Semarang – Banda Aceh Bag. 4: Kota, Peta, dan Teknologi

Sitiung, Dharmasraya, Sumatera Barat, 13 Juli 2015, 06:53

image

Baru pagi ini sempat bercerita kembali. Perjalanan hari kemarin panjang sekali. Kami berangkat dari Lahat, Sumatera Selatan, sekitar pukul 8 pagi setelah Balya menyelesaikan hajatnya nonton Doraemon di televisi penginapan kami. Kami melewati Tebing Tinggi (masih Sumatera Selatan), Muarabeliti, Lubuklinggau, Sarolangun, Bangko, dan Muarobungo di Provinsi Jambi, lalu akhirnya sampai juga di Sumatera Barat. Insya Allah kami semakin dekat dengan tujuan kami.

Sepanjang perjalanan di Jalan Lintas Sumatera itu aku melihat pemandangan yang berbeda dari yang kulihat sebelumnya di Lampung dan Sumatera Selatan. Dari Lahat sampai Lubuklinggau jalan masih berkelok-kelok. Namun setelah itu sampai keluar Jambi, di kanan kiri jalan yang ada adalah berhektar-hektar kebun kelapa sawit dan karet berselang-seling. Monoton tapi menarik.

Andai bisa melihat lebih banyak, mungkin segala tentang perkebunam sawit ada di sana. Ada lahan kosong yang disiapkan untuk tanaman sawit periode tanam selanjutnya. Tidak jauh ada lahan yang ditanami sawit yang masih kecil-kecil. Tidak jauh lagi ada lahan yang sawitnya sudah tinggi-tinggi meski tidak kelihatan buahnya.

Sawit ada di mana-mana, tidak hanya di perkebunan besar, tetapi juga di kebun rumah-rumah rakyat. Ada pula rumah yang menjadikan sawit penghias di halaman. Aku melihat truk-truk besar mengangkut sawit dari dalam kebun-kebun yang kering. Kami berjalan bersama truk-truk itu di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, tetapi lalu truk-truk itu berbelok masuk ke sebuah pabrik pengolahan sawit. Di sana sudah ada banyak sekali truk-truk yang parkir dengan muatan yang sama, penuh sawit.

Sawit adalah komoditi utama tempat ini. Dari pelajaran di sekolah aku tahu betapa komoditi ini tak lepas dari masalah. Ada masalah di pengolahannya, ada masalah kesehatan, dan lingkungan hidup. Sawit adalah bahan untuk banyak sekali produk makanan, kosmetik, dan sabun. Tetapi untuk itu dan karena itu, banyak hal lain dari hidup yang dikorbankan. Di lahan yang luasnya seperti itu aku membayangkan seperti apa hutan-hutan hujan dulu. Seperti apa satwanya dulu. Sekarang yang seperti itu tidak ada. Yang ada sekarang “hutan-hutan” sawit. Suara satwanya digantikan derum truk-truk besar.

Beberapa sungai mengalir membelah lahan, tetapi tidak ada cara hidup masyarakat yang kulihat di Lampung dan Sumatera Selatan. Lebih sedikit aktivitas di sungai. Sungai dengan air berwarna coklat mengalir saja.

Rumah-rumah penduduk mengikuti jalan raya. Jaraknya jauh-jauh dan antara kampung satu dan kampung yang lain pun jauh, dipisahkan kebun-kebun. Kegiatan ekonomi tak begitu semarak. Tak ada toko. Tak ada rumah makan. Mungkin ada, tetapi terlalu didominasi rumah-rumah jadi tak kelihatan. Tak ada rumah-rumah panggung yang cantik-cantik itu. Rumah-rumah banyak dari bilah-bilah papan dan beratapkan seng, bukan genting tanah liat. Meski di beberapa tempat terlihat gubug-gubug pabrik batu bata, lebih banyak rumah papan.

image

image

image

image

Meski di daerah itu kering, sungai-sungai mengalir dan banyak genangan air yang membentuk semacam kolam. Ada kolam yang kulihat ditumbuhi teratai yang lebat. Indah sekali. Sayang tak terpotret. Ada pula pemandangan yang membentuk vista. Pohon-pohon di kanan dan kiri, mengapit persawahan. Daun pohon-pohon itu kuning meranggas. Indah sekali.

***
Terkait judul kali ini benar-benar ada kejadian terkait.

Satu hal yang kupelajari selama perjalanan ini adalah ada macam “kota” yang lain. Tidak bisa pakai kota definisi Jawa di sini yang besar, banyak jalan dan gangnya, banyak kendaraan dan perumahan, dan pertokoan yang menjual bermacam-macam barang untuk kebutuhan, keinginan, dan kesenangan. Kota-kota yang kujumpai di jalan begitu sederhana, hanya beberapa kilometer sepanjang jalan utama dan setelah itu menghilang digantikan kebun-kebun. Pusat-pusat pemerintahan beberapa kecamatan justru terpencil.

Aku berpikir mungkinkah kotanya yang sebenarnya ada di tempat lain?

Masalah tidak terjadi sampai waktu berbuka tiba. Saat itu kami sudah butuh makan dan penginapan. Kami sudah memasuki  Sumatera Barat, sementara sebelumnya kami berdiskusi apakah akan istirahat di Muarobungo atau di Dharmasraya. Kami masih bisa berjalan sejam dua jam lagi dan akhirnya kami putuskan maju lagi sampai Dharmasraya dan menginap di Pulaupunjung.

Masalah adalah kami sudah mengecek peta sampai pakai GoogleMap pula. Pulaupunjung yang katanya ibukota Dharmasraya tidak juga kami temukan di jalan. Masih kebun-kebun saja dan rumah-rumah serta rumah makan padang yang jaraknya terpisah jauh. Kami kebingungan. Di peta ada, tapi yang kami temui tidak ada.

Kami jalan terus saja sambil mencari-cari. Di tangan kami sudah ada hotel yang ingin kami jadikan tempat istirahat. Hotel itu ketemu dam kami lupakan misteri kami.

Di pagi hari, pagi ini, bapak datang dengan membawa cerita. Kalau tidak salah ingat, rupanya begini. Dahulu Kab. Dharmasraya tidak ada. Daerah Sitiung ini dulu termasuk Kab. Sawahlunto. Ketika dimekarkan pusat pun berubah dan informasi yang diberikan GoogleMap sepertinya terlambat dimutakhirkan. Pantas menyesatkan.

Menurutku pengalaman ini unik. Delapan tahun lalu kami juga pulang ke Banda Aceh dengan cara yang sama. Tak pakai teknologi, hanya selembar kertas. Kebingungan di jalan kami pecahkan dengan logika atau bertanya pada penduduk lokal. Informasinya akurat. Kali ini kami sudah membawa ponsel pintar. Jika bingung jalan, selain peta kami juga bertanya pada mbah Google. Masalah datang jika info dari si mbah ternyata tidak sinkron.

Jadi kesimpulannya, kalau pergi mudik ke daerah yang jauh, terpencil, dan tak banyak dikenal, ada baiknya tidak terlalu mengandalkan teknologi. Pandai-pandailah berbicara dan bertanya pada penduduk lokal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s