabi… Mereka bisa melihat makna Al-Quran jauh melampaui arti harafiah kata-katanya, dan yang melampaui keadaan lingkungan di sekitar wahyu asli. Al-Quran menjadi kekuatan dalam hidup kaum Muslim yang memberi mereka isyarat tentang yang kudus, dan yang memungkinkan mereka untuk membangun spiritualitas baru dengan kekuatan besar dan wawasan luas.”

— Karen Armstrong, dalam “Sejarah Islam: Telaah Ringkas-Komprehensif Perkembangan Islam Sepanjang Zaman”, h. 132-133

16 thoughts on ““Sejarah Islam” Karen Armstrong

      • sejarah tuhan, ttg sejahar nabi Muhammad dalam edisi penb Risalah gusti diedit, sbb ada sumber2 yg tak akurat kata editornya… Ok thks

      • Sejarah Tuhan saya hanya baca separuh, sampai ke Tuhan-nya Islam saja. Ada penuturan yang tidak sesuai dengan keyakinan, meski saya lupa apa itu.

        Muhammad saya baca sampai selesai, tetapi kembali ada yang tidak sesuai dengan keyakinan. Mungkin karena penulis bukanlah seorang muslim, jadi tidak ada penerimaan bahwa Muhammad itu nabi yang sikap dan perilaku terhubung dan terbimbing oleh Tuhan. Itu pendapat saya.

        Tetapi, di buku ini, pendapat penulis “melunak”. Mungkin ia masih tetap tidak bisa menerima pribadi Muhammad sebagai nabi dan kebenaran-kebenarannya, tetapi ia menambahkan satu frasa sebelum penjelasannya, yang kalau tidak salah, “Menurut pandangan Barat, …” Ia hanya mengulang pandangan yang luas di Barat untuk bukunya, sehingga bagi saya terkesan ia menyimpan pandangan pribadinya tentang Muhammad.

        Kalau ada kesempatan, bacalah🙂 Bagus bukunya.

  1. Nilai agama yang terpatri di dalam dada (keyakinan), akan memberikan keniscayaan kepada yg membawanya……..?
    Sudahkah kita pertsnyakan kepada diri kita, apakah kenyakinan tadi sudah berangkat dari pada keyakinan agama…?
    Atau mungkin keyakinan tadi berdasar kepada pola pikir manusia saja (nafsu)……..!
    Wahai manusia carilah jalan kepada tuhan……..? Maka keniscayaan akan bersama dengan kita…..!!!!

    • Sejarah itu sendiri adalah keniscayaan pelaku sejarahnya……. yang tidak mungkin terulang sama, akan tetapi sejarah akan merujuk kepada kesamaan makna,
      Apabila kenyakinan manusia merujuk pula kepada kenykinan agama…… sobat carilah jln kepada tuhan…. sebelum engkau bertemu tuhan……
      Yaa mungkin dengan cara membaca buku “sejarah tuhan” …….. sebab tuhan banyak membuat jalan menuju kepada-Nya…
      Bukan jalan akal-akalan kita…….trims sobat

      • Wahai saudariku, bukankah tuhan menjanjikan keniscayaan bagi siapa saja yg mau menjadi hambanya yg mukhlis dengan surga yg di bawahnya mengalir air keabadian……. bgt juga sebaliknya……
        Akan halnya juga nabi kita muhammad rasul utusan bersama dengan sahabat2nya adalah insan kamil, hamba2 tuhan, tentunya juga pribadi2 yg sedemikianlah yg mampu memberikan kebaikan2, jalan bagi rahmat tuhan tercurah di masanya……. sehingga menjadi catatan sejarah yang begitu fenomenal, terukir dalam goresan cerita barsambung yg tidak lekang termakan zaman……….
        Selanjutnya kita harus bertanya kpd diri kita sendiri, sejarah yg kita baca adalah cerita daripada perjalanan beliau2 menuju kpd tuhan mereka, Allah Swt……!
        BAGAIMANA DG DIRI KITA SENDIRI…………..!
        Keadaan ummat islam hari ini pun bermula dari pribadi2 umat itu sendiri…….. jauh dari kesantunan, kearifan, keteladanan dst, bersebab umat islam itu sendiri jauh dari esensi dasar agama-Nya….
        Trims saudariku…….

  2. Hemmmmm….dalam segala hal kak…..!
    “Kalau kita ingin mengetahui agama seseorang, maka lihatlah kehidupannya” (Hadits)
    Terus Kakak mau mau discuss yg mana dulu……..?

      • Nah itu dia kak……
        Pemahaman agama yg komprehensif (kaffah), akan membawa kita kepada keyakinan agama itu sediri…….
        Kenyakinan yg berdasar pd hukum agama akan membawa kita pada kehidupan yg telah di janjikan tuhan…..
        Yaitu ” fiddunya hasanah wafilakhkirati hasanah” ……….

  3. Hemmmmm….dalam segala hal kak…..!
    “Kalau kita ingin mengetahui agama seseorang, maka lihatlah kehidupannya” (Hadits)
    Terus Kakak mau mau discuss yg mana dulu……..????.

    • Agama adl kepastian, dunia akhirat adl kepasrian, hidup mati adl kepastian, surga neraka adl kepastian, susah senang adl kepastian, suka suka adl kepastian, cinta kasih, sayang, setia, iri, dengki, hasud, sombong, takabur dst adl kepastian……., itulah rasa yg yg tertuang dalam bentuk prilaku, prilaku akan membuat sejarah, sejak dari dahulu, sekarang sampai nanti akhir zaman……
      Namun janganlah bermain pada level rasa saja.,..,
      Masuklah kedalam sumber rasa itu sendiri…….niscaya manusia itu akan lebih mengenal siapa dirinya……
      Wassalam ukhti……….

  4. Ia kak, saya juga senang mbaca sejarah, lebih2 sejarah islam…… kerena sejarah nabi dan rasul adalah suatu keadaan yg hakiki, faktual, terstruktur,futuristik dst….
    Sy tertarik dgn satu penggal pendapat dari pada komen kakak bahwa….”Nabi Muhammad itu dlm setiap prilakunya terhubung dan terbimbing kepada tuhannya”
    Dan sy setuju sekali dengan komen itu……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s