Semarang – Banda Aceh Bag. 5: Sepotong Zamrud Khatulistiwa

Tapaktuan, Kab. Aceh Selatan, 15 Juli 2015, 06:38

Di sini subuh sekitar pukul lima. Setelah sahur dan tidur sebentar, aku sempatkan untuk kembali menulis. Ada satu hari perjalanan yang terlewat belum kuceritakan. Sebenarnya sebabnya adalah tulisan itu sudah kubuat, tetapi hilang dalam proses uploading. Koneksi internet sangat sulit di sini.

Kemarin lusa pada 13 Juli 2015, kami telah sampai di Kab. Dharmasraya, Sumatera Berat. Setelah perjalanan panjang menembus Provinsi Jambi lewat jalur lintas tengah Sumatera, kami menginap di sebuah daerah bernama Sitiung. Bagiku, itu adalah kota kecil yang membatasi daerah datar di kanan Bukit Barisan yang dijadikan area perkebunan dan daerah bergunung-gunung di Bukit Barisan itu sendiri.

Perjalanan kami mulai di titik ini unik. Kami pindah jalur dari jalur tengah ke jalur barat karena kami hendak mencapai Banda Aceh lewat pesisir barat Sumatera. Kami menghindari titik-titik macet di kota-kora besar di Sumatera Utara. Ibarat kereta api pindah rel, untuk sampai ke pesisir kami harus “melangkahi” Bukit Barisan. Dan Bukit Barisan yang kami lampaui tidaklah pendek, melainkan sepanjang yang ada di Prov. Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Bukit Barisan adalah rangkaian pegunungan panjang yang terentang sepanjang Sumatera bagian barat, dari Prov. NAD sampai Lampung. Wilayah ini mungkin tak ada duanya di Indonesia. Ada banyak bagiannya yang telah diubah menjadi perkebunan sawit dan karet, ada yang kayunya telah diambil sehingga punggung dan lerengnya gundul, ada yang hutannya masih lebat dan terjaga. Yang ada di Sumatera Barat lebih pada yang ketiga.

Perkebunan sawit yang semula mendominasi pemandangan di Sumatera Selatan kini berganti hamparan sawah yang luas di dataran yang rendah di lembah bukit-bukit, berundak-undak di lerengnya. Daerah yang kering dan pemandangan sawit yang monoton kini berganti daerah yang subur dan senantiasa basah, ditanami tanaman yang bervariasi, contohnya kelapa, pinang, dan cokelat. Bukan perusahaan yang mengerjakan lahan, melainkan penduduk.

Ketimbang rumah-rumah papan milik pekerja perkebunan, yang ada di sepanjang jalan sekarang adalah rumah-rumah penduduk asli bercampur pendatang. Rumah-rumah itu tidak bertipe rumah panggung yang banyak kulihat di Lampung dan Sumatera Selatan, melainkan rumah kayu berbentuk kotak sederhana dengan atap dari seng berbentuk limas segi empat yang rendah. Kupikir, tak adanya rumah panggung di daerah yang juga banyak dialiri sungai besar itu adalah karena tidak ada ancaman banjir di situ.

image

Satu hal yang harus kuceritakan adalah, di perjalanan dari Sitiung sampai Sawahlunto dan Solok, pemandangannya indah sekali. Jalan berkelok-kelok yang kami lewati dibuat di celah-celah bukit-bukit batu yang ditumbuhi tanaman-tanaman semak, paku-pakuan, dan pohon-pohon besar. Bukit-bukit itu tinggi dan terjal seperti dinding-dinding. Jika melihat ke belakang, yang satu menjadi latar belakang bagi yang lain sehingga tampaknya bukit-bukit itu berlapis-lapis.

Matahari pagi belum tampak ketika kami melewari daerah itu. Kabut masih menyelimuti dan rasanya semua menjadi tampak mistis. Seperti berada dalam sebuah lukisan Cina. Indah sekali. Subhanallah.

image

image

image

image

Masuk Kota Sawahlunto dan Solok, barulah tampak rumah-rumah gadang khas tanah Minang ini. Meski demikian, sulit menemukan rumah gadang yang masih utuh. Banyak bangunan modern yang sepertinya merupakan rumah gadang, tetapi sebenarnya hanya mempertahankan struktur rumah gadang di bagian atapnya saja. Rumah penduduk kebanyakan adalah rumah limas. Kata bapak, rumah gadang mungkin banyaknya di kampung-kampung.

image

image

Dari Solok, kami melanjutkan ke Padang Panjang dan Bukittinggi untuk sampai ke Lubuksikaping dan akhirnya sebagai target hari itu, Kota Padang Sidempuan di Kab. Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Lepas Solok, ada pemandangan yang tidak kalah indahnya: Danau Singkarak.

image

image

Setelah itu kami jalan naik, mendaki Bukit Barisan, dan sampai di Padang Panjang lalu Bukittinggi yang merupakan kota di atas gunung. Saat itu hujan turun sehingga pemandangan terhalang. Meski begitu, dapat terbayangkan kota ini seperti Puncak-nya Bogor atau Bandungan-nya Semarang. Bergunung-gunung dan di lereng-lerengnya yang miring tampak lahan pertanian dan sayuran.

Kami keluar Bukittinggi dan masuk kembali ke dalam Bukit Barisan. Lewat jalan yang sempit di sisi dinding-dinding batu yang tinggi di kanan dan hutan hujan di kiri, kami dibawa sampai ke punggung Bukit Barisan, naik dan turun, melintasi kampung-kampung kecil dan sungai-sungai khas daerah hulu yang berbatu, dan sawah-sawah. Di tengah hutan ini terdapat Stasiun Pemantau Atmosfer Global dan tepatnya di Kota Bonjol, Kab. Pasaman, ada garis titik nol khatulistiwa yang sama seperti di Pontianak, Kalimantan Barat.

image

image

image

image

image

Kami kemudian keluar Sumatera Utara dan masuk Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara. Hari telah sore dan menjelang malam. Baterai ponsel habis sudah sehingga tak bisa mengambil gambar dan ketika malam turun sempurna, tak banyak yang bisa dilihat kecuali kegelapan hutan.

Itu pemandangan yang mencekam, menegangkan. Terlebih jalan yang kami lewati itu sangat sepi. Tak ada cerita orang ramai-ramai melewati jalan itu untuk mudik. Nama jalan kami adalah Jalan Padang-Medan. Ia adalah satu-satunya jalan di jalur barat untuk sampai ke Medan dan adalah jalan tertua yang dibuat untuk menghubungkan kota-kota. Jalan ini dibuat pertama kali oleh pemerintah kolonial Belanda. Luar biasa.

Di Kab. Mandailing Natal, ada sebuah tempat yang di sana terdapat pesantren sufi. Setiap murid sufi tinggal di gubug-gubug kecil yang dibangum di tepi jalan sepanjanh beberapa ratus meter. Aku sempat melihatnya sedikit dan sekilas. Di kabupaten ini, musholla dan masjid ada di mana-mana. Daerah Islam, sama seperti Sumatera Barat. Barulah di Kab. Tapanuli Selatan tampak ada gereja. Penduduk mulai heterogen dalam hal agama.

Meski beragama Islam, ada yang kuherankan sejak dari Sumatera Selatan, banyak penduduk memelihara anjing. Bapak lalu bercerita bahwa anjing-anjing itu untuk menjaga rumah dan kebun. Dari hutan sering keluar babi hutan yang merusak. Tapi aku tak pernah melihat babi hutan. Satu-satunya hewan liar yang kulihat adalah kera kecil yang menyeberang jalan di Jalan Padang-Medan. Omong-omong di sini orang melatih kera untuk memetik kelapa.

Akhir dari catatan kali ini adalah aku ingin menunjukkan betapa sederhananya kehidupan di tempat-tempat yang kulewati ini. Tak ada sinyal telepon dan internet biasa. Bahkan di tengah hutan, gelombang radio pun tak sampai. Orang hidup secara sederhana. Kebutuhan seperti hanya sebatas pada sandang, pangan, papan, dan kendaraan. Jarang terlihat sekolah di tengah daerah yang terpencil meski ada banyak anak-anak kecil.

Beberapa kali kami anak-anal ditanyai ibu sambil bercanda, “Kalau kalian dilepas di sini bisa hidup tidak ya?” Mungkin tidak. Jauh sekali dari kota. Ke mana-mana orang pergi banyak dengan jalan kaki. Tetangga saling berjauhan. Penerangan minim. Dan dikepung pohon-pohon besar. Mungkin juga ada gangguan dari hewan-hewan liar di malam hari.

Kesimpulanku, orang-orang di sini tangguh dan hebat. Anak-anaknya berani main di sungai, kebun dan hutan. Ternak dengan aman dilepas merumput di tepi jalan. Orang dewasa masuk hutan untuk cari kayu dan hasil bumi lainnya. Di tempat yang sederhana dan tenang seperti ini, aku bertanya-tanya, seperti apa pembangunan yang tepat untuk mereka?

Di sini pembangunan bukan ditunjukkan dengan adanya pusat-pusat perbelanjaan, perdagangan, dan hiburan. Bukan pula dengan tata wilayah yang indah dengan taman-taman. Bukan dengan keberadaan orang-orang kaya berumah gedung dan bermobil.

Aku tak bisa mendefinisikan apa itu kemajuan di sini. Karena itu, tak bisa pula kudefinisikan ketertinggalan. Mungkin tak ada kemajuan dan ketertinggalan itu. Yang ada, cara hidup yang berbeda.

Semoga kehidupan mereka selalu baik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s