Semarang – Banda Aceh Bag. 8: Sampai di Banda

Banda Aceh, 18 Juli 2015, 17:31

Jalan raya Meulaboh-Banda Aceh dibuat di sepanjang garis pantai barat Prov. NAD dan naik turun Gunung Gurutee, Gunung Kulu, dan Gunung Paro. Semuanya gunung-gunung kapur yang pohon sulit tumbuh jika permukaannya sudah gundul.

Sebelum sampai di Kab. Aceh Besar yang bernuansa perkotaan, panorama alam begitu cantik. Di sisi barat jalan ada pemandangan laut, teluk, pantai berpasir, dan pulau-pulau kecil. Pohon kelapa bergantian tampak dengan jajaran cemara pantai. Rawa atau mungkin sekadar kolam-kolam ada di kanan dan kiri jalan, ditumbuhi sagu, atau rumput air. Beberapa sungai bermuara di sana dilintasi jembatan-jembatan besi yang tidak begitu panjang. Airnya mengalir santai menuju laut yang tidak sampai beratus meter jauhnya.

Di sisi timur jalan ada pemandangan ujung akhir Bukit Barisan. Ada gunung-gunung batu yang diselimuti tumbuhan hijau, pohon-pohon lebat, hutan. Ada kera-kera liar duduk di batu-batu besar atau sapi-sapi merumput di pinggir jalan. Sementara itu jalan raya yang agak sempit meliuk-liuk naik turun membelah gunung, menikung tajam seperti membentuk hidung petruk.

Selain itu, di kanan kiri di beberapa tempat yang datar, rumah-rumah penduduk dibangun. Rumah-rumah itu adalah bantuan bagi korban tsunami sehingga modelnya sama semua. Terbuat antara bata berplester dan papan dan semua dicat putih. Atapnya dari seng.

Penduduk di sana berusaha mencari penghidupan dengan berbagai cara. Di tanah yang agak subur ada yang bertani. Atau jika bukan begitu mereka berjualan di resort-resort wisata pantai atau di pinggir jalan. Ada yang membuka rumah makan dan menawarkan masakan khas aceh seperti masam keu-eng. Ada yang menjual buah-buahan, seperti rambutan dan durian.

Di tulisan kali ini, aku ingin menunjukkan foto-foto perjalanan dari Krueng Sabee sampai Banda Aceh. Foto-foto ini diambil dalam dua kesempatan yang berbeda. Yang pertama diambil pada hari terakhir perjalanan mudik kami setelah berjam-jam menghadapi banjir dan jalan putus. Yang kedua adalah pada saat terakhir kami berada di Aceh. Saat itu aku dan keluarga bersilaturahim ke tempat kerabat yang tinggal di daerah Lhoong. Kami kembali kelewati jalan yang kemarin kami lewati. Pemandangan alam yang tidak bisa kuambil karena ponsel kehabisan baterai bisa kuambil juga akhirnya.

Alhamdulillah wa syukurillah…

***

1# Banjir di Krueng Sabee, Aceh Jaya

image

Air melimpah di Krueng atau Sungai Sabee. Ini diambil ketika mobil kami bersama ratusan lainnya mengantre satu-satu untuk bisa lewat. Kami berada di atas jembatan yang merupakan bantuan dari rakyat Jepang pascatsunami Aceh.

image

image

Sisi kanan jalan alternatif yang kami lewati. Air dari situ mengalir ke laut. Cukup deras. Mobil-mobil, sepeda motor dan pejalan kaki harus menembus itu.

image

Orang-orang stres di jalan. Bagaimana tidak? Sudah sehari lebih jalan tidak bisa dilewati padahal hari besok sudah Idul Fitri.

***

2# Jalan ke Banda

image

image

Sebagian jalan dibuat di sepanjang garis pantai barat. Jalan yang sekarang dilewati orang adalah jalan baru yang dibuat dengan bantuan USAID pasca tsunami. Jalannya bagus. Mulus. Perjalanan Meulaboh-Banda Aceh yang dulu bisa memakan waktu sampai 10 jam, sekarang cukup empat sampai lima jam saja.

image

Rawa bagaikan kolam-kolam air di tepi jalan. Ingin sekali bisa melukisnya.

image

Ternak merumput dan ikut menggunakan jalan raya sebagai tempat berjalan. Ternak-ternak ini dilepas begitu saja. Ini pemandangan yang unik lainnya, meski terkadang aku berharap sekali saja bisa melihat gajah yang lewat.

image

Rangkaian Bukit Barisan menemani kami sampai ke Banda Aceh. Bukit Barisan di ujung barat Sumatera ini sedikit banyak tampaknya sama seperti yang ada di ujung timurnya di Bakauheni, Lampung. Berbatu-batu, dindingnya curam dan terjal, rawan longsor.

image

image

Sepotong hamparan sawah dilatarbelakangi pemandangan Gunung Seulawah. Gunung itu harus dilewati siapa saja yang mau ke Medan, Sumatera Utara.

image

image

Sepotong Bukit Barisan dari dekat. Di ambil di Kab. Aceh Besar, dekat objek wisata Mata Ie, atau artinya Mata Air. Ada sumber air yang melimpah di Bukit Barisan ini. Nenek bercerita, dahulu jika sulit air, orang-orang dari Darussalam Banda Aceh pergi mencuci sampai ke sini. Bapak bercerita pula dulu bersama teman-temannya pergi main ke sini dengan bersepeda.

image

image

image

Jalan di gunung jika beruntung, di satu titik dapat terlihat pemandangan pantai terdekat. Indah sekali.

image

Rumah penduduk yang sebelum ini kuceritakan.

3# Mampir ke Pantai Lhoong

image

image

image

image

image

image

Aku pergi ke tempat ini pada H+3 Idul Fitri. Sebelum hari raya tempat dan jalan-jalan di sini sepi sekali, tetapi sekarang luar biasa ramai. Setelah berhari raya, orang-orang pergi jalan-jalan dan berwisata.

Ketika pulang dari pantai ini, aku diceritakan bahwa di Aceh ini masih banyak lagi objek wisata dan pemandangan yang indah. Ah… waktu tinggal sedikit saja di sini. Kapan bisa datang lagi ke sini?

Insya Allah beberapa waktu lagi. Aamiin.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s