Untuk Psikologi 30 Tahun Lagi Bag. 4: Kritiklah Psikologi (Islam)

1# Berangkat dari Keanehan dalam… Psikologi Islam

Tema minggu ini adalah psikologi kritis (critical psychology), dan ini mengingatkan saya pada macam-macam hal, terutama yang terjadi ketika saya menjadi anggota kelompok studi pengembangan psikologi Islami di kampus dulu. Kelompok studi pengembangan psikologi Islami lahir dari pemikiran kritis yang menunjukkan kekurangan-kekurangan teori-teori psikologi yang diproduksi oleh ilmuwan-ilmuwan di negara-negara Barat. Saat itu, kami mahasiswa cuma tahu tentang itu dan cuma berangkat melakukan yang macam-macam itu dengan bekal pengetahuan itu.

Dalam perjalanan pribadi saya sendiri, entah bagaimana, saya jadi malah bisa mengkritisi psikologi Islami itu sendiri; menggoyangkan kedudukannya yang semula kokoh dalam pikiran saya. Ingat mimpi psikologi Islami yang mewah? Menjadi mazhab kelima psikologi, menjadi psikologi yang universal, menjadi psikologi yang membawa kebahagiaan dan kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat, menjadi psikologi yang benar untuk orang Islam dan orang-orang di luar Islam… Dasarnya: karena Islam yang menjadi sumber inspirasinya adalah benar, maka psikologi yang lahir darinya tentu sempurna; sesempurna Islam, mungkin. Yah, itu pandangan aktivis psikologi Islam yang fanatik, dan saya bukan yang fanatik. Peace.ūüôā

Logika yang sering dipakai untuk menjustifikasi kemunculan psikologi Islami adalah relativisme kultural. Intinya, orang Barat itu budayanya begitu, sedangkan orang Islam itu begini, sehingga harus dikembangkan psikologi yang khusus, pas untuk orang Islam. Tapi anehnya, psikologi yang hendak dikembangkan masuk ke lubang keledai yang sama; bagaimana ia bisa jadi psikologi yang universal jika ada relativisme kultural? Karena itu, saya yakin ada orang-orang yang tidak berhasil memisahkan antara sentimen religius dan semangat keilmuan, termasuk seorang senior saya yang saya sering kesal dibuatnya karena pemikiran-pemikirannya yang aneh. Terlalu sekali cintanya pada psikologi Islam, sampai-sampai seakan yang cuma ilmu itu naik tingkat menjadi agama.

Kembali pada persoalan semula. Gagasan tentang relativisme kultural tidak muncul sendirian saja dalam membentuk wajah ilmu pengetahuan saat ini. Ia punya asal-usul dan teman-teman sesama pemikiran filsafat yang bergerak dengan dampak yang sama hebohnya bagi ilmu pengetahuan: Kesadaran akan keragaman budaya manusia (multikulturalisme), penemuan bahwa pengetahuan itu bukan didapat melainkan dibangun bersama-sama dengan orang-orang lain (konstruktivisme), dan penerimaan akan adanya banyak perspektif dalam memandang segala hal di dunia sehingga kebenaran tidak lagi terpusat merupakan milik oleh satu kelompok manusia saja (postmodernisme), serta api dari semangat bangsa-bangsa yang pernah terjajah untuk memproduksi pengetahuan sendiri yang berpihak pada diri mereka sendiri (postkolonialisme).

Setiap negara sekarang dapat mengembangkan psikologi mereka sendiri, demikian setiap suku dan setiap pemeluk suatu agama. Namun, ada kesepakatan bahwa dalam kebebasan bergerak dan pengakuan atasnya, satu pihak tidak dapat mengatakan dirinya sebagai satu-satunya yang benar sehingga mengenyahkan yang bukan dirinya. Karena setiap orang memiliki suara sendiri-sendiri, tidak lagi membebek yang berkuasa, potensi kacau diantisipasi dengan mendorong orang-orang itu untuk mau berkomunikasi, mau mengenal pemikiran satu sama lain, saling bertukar gagasan, dan membangun kerjasama dengan modal apa yang masing-masing punya untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang kompleks dan sama-sama dialami. Sekarang bukan zamannya lagi mengagungkan satu kebenaran, satu pendekatan, dan satu metode. Semua memiliki fungsi, penting, berguna, dan bermanfaat, asal ditempatkan pada tempatnya.

Bagi diri saya pribadi, pemahaman ini adalah tafsir pribadi terbaru saya atas ayat Allah: “Hai manusia, sesungguhnya Kami … Menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS Al Hujurat 49: 11). Berangkat dari kesadaran akan adanya banyak bangsa dan suku, lalu kesadaran bahwa setiap orang dapat memiliki pemikiran, pemahaman, dan pemaknaan yang bermacam-macam¬†atas hal-hal, dan tidak ada satu pendapat yang lebih benar daripada yang lain melainkan terikat pada konteks kultural, historis, tempat, dan waktunya, sekarang kita semua bisa belajar untuk bersikap rendah hati.

Dan tentu saja, tafsir pribadi tersebut dapat berubah…

***

Critical Thinking

2# Tiga Fungsi Pengetahuan: Scientia, Cultura, Critica

Sepanjang hari tadi saya membaca tulisan yang sangat menarik dari Thomas Teo, seorang ahli psikologi kritis: Functions of knowledge in psychology (Teo, 1999). Dan saya merasa amat sangat bersyukur, karena saya dapat menambahkan satu hal lagi dalam kerangka pikir yang sudah saya punya tentang apa sebetulnya membangun teori itu. Membangun teori berarti menghasilkan pengetahuan. Namun, ketika pengetahuan berhasil diperoleh, bagaimanakah sifatnya? Apa kegunaan atau fungsinya?

Khusus pada pengetahuan psikologis, ia memainkan tiga fungsi yang mana dari situ subsistem psikologi dapat ditarik:¬†Pertama, fungsi Scientia. Pengetahuan berfungsi memberikan penjelasan analitis tentang objek-objek atau peristiwa psikologis. Ia dipelihara oleh harapan mengembangan pengetahuan yang “lebih baik” dan kumulatif. Kedua, fungsi Cultura. Pengetahuan berfungsi¬†menghasilkan makna psikologis bagi individu, komunitas, dan budaya, yang dipelihara oleh harapan¬†meningkatkan kondisi dan kehidupan manusia. Ketiga, fungsi Critica. Ia meliputi¬†dekonstruksi, rekonstruksi, dan konstruksi pengetahuan psikologis, dan dipelihara oleh harapan¬†mengubah praktik-praktik pengetahuan psikologis.

  1. Dekonstruksi. Kritik murni terhadap psikologi, secara tradisional berdasarkan pada kerangka pikir filosofis dan meta-teoretis. Yang dikritik dapat berupa area-area psikologi tradisional, metodologi dan metode penelitian, juga asumsi psikologi dengan sifat dasar manusia. Kritik psikologi dapat mengadopsi perspektif Marxis, feminis, postmodern, neomodern, atau multikultural. Dalam pandangan saya, termasuk pula perspektif agama.
  2. Rekonstruksi. Ia mengacu pada rekonstruksi kritis (penyusunan ulang) teori-teori psikologi, metode, dan konsep melalui jalur teoretis, logis, atau historis. Analisis logis tampak pada kerangka strukturalis. Isu-isu seperti gender, kelas atau ras, atau kuasa mempengaruhi juga termasuk dalam domain ini.
  3. Konstruksi. Ia mengacu pada pengembangan kategori kritis spesifik, seperti emansipasi, liberasi, alienasi, dan sebagainya, bagi psikologi. Ia juga mengacu pengembangan teori-teori psikologi berdasarkan kerangka kerja kritis. Konstruksi sering berlangsung secara bergandengan dengan dekonstruksi dan rekonstruksi. Contohnya adalah Teori Belajar Holzkamp. Teorinya tidak hanya menjadi teori belajar yang lain, tetapi juga menunjukkan keterbatasan teori sebelumnya (dekonstruksi).

Keunikan akhir abad 20 sampai saat ini adalah, seiring dengan berkembangnya pemikiran dan pemahaman-pemahaman baru dalam filsafat yang mempengaruhi wajah psikologi, muncul bidang-bidang psikologi baru, seperti psikologi indigenous, dan termasuk pula psikologi Islam. Kemunculannya tidak lepas dari aktivitas dekonstruksi-rekonstruksi-konstruksi dalam pemikiran-pemikiran psikologi yang mengkritik psikologi. Di mata saya, fase mendekonstruksi konsep-konsep psikologis menurut ilmuwan-ilmuwan Barat sudah dimulai dan sedang berlangsung, dan bersamaan dengan itu hadir semangat mengkonstruksi teori-teori baru. Perkembangan akan terus sampai akhirnya nanti muncul teori-teori kritis baru yang mendekonstruksinya.

Kembali ke persoalan psikologi Islam. Di sekitar saya, yang saya amati, orang-orang baru pandai mengkritik-mendekonstruksi teori-teori Barat, tetapi sayangnya belum bisa mengkonstruksi yang baru, sehingga pengetahuan kurang berhasil berkembang fungsi dari Critica belaka menjadi Scientia dan Cultura yang lebih bermanfaat untuk ke depannya. Masalah yang  saya tangkap, ibarat pengetahuan adalah rumah: 1) kurang pengetahuan bagaimana membangun rumah yang baik, 2) terlalu asyik mengkritik rumah orang lain, tetapi tidak sadar harus membangun rumah sendiri, dan 3) kuantitas dan kualitas rumah yang buruk, karena lemah di tahapan penelitian dan pemikiran.

Ada kecenderungan generasi-generasi muda psikologi terlalu fokus pada bagaimana mengislamkan psikologi, yang mana arti mengislamkan itu sering masih sekadar meneliti topik-topik yang Islami, membahas psikologi dari kacamata Islam, atau sebaliknya, bukan mengkonstruksi pengetahuan dari pengalaman hidup orang-orang yang memeluk agama Islam, atau terlalu semangat menggali-gali pengetahuan yang jauh sekali ada di masa lalu dan lupa konteks, zaman berubah, pemikiran ikut berubah. Mengapa seperti memaksa pemikiran-pemikiran ulama-ulama dari masa lalu hidup kembali di zaman sekarang, tidak menempatkan mereka pada tempatnya?

Reading this, would you murmur “Hemmm…”?

PS:

Btw, kenapa saya tiba-tiba jadi menulis tentang psikologi Islam di seri ini ya? Saya sejujurnya punya semacam kekhawatiran, akan seperti apa psikologi Islam 30 tahun ke depan, apakah masih ada ataukah sudah ditinggalkan, apakah akan berkembang atau menjadi basi. Tentu saja, di tempat kerja dan di forum-forum bersama dosen, saya tidak akan mengangkat topik ini karena ini adalah minat pribadi saya, tetapi sesungguhnya rasanya… benar-benar memikirkan ini, dan saat ini saya tidak punya teman yang bisa diajak berdiskusi soal ini.

Judul tulisan yang sengaja saya buat “dapat memancing emosi” itu adalah untuk tujuan memancing teman diskusi. Jika ada yang terpancing, dan tertarik untuk berdiskusi, silakan hubungi saya via Facebook atau email di aftinanurulhusna@yahoo.co.id.

Peace!ūüėÄ

2 thoughts on “Untuk Psikologi 30 Tahun Lagi Bag. 4: Kritiklah Psikologi (Islam)

  1. Psikologi: ilmu ttg mempelajari (perilaku) manusia. Mengapa psikologi ‘berkembang’, krn banyaknya pemahaman ttg manusia itu sendiri.

    Islam sendiri memandang bahwa manusia adalah ciptaan Allah SWT utk menjadi khalifatullah di muka bumi dan utk beribadah kepadaNya. Pengertian ini sepertinya akan ditolak oleh ilmuwan sosial (psikologi) krn Allah SWT sendiri dianggap tdk ‘ilmiah’. Tapi selama tdk menggunakan pengertian tsb maka saya pikir tdk akan ada psikologi islam–yg ada mungkin psikologi islami–krn pengertian ini akan memberi pengaruh yg khas pd turunan ilmu itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s