Semarang – Banda Aceh Bag. 10: Maraton sampai Pekanbaru

Pekanbaru, Riau, 22 Juli 2015, 06:56

Ternyata tidak mudah menjaga keteraturan mengeluarkan tulisan selama perjalanan ini. Kendala utama adalah koneksi internet. Jaringan Indosat tidak bagus di Sumatera. Jadi sering aku cuma bisa menulis di tempat yang ada wi-fi-nya. Kedua adalah baterai ponsel yang mudah habis tapi tidak mudah diisi ulang. Bagaimana menemukan colokan listrik di jalan?

Idealnya setiap hari bisa menulis ketika ingatan masih segar. But it is okay… 🙂

Kami sudah berangkat dari Banda Aceh untuk pulang ke Semarang. Kami keluar dari rumah pukul 10.30, tetapi baru bisa keluar dari Banda Aceh pukul 11.30. Kami sempatkan berwisata sebentar mengunjungi masjid raya Baiturrahman dan berfoto di sana. Selain itu, kami mengunjungi toko souvenir lagi di Peunayong. Dengan uang pemberian keluarga aku bisa membeli sebuah tas tangan dengan sulaman khas Aceh. Ini tas tangan pertamaku yang kubeli sendiri.

image

Perjalanan keluar Banda Aceh rasanya agak sendu. Sesenti demi senti kami menjauhi rumah nenek. Satu kilometer, sepuluh kilometer, seratus kilometer, seribu kilometer. Ingin rasanya rumah nenek itu hanya di rumah sebelah atau di desa sebelah atau di kota sebelah, bukan di pulau sebelah. Haha… Kenangan-kenangan masih bermain sepanjang jam-jam pertama perjalanan.

Karena sedang tak enak badan, aku banyak tidur di perjalanan kali ini. Karena itu, tentu saja banyak hal yang terlewat. Bangun-bangun tahu-tahu sudah dekat dan sampai Gunung Seulawah. Kami melaju di jalanan yang naik turun dan berkelok-kelok. Tidak seperti perjalanan pergi dahulu yang sepi, kali ini jalanan sangat ramai. Kami pulang bersama pemudik lain yang pulang, keluar dari Banda Aceh. Karena jalan ramai, kami tak bisa jalan kencang. Di Gunung Seulawah masih ada hutan pinus dan dari ketinggiannya, di arah barat bisa terlihat lautan.

image

image

Selain bersama pemudik lain, terlihat dari plat kendaraan mereka yang dari provinsi lain, kami juga bersama penduduk lokal yang mengisi hari keempat Syawal untuk berwisata. Banyak orang berjualan di tepi jalan, buah-buahan macam kelapa muda, ketimun, durian, dan pisang untuk para pelancong. Di tempat-tempat wisata macam wisata sungai Batee Ilie dekat Sigli, jalanan penuh sesak. Orang-orang pergi mandi di sungai. Beberapa terlihat bekas pasar malam. Bahkan di sebuah lapangan ada atraksi gajah. Itulah kehidupan masyarakat yang berhari raya.

image

image

Kami sepanjang siang sampai sore melewati kota Sigli, ibukota Kab. Pidie, dan Bireun, ibukota Kab. Biruen. Banyak kota-kota kecamatan kecil juga. Yang kucatat adalah pemandangan yang monoton. Bukit Barisan di kejauhan lalu sawah yang menghampar luas dengan rumah-rumah penduduk di dekatnya. Ternak tak sebanyak di jalan di jalur barat. Kali ini kami melalui jalan lintas timur Sumatera. Karena lintas timur jalannya lurus-lurus saja dan mudah, lebih banyak orang yang melewatinya. Karena itulah kota-kota jauh lebih berlembang ketimbang kota-kota di pesisir barat. Karena itu pulalah banyak teman di jalan dan lantas macetnya.

image

Kami masuk Lhokseumawe pada malam hari dan makan malam di sebuah pom bensin pinggir jalan. Di mana kami menginap malam ini? Di jalan.

Bapak membuat keputusan besar untuk jalan terus sampai kota Medan dan Tebing Tinggi di Sumatera Utara lewat. Alasannya, di Sumatera Utara banyak sekali titik macetnya. Jika kami ketika hari terang terjebak di sana, banyak waktu yang akan terbuang. Karena itu, malam hari kami putuskan jalan terus menembus kegelapan yang mencekam dan hujan deras. Teman perjalanan kami truk-truk dan bus-bus besar, juga pemudik yang tidak banyak jalan malam. Jalan kadang-kadang sepi, kadang-kadang ramai. Aku tak bisa tidur meski mata berat dan mungkin bengkak jadinya. Menegangkan.

Tengah malam kami keluar Prov. NAD dan masuk Sumatera Utara. Kami melewati kota Stabat yang entah ibukota kabupaten apa. Saking cepatnya mobil kami, petunjuk-petunjuk di jalan sampai tak terbaca. Kamu lalu masuk daerah Binjai. Aku tak ingat kami melewati Medab karena rupanya aku tertidur. Kami salat subuh di masjid punggir jalan entah di mana. Aku tertidur lagi dan bangun lagi di sebuah masjid di tempat bernama Indrapura, mungkin di Kab. Asahan. Kami istirahat tidur sebentar di sana, juga bersih-bersih.

Pukul delapan pagi sepertinya kami berjalan lagi. Pemandangan yang terlihat adalah perkotaan demi perkotaan. Namun lantas kami masuk di daerah yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara. Di situ tak ada yang terlihat selain sawit dan karet. Hanya uniknya, tidak seperti perkebunan yang sepi di jalur barat di Lampung sampai Sumatera Selatan dan di sebagian Sumatera Utara di Tapanuli Tengah dan NAD di Aceh Singkil sampai Nagan Raya, di Asahan sini masyarakat memanfaatkan rindangnya pohon-pohon sawit di perkebunan untuk usaha berjualan makanan kecil, buah-buahan, dan minuman segar. Tikar-tikar digelar dan bahkan kursi-kursi malas dari plastik ditata rapi. Banyak pemudik menepi dan mampir.

Di kota-kota yang kami lewati, masyarakat memenuhi jalanan. Di satu tempat diadakan pesta rakyat yang menatangkan bupati mereka. Orang-orang datang dari berbagai tempat dengan angkot atau kendaraan bak terbuka, mobil atau sepeda motor. Toko-toko atau lapak kaki lima dipenuhi pembeli. Semua orang bersenang-senang di pasar. Semua tampak hidup. Meski begitu, akibatnya adalah lalu lintas yang semrawut. Banyak pengguna jalan yang tak disiplin, tak pakai helm dan main terobos lampu merah. Terbiasa di Jawa dengan segala aturan dan polisi yang sebentar-sebentar meniup peluit dan menilang, di sini seperti berada di dunia lain.

Aku mengamati kota-kota dengan ruko-ruko tuanya. Sebagian bangunan bergaya cina. Banyaj pula ruko modern yang tingkatnya sampai lima. Yang jelas lainnya, banyak puka ruko-ruko baru yang sedang dibangun. Kota-kota kecamatan berkembang pesat meskipun masih terjadi di sepanjang jalan besar saja.

Contohnya adalah kota Rantau Prapat di Kab. Labuhan Batu Utara. Kota ini sangat maju. Bisnis dan perdagangannya berkembang. Toko-toko dan kantor-kantornya macam-macam. Tidak seperti kota-kota di sepanjang jalan jalur tengah dan barat, di sini mirip kota-kota di Jawa. Rumah penduduk masih beratapkan seng, tapi dinding-dinding sebagian sudah bata, dicat warna-warni atau dilapis keramik.  Halaman rumah dihiasi taman-taman.

Satu hal lain yang menarik adalah kerukunan masyarakat di sini. Gereja dan masjid tidak berjauhan, bahkan berdekatan atau bersebelahan. Kehidupan masyarakat tentu seheterogen itu pula. Di sinilah aku menghafal macam-macam gereja. Ada Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Methodis Indonesia, Gereja Bethel Indonesia, dan Gereja Pentakosta. Mungkin ada yang lain lagi. Semua bersisian dengan masjid-masjid yang indah. Semoga kedamaian terjaga di sini.

image

image

Kami masuk Prov. Riau menjelang maghrib di Kab. Bagan Batu. Kotanya sedang dibangun. Perkebunan mulai habis di sini dan pemandangan berubah menjadi lebih spektakuler, hal terakhir yang kulihat sebelum malam menjelang: ladang-ladang minyak dan gas bumi.

Di Kab. Rokan Hilir, di sisi jalan lintas Sumatera pipa minyak yang besar dan panjang terpasang dan akan berakhir mungkin di pelabuhan di Dumai. Di beberapa tempat yang terpisah tampak sumur-sumur minyak. Pompa-pompanya dari besi diam tak bergerak dan dikurung pagar kawat tinggi. Di tempat lain ada instalasi yang lebih besar. Ladang minyak Bangko dan stasiun pengumpulan minyak yang dikelola oleh PT Chevron Pasific Indonesia.

Semua tampak luar biasa. Kawasan perkantorannya, bangunan macam pabrik-pabrik berwarna kelabunya, tiang-tiang berkabelnya, tabung-tabung tinggi besar mungkin tempat minyak mentah diolah, dan terutama cerobong yang mengobarkan api besar berwarna jingga itu. Langit pun ikut berwarna jingga.

image

image

image

Akhirnya malam turun. Sangat gelap. Kami masuk daerah bergunung-gunung yang entah apa namanya. Tak ada yang bisa dilihat di kanan kiri jalan karena sangat gelap. Mungkin kebun-kebun sawit atau ladang-ladang minyak lagi. Di kejauhan ada titik-titik lampu dan setiap kendaraan yang berpapasan dengan kami menyorotkan lampu yang sangat menyilaukan. Masuk Kab. Siak, aku ingin tidur lagi saja, tetapi tiba-tiba teringat sesuatu. Serta-merta aku mendongak, melihat ke atas. Langit dipenuhi bintang.

Sayang tak boleh membuka jendela. Tapi pemandangan yang indah itu sudah menghibur hati.

Alhamdulillah wa syukurillah. Jam 1 malam kami tiba di Pekanbaru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s