Apa Itu Sejarah?

E. H. Carr

 

Apa Itu Sejarah adalah buku yang ditulis oleh E. H. Carr sekitar lima dekade yang lalu (Komunitas Bambu, 2014). Ia adalah seorang sejarawan, diplomat, dan jurnalis dari Inggris. Sebagaimana yang tersirat dari judulnya, buku ini berisikan konsep-konsep yang berkenaan dengan ilmu sejarah, bagaimana seharusnya ia dikembangkan dan dimanfaatkan. Buku ini termasuk satu buku paling berpengaruh dalam historiografi dan menjadi acuan utama bagi siapa pun yang belajar sejarah.

Saya memiliki ketertarikan khusus terhadap ilmu sejarah. Seandainya boleh kuliah lagi, ingin kuambil bidang ini. Dulu ada masa di mana saya menghadapi pengetahuan sejarah sebagai cerita tentang masa lalu yang sangat menarik, dan membuat diri berimajinasi macam-macam, tetapi ada masanya pula saya akhirnya dapat berpikir secara lebih dewasa. Sejarah tidak hanya memberikan cerita, tetapi juga pelajaran. Lebih jauh lagi, dihubungkan dengan konteks lain macam politik, sejarah dapat dimanfaatkan sedemikian rupa sebagai dasar legitimasi dan justifikasi atas berbagai macam kepentingan.

Ada masanya bagi saya menganggap semua peristiwa yang terungkap oleh sejarawan ini dan itu adalah benar, tetapi, setelah sekarang saya belajar psikologi dan beberapa ilmu sosial lainnya, dan tahu liku-liku bagaimana ilmu-ilmu itu dikembangkan dari masa ke masa, serta pergumulan antara paradigma-paradigma penting dalam ilmu, pahamlah saya sejarah pun tak lepas dari macam-macam persoalan epistemologis, sehingga apa yang dikatakan sebagai fakta sejarah tidak bisa diterima mentah-mentah sebagai kebenaran yang objektif. Pada intinya, semua masih bisa dan selalu bisa dipertanyakan.

1# Memahami Cara Sejarawan Bekerja

Tidak ada pengetahuan sejarah yang ajeg dan bertahan sepanjang zaman. Seiring dengan dikumpulkannya bukti-bukti dan fakta-fakta sejarah baru, pengetahuan sejarah akan berkembang pula. Karena itu karya-karya baru akan datang membawa pengetahuan baru, atau interpretasi baru, dan menggantikan karya-karya yang lama.

Ilmu sejarah dalam sejarahnya sendiri sangat dipengaruhi oleh ruh zamannya. Ada masanya ilmu sejarah tertular empirisme ilmu-ilmu alam sehingga terjadi apa yang dinamakan “kultus fakta”. Sejarah adalah kumpulan fakta-fakta masa lalu yang telah dipastikan, diperoleh dari dokumen-dokumen, prasasti, dan sebagainya. Tugas sejarawan adalah mengumpulkan fakta masa lalu semacam itu sebanyak-banyaknya, membawanya ke dalam ruang kerjanya, memasaknya, dan menyajikannya dengan gaya apapun yang ia suka. Namun akhirnya disadari pula bahwa tidak semua fakta tentang masa lalu itu adalah fakta sejarah.

Atas dasar apa lantas sejumlah fakta naik diputuskan tingkat menjadi fakta sejarah atau diseleksi sedemikian rupa sehingga dikeluarkan dari kelompok fakta sejarah? Jawabannya, tergantung bagaimana sejarawan menginterpretasikan itu dan mendapatinya sebagai penting atau tidak. Elemen interpretasi ini memastikan bahwa fakta sejarah tidak objektif, melainkan subjektif, mengikuti sejarawan yang mengkonstruksi fakta-fakta agar menjadi bangunan pengetahuan yang dapat diterima, dapat dimengerti, dan pula berguna.

“Sejarah disebut sebagai permainan susun gambar maha besar dengan banyak bagiannya yang hilang. Namun, masalah utamanya bukanlah berupa kekosongan. … Gambaran yang kita miliki telah dipilih dan ditentukan sebelumnya, lebih sedikit yang disebabkan oleh ketidaksengajaan daripada akibat tindakan orang-orang yang secara sadar atau tidak sadar dijiwai oleh pandangan tertentu dan berpikir bahwa fakta-fakta yang mendukung pandangan tersebut layak dipertahankan.” (h. 11-12)

Peristiwa dan fakta itu bisu, manusialah yang menjadikannya dapat menangis atau tertawa. Sejarawan bukanlah seorang yang sekedar mengumpulkan kerang-kerang dari sebuah pantai, tetapi mengevaluasi mana kerang yang bagus, mana yang tidak, dan di antara kerang yang bagus, mana yang lebih bernilai atau lebih bermanfaat.

Terkait persoalan hubungan sejarawan dan fakta-faktanya, E. H. Carr memberikan nasihat yang bagus:

  1. Fakta-fakta sejarah tidak pernah datang secara “murni” pada kita. Fakta-fakta tersebut selalu dibiaskan melalui pikiran pencatatnya. Karena itu, jika ingin melakukan pekerjaan sejarah, atau membaca sejarah, perhatian awal seharusnya bukan pada fakta-faktanya, melainkan siapa penulisnya. Pelajarilah sejarawannya sebelum mempelajari fakta-fakta yang dibawanya.
  2. Masa lalu dapat terlihat dan dimengerti oleh kita adalah karena kita memandangnya dengan mata masa kini. Sejarawan yang mencatat suatu sejarah berada dan terikat pada masanya sendiri dan kondisi-kondisi pada masa itu. Masa lalu berusaha dipahami karena itu adalah kunci untuk memahami apa yang terjadi di masa kini. Karena itu, jangan diherankan atau merasa tersinggung kalau para sejarawan dari tempat dan masa yang berbeda-beda, atas suatu peristiwa yang sama, dapat memiliki cerita dan pendapat yang berbeda-beda.

“Sebelum Anda mempelajari sejarah, pelajarilah sejarawannya. Sebelum Anda mempelajari sejarawan, pelajarilah lingkungan sosial dan historisnya.” (h. 56)

Membaca bagian ini mengingatkan saya pada buku Kontroversi Islam Awal yang ditulis Mun’im Sirry, dosen di Departeman Teologi, Univ. Notre Dame, AS. Ia dikritik cukup pedas akan sikap tak berimbangnya dan mengikuti dengan mudahnya temuan-temuan orientalis sampai-sampai memasukkan “temuan” asal Nabi Muhammad sesungguhnya dari Irak. Mengapa bisa? Mungkin jawabannya tidak akan mengherankan.

***

2# Sejarawan di Antara Masyarakat dan Individu

Sejarah, baik dalam arti penyelidikan yang dilakukan oleh sejarawan dan penyelidikan fakta-fakta masa lalu, adalah proses sosial. Dalam proses tersebut, individu-individu terlibat sebagai makhluk sosial, termasuk sejarawannya. Proses interaksi resiprokal antara sejarah dan fakta-faktanya, dialog antara masa kini dan masa lalu, adalah dialog yang terjadi antara masyarakat hari ini dan masyarakat hari lalu, bukan antara individu-individu yang abstrak dan terpisah antara satu dan lainnya.

Menjadi makhluk sosial adalah cetak diri manusia yang tidak bisa terhindarkan, suka atau tidak suka. Setiap orang dilahirkan ke dalam sebuah masyarakat, dan begitu ia dilahirkan, dunia akan langsung membentuknya. Lingkungan menentukan karakter pemikirannya. Pemikiran para sejarawan sama seperti pemikiran manusia lainnya: dibentuk oleh lingkungan ruang dan waktunya, dicetak dalam suatu cetakan sosial dan politik pada masanya. Sejarawan yang paling mengenal diri dan situasi sosial-politiknya hari ini adalah yang paling tahu apa yang musti dicarinya di masa lalu dan dengan cara bagaimana. “Sejarah yang besar adalah sejarah yang penulisannya diterangi oleh pandangan masalah-masalah masa kini di masyarakatnya.” (h. 46)

Apa yang dicari sejarawan di masa lalu bukanlah perilaku individu-individu di masa lalu, melainkan tindakan kekuatan-kekuatan sosial yang di dalamnya terlibat individu-individu. Ada penyebab-penyebab sosial yang mendalam atas suatu peristiwa sejarah, dan kurang tepat jika seorang sejarawan menyalahkan tindakan dari seorang tokoh atas suatu tragedi atau mengeluk-elukan seorang yang lain atas suatu pencapaian, karena peristiwa itu sendiri bukanlah akibat aksi individu. Ada jutaan orang yang namanya tak dikenal yang bertindak, sedikit banyak secara tidak sadar, dan bersama-sama membentuk suatu kekuatan sosial yang menggulirkan peristiwa-peristiwa sejarah.

Peristiwa sejarah secara kasar adalah resultan dari gaya-gaya yang ada di masyarakat, yang dimunculkan kelompok-kelompok individu atau individu-individu yang terdorong oleh kepentingan dan tujuan masing-masing. Peristiwa sejarah sering berada di luar niatan manusia orang per orang atau kelompok per kelompok; di luar jangkauan kuasa dan kontrol manusia. Peristiwa atau fakta sejarah adalah hasil dari hubungan antarmanusia dalam masyarakat; adalah kekuatan-kekuatan sosial yang dihasilkan dari tindakan para individu dan memberikan hasil yang sering kali berbeda dan tidak jarang bertolak belakang dengan yang diharapkan oleh mereka sendiri. (h. 66)

Ketika membaca bagian ini, saya mencatat hal penting, yaitu satu lagi argumen untuk meminta orang-orang penggemar teori konspirasi berhenti memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia, yang tidak sesuai dengan harapan mereka, sebagai hasil konspirasi individu-individu atau sekelompok individu yang menjadi lawan atau musuh mereka. Saya memahami orang-orang semacam itu adalah yang tidak memahami hakikat perjalanan umat manusia: tidak ada aktor dalam bentuk individual maupun kelompok yang begitu berkuasa sehingga mampu menyetir jalannya sejarah sesuai keinginan mereka.

Dalam arena kehidupan bernama masyarakat, segala macam konflik dapat terjadi. Setiap orang menyadari visi dan misi masing-masing, tetapi apa yang terjadi sebagai hasil dari macam-macam visi dan misi yang saling bertemu, bersahabat atau bertempur, itu diluar kendali manusia, atau dengan bahasa yang lebih membesarkan iman: itu kehendak Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui, sehingga ketetapan-Nya-lah yang terjadi.

***

3# Sejarah dan Persoalan Nilai

Ketika membaca bab “Sejarah, Sains, dan Moralitas”, saya teringat sebuah diskusi pendek di Facebook di laman seorang teman. Tulisannya menyinggung sejarah kelam masa Khalifah Utsman yang berakhir wafat terbunuh dalam demonstrasi masyarakat yang tidak puas, salah satunya karena persoalan nepotisme dan indikasi “mengumpul-ngumpulkan harta”. Sebagian pembacanya tidak senang dengan tulisan itu. Alasan pertama, karena sulit dipercaya bahwa seorang khalifah terkemuka Islam melakukan perbuatan yang melanggar hukum itu. Alasan kedua, sekalipun penyebab peristiwa itu benar demikian, apa gunanya membuka persoalan itu dan membuat orang yang awam sejarah makin kebingungan. Si penulis sendiri merasa baik-baik saja karena merasa dengan kedewasaan berpikirnya, ia berharap mengetahui sisi gelap dari sesuatu akan membuahkan pelajaran penting. Ada baiknya sejarah Islam pascanabi dilihat kembali untuk kebaikan umat Islam zaman sekarang.

Setidaknya peristiwa kecil di atas menyangkut beberapa persoalan dalam ilmu sejarah: Bagaimana sebaiknya kita memberikan penilaian atas peristiwa sejarah?

Sejarah memberikan pelajarannya bukan dari peristiwa sejarah itu sendiri, melainkan dari kemampuan manusia menarik suatu generalisasi atas pelajaran, “kesimpulan hubungan-hubungan dari hal-hal”, yang terkandung dalam satu peristiwa di masa lalu ke peristiwa yang lain di masa kini yang sedang kita jalani. Ibarat jangan terperosok dalam lubang yang sama dua kali. Pengetahuan tentang sebab akibat misalnya, meskipun semu saja sifatnya yang sebenarnya, mempengaruhi perilaku kita dan mengarahkan kita. Pelajaran dari sejarah TIDAK memberikan prediksi yang spesifik benar akan terjadi demikian, MELAINKAN panduan umum saja valid dan bermanfaat.

Apa pelajaran yang dapat ditarik dari sejarah? Apa saja dan bermacam-macam. Setiap orang dapat menarik pelajaran unik masing-masing dari suatu narasi sejarah yang sama, sesuai kepentingan dan tujuan masing-masing. Uniknya, pelajaran sejarah selalu dekat dengan moral lantaran sifatnya yang sugestif. Jika ingin begini, sebaiknya begitu, belajar dari sejarah. Di sini nilai yang dianut seseorang memainkan peran penting, karena ia pasti memandang sejarah dengan kacamata nilainya: penyebab yang seperti apa memunculkan akibat yang seperti apa, dan seterusnya.

“Pencarian penyebab dalam sejarah mustahil tanpa mengacu pada nilai-nilai … di belakang pencarian penyebab selalu terdapat, secara langsung ataupun tidak langsung, pencarian terhadap nilai-nilai.” (Meinecke, h. 144)

Tetapi, antara orang awam yang memanfaatkan sejarah dan sejarawan memiliki sikap yang berbeda tentang apakah mereka harus menghakimi atau tidak seorang aktor sejarah, mungkin atas aneka cela yang dimiliki aktor tersebut. Kecenderungan sejarawan berbeda-beda dari masa ke masa. Sejarawan sekarang cenderung tidak merasa perlu memberikan penilaian moral baik-buruk, terungkap misalnya lewat pujian atau celaan, cap pahlawan atau penjahat, pada kehidupan pribadi karakter dalam sejarah. Pertama, cela dalam kehidupan pribadi tidak lantas melunturkan nilai dari pencapaian sejarah mereka secara keseluruhan. Kedua, tidak ada untungnya bagi orang masa kini dari diumumkannya dosa seorang tokoh sejarah.

Sejarawan bukanlah seorang hakim. Adapun jika ia harus menjadi hakim, ia bukan hakim bagi individu, melainkan bagi peristiwa, lembaga, atau kebijakan orang-orang di masa lalu, karena itu akan lebih bermanfaat. Sebaiknya tidak ada satu orang yang dijadikan kambing hitam atas persoalan kolektif suatu masyarakat, juga tidak mengelu-elukan satu orang tokoh saja atas pencapai kolektif banyak orang yang tidak dikenal. Kembali kepada contoh, tidak ada gunanya menyalahkan Utsman bin Affan, tetapi lihatlah anteseden dan konsekuensi peristiwa itu secara keseluruhan, lembaga-lembaga yang bermain, atau situasi sosial politik masyarakat masa itu yang menjadikan Utsman seperti itu.

Ketiga, nilai yang digunakan orang untuk menghakimi sendiri berakar dalam sejarah. Kepercayaan yang dipegang dan standar penilaian yang dibangun adalah bagian dari sejarah, dan dapat diselidiki sejarahnya.

Kembali kepada contoh, persoalan nepotisme barulah pada zaman ini sangat dibenci karena didikan anti-KKN yang berakar pada paradigma sistem pemerintahan yang modern, yang tidak menyukai pemberian jabatan selain berdasarkan kompetensi individu. Namun, berabad-abad di Asia, bahkan masih sampai sekarang, manusia-manusia hidup dengan mengandalkan ikatan dan dukungan kekeluargaan. Orang yang dipercayai adalah keluarga dekat, bukan orang lain yang berkompetensi. Kadar dosa nepotisme berubah-ubah sepanjang zaman. Hal yang sama terjadi pada persoalan-persoalan yang lain. Di sini bahkan muncul pembelaan, nepotisme Utsman bukan salah Utsman, melainkan zamannya yang memang begitu.

4# Apa Itu Kemajuan?

Kita menilai suatu kemajuan telah terjadi dari membandingkan perubahan di antara dua kondisi, di masa lalu dan di masa sekarang. Hal-hal yang terjadi sesuai harapan kita akan keadaan yang lebih baik, kita sebut sebagai kemajuan, sedangkan yang sebaliknya kita sebut sebagai kemunduran. Itu konsep yang sederhana tentang apa itu kemajuan. Namun, di konsep yang lain kita mendapati bahwa semua hal adalah kemajuan; karena semua berjalan bersama waktu yang arahnya tidak dapat mundur. Apa yang dikatakan baik kemajuan maupun kemunduran, semua adalah kemajuan.

Bagaimanakah sifat dari suatu kemajuan? Sebuah paparan menarik saya dapatkan. “… tidak ada orang waras yang pernah mempercayai jenis kemajuan yang bergerak dalam garis lurus tak terputus, tanpa kemunduran, pembelokan, dan keterputusan dalam kontinuitas, yang menyebabkan kemunduran tajam, tidak harus bersifat fatal bagi kepercayaan.” (h. 156)

Selama ada periode maju, akan ada periode kemunduran, jika kita melihat dunia dari sisi satu peristiwa saja, sementara kita luput dari melihat peristiwa lain atau peristiwa yang sama dari sisi yang lain. Kemajuan terus terjadi, tetapi dipergilirkan. Apapun kemajuan yang teramati dalam sejarah tidaklah kontinu baik dalam konteks waktu maupun tempat. Maju di sini, mundur di sana. Mundur dahulu, maju kemudian. Hari ini kemajuan hinggap di kelompok manusia yang satu, hari esok ia hinggap di kelompok manusia yang lain.

“… kelompok … yang memainkan peran utama dalam gerak maju kebudayaan dalam satu periode mustahil akan memainkan peran serupa dalam periode berikutnya. Alasannya adalah kelompok tersebut akan terlalu dalam menjiwai tradisi, kepentingan, dan ideologi dari periode sebelumnya untuk dapat mengadaptasikan dirinya sendiri terhadap tuntutan dan kondisi periode berikutnya.” (h. 157)

“… periode yang dilihat oleh satu kelompok sebagai periode kemunduran bisa dilihat oleh kelompok lainnya sebagai periode kelahiran gerak maju baru. Kemajuan bukan dan tidak bisa berarti kemajuan yang setara dan bersamaan bagi semua.” (h. 157-158) Karena itu, tidak ada alasan untuk bersikap skeptis pada kehidupan. Jika kamajuan identik dengan kekuasaan atas dunia, maka umat manusia sudah melihat bagaimana kekuasaan manusia bergeser antarbenua, antarbangsa, dan antarkelas. Kemajuan tidak ditandai dengan kesempurnaan, menghadirkan surga di bumi, melainkan progresivitas potensi manusia dari masa ke masa.

***

Buku ini benar-benar tak ada sangkut pautnya dengan agama, tetapi membacanya, sepanjang membacanya, saya selalu teringat akan firman Allah yang banyak sekali itu, yang intinya belajarlah dari akibat perbuatan orang-orang terdahulu. Sejarah selalu diusahakan tidak lantas menjadi teologi yang menyerahkan semua hal pada kuasa Tuhan sebagai satu-satunya penjelasan atas peristiwa, atau sekedar menginspirasi sastra dan dunia hiburan. Tetapi, dengan kacamata sebagai orang yang beriman, demikianlah yang Allah perintahkan agar manusia memahami dirinya sebagai umat dari masa ke masa dan berjalan ke masa depan di jalan yang benar. Jika kita suka belajar sejarah bukan hanya mencari pengetahuanya, tetapi hakikat dan maknanya bagi hidup kita, sungguh kita telah berusaha mengamalkan perintah Allah untuk belajar.

Buku Apa Itu Sejarah? benar-benar sangat menarik dan menggugah, padahal saya bukan mahasiswa sejarah. Membaca buku ini, terdapat sejumlah manfaat besar, yang bagi saya adalah memberikan pedoman bagaimana sebaiknya menyikapi pengetahuan-pengetahuan sejarah yang datang kepada kita dan bertindak bijak terhadapnya. Apakah pengetahuan sejarah itu membuat kita memiliki pandangan yang lebih terang tentang kehidupan, ataukah justru menggelapkannya; membantu kita menyelesaikan masalah hari ini atau memperkeruh situasi yang penuh masalah.

Akhir kata, saya cuma dapat berujar, “Subhanallah, alhamdulillah… Allah telah menjadikan manusia makhluk yang mampu berpikir.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s