Semarang – Banda Aceh Bag. 9: Keluarga

Gunung Seulawah, keluar Aceh Besar, 20 Juli 2015, tengah hari

Karena hampir sepanjang hidup jauh dari keluarga besar, satu hal yang aku khawatirkan adalah tidak mengenal keluargaku sendiri. Jauh dari kakek dan nenek. Jauh dari paman dan bibi. Jauh dari sepupu. Jauh dari kerabat-kerabat yang lainnya. Rasanya tidak enak. Sedih.

Bisa pulang ke Aceh tempat asal bapak dan keluarga nenek adalah pengalaman yang luar biasa jadinya. Kami pernah pulang sekitar tujuh tahun yang lalu. Saat itu masih ada kakek. Saat ini kami dapat kembali pulang, beberapa hal telah berubah. Rumah keluarga telah semakin tua dan beberapa ruangan telah ditambahkan. Aku harus memperbarui ingatan lagi.

Tidak hanya soal lingkungan fisik, orang-orang pun berubah. Orang-orang dewasa bertambah tua, yang dahulu remaja menjadi orang dewasa, dan anak-anak menjadi remaja. Sepupu-sepupu tidak lagi seperti yang kuingat lewat foto-foto lama yang kupunya. Andai tak bertemu, jika bertemu di jalan, aku akan menyangka mereka orang asing.Yang aku anehkan, aku merasa ingatanku bertambah saat ini. Dulu sulit sekali ingat nama orang-orang, tetapi sekarang aku bisa mengingat lebih banyak nama-nama keluargaku, terutama adik-adik nenek. Ini selalu ingin bisa kulakukan karena aku selalu diingat oleh mereka. Rasanya senang sekali. Jika nanti bertemu kembali, aku akan bisa memanggil dan bicara dengan mereka.

***

Kami sampai di rumah di Aceh pada Kamis, 16 Juli, satu hari sebelum hari raya. Kami segera disambut di sana. Di rumah itu ada nenek, paman, bibi, lima orang sepupu, seekor kucing, seekor anjing, dua ekor kura-kura, dan ayam-ayam. Seorang sepupuku mahasiswa kedokteran umum, seorang lagi mahasiswa kedokteran hewan, sisanya masih sekolah di SMA, SMP, dan SD.

Sore harinya keluarga yang lain datang. Paman dan bibi dengan dua orang sepupu yang lain. Dua orang yang terakhir ini yang benar-benar membuatku heran. Penampilan mereka sudah jauh sekali berbeda. Dulu mereka cuma anak SD, sekarang yang satu sudah mahasiswa geofisika, yang lain akan menyusul jadi mahasiswa tahun depan.

Rumah-rumah keluarga di Banda Aceh dekat-dekat. Karena itulah keesokan harinya di hari raya, pagi-pagi kami bisa pergi salat ied bersama ke masjid kampus Unsyiah. Setelah salat kami berziarah ke makam kakek di pemakaman warga Unsyiah dekat situ untuk mendoakan beliau.

Pulang ke rumah, bersalam-salaman, kami makan bersama. Terhidang sayur lodeh, sambal ati, sayur krecek, rendang, masakan daging bistik, dan bubur aceh, serta kue-kue. Enak sekali.

Setelah itu, seharian kami berkunjung ke rumah-rumah keluarga dan kerabat. Banyak sekali yang dimakan juga yang diceritakan. Ada panganan tradisional timpan yang dibuat dari pisang. Ada banyak kue-kue kering. Aneka es, macam es kacang merah khas Meulaboh, es isi serutan timun, es buah, dan air infus, es jeruk segar yang bening macam larutan infus, juga es krim Walls. Masakan pun macam-macam. Yang di mana-mana ada rendang, lontong, opor ayam. Ada juga yang menghidangkan sate. Intinya jika berkunjung pasti makan. Tidak sedikit yang gangguan pencernaan setelah sepanjang hari makan saja kerjanya.

Cerita orang-orang pun macam-macam. Cerita kampus, sekolah, pekerjaan, kabar dari keluarga-keluarga yang tak hadir, macam-macam pengalaman, kehidupan sehari-hari, siapa yang pergi ke mana, siapa yang sakit, siapa yang sudah tidak ada, kenangan-kenangan masa lalu, dan harapan masa depan, khususnya pernikahan bagi yang belum menikah. Beruntungnya aku tidak ada yang bertanya kapan menikah atau sudah ada calon atau belum. Haha…😀

Banyak bertemu saudara-saudara, tante-tante sepupu bapak yang usianya sebaya denganku. Ada juga seorang yang bahkan sama-sama kuliah di S2 Psikologi UGM. Ada yang baru lulus S2 juga dan mulai menjadi dosen di Unsyiah.

Hari raya kedua dan ketiga sama aktivitas kami seperti hari sebelumnya. Hanya di hari ketiga di antara berkunjung kami ada sebentar main ke pantai. Ke pantai di daerah Lhoong. Sepupu-sepupu yang laki-laki dan Dik Balya semangat sekali main ke pantai yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah kerabat yang kami kunjungi. Sayang tak boleh mandi karena ombak cukup besar sore itu. Karena itu mereka cuma main pasir, buat benteng atau lempar-lemparan.

Malam harinya kami telah sampai di rumah. Dik Balya dipesan salah seorang sepupunya agar tidak tidur cepat biar malam bisa main mercon. Hasilnya sampai jam 10 malam waktu Darussalam di depan rumah ramai teriakan anak-anak yang tinggal sekompleks main mercon. Balya yang awalnya takut-takut berani juga. Mereka main mercon cabe.

Senang sekali selama di Banda Aceh lihat Dik Balya bisa main dengan kakak-kakak sepupunya yang lebih tua. Mereka nonton kartun sama-sama, makan sama-sama. Main mercon, main sepeda. Pergi ke masjid, dan di pagi hari raya rame-rame berkunjung bergerombol ke rumah-rumah tetangga. Senangnya mereka pulang berkeringat dengan perut kenyang, dapat uang lagi, karena berlari-larian.

Perlu diketahui, tak ada tradisi sungkem di sini. Setelah salat ied orang-orang minta maaf, tua dan muda, dengan salam-salaman saja.

Di hari ketiga itu, pagi hari, ibu dan bapak pergi untuk membeli oleh-oleh untuk teman dan saudara di Jawa. Ibu dan bapak pulang dengan membawa kue bolu ikan, dompet-dompet dengan sulaman Aceh yang khas, dan gantungan kunci. Aku tak ikut pergi karena harus menyelesaikan pekerjaan dari dosen. Padahal ingin pergi. Jalan-jalan lihat-lihat kota.

Hari keempat pun tiba, hari terakhir kami. Aku terbangun pagi sebelum subuh. Subuh di Banda Aceh pukul 05:15. Aku ambil ponsel dan menulis catatan-catatan harian. Suasana rumah awalnya sepi lama-lama ramai. Aku lihat tas bepergianku yang sudah rapi. Siap pergi sudah, tapi sebenarnya masih ingin tinggal. Satu hal yang belum kulakukan: tidur bareng nenek. Ingin tidur lalu kening dicium nenek.

Pagi makin ramai karena keluarga yang ingin mengantar kepergian kami satu-satu datang. Aku melakukan misi terakhirku: menfoto bagian-bagian rumah. Aku ingin menyimpan kenangan tentang rumah nenek, rumah asal bapak. Hanya beberapa kali pernah ke sini. Dan tidak tahu kapan bisa ke sini lagi. Ingin cari uang yang banyak biar suatu saat bisa bawa keluarga kembali pulang ke Aceh😀 Insya Allah

Atau jadi orang Aceh saja ya? Di salah satu rumah tetangga, teman kakek, begitu tahu aku mahasiswa S2 yang ingin menjadi dosen, langsung disarankan untuk bekerja di Unsyiah karena Unsyiah masih kurang dosen. Ujung-ujungnya, siap-siap menikah dengan orang Aceh. Haha… Allah Mahatahu apa yang akan terjadi😀 Yang jelas, setelah ini pulang, tesis sudah menanti. Itu harus selesai dulu.

Kami berfoto bersama sebelum berpisah. Ramai sekali. Semua orang berbahagia dan mendoakan keselamatan, semoga bisa sampai di Jawa dengan aman. Pergi ke Banda Aceh dan menempuh jarak dua ribu kilometer jauhnya memang perjuangan yang besar. Tapi demi ibadah menghubungkan silaturahim, semoga Allah membalas dengan kebaikan yang banyak.

Aku bersalaman, dipeluk dan cium banyak keluarga. Rasanya bahagia menerima kasih sayang dari banyak orang. Segala puji bagi Allah. Aku baik-baik saja sampai terakhir bersalaman dengan nenek. Nenek tentu mendoakan macam-macam, tetapi yang terucap saat itu adalah semoga Allah memudahkan jodoh untukku.

Ya benar, ada satu hal yang belum sempat keceritakan pada nenek. Dan mungkin tidak akan pernah.

Jarak dan waktu yang memisahkan membuat hubungan menjadi jauh dan kata-kata menjadi sulit diucapkan. Meski begitu hati yang tetap dekat itu nyata. Aku sayang beliau. Aku sayang seluruh keluargaku.

And then my tears…

Sisanya dibayangkan sendiri saja😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s