Semarang – Banda Aceh Bag. 12: Terang dan Gelap

Kota Menggala, Tulangbawang, Lampung, 24 Juli 2015, 06:49

Sampai pukul satu dini hari tadi, kami melakukan perjalanan dari Jambi sampai memutuskan berhenti untuk istirahat di kota Tulangbawang, Lampung.

Kami tak begitu banyak melihat kota Jambi. Rumah tempat kami menginap terletak di pinggiran kota. Malam sebelumnya aku ingat, sebelum kami memasuki Jambi, kami melewati sebuah jembatan yang panjang. Sejak awal aku mencari-cari di mana Sungai Siak. Mungkinkah jembatan itu terbentang di atas sungai yang kucari? Entahlah.

Provinsi Jambi memiliki sesuatu yang khas. Penampakan alamnya kebanyakan perkebunan sawit dan karet, sama seperti yang terlihat di sepanjang Sumatera Utara dan Riau. Ladang minyak ada di beberapa titik. Stasiun-stasiun minyak Pertamina bahkan lebih sering tampak ketimbang yang kulihat di sepanjang jalan di Riau. Jalur pipa minyak ada di sepanjang jalan lintas sampai ke Palembang. Setiap beberapa ratus meter ada plang Pertamina bertuliskan Berbahaya. Pipa minyak mentah bertekanan tinggi, mudah meledak dan terbakar.” Pipa-pipa itu tertanam dalam tanah, tetapi kadang menyembul ke permukaan dan menjadi bagian dari pemukiman warga.

image

image

image

Dari Kota Jambi sampai keluar Prov. Jambi, melewati beberapa kecamatan, kami memakan waktu sekitar dua jam, dan sampai ke ibukota Prov. Sumatera Selatan, Palembang, sekitar waktu Asar.

Menurutku, perjalanan memasuki Sumatera Selatan sangat menarik. Pemandangan melewati Sumatera Selatan dulu, yang lewat jalur lintas barat, terlihat lagi: rumah-rumah tradisional berbentuk rumah panggung. Hanya saja, jika dulu kami melihatnya di daerah pedesaan di sepanjang bantaran Sungai Lematang dan sisi kanan kiri jalan lintas Sumatera, sekarang kami melihatnya di daerah perkotaan.

Karena lokasinya itu, rumah-rumah panggung seperti akhirnya diadaptasikan, dimodifikasi, dan didekorasi sesuai kebutuhan kehidupan urban. Rumah-rumah tak lagi dari kayu, melainkan dinding bata berplester dan ada yang dilapisi keramik. Taman di depan rumah indah-indah. Bagian kolong rumah dijadikan toko atau bagian rumah.

image

Di Palembang kami beristirahat cukup lama. Kami makan siang di sebuah rumah makan, aku makan makanan khas sini yang namanya pindang tempoyak. Enak sekali. Lalu kami ke masjid raya Palembang untuk shalat dan setelah itu pergi mencari pempek. Di masjid itulah aku kehilangan ikat rambut karena terlepas. Baru maghrib kami lanjut berjalan lagi menuju Lampung lewat lintas timur dengan target kota Menggala. Kami sempat pula melintasi Jembatan Ampera yang terkenal itu.

image

Pada pergantian waktu dari terang menjadi gelap inilah perasaanku sering ikut berubah. Semangat menjalani perjalanan panjang di hari terang meredup, digantikan kekhawatiran. Kota yang dituju masih seratusan kilometer lebih. Tidak ada pandangan kota penuh lampu yang biasa memberikan ketenangan. Kanan kiri hanya gelap yang mana kalau terang akan kelihatan itu kebun-kebun sawit dan karet. Pengguna jalan tak banyak. Sering di jalan yang berkelok naik turun dan tak rata, di depan, belakang, kanan, dan kiri hanya ada kegelapan. Tak ada yang bisa dilihat, makanya sering aku memutuskan tidur sambil berdoa dalam hati.

Tapi malam tadi aku tidak memutuskan begitu. Aku sadar ini malam terakhir di Sumatera karena besok sudah akan sampai ke Jawa. Aku sadar pula, sebenarnya di tengah hari gelap, ada pula pemandangan yang bisa dilihat. Kegelapan punya cerita dan pengaruhnya ada pada kota-kota kecil yang cepat tidur. Beginilah di Sumatera, ada semacam jam alami masyarakat. Kendaraan yang awalnya ramai lalu-lalang lalu menghilang. Rumah-rumah menyisakan lampu depan saja yang menyala.

Hal terindah pada malam hari adalah langit. Langit musim kemarau sangat bersih sehingga bintang-bintang tampak jelas. Aku beruntung bisa melihat satu bintang jatuh. Perjalanan malam kami ditemani pula oleh bulan sabit. Bulan itu awalnya putih, agak tinggi di langit. Semakin larut, bulan itu pelan-pelan turun dan menjadi jingga. Akhirnya ia pun menghilang di balik pepohonan dan bukit. Rasanya sendu.

Kami melewati daerah Indralaya, Karang Ayu, Mesuji, dan akhirnya Menggala, ibukota Kab. Tulangbawang. Jalanan rusak di beberapa ruas karena seringnya kendaraan besar dan berat melintas. Di daerah ini, rumah-rumah panggung yang cantik itu menghilang digantikan rumah model lain yang sering model itu kulihat di Jawa. Kusimpulkan, inilah wilayah yang dihuni banyak pendatang dari Jawa.

Analisa seperti itu tidak sederhana. Dulu ketika melewati Aceh Singkil dan perkebunan sawit serta pemukiman para migran dari Jawa, aku dan bapak pernah membicarakan ini. Ada perbedaan cara orang dari Jawa dan penduduk asli dalam mengelola lingkungan tempat tinggal mereka, dan salah satunya itu tampak dari bagaimana rumah tempat tinggal dibangun.

Rumah penduduk asli berbentuk rumah panggung berkaki tinggi atau pendek, atau rumah limas, dari kayu beratapkan seng. Tidak ada teras di depan rumah. Orang duduk-duduk tidak di depan rumah, tapi di warung kopi atau di buk pinggir jalan. Rumah orang Jawa, terutama yang sudah mapan, terdiri atas dinding bata berplester dan atapnya genting tanah liat. Bagian depan rumah selalu memiliki dua, tiga atau empat pilar, seperti ini:

image

image

Lebih menarik lagi ketika tahu yang datang ke tempat ini tidak hanya orang Jawa, tapi juga orang Bali. Ada satu daerah yang bahkan mushola saja tak tampak. Rumah-rumah berpenjor. Di bagian rumah yang tinggi di tingkat dua yang terbuka, atau di halaman, ada pura-pura untuk peribadahan Hindu. Pemandangan ini benar-benar baru, meski awalnya menakutkan. Rasanya bertanya-tanya ketika di tengah malam hari yang gelap melihat benda-benda asing, penjor berhias seakan-akan di setiap rumah ada mantenan, dan pura-pura yang gelap. Ketika hari siang, sebetulnya pemandangannya cantik.

image

Kami menginap di hotel yang “menakutkan”. Kami menemukannya setelah pada pukul satu malam berkeliling di kota Menggala yang seperti kota mati. Terlebih di kota itu ada situs pemakaman yang besar dan nama kabupatennya yang Tulangbawang. Pikiran langsung teringat cerita hantu-hantu.

Kota itu sangat sepi. Hotel hanya ada dua dan kosong. Ketika kami memasuki hotel kami, pengunjungnya hanya kami. Ketika kamar dibuka, keadaannya sangat kotor. Tempat tidur berdebu tebal, begitu pula dengan lantai, rak handuk, dan kamar mandi. Televisi tak menyala, di sudut kamar ada lemari yang sudah bobrok. Ada serangga tomcat di tembok.

Aku dan adik-adik tidur cepat-cepat dengan membawa perasaan ngeri-tegang-seru, berasa berada di rumah hantu atau di bumi perkemahan yang angker dan banyak jinnya. Kami tidur berdesak-desakan karena ingin saling merapat, tertawa-tawa juga karena itu asyik. Aku peluk Balya agar dia bisa tidur lagi. Aku bacakan doa untuk mereka keras-keras.

Pagi menjelang dan rasanya aku takut masuk ke kamar mandi yang kotor. Singkat cerita semua pun beres dan kami siap berangkat kembali. Keluar dari hotel dan berbelok ke kiri untuk kembali ke jalan raya, terkejutlah aku. Tepat di kiri hotel ternyata ada masjid besar dan indah, tempat islamix center berada. Tertawalah kami. Sepertinya sia-sia ketakutan sepanjang malam menyangka berada di kota mati. Memang awalnya sepi, tetapi ketika pagi, semua kembali hidup dan ramai.

Kegelapan hilang berganti terang dan pemandangan indah menyambut kami kembali.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s