Untuk Psikologi 30 Tahun Lagi Bag. 3: Pengetahuan Baru tentang Metode Penelitian

Apa yang saya kerjakan untuk membantu kampus menyusun rencana pengembangannya sampai 30 tahun ke depan pada dasarnya adalah penelitian demi penelitian. Uniknya, menariknya, dan bagusnya, penelitian-penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode yang tidak pernah saya tahu (betul) dan tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Ini sungguh menyenangkan. Pada luarnya kau tampak bekerja, tetapi jauh di dalam dirimu, sebenarnya kau sedang belajar.

1# Review Literatur Sistematis (Systematic Literature Review/ SLR)

Systematic literature review atau SLR adalah studi pertama yang saya lakukan. Kembali kepada tujuan besar, yaitu merencanakan pengembangan psikologi beberapa tahun ke depan, diperlukan argumen dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa bidang ini dan itu perlu untuk dikembangkan, dan seterusnya. Untuk mendapatkan argumen tersebut, satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan melihat tren perkembangan psikologi saat ini dan menelaah tulisan-tulisan futuristik yang dibuat oleh ahli-ahli psikologi yang melihat ke depan.

Ketika di awal mendapatkan tugas membaca macam-macam literatur, saya mengira yang akan dilakukan adalah pembacaan yang biasa saja; sama seperti membaca untuk membuat tugas atau tinjauan pustaka tesis. Rupanya tidak. Membaca memang membaca, tetapi ia akan dilakukan secara sistematis. Saya pikir, sistematika kerja membaca memang penting, terutama karena saya dan teman-teman bekerja sebagai tim. Akan berantakan hasilnya jika semua orang membaca mengikuti apa yang menurut dia sendiri penting atau dengan kata kunci-kata kunci yang berbeda-beda untuk mencapai hal yang sama.

Oleh dosen, mungkin karena dikira oleh beliau kami sudah tahu apa dan bagaimana SLR itu, kami langsung diterjunkan saja ke dalam samudera literatur, mencari-cari bacaan berdasarkan kata kunci yang sudah ditetapkan. Sebenarnya kami belum tahu apa-apa, dan keadaan itu, untukku pribadi, mendorongku untuk mencari tahu tentang SLR. Saya mencatat beberapa hal penting dalam SLR, yang tidak boleh diabaikan oleh siapa saja yang melakukannya.

SLR adalah sebuah cara untuk merangkum secara menyeluruh, mendalam, lengkap, dan teliti (exhaustive) temuan-temuan penelitian, dan hasil akhirnya akan berupa sebuah peta riset. Ia adalah review literatur yang terfokus pada pertanyaan penelitian, yang berusaha untuk mengidentifikasi, memberikan penilaian, memilih, dan mensintesis semua temuan penelitian yang relevan dengan pertanyaan. Karena itu, tahap pertama yang harus dilakukan sebelum mencari literatur adalah merumuskan pertanyaan untuk review. Masalah yang hendak didekati dengan review harus dispesifikkan secara jelas, tidak ambigu, dan terstruktur.

Sebagai contoh, dalam studi yang kami lakukan, pertanyaan spesifik kami (seharusnya): 1) Akan seperti apa psikologi di masa depan menurut pendapat ahli psikologi saat ini? 2) Apa tren psikologi saat ini dan ke mana arah perkembangan tren tersebut di masa depan? Pertanyaan itu penting sebagai dasar kata kunci yang akan dipakai untuk mencari literatur di berbagai database, baik elektronik maupun cetak. Dari pertanyaan pertama, dapat ditetapkan kata kunci seperti “future of psychology”, “psychology in the future”, “psychology in 21st century”, “trend and direction of psychological science”, dan seterusnya. Misal hendak dikembangkan, maka: “future of social psychology”, “future of clinical psychology”, “future of educational psychology”, dan seterusnya.

Penting untuk dicatat adalah bahasa. Jika literatur yang dicari berbahasa Inggris, misalnya, maka kata kuncinya harus berbahasa Inggris dengan memperhatikan tata bahasanya. “Masa depan psikologi” bahasa Inggrisnya adalah “future of psychology”, bukan “future psychology”; tren psikologi adalah “trend of psychology”, bukan “trend psychology”. Selanjutnya, kata kunci-kata kunci tersebut perlu dicatat dan dalam modifikasinya, perlu dibicarakan dan disepakati bersama dengan anggota tim peneliti. Artinya, tidak boleh seenaknya menambah, mengurangi, atau mengubah kata kunci.

Tahap kedua adalah proses mencari. Kita tentukan database penelitian yang akan kita manfaatkan, misal apakah EBSCOhost, atau PsycINFO, atau perpustakaan kampus sendiri. Selain kata kunci, kriteria-kriteria lain pun dapat ditetapkan, seperti berdasarkan waktu (hanya artikel dari tahun 2005-2015), berdasarkan bahasa (hanya bahasa Indonesia), berdasarkan subjek (hanya psikologi), berdasarkan bentuk tulisan (hanya academic paper, full-text), dan sebagainya. Klik OK, dan lihat apa yang muncul. Jika beruntung, temuan kita dapat fokus pada yang kita butuhkan; tetapi mungkin seringnya tidak. Kita harus melakukan satu pekerjaan penting: mensortir, mana yang relevan dan mana yang tidak, mana yang kita ambil (inclusion) dan mana yang kita lewatkan (exclusion). Patokan kita, tentu saja, adalah pertanyaan penelitian kita.

Tahap ketiga, setelah mencari dan menemukan sejumlah artikel, yang dilakukan adalah membacanya dan mencatat isi artikel tersebut sebagai data yang akan dianalisis. Di sini kita harus jeli, karena tentu saja tidak semua bagian dari tulisan adalah data yang relevan bagi kita. Ada dalam studi literatur yang kita butuhkan adalah hasil penelitiannya, maka yang jadi fokus pencatatan kita adalah hasil dari penelitian tersebut. Atau, ada pula yang kita butuhkan adalah gagasan penulis (misal dalam artikel teoretis), maka itulah yang perlu kita ambil. Tema-tema yang muncul seluruhnya kita masukkan dalam tabel, kita kategorisasikan, kita hitung tema apa yang paling populer, dan macam-macam, misalnya.

Tahap keempat, kita membuat peta riset yang merangkum temuan kita berdasarkan proses pada tahap ketiga. Dalam peta ini kita menggabungkan semua temuan kita ke dalam selembar kertas saja

Dan tahap kelima, kita interpretasi peta tersebut. Misal, kita memahami temuan tersebut berdasarkan konteks, dapat berupa permasalahan penelitian kita dan dari situ kita bisa melihat, “O… perkembangan psikologi ternyata sudah sampai di sini…”, atau “O… rupanya banyak ilmuwan memprediksi psikologi akan menjadi seperti ini…”, dan sebagainya.

Omong-omong, SLR ini ada kaitannya dengan meta-analisis. Wah, ini materi kuliah metode penelitiannya mahasiswa S3. Jadi penasaran🙂 Mungkin saat ini  cukup tahu cukup tentang SLR, semoga di masa depan saya bisa belajar meta-analisis.

 

Systematic review

 

2# Zaltman Metaphor Elicitation Technique/ ZMET

ZMET adalah perkembangan teknik wawancara untuk penelitian kualitatif. Ia memanfaatkan gambar sebagai media proyektif, untuk mengungkap pikiran dan perasaan narasumber yang diwawancarai; pengetahuan yang tidak disadari. Teknik ini insya Allah akan dipakai untuk mewawancarai sejumlah pakar ilmu pengetahuan untuk mengetahui apa pendapat dan pandangan mereka tentang akan seperti apa dan bagaimana seharusnya/ sebaiknya psikologi di masa depan.

ZMET adalah teknik yang unik; ia lahir dalam ilmu pemasaran, tetapi dasar filosofisnya sungguh psikologis: psikoanalisis dan psikologi kognitif. Asumsi pertamanya terkait dengan keberadaan alam ketidaksadaran yang dapat dicapai salah satunya dengan metode proyektif lewat gambar. Asumsi keduanya terkait manfaat penggunaan gambar sebagai alat pengungkap metafora yang didukung temuan riset di bidang psikologi kognitif, seperti bahwa manusia itu berpikir sebenarnya bukan dengan kata-kata, melainkan dengan images di dalam pikirannya.

Di kampus, teknik ini akan dicoba minggu depan sebelum benar-benar dipakai untuk mewawancarai para pakar. Saya rasa belum banyak yang bisa diceritakan saat ini. Jika ada di antara pembaca yang ingin tahu seperti apakah detail ZMET, dapat lihat tulisan saya sebelumnya yang khusus memaparkan tentang ZMET.

 

ZMET

3# Metode Delphi

Nah, ini yang masih sangat misterius karena masih beberapa lama lagi sebelum dipraktikkan di kampus. Jadi, benar-benar belum ada yang bisa dijelaskan, metode seperti apakah ini. Karena itu, saya cuma bisa cerita sedikit teori tentang metode Delphi ini.

Metode Delphi adalah teknik komunikasi terstruktur, dikembangkan sebagai metode untuk meramal (forecasting) berdasarkan panel atau diskusi sejumlah ahli. Para ahli akan mengisi sebuah kuesioner dalam dua atau lebih ronde/ putaran. Di akhir setiap ronde, peneliti akan memberikan rangkuman yang sifatnya anonimus dari ramalan para ahli berdasarkan hasil pengisian kuesioner ronde sebelumnya. Ahli-ahli tersebut akan didorong untuk merevisi jawaban awal mereka berdasarkan “pencerahan” yang diberikan dari jawaban anggota panel yang lain. Diyakini bahwa selama proses atau putaran ini, variasi jawaban ahli akan berkurang dan mengerucut pada satu jawaban yang “benar”. Putaran akan akhirnya dihentikan ketika konsensus dicapai, bersama dengan sejumlah kriteria lainnya.

Sebenarnya, teknik ini bukan untuk meramal dalam arti menebak masa depan, melainkan memutuskan akan melakukan apa di masa depan. Prinsip yang dipegangnya adalah bahwa keputusan dari sekelompok orang yang terstruktur akan lebih akurat ketimbang yang dari kelompok yang tidak terstruktur.

***

Pengalaman tahu macam-macam teknik dan metode penelitian ini rasanya memunculkan kesadaran bahwa ternyata orang-orang sungguh-sungguh berinovasi dan berkreasi dalam menemukan cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitiannya. Jadi ingin menulis suatu saat nanti, buku tentang A-Z metode dan teknik-teknik penelitian dan pengumpulan data. Insya Allah bulan depan saya akan mengikuti pelatihan pembangunan teori (theory building training) di kampus. Jadi, mungkin tulisan ini akan berkembang.

Aktivitas penelitian itu menakjubkan, bukan? Dengan penelitian, orang bisa terjawab pertanyaan-pertanyaannya, membangun teori, meneropong masa depan, membuat keputusan, dan macam-macam. Psikologi mungkin adalah bidang ilmu yang metode penelitiannya paling banyak.🙂

Sekian untuk kali ini! Semoga bermanfaat!🙂

 

 

Daftar Bacaan

Hemingway, P. & Brereton, N. (2009). What is systematic review. Retrieved from: http://www.medicine.ox.ac.uk/bandolier/painres/download/whatis/syst-review.pdf

Khan, K. S., Kunz, R., Kleijnen, J., & Antes, G. (2003). Five steps to conducting a systematic review. Journal of the Royal Society of Medicine, 96(3), 118-121.

Zaltman, G. (1996). Metaphorically speaking: New Technique uses multidisciplinary ideas to improve qualitative research. Marketing Research, 8(2), 13-20.

Zaltman, G. (1997). Rethinking market research: Putting people back in. Journal of Marketing Research, 34(4), 424-437.

Zaltman, G. & Coulter, R. H. (1995). Seeing the voice of the customer: Metaphor-based advertising research. Journal of Advertising Research, 35(4), 35-51.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s