Semarang – Banda Aceh Bag. 7: Di Atjeh, Banjir, dan Jalan Putus

Banda Aceh, 18 Juli 2015, 13:38

Ini seharusnya kutulis pada 16 Juli yang lalu, atau bahkan pada 15 Juli yang lalu. Tiga hari yang lalu, kami telah berjalan dari Tapaktuan menuju Meulaboh dan hari berikutnya akhirnya kami sampai di Banda Aceh.

Ada cerita yang mungkin akan panjang sekali. Apa yang kami alami ketika sudah sampai di Aceh benar-benar di luar perkiraan. Seharusnya tidak sampai memakan dua hari dari Tapaktuan sampai Banda Aceh, tetapi lepas Kota Meulaboh, kami terhalang banjir di daerah Teunom dan jalan putus di daerah Krueng Sabee, Kab. Aceh Jaya. Wah, begitulah jadinya perasaan kami. Padahal tinggal sedikit lagi sampai😀

Jalan dari Tapaktuan kami lakukan dengan menyisiri beberapa kilometer pesisir barat. Pantai begitu dekat, hanya di sebelah jalan. Deburan ombaknya mungkin terdengar jika kami membuka jendela mobil. Di pinggir jalan banyak orang menjual ikan dan ikan asin. Rumah-rumah nelayan sederhana berjajar. Rawa-rawa ditumbuhi tanaman nipah dan sagu. Pohon kelapa di mana-mana.

image

image

Setelah jalan datar, kami naik kembali Bukit Barisan. Sempat ketika mendaki di kiri kami adalah jurang dengan pantai terlihat dari sana. Melewati daerah itu, kami semakin dalam ke daratan dan menjauhi pantai. Terdapat daerah datar di kaki pegunungan. Sawah hijau terhampar di sana.

Di pinggir jalan kami melihat banyak orang berjualan daging, kerbau atau sapi. Itu untuk tradisi meugang, menyiapkan hidangan daging untuk hari raya. Saat itu memang kurang dua hari lagi Idul Fitri. Ramai sekali orang membeli daging. Selain itu, pasar-pasar pun ramai. Penjual mercon dan kembang api juga ada.

Kami berjalan kembali dan naik lagi ke pegunungan yang penuh ditanami sawit. Posisi kami begitu tinggi di punggung bukit. Kami dapat melihat jauh, betapa yang ada hanya gunung-gunung saja. Itu di Kab. Aceh Barat Daya. Pemandangan yang sama sampai ke Nagan Raya. Barulah mendekati Meulaboh, ibukota Aceh Barat, pemandangan baru terlihat kota.

image

image

Ada dua hal menarik yang kulihat di sana. Ada model rumah tradisional yang unik sekali. Rumah kayu dua tingkat yang tingkat duanya rendah sekali tampaknya karena atapnya seperti poni yang kepanjangan. Di bagian berandanya ada hiasan kayu yang cantik sekali menurutku karena menjadi seperti tirai.

image

image

Selain itu, banyak sekali hewan ternak di Aceh. Sapi dan kerbau dilepas dipinggir jalan untuk merumput sesuka hati. Jadi di pinggir-pinggir jalan banyak sekali rambu lalu lintas hati-hati ternak. Ternak-ternak dewasa beserta anak-anaknya bergerombol, berjalan bersama-sama, merumput, dan menyeberang jalan. Itulah masalahnya. Bisa menyebabkan kecelakaan.

image

Sampai di Meulaboh siang hari. Kami istirahat salat di masjid Nurul Huda, masjid pertama di Meulaboh dan sudah seabad umurnya. Di masjid itu tercatat peristiwa tsunami, bagaimana masjid itu sempat hampir tenggalam, bertahan dan menjadi tempat masyarakat mengungsi.

Kami menyempatkan diri mengunjungi kerabat kami di sana. Rumah mereka sempat terdampak tsunami, namun tetap selamat. Kami ziarah ke makam kakek dan nenek buyut dan bernostalgia kalau dahulu di dekat makam itu berdiri rumah keluarga. Sekarang rumah itu sudah tidak ada dan lahannya kosong.

Di Aceh, tidak terlihat rumah adat Aceh yang berciri rumah panggung itu. Di Meulaboh atau daerah manapun yang terkena tsunami, rumah-rumah penduduk adalah rumah bantuan untuk pengungsi tsunami yang sederhana. Di daerah yang akhirnya menjadi rawa atau dataran banjir, rumah-rumah itu akhirnya terendam dan sebagian ditinggalkan penghuninya. Pemandangan pinggir jalan yang gelap dengan rumah-rumah rusak agak mengerikan.

Di sepanjang jalan banyak hanyalah daerah kosong berawa. Di kejauhan, di kanan ujung terakhir Bukit Barisan yang dipayungi mendung, di kiri lautan yang pantainya ditanami kelapa atau cemara pantai. Sungai-sungai banyak bermuara di sana. Jika hujan deras di gunung, kemungkinan air akan meluap dan bisa memutus jalan.

Itulah yang kami alami.

Kaki lepas Meulaboh sekitar pukul 4 sore. Setelah satu jam berjalan, kami tertahan mobil-mobil, bus dan truk yang berhenti di dekat sebuah jembatan di daerah Teunom. Rupanya jalan tidak bisa dilewati karena banjir sejak pagi. Diperkirakan air baru mulai akan surut setelah Isya’.

Kami memutuskan kembali ke Meulaboh untuk istirahat buka puasa sementara menunggu banjir reda. Kami salat tarawih di masjid Baitul Makmur, masjid raya yang indah di Maulaboh. Kami ke pusat kota untuk membeli bekal untuk sahur. Setelah pukul 10 kami kembali ke Teunom untuk melihat keadaan.

Jalan di Teunom bisa dilewati ketika tengah malam kami sampai di sana. Kami diarahkan penduduk untuk melewati jalan alternati memasuki perkampungan. Jalan di sana tak kurang mendebarkannya. Jalan yang kami lewati sejajar dengan tinggi sungai Teunom yang jauhnya hanya beberapa meter saja. Jalan itu berkelok dan sempit.

Di suatu titik rupanya jalan masih tergenang setinggi betis orang dewasa sepanjang sekitar 100 meter. Tepian jalan itu tak terlihat. Bapak yang menyetir hanya bisa mengira-ira saja dengan logikanya. Dikatakan pula ada lobang di tengah jalan yang posisi tepatnya tidak diketahui.

Berhasil melewati itu dengan perasaan yang luar biasa tegang. Kantuk sampai hilang dan semua menjadi super waspada. Kami berusaha meredakan ketegangan dengan bercanda, tapu tetap saja rasanya takut.

Setengah jam kembali berjalan di jalan yang bagus, kami terhenti lagi di daerah Kreung Sabee karena jalan putus terhempas banjir. Benar-benar tak bisa lewat. Pukul dua pagi kaki memutuskan istirahat di masjid Baitul Makmur. Di sana ada banyak pemudik yang beristirahat juga menunggu pagi dan rahmat pertolongan Allah.

Di masjid itu aku melihat pemandangan yang luar biasa. Sepanjang malam ada masyarakat yang bekerja membantu pemudik. Didirikan dapur umum agar pemudik bisa sahur. Di dalam masjid seluruh karpet digelar dan ada banyak pemudik tidur. Aku dan bapak bergabung dengan mereka sementara ibu dan adik-adik tidur di mobil.

Setelah subuh kami melanjutkan ikhtiar sampai ke Banda Aceh. Hari itu fajar menyambut kami. Indah sekali masjid tempat kami memasuki hari terakhir Ramadhan seperti bersinar.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s