Zaltman Metaphor Elicitation Technique (ZMET) untuk Penelitian Psikologi

ZALTMAN METAPHOR ELICITATION TECHNIQUE (ZMET) UNTUK PENELITIAN PSIKOLOGI[1]

 

Aftina Nurul Husna

Magister Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Pengertian

Zaltman Metaphor Elicitation Technique (ZMET) adalah salah satu teknik dalam penelitian kualitatif yang memanfaatkan wawasan dari mind science untuk membuka pengetahuan yang tidak disadari dalam rangka memahami keyakinan, perilaku, dan keputusan yang dibuat seseorang dengan memanfaatkan media gambar (imagery). ZMET adalah teknik multidisiplin yang melibatkan sejumlah langkah yang didesain untuk memasuki arena kesadaran seseorang yang tidak terakses dengan metode penelitian biasa. Ia disebut sebagai metodologi hibrid karena berdasar pada bermacam-macam domain, seperti komunikasi verbal dan nonverbal, sosiologi visual, antropologi visual, kritisisme literer, semiotika, imageri mental, nurosains kognitif, dan fototerapi atau terapi seni (Coulter, 2006; Zaltman, 1995).

Dasar filosofis metode ini adalah bahwa pemahaman yang mendalam akan menghasilkan perspektif dan empati. Cara terbaik untuk mendapatkan pemahaman ini adalah dengan mengeksplorasi pikiran tak sadar. Pemahaman ini mengintegrasikan pengetahuan dengan menghubungan orang-orang untuk menciptakan suatu narasi. Narasi ini berpotensi memberdayakan karena akan membuka wawasan baru yang berharga dan mendukung pengambilan keputusan yang efektif (OlsonZaltman, http://olsonzaltman.com).

 

Sejarah ZMET dan Dasar Pemikiran

ZMET berlatar belakang pada masalah di bidang pemasaran terkait banyaknya kegagalan upaya pemasaran. Pola masalah pemasaran selalu sama: dari riset pasar konsumen menyatakan apa yang mereka inginkan, perusahaan membuatnya berdasarkan itu, tetapi ketika barang tersebut jadi dan tersedia, mereka tidak membelinya. Dipikirkan sebabnya adalah karena kemungkinan konsumen dan pelanggan tidak tahu apa yang mereka inginkan, atau peneliti menggunakan alat yang salah untuk mengungkap keinginan mereka.

Gerald Zaltman, seorang profesor dari Harvard Business School dan anggota dari Executive Committee of Harvard University’s Mind, Brain, and Behavior Interfaculty Initiative, melakukan studi di Nepal pada 1990. Ia meminta penduduk untuk mengambil gambar dengan kameranya untuk mengetahui bagaimana penduduk menjelaskan desa mereka. Zaltman mencermati dalam beberapa fotonya, potret orang yang diambil tidak lengkap, tepatnya tidak mengikutkan bagian kaki. Penduduk di sana tidak beralas kaki dan tidak diikutkannya bagian kaki “secara tidak sengaja” adalah upaya untuk menutupi potret kemiskinan. Foto-foto yang dihasilkan mengungkapkan hal-hal yang sulit disampaikan dalam kata-kata. Insight ini memunculkan pemikiran untuk menggunakan imageri untuk memfasilitasi penggalian mendalam untuk mendapatkan pikiran dan perasaan sebenarnya dari seseorang (OlsonZaltman, http://olsonzaltman.com).

Zaltman berpendapat bahwa banyak hal terjadi dalam pikiran, tetapi sering seseorang tidak menyadarinya. Kebanyakan hal yang mempengaruhi perkataan dan perbuatannya terjadi di level yang tidak disadari tersebut. Dibutuhkan suatu teknik untuk mendapatkan pengetahuan tersembunyi tersebut, dalam rangka mendapatkan hal-hal yang orang tidak tahu bahwa sesungguhnya mereka tahu atau mereka inginkan. Karena itu, ia menciptakan ZMET.

 

ZMET sebagai Teknik Proyektif

ZMET merupakan salah satu variasi dalam wawancara sebagai metode pengumpulan data, tepatnya dengan memanfaatkan teknik proyektif. Teknik proyektif digunakan untuk mengatasi masalah pengumpulan data dengan survei atau wawancara tradisional yang mengandalkan pertanyaan langsung. Partisipan sering sulit merespon pertanyaan-pertanyaan semacam itu untuk memberikan pandangan mereka tentang sesuatu hal.

ZMET berdasar pada beberapa premis (Zaltman, 1996, 1997), yaitu:

  1. Thought is Image-Based, Not Word-Based

Pikiran-pikiran manusia muncul dari gambar-gambar, yang merupakan representasi neural yang diorganisasikan secara topografis. Ketika neuron teraktivasi, maka gambar-gambar dapat dialami sebagai pikiran sadar. Sebuah gambar adalah representasi internal yang digunakan untuk pemrosesan informasi. Karena sebagian besar stimuli mencapai otak melalui sistem visual, maka gambar-gambar sering bersifat visual. Bahasa verbal memainkan peran penting dalam representasi, penyimpanan, dan komunikasi pikiran, tetapi bahasa verbal tidak sama dengan pikiran. Karena itu, dengan mengembangkan metode untuk melihat aktivitas imagic secara lebih langsung, partisipan dan peneliti dapat bergerak lebih dekat pada pikiran dan mencapai representasi pikiran yang lebih lengkap.

 

  1. Most Communication is Nonverbal

Kebanyakan makna disampaikan secara nonverbal dan bahasa nonverbal mendominasi komunikasi pikiran. Meski demikian, kebanyakan insturmen penelitian manusia bersifat verbosentris, yang sangat mengandalkan bahasa literal untuk mengumpulkan, mensintesis, dan melaporkan respon dan gagasan. Petunjuk-petunjuk nonverbal sering tidak terproses secara sistematis oleh peneliti dan tidak ikut dilaporkan. Karena itu, metode-metode pengumpulan data yang sifatnya verbosentris itu perlu diperkaya lagi sehingga mengakomodasi ekspresi nonverbal dari persepsi, belajar, dan pikiran.

 

  1. Metaphor is Central to Thought

Metafora meliputi pemahaman dan pengalaman suatu hal dengan menggunakan istilah lain; adalah persepsi tentang suatu hal seakan-akan ia adalah hal yang berbeda. Metafora sangat penting bagi pemahaman pikiran manusia karena ia adalah media untuk mengemukakan dan mengekspresikan gambaran nonverbal. Penciptaan pemikiran dibentuk oleh metafora. Metafora linguistik merefleksikan konseptulisasi yang mendasari pengalaman. Dengan memahami metafora, maka usaha memaknai apa yang dipahami menjadi lebih terbantu, dan perhatian dan proses perseptual akan lebih terarah. Karena itu, dikembangkan metode untuk memunculkan dan menganalisis metafora secara tersistematis dalam rangka meningkatkan pengetahuan yang diperoleh dari pendekatan yang literal, verbosentris.

 

  1. Metaphors are Important in Eliciting Hidden Knowledge

Dari penelitian bidang psikoterapi, ditemukan bahwa penggunaan metafora membantu seseorang menjadikan pengalaman yang tidak disadari menjadi lebih disadari dan mampu dikomunikasikan. Karena proses kognitif tersebut berada di luar kemampuan bahasa literal, metafora dapat membantu memahami pengalaman yang kadang salah dibahasakan atau tidak bisa dibahasakan dengan tepat. Metafora memiliki peran signifikan karena mereka dapat berperan untuk menyembunyikan atau mengungkapkan pikiran dan perasaan. Dengan menggunakan metafora, maka makna terdalam dari pengalaman yang sulit diekspresikan atau akan terus tersembunyi dengna metode yang biasa, dapat terungkap.

 

  1. Cognition is Embodied

Representasi yang lebih kaya atas pikiran abstrak dapat dicapai dengan menggabungkan ke dalam metode riset pemunculan dan penggalian metafora yang berkaitan dengan sistem motorik dan perseptual (indera) dan gerakan fisik dan rasa orientasi spasial. Metafora berdasar pada sistem badaniah yang sentral bagi ekspresi pikiran abstrak. Gambaran skemata adalah pola-pola berulang yang muncul dari pergerakan-pergerakan jasmani dan manipulasi atau persepsi interaksi dengan objek-objek. Karena itu, istilah penjajaran (juxtaposition; seperti over/ di atas) merefleksikan hierarki sosial, arah, lokasi, dan kesimpulan, sementara warna (seperti, biru) dan orientasi (seperti, bawah) merefleksikan mood. Warna, rasa, bau, atau suara tertentu dapat menunjukkan suatu metafora.

 

  1. Emotion and Reason are Equally Important and Commingle in Decision Making

Emosi berperan penting dalam pengambilan keputusan, tetapi kebanyakan metode penelitian terlalu condong pada peran akal semata. Kebanyakan metode mengumpulkan dan menampilkan informasi seakan-akan keputusan adalah hasil dari proses logis dan sadar semata. Pada kenyataannya, emosi dan logika tidak saling berdiri sendiri dan harus diperlakukan sebagai dua kekuatan yang berpadu. Karena itu, dikembangkan metode penelitian yang memungkinkan baik pemikiran maupun emosi untuk muncul.

 

  1. Most Thought, Emotion, and Learning Occur Without Awareness

Perasaan, pengalaman sadar dari emosi, hanyalah puncak dari gunung es. Kebanyakan emosi dan fungsi kognitif, yang membimbing pikiran dan perilaku, terjadi tanpa disadari; kebanyakan kehidupan mental bersifat tacit. Untuk bisa memasuki keadaan mental yang tidak disadari tetapi aksesibel tersebu, metode penelitian perlu terlibat dengan partisipan dalam cara yang memungkinkan mereka membawa keadaan yang tidak disadari ke level kesadaran. Metafora adalah mekanisme dasar untuk melakukan itu.

 

            Peran Gambar

Dalam metode ini, gambar memainkan peran penting sebagai media untuk memunculkan metafora. Gambar adalah stimuli selama wawancara mendalam untuk mengeksplorasi dan menggali pikiran dan perasaan partisipan. Penggunaan gambar ini berdasarkan pada temuan psikologi kognitif bahwa sebagian besar informasi mencapai otak manusia melalui sistem visual, yang banyak komunikasinya bersifat nonverbal. manusia berpikir dalam bentuk gambaran-gambaran (images), bukan kata-kata (Coulter, 2006; Zaltman, 1996).

Gambar-gambar yang dipilih oleh partisipan berfungsi sebagai titik masuk bagi eksplorasi konsep-konsep yang dimilikinya. Gambar tidak hanya merepresentasikan konsep-konsep lower-order, tetapi juga konstruk-konstruk higher-order yang mengandung informasi yang ekstensif dan mampu mendefinisikan atribut. Kekuatan gambar diharapkan dapat mengatasi kekurangan teknik wawancara biasa yang cenderung bersifat verbocentrics, dan tidak sesuai dengan kecenderungan cara berpikir manusia (Coulter, 2006).

Dengan menggunakan gambar, maka metafora akan menstimulasi aktivitas-aktivitas dalam pikiran manusia dan membantu mengungkapkan pikiran baik yang sadar maupun tidak disadari. Pemikiran yang tidak disadari adalah hasil berpikir yang tidak disadari atau samar-samar disadari dan butuh upaya lebih untuk diartikulasikan. Lebih jauh, teknik ini dikembangkan juga untuk memberikan kesempatan bagi partisipan mengungkapkan informasi sensoris non visual yang sama pentingnya, seperti suara, bau, sentuhan, dan rasa, serta emosi (Zaltman, 1996).

 

ZMET dan Penelitian Ilmu Pemasaran dan Psikologi

ZMET adalah teknik untuk riset pasar dan pemasaran karena itu berdasarkan pencarian literatur, hampir semua penelitian yang menggunakan ZMET adalah penelitian-penelitian di bidang perilaku konsumen dan pemasaran dalam rangka menemukan strategi pemasaran yang lebih efektif. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa teknik ini dapat digunakan untuk penelitian di bidang lain, terutama psikologi. Sebabnya adalah landasan pemikiran ZMET yang murni memanfaatkan temuan dari bidang psikologi kognitif tentang proses berpikir manusia dan ketidaksadaran manusia. Selain itu, apa yang berusaha diungkap ZMET dalam riset pemasaran adalah aspek psikologis dari perilaku konsumen, berupa pikiran dan perasaannya yang terdalam.

Beberapa penelitian yang menggunakan teknik ini menunjukkan penggunaan tenik ZMET di bidang sosial-organisasi, teknologi, proses kognitif dan emosional, dan motivasi. Contoh penelitiannya adalah sebagai berikut:

  • Penggunaan medium proyektif gambar untuk menghasilkan data metaforis dilakukan dalam penelitian Belk, Ger & Askegaard (2003) tentang nafsu dan hasrat konsumen. Mereka mendapati metode ini sangat kaya dalam menangkap fantasi, mimpi, dan imajinasi visual yang berkaitan dengan nafsu para partisipan sebagai konsumen.
  • Chen (2010) meneliti tentang perbedaan karakteristik antara turis acara olahraga yang perempuan dan yang laki-laki dengan menggunakan ZMET. Penggunaan teknik ini, dipadukan dengan metode grounded theory, membantu pengungkapan hubungan antara keikutsertaan pada acara olahraga dengan tujuan-tujuan tertentu, seperti tanggung jawab sosial, aktualisasi diri, dan gaya hidup sehat. Studi ini berimplikasi pada manajemen acara olahraga dan strategi pemasarannya.
  • Christensen dan Olson (2002) meneliti tentang model mental yang dimiliki konsumen pada produk. Penelitian ini menemukan struktur pengetahuan konsumen atas produk baik berupa keyakinan (kognitif) maupun perasaan (emosional), dan bagaimana struktur tersebut teraktivasi oleh situasi konsumsi dan mendorong keterlibatan mereka dalam suatu aktivitas.
  • Clark (2008) dalam penelitian disertasinya mengkaji tentang makna yang dibentuk oleh para pemain gim komputer ketika mereka “bermain peran” dalam dunia elektronik sebagai avatar. ZMET digunakan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang bagaimana pemain menginterpretasikan pesan yang ingin disampaikan oleh pencipta gim, berfokus pada hubungan yang terbentuk antara pemain dengan karakter avatar on-screen-nya.
  • Coulter, Zaltman & Coulter (2001) meneliti tentang pengaruh iklan dengan cara mengetahui persepsi, kesan, makna, dan sikap yang diberikan konsumen dengan metode ZMET yang disertai analisis cross-case.
  • Khoo-Lattimore, Thyne & Robertson (2009) meneliti persoalan di seputar isu yang berkaitan dengan pembelian properti, tepatnya pada proses pengambilan keputusan. Dengan ZMET, peneliti menemukan hal lain yang sebelumnya belum pernah diinvestigasi secara empiris, yaitu motif mendalam yang melatarbelakangi keputusan konsumen. Metode ini mendorong partisipan penelitian untuk berusaha mengidentifikasi dan mendiskusikan faktor-faktor yang membentuk keputusan memilih rumah.
  • Vorell (2003) mengaplikasikan ZMET untuk meneliti dalam konteks organisasional untuk mengetahui budaya organisasi. Penelitian ini membandingkan subkultur antara mahasiswa kulit hitam dan kulit putih di sebuah universitas dan menemukan perbedaan persepsi mental dan emosional tentang pengalaman berada di universitas.

 

Prosedur ZMET

Pada tahap persiapan, sebelum wawancara dilakukan, partisipan akan diminta untuk mencari/ memilih sejumlah gambar (10-14 gambar) yang mengekspresikan pemikiran dan perasaan mereka tentang topik penelitian. Gambar tersebut dapat berupa potongan gambar dari majalah atau koran, atau gambar dari internet yang dicetak, atau gambar buatan sendiri.

Pada tahap wawancara secara individual, prosedur pengambilan data yang dilakukan adalah sebagai berikut (Coulter, 2006; Purwanto, 2015; Zaltman, 1996):

  1. Story Telling

Partisipan diminta mendeskripsikan isi dari setiap gambar (satu per satu) berdasarkan pikiran dan perasaannya. Peneliti dapat mengajukan pertanyaan seperti: “Mengapa bapak/ibu mengambil gambar ini/ seperti ini?” Ketika partisipan bercerita, peneliti dapat melakukan penggalian (probing). Situasi dibuat seperti mengobrol biasa dan santai. Peneliti dapat mengajukan pertanyaan penggali seperti. Di akhir, untuk menyimpulkan, peneliti mengajukan pertanyaan: “Kalau bapak/ibu dapat mengungkapkan dalam satu frase atau satu kata saja mengenai apa yang kita diskusikan dari gambar ini, frase/ kata apakah itu?”

  1. Missed Images

Partisipan ditanya apakah ada gagasan penting yang ingin ia ekspresikan tetapi ia tidak mampu menemukan gambar-gambar yang relevan. Peneliti dapat menggalinya dengan bertanya: “Apakah ada gagasan lain yang ingin Anda dapatkan gambarnya, tetapi tidak Anda dapatkan gambar yang tepat? Tolong deskripsikan gagasan pikiran atau perasaan itu. Coba beritahukan saya gambar apa yang Anda inginkan untuk gagasan tersebut.”

Fungsi gambar yang hilang adalah untuk memunculkan hal penting yang awalnya tidak terungkap karena terlupa, atau karena alasan lainnya. Gambar yang hilang dapat bersifat menggantikan atau melengkapi gambar yang sudah ada. Partisipan dapat menjawab apapun, termasuk jika baginya tidak ada gambar yang hilang atau semua gambar sudah lengkap atau sesuai dengan keinginannya.

  1. Sorting Task

Partisipan diminta mengurutkan gambar ke dalam urutan yang bermakna. Peneliti dapat mengatakan: “Tolong gambar-gambar ini disusun sedemikian rupa sehingga bermakna bagi Anda. Saya tidak memberi aturan. Silakan menggunakan waktu senyamannya. Apakah mau ditumpuk atau dijajarkan, silakan. Yang penting urutan tersebut bermakna bagi bapak/ibu.”

  1. Construct Elicitation

Sambil mendengarkan cerita partisipan tentang gambar-gambarnya, peneliti mencatat kata-kata penting apa saja yang menggambarkan pengalaman partisipan. Kata-kata penting itu adalah konstruk yang dimunculkan.

  1. Most Representative Picture

Peneliti bertanya: “Dari gambar-gambar ini, mana yang paling merepresentasikan pemikiran, perasaan, atau diri Anda?”

  1. Opposite Image

Peneliti bertanya: “Dari gambar yang representatif ini, gambar mana yang menjadi lawan dari gambar tersebut.” Gambar yang berlawanan bisa bersumber dari gambar-gambar yang sudah ada, bisa juga gambar yang tidak ada.

  1. Sensory Images

Partisipan diminta mendeskripsikan apa rasa, bau, tekstur, suara, warna, dan emosi yang berasosiasi dengan gambar yang paling representatif baginya. Peneliti bertanya:

  • Kalau Anda mengasosiasikan gambar ini dengan rasa (yang bisa dikecap), maka rasa apakah itu? Mengapa?
  • Kalau Anda asosiasikan dengan yang bisa diraba, seperti meraba benda apakah itu? Mengapa?
  • Kalau diasosiasikan dengan bau, bau apa? Mengapa bapak/ibu asosiasikan dengan bau itu?
  • Kalau Andaasosiasikan dengan suara, suara apakah itu? Mengapa?
  • Kalau Anda kaitkan dengan warna, warna apa? Mengapa?
  1. Mental Map

Partisipan diminta menciptakan peta atau model kausal menggunakan gambar-gambarnya. Peta atau model ini bersifat bebas dan personal/ individual bagi setiap persponden. Peneliti dapat meminta partisipan dengan berkata: “Tolong bapak/ibu susun gambar-gambar ini berdasarkan hubungan sebab akibat.”

  1. The Summary Image

Peta atau model yang partisipan buat didokumentasikan dengan foto, juga catatan-catatan peneliti.

 

Tahap terakhir adalah membangun konsensus pengalaman keseluruhan partisipan penelitian. Peneliti menciptakan peta atau model kausal yang memperlihatkan konstruk-konstruk yang paling penting dari seluruh responden. Mental map utama berisikan konsensus seluruh partisipan. Dari puluhan gambar dari seluruh partisipan dapat muncul ratusan ekspresi. Ratuan ekspresi tersebut kemudian direduksi (dikelompok-kelompok/ dikategorisasi, dengan mempertimbangkan penilaian mana tema utama mana tema pinggiran berdasarkan makna kata). Setelah itu dilakukan diskusi intra dan interjudgement dengan ahli sampai tercapai saturasi. Hasil akhirnya, akan diperoleh variabel-variabel dari berbagai partisipan dan hubungan-hubungannya dalam bentuk skema diagramatik.

 

Keuntungan dan Keterbatasan ZMET

ZMET memberikan hasil yang mengesankan di bidang pemasaran dan luas digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar untuk menyusun strategi pemasaran produk mereka. Namun demikian, teknik ini memiliki keterbatasan tertentu, yaitu:

  1. Latihan khusus diperlukan untuk melakukan prosedur ZMET.
  2. Penelitian ini bersifat padat karya (labor-intensive) atau membutuhkan peran banyak orang.
  3. Hasilnya tidak dapat digeneralisasikan pada publik keseluruhan.

Dalam perkembangannya, penelitian dengan ZMET dapat dilakukan secara “in situ”, di mana wawancara ZMET berlangsung di rumah, kantor, atau kendaraan partisipan. Partisipan tidak mengumpulkan gambar-gambar melainkan mengumpulkan objek-objek personal yang merepresentasikan pikiran dan perasaan mereka. Karena itulah, ZMET mulai menggunakan sejumlah gagasan wawancara kontekstual (Goffin, Lemke, & Koners, 2010).

 

Referensi

Belk, R. W., Ger, G., & Askegaard, S. (2003). The fire of desire: A multisited inquiry into consumer passion. Journal of Consumer Research, 30(3), 326-351.

Chen, Po-Ju. (2010). Differences between male and female sport event tourists: A qualitative study. International Journal of Hospitality Management, 29, 277-290.

Christensen, G. L. & Olson, J. C. (2002). Mapping consumers’ mental models with ZMET. Psychology & Marketing, 19(6), 477-502. doi: 10.1002/mar.10021

Clark, B. R. (2008). Using the ZMET Method to understand individual meanings created by video game players through the player-Super Mario avatar relationship. Thesis. Brigham Young University – Provo.  Diunduh dari: http://scholarsarchive.byu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=2349&context=etd

Coulter, R. A. (2006). Consumption experience as escape: An application of Zaltman Metaphor Elicitation Technique. Dalam R. W. Belk. Handbook of qualitative research methods in marketing. Northampton, MA: Edward Elgar Publishing.

Coulter, R. A., Zaltman, G., & Coulter, K. S. (2001). Interpreting consumer perceptions of advertising: An application of the Zaltman Metaphor Elicitation Technique. Journal of Advertising, 30(4), 1-21.

Goffin, K., Lemke, F., & Koners, U. (2010). Identifying hidden needs: Creating breakthrough products. Basingstoke: Palgrave Macmillan.

Khoo-Lattimore, C., Thyne, M., & Robertson, K. (2009). The ZMET method: Using projective technique to understand consumer home choice. The Marketing Review, 9(2), 139-154. doi: 10.1362/146934709X442674

Olson Zaltman. Empowering Marketers with Insight. Sumber: http://olsonzaltman.com/

Purwanto, H. B. (2015). Zaltman Metaphor Elicitation Technique (ZMET). Notulensi Workshop Behavioral Research Methods. Fak. Psikologi UGM, 19 Agustus 2015.

Vorell, M. S. (2003). Application of the ZMET methodology in an organizational context: Comparing black and white student subcultures in a university setting. Thesis. Miami University, Ohio. Diunduh dari:  https://etd.ohiolink.edu/rws_etd/document/get/miami1059150389/inline

Zaltman, G. (1996). Metaphorically speaking: New Technique uses multidisciplinary ideas to improve qualitative research. Marketing Research, 8(2), 13-20.

Zaltman, G. (1997). Rethinking market research: Putting people back in. Journal of Marketing Research, 34(4), 424-437.

Zaltman, G. & Coulter, R. H. (1995). Seeing the voice of the customer: Metaphor-based advertising research. Journal of Advertising Research, 35(4), 35-51.

[1] Ditulis dalam rangka persiapan studi diagnostik untuk penyusunan Rencana Induk Pengembangan Kampus (RIPK) Bidang Sains Psikologi Fak. Psikologi UGM, 2015

One thought on “Zaltman Metaphor Elicitation Technique (ZMET) untuk Penelitian Psikologi

  1. Pingback: Untuk Psikologi 30 Tahun Lagi Bag. 3: Pengetahuan Baru tentang Metode Penelitian | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s