Untuk Psikologi 30 Tahun Lagi Bag. 2: Kompleksitas Impian

Tadi siang, beberapa saat sebelum rapat dimulai, kami mahasiswa melakukan pembicaraan kecil dengan seorang dosen. Beliau bertanya kepada kami satu per satu, “Kamu pribadi ingin psikologi di masa depan seperti apa?” Singkatnya begitu. Itu pertanyaan yang sungguh sulit untuk dijawab. Ketika giliran saya tiba, saya hanya memberikan jawaban standar berkaitan dengan masalah yang klasik Indonesia-belum-punya-psikologinya-sendiri.

Saya tidak puas dengan dengan jawaban saya sendiri. Di perjalanan pulang, mengendarai sepeda motor sambil setengah melamun, yang saya pikirkan hanya jawaban atas pertanyaan itu. Bagaimana sebaiknya pertanyaan itu dijawab? Apa sebaiknya jawaban atas pertanyaan itu? Dan lalu saya teringat satu pemikiran yang pernah muncul ketika saya baru saja memasuki pekerjaan ini: sebuah peta pikiran, hasil brainstorming pribadi, tentang bagaimana merencanakan psikologi 30 tahun ke depan untuk mendapatkan jawaban APA.

Peta Masa Depan Psikologi

Ketika proses berjalan dan jelas apa pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan, dasar penyusunan rencana pengembangan psikologi di masa depan sesungguhnya adalah jawaban atas balon-balon pertanyaan dalam peta di atas:

1) Apa cita-cita yang dimiliki setiap orang yang berkecimpung dalam bidang psikologi?

2) Apa visi dan misi fakultas psikologi yang ingin diwujudkan?

3) Apa harapan para pakar dari disiplin ilmu lain pada psikologi?

4) Seperti apa perkembangan ilmu-ilmu lain yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan psikologi?

5) Seperti apa perkembangan psikologi terkini di negara-negara lain dan di negara sendiri?

6) Apa masalah dalam ilmu dan praktik psikologi itu sendiri yang belum terselesaikan sampai hari ini?

7) Apa masalah di masyarakat yang psikologi dapat berkontribusi untuk menyelesaikannya?

8) Apa visi dan misi, serta kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia untuk 30 tahun ke depan?

9) Apa tantangan dunia bisnis dan pasar yang perlu dijawab oleh lulusan dan produk psikologi?

10) Apa saja situasi global dan perkembangan dunia internasional yang mempengaruhi?

Persoalan melakukan systematic literature review, wawancara banyak pakar psikologi dan pakar bidang ilmu lain secara konvensional atau dengan teknik proyektif, diskusi-diskusi yang dilakukan dalam internal kampus, kuesioner-kuesioner yang disebarkan di lingkungan fakultas, dan macam-macam yang tujuannya mendiagnosa kebutuhan dan harapan, masalah-masalah yang harus dijawab dan diselesaikan, kekuatan dan kelemahan, kesempatan-kesempatan, kondisi-kondisi dan konteks, pada dasarnya adalah metode pengumpulan data untuk mengetahui jawaban atas sepuluh pertanyaan itu.

Seandainya saya ditanya kembali, “Kamu pribadi ingin psikologi di masa depan seperti apa?” jawaban terbaik yang seharusnya bisa saya berikan adalah terkait minat dan cita-cita pribadi saya. Namun, agak menyedihkan, ketika akhirnya saya merenungkannya, saya tidak tahu betul apa yang saya inginkan untuk psikologi di masa depan. Rasanya hampir-hampir kosong, tidak ada gambaran atau sedikit pun mimpi. Atau, mungkinkah sebenarnya ini hanya masalah ketidakberanian mengutarakan pendapat bukan masalah kekosongan pendapat?

Ya. Kekosongan pendapat yang sementara saja, dan sekarang saya ingin melakukan brainstorming lagi untuk mengisi kekosongan itu dengan mimpi-mimpi pribadi saya. Baik, saya akan memulai:

Pertama, terkait persoalan minimnya teori-teori psikologi yang Indonesia, berdasar asumsi bahwa perbedaan budaya dan lingkungan tempat tinggal mempengaruhi psikis dan perilaku manusia. Saya ingin pengajaran psikologi di masa depan punya fokus pada bagaimana membangun dan mengembangkan teori-teori psikologi dengan dukungan pengajaran metode penelitian yang tepat. Kuliah-kuliah metode penelitian ada baiknya diajarkan dalam konteks berupa pengejaran cita-cita ini. Kebiasaan kurang menghargai karya akademik sudah tidak patut terus dilanjutkan dan dipelihara, namun caranya bukan dengan cara memaksa karya-karya itu untuk diterapkan, melainkan dengan memperbaiki kualitas karya-karya itu sehingga layak diterapkan dalam kehidupan orang Indonesia, tidak hanya berhenti di rak-rak perpustakaan atau folder-folder dalam komputer.

Kedua, tidak mendikotomikan antara sains dan praktik psikologi sejak awal pengajaran psikologi pada mahasiswa. Paradigma yang holistis perlu dimajukan. Ini mengingatkanku pada guyonan yang pernah tertempel di pintu ruangan lama CICP, Fak. Psikologi UGM:

“Theory is when you know everything but nothing works. Practice is when everything works but no one knows why. In our lab, theory and practice are combined: Nothing works and no one knows why.”🙂

Atau lebih tepatnya, adalah apa yang dikatakan oleh Kurt Lewin, salah seorang ilmuwan psikologi:

There is nothing more practical than a good theory.”

Kreativitas akademisi dan mahasiswa seharusnya diarahkan untuk mencapai cita-cita ini.

Ketiga, soal bidang psikologi apa yang sebaiknya dikembangkan di masa depan, setiap orang berhak mengembangkan apa yang ia suka dan memanfaatkan sebaik mungkin sumber daya apa saja yang ada di sekitarnya, apakah itu dana, atau kaki-tangan. Saya sendiri punya cita-cita mengembangkan: 1) psikologi Islami, 2) psikologi orang dan masyarakat Indonesia, 3) psikologi pendidikan, 4) metode penelitian, dan 5) psikologi diri sendiri.🙂

Keempat, terkait multidisiplinaritas. Sekat-sekat antarbidang ilmu ada baiknya setahap demi tahap dibuka. Setiap mahasiswa bebas belajar apa saja yang mereka suka, untuk duduk di ruang kelas dari fakultas mana saja yang mereka ingin pelajari, dan menimba ilmu dari guru-guru mana saja. Psikologi itu ilmu yang “kecil” jika ia berdiri sendiri, layaknya diri seorang individu. Ia mulai bermakna, sama seperti diri seseorang yang mulai berteman dan menjalin relasi yang bermanfaat. Psikologi ekonomi, psikologi hukum, psikologi politik, psikologi sosial, psikologi agama, psikologi kesehatan, psikologi abnormalitas, psikologi komunitas, psikologi pendidikan, psikologi… dan seterusnya ada karena kecenderungan bergabung itu. Saya pribadi suka gagasan ini karena dengan demikian, dapat terjawab permasalahan-permasalahan kehidupan yang sangat kompleks, yang pemecahannya tidak bisa dengan satu pendekatan saja.

Kelima, memulai pengajaran psikologi dengan memperkenalkan pohon ilmu untuk mengetahui di mana posisi psikologi. Psikologi sering dikatakan tidak punya identitas yang jelas, apakah termasuk ilmu alam atau ilmu sosial. Saya pikir tidak ada jalan tengah selain menegaskan bahwa manusia adalah bagian dari alam, juga bagian dari sosial. Psikologi berdiri sendiri secara unik, mengambil apa-apa yang bermanfaat dari ilmu alam dan sosial. Ada gambar bagus yang saya peroleh dari artikel yang ditulis oleh Cacioppo (2013): PETA ILMU PENGETAHUAN

Map of Science

Di situlah tempat psikologi. Sejajar dengan matematika, fisika, kimia, ilmu-ilmu bumi, kedokteran, dan ilmu-ilmu sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s