Dunia Sophie Bag. 1: Page 1-7

Page 1

Who are you?

“Kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu nantinya harus mati. Namun, sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkannya hidup itu.”

From where does the world come?

“Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun hidup tanpa memanfaatkan akalnya.”

— Goethe

… pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan…

… satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu…

… yang dibutuhkan setiap orang, yaitu mengetahui siapakah kita dan mengapa kita ada di sini.

… asal mula filsafat adalah rasa ingin tahu manusia. Manusia menganggap betapa menakjubkannya hidup itu sehingga pertanyaan-pertanyaan filosofis pun muncul dengan sendirinya.

Namun jauh sebelum anak itu belajar bicara dengan benar -dan jauh sebelum dia belajar untuk berpikir secara filosofis- dunia pasti menjadi sesuatu yang biasa baginya.

Tampaknya seakan-akan dalam proses pertumbuhan kita kehilangan kemampuan untuk bertanya-tanya tentang dunia. Dan dengan berlaku demikian, kita kehilangan sesuatu yang sangat penting -sesuatu yang oleh para filosof diusahakan untuk dipulihkan. Sebab di suatu tempat dalam diri kita sendiri, ada sesuatu yang mengatakan pada kita bahwa kehidupan merupakan suatu misteri yang sangat besar. Inilah sesuatu yang pernah kita alami, jauh sebelum kita belajar untuk memikirkan pemikiran itu.

Meskipun pertanyaan-pertanyaan filosofis itu mengganggu benak kita semua, tidak semua kita menjadi filosof karena berbagai alasan, kebanyakan orang begitu disibukkan dengan permasalahan sehari-hari sehingga keheranan mereka terhadap dunia tersuruk ke belakang.

Di sinilah tepatnya para filosof itu menjadi tokoh istimewa… Kamu boleh mengatakan bahwa sepanjang hidupnya seorang filosof selalu menjadi seorang anak yang peka.

Sophie sadar bahwa filosof itu benar. Orang-orang dewasa menganggap dunia sebagaimana adanya. Mereka telah membiarkan diri terbuai dalam tidur yang memabukkan dari eksistensi mereka yang membosankan. “Ibu telah menjadi begitu terbiasa dengan dunia sehingga tidak ada lagi yang membuat ibu heran.”

Page 2

Mitos-mitos

… suatu keseimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat…

… mitos itu berusaha memberikan penjelasan kepada orang-orang mengenai sesuatu yang tidak mereka pahami.

Xenophanes (570 SM) – Manusia menciptakan dewa-dewa sesuai dengan bayangan mereka sendiri… Jika sapi, kuda dan singa dapat menggambar, mereka akan melukiskan para dewa yang tampak seperti sapi, kuda dan singa.

… perkembangan dari cara pikir mitologis menuju cara pikir yang didasari pengalaman dan akal… menemukan penjelasan-penjelasan alamiah, dan bukannya supranatural untuk berbagai proses alam.

Dia tahu bahwa orang-orang selalu ingin menjelaskan alam. Barangkali mereka tidak dapat hidup tanpa penjelasan-penjelasan semacam itu.

Para Filosof Alam

… tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan…

Is there a basic substance that become material to make everything?

Can water turn into wine?

How can soil anf water produce a live frog?

Filosof alam: hanya menaruh perhatian pada alam dan proses-prosesnya.

Pasti ada “sesuatu” yang dari segalanya segala sesuatu berasal dan kepadanya segala sesuatu kembali.

  • Thales: Segala sesuatu adalah air. “Semua benda itu penuh dengan dewa.”
  • Anaximander: Dunia kita hanyalah salah satu dari banyak sekali dunia yang muncul dan sirna di dalam sesuatu yang disebutnya sebagai yang tak terbatas. Zat yang merupakan sumber dari segala benda pastilah sesuatu yang berbeda dari benda-benda yang diciptakannya.
  • Anaximenes (570-526 SM): Sumber dari segala sesuatu adalah udara atau uap.

Ketiganya percaya pada keberadaan satu zat dasar sebagai sumber dari segala hal.

Masalah perubahan: bagaimana mungkin satu zat dasar dapat dengan tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lain?

  • Parmenider (540-480 SM): Segala sesuatu yang ada pasti selalu ada. Tidak ada sesuatu yang dapat muncul dari ketiadaan dan tidak ada sesuatu pun yang ada menjadi tiada. Indra memberikan gambaran yang tidak tepat tentang dunia, sesuatu gambaran yang tidak sesuai dengan akal.

Rasionalisme: Keyakinan yang tidak tergoyahkan pada akal manusia.

Rasionalis: Seseorang yang percaya bahwa akal manusia merupakan sumber utama pengetahuan kita tentang dunia.

Page 3

  • Heraclitus (540-480 SM): Perubahan terus-menerus/ aliran adalah ciri alam yang paling mendasar. “Segala sesuatu terus mengalir.” Dunia itu dicirikan dengan adanya kebalikan. Jika kita tidak pernah sakit, kita tidak akan tahu seperti apa rasanya sehat. Yang baik maupun yang buruk mempunyai tempat sendiri-sendiri yang tak terelakkan dalam tatanan dari segala sesuatu. Tanpa saling pengaruh antara dua hal yang berkebalikan itu, maka dunia tak akan pernah ada. Akal universal/ hukum universal adalah sesuatu yang ada dalam diri kita semua, dan sesuatu yang menjadi penuntun setiap orang. Di tengah segala perubahan dan pertentangan yang terus-menerus terjadi di alam ini, ada satu “Entitas” atau kesatuan. Sesuatu ini, yang merupakan sumber dari segala sesuatu, dinamakan Tuhan/ logos. “Tuhan adalah siang dan malam, musim salju dan musim panas, perang dan damai, kelaparan dan kekenyangan.” Tuhan, “logos”, yang berarti akal. Ada semacam akal universal yang menuntun segala sesuatu yang terjadi di alam.
  • Empedocles (490-430 SM): Tidak ada sesuatu yang berubah, tetapi alam itu berubah. Alam tidak mungkin hanya satu unsur saja. Terdapat empat unsur/ akar: tanah, udara, api, dan air. Pada dasarnya, tidak ada yang berubah. Yang terjadi adalah bahwa keempat unsur itu bergabung dan terpisah -untuk menjadi tergabung lagi. Semua proses alam dapat dijelaskan sebagai interaksi antara unsur-unsur yang berbeda dan kekuatan-kekuatan alam yang beragam.
  • Anaxagoras (500-428 SM): Alam diciptakan dari partikel-partikel sangat kecil yang tidak dapat dilihat mata dam jumlahnya tak terhingga. Ada sesuatu di dalam sesuatu. “Keteraturan” adalah semacam kekuatan yang menciptakan segala sesuatu.

Sophie semakin tertarik pada filsafat sebab ia dapat mengikuti semua gagasan dengan menggunakan akal sehatnya sendiri -tanpa harus mengingat segala sesuatu yang telah dipelajarinya di sekolah. Dia memutuskan bahwa filsafat bukanlah sesuatu yang dapat kita pelajari, namun barangkali kita dapat belajar untuk berpikir secara filosofis.

Page 4

Democritus

… mainan yang paling cerdik di dunia: it is atom.

Why does Lego become the most tricky toy in the world?

Mengapa orang-orang berhenti bermain ketika mereka bertambah dewasa?

  • Democritus (460-370 SM): Segala sesuatu dibuat dari balok-balok tak terlihat yang sangat kecil, yang masing-masing kekal dan abadi. Unit-unit terkecil: atom. A tom: tak dapat dipotong. Satu-satunya benda yang ada adalah atom dan ruang hampa.

Materialis: orang yang tidak mempercayai apapun kecuali benda-benda material.

 

Takdir

… “peramal” berusaha untuk meramalkan sesuatu yang benar-benar tidak dapat diramalkan.

Do you believe in fate?

Is disease God’s punishment?

What power does rule the history?

Fatalisme

Kepercayaan bahwa apa yang terjadi telah ditentukan.

Kenali dirimu sendiri. Manusia tidak boleh mempercayai bahwa dirinya lebih dari sekadar makhluk hidup yang kelak akan mati -dan tak seorang pun dapat lolos dari takdirnya.

  • Herodotus (484-424 SM) dan Thucydides (460-400 SM) adalah ahli sejarah.
  • Hippocrates (460 SM): Pelindung paling penting untuk melawan penyakit adalah sikap tidak berlebihan dan cara hidup yang sehat. Kesehatan adalah kondisi alamiah. Jika penyakit datang, itu merupakan tanda bahwa Alam telah melenceng dari jalurnya dikarenakan adanya ketidakseimbangan fisik dan mental. Jalan menuju kesehatan: sikap moderat, keselarasan, dan “jiwa yang sehat di dalam badan yang sehat.”

Page 5

Socrates

… orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dia tidak tahu…

Is there something that called natural politeness?

The wisest man is someone who know that he doesn’t know.

The true knowledge comes from inner side.

Somebody who knows the truth will behave right.

Meskipun ada jawaban untuk pertanyaan filosofis, manusia tidak dapat mengetahui kebenaran mengenai teka-teki alam dan jagad raya.

Skeptisisme.

 

  • Protagoras (485-410 SM): Manusia adalah ukuran dari segala sesuatu. Masalah apakah sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk, harus selalu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan kebutuhan-kebutuhan seseorang.

Agnostik: Seseorang yang tidak mampu mengatakan dengan tegas apakah dewa-dewa atau Tuhan.

  • Socrates (470-399 SM): Socrates menganggap tugasnya seperti membantu orang-orang “melahirkan” wawasan yang benar, sebab pemahaman yang sejati harus timbul dari dalam diri sendiri. Itu tidak dapat ditanamkan oleh orang lain. Dan hanya pemahaman yang timbul dari dalam itulah yang dapat menuntut kepada wawasan yang benar.

Kemampuan untuk melahirkan adalah suatu ciri alamiah. Dengan cara yang sama, setiap orang dapat menangkap kebenaran-kebenaran filosofis jika mereka mau menggunakan akal mereka sendiri. Menggunakan akal sendiri berarti masuk ke dalam diri sendiri dan memanfaatkan apa yang ada di sana.

Mereka berdua dapat menyelamatkan diri dengan memohon belas kasihan, namun mereka mempunyai sebuah misi yang pasti gagal kecuali jika mereka tetap teguh pada pendirian hingga akhir hayat.

Page 6

Filosof: orang yang mencintai kebijaksanaan.

Seorang filosof mengetahui bahwa dalam kenyataannya hanya sedikit saja yang diketahuinya. Itu sebabnya dia selalu berusaha untuk meraih pengetahuan sejati.

Socrates adalah salah seorang manusia langka. Dia tahu bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan dan dunia. Dan kini muncul bagian yang penting: dia merasa gelisah karena hanya sedikit sekali yang diketahuinya.

Filosof: orang yang mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak dipahaminya, dan dia merasa terganggu karenanya.

Orang yang paling subversif adalah yang selalu bertanya. Memberi jawaban tidaklah begitu berbahaya. Mengajukan satu pertanyaan dapat lebih memancing ledakan dibandingkan seribu jawaban.

Socrates merasa adalah penting untuk membangun landasan yang kuat untuk pengetahuan kita. Dia percaya landasan ini terletak pada akal manusia.

Hati nurani mengatakan apa yang benar. Suara batin Ilahi.

Wawasan yang benar akan menuntun pada tindakan yang benar. Dan hanya orang yang bertindak benar sajalah yang dapat menjadi “orang yang berbudi luhur”.

Jika kita melakukan kesalahan, itu karena kita tidak tahu. Itulah sebabnya penting sekali untuk terus belajar.

Kemampuan untuk membedakan benar dan salah terletak pada akal manusia, bukan masyarakat.

Tidak mungkin seseorang dapat bahagia jika mereka bertindak menentang penilaian mereka yang lebih baik.

“Apakah ini sesuatu yang kamu pelajari di sekolah?”

Sophie menggelengkan kepalanya dengan penuh semangat.

“Kamu tidak belajar apa-apa di sana. Perbedaan antara guru sekolah dan filosof adalah bahwa guru sekolah mengira mereka tahu banyak hal yang mereka coba paksakan masuk ke tenggorokan kami. Filosof berusaha untuk memahami segala sesuatu bersama murid-murid mereka.”

Page 7

Athena

… beberapa bangunan tinggi bangkit dari reruntuhan…

Plato

… suatu kerinduan untuk kembali ke alam jiwa…

 

End, 30/12 ’09

see you next time

 

Sophie's World

2 thoughts on “Dunia Sophie Bag. 1: Page 1-7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s