Semarang – Banda Aceh Bag. 14: “Di mana ada cinta, di sana Tuhan ada”

Semarang, 26 Juli 2015, 10:45

Setelah mencuci baju yang segunung dan membersihkan seluruh rumah yang penuh debu, tulisan ini dibuat. Ini akan menjadi yang terakhir dalam cerita perjalanan mudik dari Semarang ke Banda Aceh dan kembali lagi ke Semarang. Kami telah sampai dengan selamat di rumah kemarin. Aku memikirkan penutup apa yang bagus untuk ini. Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan saja salah satu cerpen dalam buku kumpulan cerpen Leo Tolstoy, “Di mana Ada Cinta, di sana Tuhan Ada”, yang selesai kubaca dalam perjalanan kemarin.

Pulang dan pergi sama seperti bertemu dan berpisah. Yang manis diikuti dengan yang pahit, yang pahit diikuti dengan yang manis. Begitulah perjalanan, sama seperti kehidupan. Perjalanan panjang ribuan kilometer yang menghabiskan waktu dua minggu lamanya adalah miniatur kehidupan yang terentang dari kelahiran sampai kematian, yang jumlah langkah dan jarak yang ditempuhnya tidak pernah sanggup untuk dihitung.

Dalam perjalanan, ada kalanya berjalan di bawah langit biru, ada kalanya di bawah langit malam. Ada kalanya di tengah hari panas dan kering, ada kalanya di tengah hujan lebat. Ada kalanya berjalan di jalan yang lurus dan mudah, ada kalanya bersusah-payah di jalan berkelok, berlubang, dan berbatu. Ada kalanya berkelimpahan bekal, ada kalanya pula kehabisan. Ada kalanya waktu dihabiskan dengan bercanda atau berseru kagum atas pemandangan yang disaksikan, ada kalanya terdiam berdzikir dalam hati dengan penuh kesabaran karena situasi yang sulit. Di dalam semua itu ada cerita dan bagiku, cerita yang terbaik adalah yang berisikan pemaknaan yang terbaik. Perjalanan fisik yang melelahkan pun akhirnya tidak terasa. Setiap hal yang mampu dinikmati oleh jiwa memberikan lebih banyak.

Di mana ada cinta, di sana Tuhan ada kuselesaikan pada hari pertama perjalanan. Aku memutuskan membawanya karena tersentuh dengan judulnya.

Cerita ini berkisah tentang Martin Avdeich, seorang tua pembuat sepatu, yang hidup sederhana di sebuah ruang bawah tanah dengan satu jendela. Ia seorang pria yang baik, namun musibah datang, yaitu kematian istri, lalu putra kesayangannya, sehingga pandangan hidupnya berubah. Ia mulai mengeluh pada Tuhan, tenggelam dalam melankoli, kehilangan harapan dan semangat hidup, berharap Tuhan mematikannya, dan akhirnya ia berhenti pergi ke gereja.

Suatu hari, datang seorang temannya untuk menjenguknya. Melihat keadaannya yang memperihatinkan itu, ia pun menegur Martin, “… Kita tidak seharusnya menilai apa yang dilakukan Tuhan. Dunia itu berputar, bukan oleh keahlianmu, melainkan atas kehendak Tuhan. Tuhan berketetapan anak lelakimu meninggal dunia, dan kau tetap hidup. Mungkin memang itulah yang terbaik. Dan kini kau malah berputus asa karena kau ingin hidup untuk kebahagiaanmu sendiri.”

“Memang untuk apakah seseorang hidup?”

“Kita harus hidup untuk Tuhan, Martin. Tuhan yang memberimu hidup, dan demi kuasa-Nya-lah kau hidup. Ketika kau mulai hidup untuk-Nya, kau tidak akan berduka atas apapun, dan segalanya akan terasa mudah bagimu.”

Martin kemudian disarankan untuk membeli Alkitab dan membacanya. Awalnya Martin berniat membacanya hanya ketika hari libur, tetapi ternyata isi kitab suci begitu mencerahkan sehingga ia senang sekali membacanya. Semakin banyak yang dibacanya, semakin jelas pemahamannya bahwa Tuhan menginginkannya, dan bagaimana cara untuk hidup untuk Tuhan. Hatinya menjadi terasa ringan. Kini ia tidak lagi pergi tidur dengan desahan, melainkan dengan memuji Tuhan.

Suatu ketika, Martin jatuh tertidur ketika membaca kitab suci. Ia kemudian mendapatkan mimpi yang aneh. Sebuah suara tak dikenal memanggil-manggil dirinya, “Martin! Lihatlah ke jalan besok. Aku akan datang!” Martin terbangun dan sangat bingung dengan isi mimpinya itu. Ia bertanya-tanya, siapa yang akan datang? Akhirnya, sembari mengerjakan sepatu, ia menghabiskan waktunya mencari-cari lewat jendela kamarnya, siapa yang akan datang. Ia punya perasaan bahwa suara itu adalah suara Tuhan, bahwa Tuhan-lah yang akan datang.

Saat itu salju sedang turun. Ketika ia sedang menunggu-nunggu, dilihatnya dari kendela seorang lelaki tua renta yang bekerja menyekop salju di hari yang sangat dingin. Martin merasa kasihan, kemudian punya ide untuk memberinya secangkir teh. Ia mengundang lelaki tua itu agar bisa menghangatkan diri. Martin menjamunya sampai lelaki tua itu puas. Keduanya akhirnya berbincang-bincang ringan. Martin ditanya, siapa yang sedang ditunggunya? Martin pun menceritakan pengalamannya membaca ayat-ayat Tuhan serta mimpinya, dan membuat lelaki tua itu tergugah hatinya. Lelaki itu sangat berterima kasih pada Martin karena Martin telah menjamunya dengan murah hati dan memuaskannya, lahir dan batin. Lelaki itu pun pamit.

Martin kembali menunggu, dan kali ini ia melihat seorang wanita muda dengan pakaian yang sangat buruk dan sedang menggendong anaknya yang masih bayi. Keduanya kedinginan, sementara tak ada kain apapun yang bisa menyelimuti mereka. Martin mendengar si anak menangis karena kedinginan dan lapar, sementara si ibu berusaha menenangkannya, tetapi tidak mampu melakukan itu. Martin pun bangkit dan memanggil wanita itu untuk menghangatkan diri di rumahnya. Tahu wanita itu kelaparan sehingga tak bisa menyusui anaknya, Martin menyediakan makanan untuk mereka. Martin mempersilakan wanita itu makan. Sementara wanita itu makan, Martin menjagakan bayinya dan bermain-main dengannya, membuat bayi itu tersenyum. Martin memberikan wanita itu pakaian, yaitu jas miliknya sendiri dan memberinya uang. Wanita itu sangat berterima kasih padanya dan memuji Tuhan atas keberadaan pria baik baik yang mengasihaninya.

Martin akhirnya memahami bahwa semua kejadian hari itu bukanlah kebetulan biasa. Lewat mimpi itu, Tuhan telah membuatnya sepanjang hari mencari-cari lewat jendela Tuhan yang katanya akan mengunjunginya. Tuhan membuatnya melihat keberadaan orang-orang yang memerlukan bantuan dan membuat hatinya tergerak sehingga ia menolong mereka. Malam itu, setelah selesai bekerja, Martin membereskan peralatannya dan pergi tidur. Sebelum tidur ia membaca kembali kitab suci dan teringat kembali isi mimpinya, lalu kedatangan orang-orang yang ditolongnya hari itu, dan terdengat sebuah suara, “Martin, inilah aku.”

“Aku pernah menjadi orang yang lapar dan kau memberiku daging; aku pernah kehausan dan kau memberiku minum; aku pernah menjadi seorang asing dan kau mengajakku masuk. Oleh karena kau telah melakukannya kepada salah satu saudaraku, berarti kau telah melakukannya kepadaku.”

 

Martin tersadar bahwa mereka itulah perwujudan Tuhan. Martin pun dapat mengenali bahwa Tuhan datang setiap hari lewat sosok orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Martin bersuka cita dari dalam hatinya, mimpinya tidak menipunya. Tuhan datang kepadanya.

***

Sesungguhnya Allah swt. kelak di hari Kiamat akan bertanya, “Hai Anak Adam, Aku sakit, tetapi kenapa engkau tidak menjenguk-Ku?” Jawab Anak Adam, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku harus menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah bertanya. “Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit, sedangkan engkau tidak menjenguknya? Apakah engkau tidak tahu, seandainya engkau kunjungi dia, maka engkau akan dapati Aku di sisinya?”

“Hai Anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku makan?” Jawab Anak Adam, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau Tuhan Semesta Alam?” Allah bertanya, “Apakah engkau tidak tahu hamba Ku si fulan minta makan kepadamu, sedangkan engkau tidak memberinya makan ?. Apakah engkau tidak tahu seandainya engkau memberinya makan, engkau akan mendapatkannya di sisi-Ku?

“Aku minta minum kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku minum?” Jawab Anak Adam, “Bagaimana mungkin aku melakukan, padahal Engkau Tuhan Semesta Alam?” Allah swt. berfirman, “Hamba-Ku si fulan minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum maka sudah pasti engkau mendapatkannya disisi-Ku.” (HR. Muslim)

***

Satu hal yang akan aku ingat selama perjalanan kami, kami menerima kebaikan dari banyak orang. Ada banyak orang yang bermurah hati kepada kami, terutama keluarga-keluarga kami. Ada yang memberikan bantuan makanan, ada yang memberikan bantuan minuman, ada yang memberikan bantuan uang, ada yang memberikan tempat beristirahat, ada yang memberikan bantuan petunjuk jalan, ada yang memberikan perhatian apakah keadaan kami baik, dan yang terbesar dari semuanya, ada lebih banyak yang memberikan kami doa, semoga selamat dan aman di perjalanan, semoga perjalanan kami menyenangkan dan diberkahi Allah. Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua. Dan semoga aku pula mampu melakukan hal yang sama, memberikan orang-orang makanan, minuman, uang, apa saja yang dibutuhkan ketika mereka membutuhkan pertolongan.

Sama seperti waktu yang berlalu dan jarak yang ditempuh, kebaikan jauh lebih tidak mampu lagi untuk dihitung. Itulah Rahmat Allah, Kebaikan dari Tuhan, sehingga perjalanan kami untuk beribadah kepadanya mudah, tidak dihambat oleh apapun. Semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak kepada kami semua. Alhamdulillah, wa syukurillah. Inilah hikmah perjalanan, membuat diri menjadi orang yang ingin menjadi lebih baik lagi bagi sesama, terutama keluarga.

Tidak hanya dari orang-orang, alam pun atas izin Allah memberikan kebaikan pada kami. Pemandangan-pemandangan yang indah, cuaca yang bersahabat baik dalam keadaan hujan maupun panas, pohon-pohon yang teduh, dan jalan serta lautan yang mudah dilalui. Itu pun Rahmat Allah. Itulah kekuasaan Allah. Kami tidak kehabisan rumah makan, juga tidak kehabisan pom bensin, tidak kehabisan masjid, tidak kehabisan tempat beristirahat. Itu Rahmat Allah. Kendaraan kami tidak bermasalah, kesehatan tetap terjaga, tidak terlampau stres di jalan, dan baik-baik saja sampai akhir. Itu Rahmat Allah. Akhirnya bisa kembali sampai di rumah, itu Rahmat Allah.

Alhamdulillah, kami telah melakukan perjalanan yang baik. Semoga apapun yang terjadi setelah ini juga baik. Aamiin. :) Semoga bisa bercerita semacam ini lagi di masa depan.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s