Semarang – Banda Aceh Bag. 11: Teman di Perjalanan

Kota Jambi, 23 Juli 2015, 05:44

Sebelum berangkat lagi harus cepat-cepat menulis. Kami telah menempuh beberapa ratus kilometer dari Pekanbaru, Prov. Riau, dan sekarang sedang beristirahat di rumah kawan ibu di Kota Jambi.

Karena hari kemarin super kelelahan, karena maraton dari Banda Aceh sampai Pekanbaru, kami baru keluar dari Pekanbaru pada pukul 11 siang. Pekanbaru adalah kota yang besar. Kami sempat sedikit tersesat dalam kota sebelum menemukan Jalan Lintas Sumatera kembali.

Apa yang unik dari Kota Pekanbaru atau Riau ya? Ada. Sebagian rumah dan bangunan di sini atapnya berhias suatu ukiran dari kayu. Hampir mirip dengan apa yang kulihat di Lampung. Karena susah mendeskripsikannya, kuberikan fotonya saja.

image

Di jalan lintas yang ada di timur Sumatera ini, mulai dari gerbang Riau sampai Jambi sini, kami sepertinya menembus satu pegunungan lagi. Pegunungan ini berbeda dari Bukit Barisan yang ada di barat Sumatera.

Sama-sama dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit dan karet, cuma rasanya di timur ini udara lebih kering dan panas. Jika di barat pegunungan kapur berbatu-batu masih cukup hijau, sungai-sungai banyak mengalir, membuat padi bisa ditanam dan pohon-pohon besar khas hutan tropis bisa tumbuh, di timur sini tanahnya lempung. Jenis tanah ini jika basah lembek sekali, jika kering keras sekali.

Warna tanahnya kemerahan bahkan sampai kuning dan putih. Tidak subur. Satu-satunya yang tampak tumbuh dengan baik adalah sawit. Tidak ada kebun-kebun sayur atau buah. Sepanjang jalan tidak ada penduduk yang menjual hasil bumi seperti di tempat-tempat lain yang pernah kami lewati. Dan saat ini sedang musim kering, debu beterbangan di mana-mana.

Pemukiman penduduk sampai di tempat yang kebun sawitnya lebat saling berjauhan. Rumah-rumah bergerombol-gerombol. Listrik sepertinya sulit di sini, meski tampak di satu tempat dibangun PLTD, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, dan di tempat lain akan didirikan pembangkit bertenaga biomassa.

Mata pencaharian penduduk yang utama adalah dari menanam sawit. Pertama kalinya aku melihat sawit ditanam di perkebunan rakyat bukan milik korporasi. Di sepanjang jalan ada aktivitas-aktivitas penduduk yang membuatku sedikit mengerti bagaimana seluk-beluk tanaman sawit di sini. Rakyat memiliki lahan-lahan yang ditanam sawit. Cirinya adalah kebun sawit mereka tidak serapi kebun milik korporasi. Kebunnya cenderung dekat rumah dan lahannya ikut ditumbuhi alang-alang.

Saat kami lewat tampak sawit-sawit sedang dipanen. Sawit dipetik dengan semacam galah bambu atau kayu panjang berujung sabit. Sawit yang dipetik dikumpulkan dan ditumpuk di halaman rumah di dekat jalan raya atau di tepi kebun di dekat jalan raya. Nanti akan ada truk-truk kosong lewat untuk mengangkut itu semua. Sawit-sawit itu ditimbang lalu dimasukkan dengan ditata rapi dalam bak truk. Transaksi mungkin terjadi di situ. Setelah penuh, sawit-sawit diikat dan diselubungi jaring agar tidak jatuh dalam perjalanan ke pabrik pengolahan. Ada beberapa pabrik yang kulihat. Semua ada di daerah dalam. Maksudku, tidak ada yang di pinggir jalan. Entah proses macam apa yang terjadi di dalam pabrik, tetapi yang jelas pabrik-pabrik itu mengeluarkan asap hitam dari cerobongnya. Truk-truk penuh sawit masuk ke sana dan darinya keluar truk-truk tangki yang mungkin berisi minyak lalu entah selanjutnya mereka pergi ke mana.

Banyak tanah-tanah luas dan kosong yang disiapkan untuk sawit. Biji-biji sawit disemai dalam polibag lalu bertunas dan kemudian dipindahkan ke lahan itu. Ketika penanaman dan pemeliharaannya itu, banyak orang turun ke lahan. Aktivitas hampir seluruh penduduk adalah seperti itu.

image

image

Namun, sebagian penduduk tampak pula punya pekerjaan lain, yaitu sebagai pembuat batu bata. Ini tentu memanfaatkan tanah lempung yang melimpah di sini. Di pinggir jalan pabrik-pabrik batu bata sederhana didirikan. Terlihat bagaimana batu bata itu dicetak, lalu dijemur di bawah sinar matahari, lalu dibakar di tungku besar.

Meski begitu aku bertanya-tanya, batu bata itu dibawa ke mana? Mengamati rumah penduduk, hampir semua hanya rumah papan beratapkan seng. Jadi mungkin itu dibawa ke kota, untuk rumah-rumah gedong di sana. Aku membayangkan kehidupan miskin di tempat ini.

image

image

Tapi entahlah. Mungkin juga tidak seperti itu ceritanya, terutana karena daerah ini daerah kaya. Tambang minyak dan gas. Beberapa kali tampak kompleks-kompleks objek vital negara yang dikelola pertamina. Pompa angguk untuk menyedot minyak bekerja, mengalirkan minyak-minyak mentah ke stasiun pengumpulan.

image

image

Tapi entahlah juga. Aku juga tidak tahu bagaimana rakyat biasa mendapatkan manfaat dari minyak yang ada di bawah kaki mereka.

***

Jalan yang kami lalui sepanjang Riau sampai perbatasannya dengan Jambi, melewati beberapa kecamatan seperti Kerinci, Soreksatu, Pangkalanlesung, Ukui, dan Lirik di Kab. Indragiri Hulu, cenderung lurus saja, naik dan turun seperti bukit dan lembah yang tinggi dan dalam. Sama seperti jalan di Sumatera Selatan menuju Sumatera Barat dulu.

Karena model jalan yang seperti itu, dipinggir jalan para pengguna jalan diminta berhati-hati pada satu tikungan tanjakan yang berbahaya bernama tikungan ciluk ba. Itu tikungan yang bisa mengagetkan para supir. Di jalan yang lurus tapi menanjak sehingga tak kelihatan kendaraan dari arah sebaliknya, supir mungkin saja ingin segera menyalip kendaraan di depannya. Tetapi ketika menyalip, dari puncak jalan, “Ciluuk Ba!!” Muncul kendaraan lain dengan kecepatan tinggi. Bisa tabrakan kalau begitu. Dan di salah satu kantor polisi, kulihat banyak kendaraan yang jadi rongsok karena kecelakaan lalu lintas. Bagian kendaraan yang paling penyok di bagian supir. Itulah bahaya tikungan ciluk ba.

image

Ketika kami melewati Riau dan sampai di Jambi, puncak arus balik di Sumatera sudah berlalu. Jalan sangat sepi, jika dibandingkan dengan ramainya jalan ketika kami melintasi Sumatera Utara kemarin. Kami bisa mengebut dengan sedikit saja saingan. Itu adalah berkah di siang hari, tetapi ketika malam turun, ingin sekali jalan menjadi lebih ramai.

Kami mendapatkan cerita agar kami berhati-hati ketika memasuki Kota Rengat dan akan berjalan memasuki pegunungan bersawit di Jambi. Katanya, daerah itu sepi dan banyak aksi kriminalitas “bajing loncat” di sana. Karena itu, di pertigaan Rengat, banyak orang katanya duduk di salah satu rumah makan untuk menunggu pengguna jalan lain untuk dijadikan teman seperjalanan, untuk jalan konvoi bersama sampai ke Jambi.

Apa kata bapak? Dengan logikanya, beliau tak percaya. Merujuk pada pengalaman mudik tujuh tahun yang lalu, yang mana kami juga melewati jalan yang sama, tak ada yang terjadi. Bapak lebih suka jalan terus ketimbang jalan bersama orang-orang yang takut kalau tidak dikatakan berhati-hati. Justru orang yang berhenti cari teman itulah yang mungkin akan masuk ke mulut harimau karena mempercayakan keamanan pada kebersamaan dengan orang asing pengguna jalan lain dan kelihatan tidak beraninya.

Masuk akal.

Ketimbang “bajing loncat”, justru lebih menakutkan medan jalannya yang gelap sekali di malam hari, sempit, berkelok-kelok, menikung tajam, dan bersaing dengan truk-truk besar. Ini seperti jalan menuju Kab. Pasaman di Sumatera Barat. Alhamdulillah bapak lincah. Kami seperti berada di wahana permainan uji nyali atau area petualangan saja. Seru🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s