Semarang – Banda Aceh Bag. 3: Kesabaran

Lahat, Sumatera Selatan, 12 Juli 2015, 02:44

Baru sekarang sempat dan dapat menulis, setelah seharian kemarin berjalan menembus daerah yang hampir-hampir tidak ada jaringan internetnya. Ribuan kilometer seperti sudah lewat dan di depan masih ada ribuan kilometer lagi. Btw, sebenarnya berapa sih jarak Semarang – Banda Aceh? Aku tidak tahu😀

Satu hal yang jelas di sini, melakukan perjalanan jauh membutuhkan kemampuan untuk sabar. Masalah kecil  <- semoga insya Allah selalu begini saja, senantiasa ada, dan mungkin juga masalah besar dapat terjadi di jalan. Sejauh ini kami paling direpotkan dengan masalah isi mobil yang berantakan. Di awal sudah ditata letak barang-barang berdasarkan tingkat keterbutuhannya, tetapi lama-lama kacau juga jadinya, ambil-ambil dan mengembalikannya asal.

Masalah lain adalah sakit. Wah, kemarin itu adik Balya masuk angin dan muntah sampai dua kali. Awalnya dia ikut puasa, tetapi anak-anak sulit puasa dalam kondisi safar. Dia tidak cocok dengan udara dingin AC mobil. Selain itu, kemarin dia nekad angin-anginan karena senang pakai baju tanpa lengan dan tidak mau dipakaikan jaket.

Awalnya kami masih senang-senang saja, saling bercanda, tapi dia lalu bilang dengan air muka serius, “Kak, perutku sakit.” Langsung darurat medis. Minyak kayu putih, ganti baju, selimut, kerokin dia, kecilkan AC, dan beli makan untuk dia. Setelah itu sepertinya dia kembali sehat. Kami lalu bercanda lagi. Mainan ABCD Lima Jari, Batu Gunting Kertas, dan bertukar cerita hantu. Tapi lalu dia berubah serius dan sakit perut lagi. Kali ini muntah akhirnya. Sampai malam dia banyak cuma tiduran saja.

Masalah lain terkait buka puasa. Pertama tidak mudah cari makan di jalan karena kami tidak bisa sebentar-sebentar berhenti. Kedua, semakin ke barat, waktu berbuka pun semakin terlambat. Ketika di Bakauheni, Lampung, maghrib pukul 18.09. Di Muara Enim, Sumatera Selatan, sekitar pukul 18.15. Cuma selisih beberapa menit sih, tapi rasanya tidak mudah saja karena terbiasa puasa mapan di rumah. Balya sempat sampai mengusulkan karena kami kesulitan menentukan kapan berbuka, “Bagaimana kalau bukanya dipaskan jam enam terus saja?” Haha… mana boleh!😀

***
Di hari ketiga kemarin kami berhasil melewati Provinsi Lampung dan sebagian Sumatera Selatan. Aku ingin menceritakan apa saja yang aku lihat di sepanjang perjalanan. Intinya, Sumatera benar-benar berbeda dengan Jawa.

Pulau Jawa itu ibarat kota raksasa. Keluar masuk suatu kota ke kota yang lain, yang ada adalah keramaian dan kepadatan yang sama. Di Sumatera yang kulihat, jarak antar kota kabupaten puluhan sampai ratusan kilometer dan itu dipisahkan oleh lahan-lahan, kebun, dan hutan yang luasnya tidak ada di Jawa. Sejauh mata memandang sampai ke horison yang ada adalah semua itu.

image

image

image

Di balik sana ada punggung Bukit Barisan. Kami melewati jalur tengah. Bapak bercerita bahwa di daerah itu, Kab. Lampung Tengah, Lampung Utara, sampai Way Kanan (kalau tidak salah) cukup kering. Orang-orang kesulitan air. Sedikit sungai di sana sehingga orang-orang tidak bisa bertani. Banyak yang bergantung pada hasil perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, karet, vanili, ketela pohon, dan ubi.

Ada satu daeah yang sepertinya terpencil sekali. Perdagangan di sana tidak berkembang. Penduduk tinggal di rumah-ruang dibangun dari bilah-bilah papan, jendelanya hanya celah tanpa kaca. Sangat sederhana dan bapak bilang daerah itu adalah wilayah tujuan transmigrasi dari Jawa.

image

Itu hanya satu pemandangan.

Lalu kami memasuki Sumatera Selatan, daerah yang hari itu jauh lebih basah. Jalan yang kamu lewati bersisian dengan sebuah sungai besar, Sungai Lematang. Mulai di situlah aku bisa lihat ada sawah dan hutan-hutan kayu. Seperti ini:

image

image

image

Kehidupan di sana banyak memanfaatkan sungai yang besar itu. Orang-orang mandi, cuci dan kakus di sana. Mencari ikan. Juga mungkin cari batu. Demam batu akik sampai di sana juga. Di pinggir jalan, jauh lebih ramai ketimbang yang kulihat di Lampung, penduduk menjual berbongkah-bongkah batu warna hijau dan merah.

Sepanjang jalan di Kab. Ogan Komering Ulu dan Ilir, jalan lintas Sumatera yang tidak begitu besar diapit rumah-rumah penduduk berbentuk rumah panggung tradisional dari kayu. Ada yang rumahnya masih seluruhnya kayu, ada yang telah dibangun dengan batu bata berplester dan berkeramik, seperti menunjukkan tingat ekonomi pemiliknya. Tidak ada jaringan di sana dan setiap rumah punya parabola.

image

image

image

Di kolong rumah, penduduk menyimpan banyak hal. Kayu bakar yang bertumpuk-tumpuk, bahan-bahan bangunan seperti batu bata dan balok-balok kayu, dan sebagainya. Ada juga yang diubah menjadi bangunan rumah tambahan, sebagai garasi, toko, atau ruang-ruang untuk keluarga. Rumah tradisional itu sangat menarik. Mungkin dibangun seperti itu awalnya untuk mengantisipasi banjir. Memang daerah itu dekat sekali dengan sungai. Di musim kemarau ini memang dangkal, tetapi nanti di musim hujan akan lebih deras dan dalam jadinya. Banjir mungkin sekali terjadi.

Menuju Muara Enim untuk mencapai target hari itu yaitu kota Lahat, kami melalui daerah yang lebat sekali pepohonannya. Jalan berkelok-kelok menanjak, licin karena berlumpur, dan beberapa luas berlubang besar. Kamu pun harus bersaing dengan truk-truk dan bis-bis besar antarprovinsi. Ngeri sekali berjalan di sana.

Mengapa banyak sekali truk? Rupanya di sana adalah daerah tambang batubara. Ada rel kereta api yang melintas di atasnya kereta bermuatan batubara yang hitam legam. Seperti ini keretanya:

image

Di perjalanan itu, aku dan Balya berimajinasi seakan-akan kami sedang main game petualangan. Setiap bapak berhasil menyalip truk besar yang berderet-deret, kami beri bapak poin kemenangan. Seru sekali.

Maghrib kami sampai di Muara Enim, tapi berbelok ke Lahat tanpa turun untuk makan. Kami berbuka dengan apa yang ada di mobil. Kami tancap gaa dan sampai di Lahat pada waktu Isya’. Kami makan di rumah makan padang sambil nonton serial kesukaan kami, Ashoka😀 Haha…

Besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan. Mungkin target kami hari ini adalah Sumatera Barat. Insya Allah akan aku tunjukkan di tulisan nanti Gunung Telunjuk dan Danau Singkarak.

Alhamdulillah wa syukurillah…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s