Semarang – Banda Aceh Bag. 13: Terakhir dari Sumatera

Jakarta, 24 Juli 2015, 22:53

Malam ini insya Allah adalah malam terakhir di jalan. Besok bersamaan dengan datangnya hari baru, kami akan sudah di rumah. Perjalanan sepanjang hari tadi menyenangkan. Keluar dari penginapan kami di kota Menggala, Tulangbawang, kami kembali ke jalan lintas timur Sumatera.

Kota Menggala memberikanku kesan tersendiri. Ia ada di daerah Tulangbawang yang kutahu punya tempat di pelajaran sejarah waktu sekolah dulu. Kerajaan Tulangbawang. Meski aku tidak tahu bagaimana tepatnya ceritanya. Selain itu, ada cerita yang lain lagi yang membuatku belajar macam-macam kota, ada yang tumbuh secara alami, ada yang dibuat. Menggala termasuk kota buatan. Strukturnya dibuat dahulu untuk melayani orang-orang “diundang” untuk masuk, yaitu para transmigran dan keluarganya. Sementara kota alami, asalnya dari manusia yang bermukim, lalu bersama-sama mereka membangun unsur-unsur kota. Itu menjelaskan mengapa Menggala cenderung sepi meski kompleks perkantoran di sana megah-megah. Kota Menggala seakan merupakan kota transit yang gagal. Mungkin direncanakan, di lokasinya yang strategis di pertigaan menuju lintas timur dan lintas tengah, pengguna jalan akan mampir ke sana. Tapi, keadaan mungkin serba tanggung. Orang memilih jalan terus ketimbang mampir di Menggala karena Bakauheni, kota pelabuhan itu hanya sekitar empat jam perjalanan lagi dari sana.

Keluar kota Menggala, pemandangan yang semalam gelap menunjukkan wujudnya. Indaaaah sekali, hamparan lahan pertanian dan perkebunan. Ada kebun tebu yang dikelola Sugar Group Company. Hijau sekali sampai ke kaki langit. Kadang ada sungai yang membelah lahan-lahan tebu itu. Di bawah sinar matahari pagi, semua berkilauan. Setelah kebun tebu yang luas sekali, pemandangan berubah menjadi kebun nanas, lalu kebun ketela pohon. Ada pabrik tepung tapioka di dekat situ. Setelah itu pemandangan berganti lagi. Karena tanah datar dan sungai mengalir di situ, padi bisa ditanam. Lahan persawahan begitu luas, berselang-seling dengan jagung. Setelah itu, ada pula kebun karet, meski tak luas. Semua begitu indah di bawah langit biru dan matahari pagi yang putih.

image image image

Wilayah perkebunan habis dan digantikabln kota-kota kecamatan kecil yang berakhir semuanya di Bakauheni. Senang mengamati penduduk yang tinggal di sepanjang jalan raya. Ada sesuatu yang tidak tampak di provinsi lain, yaitu kehidupan kaum transmigran yang maju.

Di Lampung sini, puluhan tahun lalu, orang-orang Jawa, Sunda, dan Bali datang sebagai transmigran. Sekarang mereka menjadi motor ekonomi yang utama. Tidak hanya bekerja di perkebunan, tetapi juga sukses di usaha rumah makan, terutama yang dari Jawa. Kini sudah tiga generasi transmigran di sana. Banyak yang ada di daerah Lampung Timur dan Selatan ini orang-orang dari suku Jawa, Sunda, atau Bali yang lahir di Lampung. Untuk mendekatkan diri dengan tanah asal leluhur mereka, nama-nama rumah makan mereka misalnya membawa nama daerah asal. Ada seperti Rumah Makan Munthilan, Rumah Makan Banyumas, dan sebagainya. Nama-nama tempat pun ada yang meniru nama-nama tempat di Jawa. Ada daerah yang dinamai Way Jepara, Purbo Linggo, dan Purwodadi.

Selain identitas etnis, mereka juga memelihara identitas agama. Ini tampak jelas dari banyaknya kampung-kampung orang Bali. Sangat khas. Seakan pulau dewata pindah ke Lampung. Pura-pura di pinggir jalan, rumah-rumah dengan bangunaj untuk sembahyang yang dihias kain kotak-kotak hitam putih atau kain emas, sesajen, dan gapura rumah berukuran Bali. Lebih menarik dari itu, mereka semua hidup berdampingan dengan warga lain yang muslim.

image image image

Mendekati Pelabuhan Bakauheni, kami memasuki daerah yang bergunung-gunung batu. Ini ujung Bukit Barisan. Sebagian gunung itu dipotong agar bisa dibuat jalan raya, lalu pemukiman penduduk padat di kanan dan kirinya. Gunung-gunung itu telag gundul. Ada yang dibiarkan kosong, ada yang dialihgunakan sebagai kebun. Ada pula yang ditambang batunya. Di daerah yang datar, pohon-pohon kelapa tumbuh dan padi pun masih bisa ditanam. Kami berjalan naik turun gunung-gunung batu itu. Jika beruntung di satu titik, kami bisa melihat laut.

image image image image

Kami salat dhuhur dan asar sebentar di sebuah masjid sebelum masuk Bakauheni. Kami juga membelu makan untuk dimakan di atas kapal penyeberangan. Beruntung, kami langsung mendapatkan kapal sehingga kami cepat menyeberang. Lebih beruntung bagiku, aku bisa menyaksikan pemandangan laut Selat Sunda yang super duper biru. Indah sekali. Subhanallah.

Kapal berangkat pelan-pelan, lalu cepat. Pulau Sumatera semakin lama semakin tertinggal di belakang. Daratannya yang awalnya besar menjulang menjadi jauh dan mengecil, lalu hilang. Merasakan semua itu, seperti mimpi saja. Rasanya baru kemarin kami turun dari kapal dan memulai perjalanan lintas Sumatera. Rasanya baru kemarin berada di ujung barat Sumatera di Aceh. Sekarang, kami sudah diujung lainnya dan berjalan meninggalkan pulau yang memberikan banyak cerita.

Di kapal, aku menghabiskan waktu di dek kapal, menikmati angin laut yang kencang. Kapal naik dan turun karena gelombang. Orang-orang dewasa beristirahat di kursi-kursi, sementara anak-anak bermain-main dengam angin atau berseru kagum atas kecepatan angin atau atas luasnya lautan biru. Karena badanku ringan, rasanya mau terbang. Langit biru cerah. Laut pun biru cerah, dari yang berwarna muda sampai tua. Sinar matahari menyilaukan membuat kapal berbayang di lautan. Air laut pun jadi berkilauan indah. Rasanya ingin bisa melukis itu semua.

Makin sore, langit biru menjadi lebih putih, sementara lautan menjadi hijau. Ada kabar bahwa kapal kami harua mengantre 90 menit lamanya untuk bisa bersandar di dermaga karena menunggu kapal lain yang masih bongkar muat. Aku mendapatkan keberuntungan lain: menyaksikan senja di atas laut. Hal yang sangat langka! Lebih dari itu sebenarnya, karena aku pun jadi bisa melihat bagaimana dunia berubah warna, di langit dan lautnya. Di hari senja, langit pelan-pelan menjadi jingga dan lautan menjadi kelabu, lalu hitam. Lampu-lampu kapal, pelabuhan di daratan, dan pemukiman penduduk memantul di permukaan laut. Indah sekali. Sangat menyentuh hati. Subhanallah.

image image image image image

Maghrib kami merapat dan menginjakkan kaki di Pulau Jawa lagi. Sumatera hilang ditelan malam. Berakhirlah cerita tentang Sumatera. Semoga insya Allah, bisa kembali lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s