Semarang – Banda Aceh Bag. 1: Nilai Silaturahim

Tegal, 8 Juli 2015, 19:32

Ini ditulis setelah kami meninggalkan rumah adik ibu di Tegal. Hari ini kami berangkat menuju Banda Aceh untuk mudik, silaturahim, bertemu keluarga besar yang sudah lama terpisah jarak dan waktu. Meski demikian, tujuan kami bukan sekadar sampai. Jika bisa dan sempat, insya Allah, kami akan pula mengunjungi kerabat dan kenalan yang tinggal di provinsi-provinsi di Jawa dan Sumatera yang kami lewati.

Pada saat-saat yang seperti inilah silaturahim mendapatkan makna yang lebih besar. Ikatan kasih sayang. Orang-orang saling memberi kasih dan sayang. Orang-orang saling memberi perhatian dan pertolongan. Dari bertemu kerabat dan kenalan, tahu kabar masing-masing. Tahu kami semua tidak saling melupakan. Juga tahu tidak ada perasaan-perasaan yang tidak enak. Itulah persaudaraan dan persahabatan yang diikat

dengan cinta dan kasih sayang.

Satu hal yang kusyukuri hidup dalam asuhan kedua orangtuaku adalah kami anak-anak diajarkan untuk suka silaturahim.  Kami dibawa ke mana-mana sejak kecil untuk bertemu orang-orang. Meski tetap saja sulit menjadi kenal betul dan akrab dengan mereka yang dikunjungi, ada nilai yang ditanamkan. Bagiku, itulah yang berharga.

Kami mulai dahulu ketika belum punya kendaraan sama sekali, ke mana-mana dengan bus. Lalu dilanjutkan ke mana-mana dengan mobil sewaan, dari yang biasa sampai yang lebih bagus. Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian bisa dengan kendaraan sendiri. Aku ingat ibu suka berdoa semoga diberi Allah kendaraan agar kami sekeluarga bisa lebih mudah silaturahim.

Sekarang kami mewujudkan itu.

Semarang, lalu Kendal, Batang, Pemalang, Pekalongan, dan Tegal. Pemandangan kota-kota, panorama alam, sungai-sungai, sawah, kebun, tambak yang luas, pegunungan… Melihat hasil pembangunan, pertokoan yang ramai, jalanan yang tidak pernah sepi, jalan-jalan raya yang panjang dan tidak rusak seperti dulu.

Karena bepergian, jadi melihat, memikirkan, dan mensyukuri. Bersyukur jadi orang Indonesia. Hidup di negara yang aman dan damai meski dengan segala masalahnya. Bisa bepergian untuk silaturahim dengan aman. Itu berkah dan rahmat Allah.

Aku menunggu-nunggu apa yang dapat kuceritakan sampai dua minggu ke depan. Insya Allah ada banyak hikmah dari perjalanan dalam rangka menjalankan perintah Allah. Menghubungkan lagi ikatan persaudaraan.

Semoga semua orang yang mudik senantiasa diberi Allah keamanan dan keselamatan di perjalanan pergi dan pulang. Semoga Ramadhan tahun ini indah, Idul Fitrinya pun indah.

Alhamdulillah wa syukurillah…😀

2 thoughts on “Semarang – Banda Aceh Bag. 1: Nilai Silaturahim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s