Dunia Sophie Bag. 2: Page 7-12

Page 7

Seseorang dapat menemukan kebenaran filosofis jika mereka menggunakan akal sehat mereka. Budak mempunyai akal sehat yang sama sebagaimana seorang pria yang terhormat.

Dia (Socrates) percaya akan adanya aturan-aturan yang abadi dan mutlak tentang apa yang benar dan salah. Dengan menggunakan akal sehat kita semua dapat sampai pada norma-norma abadi ini.

Para filosof akan berusaha untuk mengabadikan masalah-masalah yang sedang menjadi buah bibir dan justru mencoba untuk menarik perhatian orang-orang pada apa yang selalu “benar”, selalu “indah”, dan selalu “baik”.

  • Plato (428-374 SM): Ada dunia ide di balik dunia materi, di situ tersimpan “pola-pola” yang kekal dan abadi di balik berbagai fenomena yang kita temui di alam. Kita tidak pernah dapat memiliki pengetahuan sejati tentang sesuatu yang selalu berubah. Kita hanya dapat mempunyai pendapat tentang benda-benda yang ada di dunia indrawi, benda-benda nyata. Kita hanya dapat mempunyai pengetahuan sejati tentang segala sesuatu yang dapat dipahami akal kita. … akal, agaknya, merupakan lawan dari “perkiraan” atau “perasaa”. Kita dapat memiliki pengetahuan sejati tentang benda-benda yang kita pahami dengan akal kita.

 

Gubuk Sang Mayor

… gadis dalam cermin itu mengedipkan matanya…

Mana yang lebih dulu -ayam atau ayam “ide”?

Apakah kita dilahirkan dengan “ide-ide” bawaan?

Apakah perbedaan antara tanaman, binatang, dan manusia?

Mengapa hujan turun?

Apa yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang baik?

 

Aristoteles

… seorang organisator yang teliti dan ingin menjernihkan konsep-konsep kita…

“Rasanya aku belum berubah sama sekali sejak itu.”

“Memang belum. Tidak ada yang berubah. Ibu cuma berkembang, bertambah tua…”

“Aku hanya merasa semuanya terjadi sangat cepat.”

 

Page 8

  • Aristoteles (384-322 SM): Tingkat realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera kita. Setiap perubahan alam merupakan perubahan substansi dari yang “potensial” menjadi “aktual”. Ada tujuan di balik segala sesuatu di alam ini (sebab terakhir). Manusia menjalani kehidupan alam sepenuhnya. Pasti ada Tuhan yang memulai semua gerakan di dunia alam ini. Karena itu, Tuhan pasti berada di puncak paling atas dari tangga alam. Tuhan: penggerak pertama, sebab formal. Manusia dapat mencapai kebahagiaan dengan memanfaatkan seluruh kemampuan dan kecakapannya. Tiga bentuk kebahagiaan: hidup senang dan nikmat, menjadi warga negara yang bebas dan bertanggung jawab, dan menjadi seorang ahli pikir dan filosof. Hanya dengan menjaga keseimbangan dan kesederhanaan sajalah maka aku dapat mencapai kehidupan yang bahagia.

“Aku adalah seseorang yang paling beruntung. Sebab aku bukan sekadar hidup seperti bunga bakung di kebun. Dan aku bukan pula makhluk hidup seperti kucing atau kura-kura. Aku adalah manusia, dan karenanya memiliki kemampuan berpikir yang langka.”

“Manusia itu sedikit-banyak memang istimewa. Aku seorang manusia, maka aku sedikit-banyak istimewa.”

— Aristoteles

 

Helenisme

… sepercik cahaya api.

Dengan menggunakan kecerdasan mereka, setiap individu dapat mulai menyeret diri mereka sendiri keluar dari kegelapan. Tapi perjalanan semacam itu membutuhkan keberanian pribadi.

… memiliki hati nurani tidak sama dengan menggunakannya.

Nilai diukur dari manfaat.

“Filsafat memberi kita latar belakang yang baik untuk memiliki pendapat pribadi.”

Wawasan filsafat kini dianggap tidak hanya memiliki nilai tersendiri; ia juga membebaskan manusia dari pesimisme dan rasa takut akan kematian.

  • Antisthenes (400 SM) – Kaum Sinis: “Betapa banyak benda yang tidak kuperlukan!” Kebahagiaan sejati tidak terdapat dalam kelebihan lahiriah. Kebahagiaan sejati terletak pada ketidaktergantungan pada segala sesuatu yang acak dan mengambang. Dan karena kebahagiaan tidak terletak pada keuntungan-keuntungan semacam ini, maka semua otang dapat meraihnya. Lebih-lebih, begitu berhasil diraih, ia tidak akan pernah lepas lagi.

Page 9

Kaum Stoik (Zeno), para filosof tong

Semua proses alam mengikuti hukum alam yang tak pernah lekang. Karena itu manusia harus belajar untuk menerima takdirnya. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya, maka tak ada gunanya mengeluh jika takdir sudah datang mengetuk pintu. Ketenangan Stoik: sesorang tidak membiarkan perasaan menguasai dirinya.

Kaum Epicurean

  • Aristippus: Kebaikan tertinggi adalah kenikmatan. Kejahatan tertinggi adalah penderitaan.
  • Epicurus (341-270): Hasil-hasil yang menyenangkan dari suatu tindakan harus selalu mempertimbangkan efek samping yang ditimbulkannya. Hasil yang menyenangkan dalam jangka pendek harus ditahan demi kemungkinan timbulnya kenikmatan yang lebih besar, lebih kekal, atau lebih hebat dalam jangka panjang.

Untuk menikmati hidup diperukan kontrol diri, kesederhanaan, dan ketulusan. Nafsu harus dikekang, dan ketentraman hati akan membantu kita menahan penderitaan.

Neoplatonisme

  • Plotinus (205-270)

Kantor Pos

… aku harus menerapkan sensor ketat pada diriku sendiri…

Dua Kebudayaan

… satu-satunya cara untuk menghindar dari melayang-layang di ruang hampa…

Orang yang tidak dapat belajar dari masa tiga ribu tahu berarti dia tidak memanfaatkan akalnya.

Aku tidak ingin kamu berakhir dengan keadaan yang begitu menyedihkan. Aku akan melakukan apa yang dapat kulakukan untuk memperkenalkanmu dengan akar sejarahmu. Itulah satu-satunya cara untuk menjadi seorang manusia. Itulah satu-satunya cara untuk menjadi lebih dari sekadar seekor kera telanjang. Itulah satu-satunya cara agar kita tidak hanya melayang-layang di ruang hampa.

 

Page 10

Abad Pertengahan

… hanya menempuh separuh jalan bukan berarti salah jalan…

Ada batasan sampai sejauh mana filsafat dapat melangkah.

St. Agustin

Thomas Aquinas

Yang dinamakan kebenaran-kebenaran iman itu harus dapat dicapai melalui keyakinan dan Wahyu.

“Kira-kira begitulah kaitan antara Ciptaan Tuhan dan Kitab Suci. Kita dapat mengetahui adanya Tuhan hanya dengan berjalan mengelilingi alam. Kita dapat dengan mudah mengetahui bagaimana Dia mencintai tanaman dan binatang, sebab jika tidak, maka Dia tidak akan menciptakannya. Tapi informasi tentang Tuhan itu sendiri hanya terdapat dalam kitab…”

End 31/12 ’09

see you next time, Sophie

 

Renaissans

… wahai keturunan Ilahi yang menyamar sebagai manusia…

Satu generasi menua, sementara satu generasi yang lain dilahirkan. Sementara itu pun sejarah bergerak.

“Kita tidak hidup di zaman kita saja; kita membawa serta sejarah di dalam diri kita. Jangan lupa bahwa segala sesuatu yang kamu lihat di ruangan ini dulunya pernah baru…”

“Hidup itu memang menyedihkan dan serius. Kita dibiarkan memasuki dunia yang indah, kita bertemu satu sama lain di sini, saling menyapa -dan berkelana bersama untuk sejenak. Lalu kita saling kehilangan dan lenyap dengan cara yang sama mendadaknya dan sama tidak masuk akalnya seperti ketika kita datang.”

“Tidak ada zaman yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Kebaikan dan keburukan adalah benang kembar yang menjalin sejarah umat manusia…”

“… Alam bukan lagi sesuatu di mana manusia semata-mata merupakan bagiannya. ‘Pengetahuan adalah kekuasaan.’ … Manusia sungguh-sungguh mulai ikut campur terhadap alam dan mulai mengontrolnya.”

Humanisme: manusia hebat dan berharga.

 

Page 11

Zaman Barok

… seperti dalam mimpi…

“… kesombongan muncul sebelum kejatuhan…”

As You Like It:

Dunia ini panggung sandiwara,

Dan semua pria dan wanita hanyalah pemainnya;

Bagi mereka telah ditentukan jalan keluar dan jalan masuknya;

Dan seorang manusia bisa saja memainkan banyak peranan.

Macbeth:

“Hidup ini hanyalah bayangan yang berjalan, seorang aktor yang gagal melagak dan merepet di atas panggung,

Dan kemudian tidak terdengan lagi; hidup adalah kisah yang dituturkan oleh seorang bodoh, penuh bising dan kemarahan,

Tidak bermakna apa-apa.”

by Shakespeare

“Ada atau tiada -itulah soalnya.”

Hamlet, “Suatu hari kita berjalan-jalan di atas bumi -lalu pada hari berikutnya kita mati dan hilang.”

Shakespeare, “Kita ini seperti dalam mimpi, dan hidup yang singkat dijalani dalam keadaan tidur…”

Calderon de la Barca, “Apakah kehidupan itu? Suatu kegilaan. Apakah kehidupan itu? Sebuah ilusi, sebuah bayangan, sebuah cerita, dan keutamaannya sangat sedikit, sebab seluruh kehidupan itu hanyalah impian…”

Petter Dass, “Tuhan tetap Tuhan meskipun semua negeri dihancurkan, Tuhan tetap Tuhan meskipun setiap manusia telah mati.”

Determinisme: Telaah tertulis di bintang-bintang bahwa sesuatu akan terjadi. “Tidak ada yang dinamakan kehendak bebas.”

Astronot: Aku telah pergi ke luar angkasa berkali-kali tapi tidak pernah melihat Tuhan atau malaikat.

Ahli bedah otak: Dan aku telah mengoperasi banyak otak cemerlang namun aku tidak pernah menemukan satu pikiran pun.

Carpe diem – rebut hari ini.”

Momento mori – ingatlah bahwa kamu akan mati.”

Kesementaraan segala sesuatu: seluruh keindahan yang mengelilingi kita suatu hari akan musnah.

 

Page 12

Descartes

… dia ingin membersihkan semua puing dari tempat itu…

Sistem filsafat: Filsafat yang disusun dari dasar dan yang berusaha untuk menemukan penjelasan bagi pertanyaan-pertanyaan penting mengenai filosofi.

“… pertanyaan itu memang milik zamannya…” Apa yang dapat kita ketahui? Apa hubungan antara badan dan jiwa?

Skeptisisme: Manusia harus menerima bahwa dia tidak mengetahui apa-apa.

Descartes, “… kita tidak dapat menerima apapun sebagai sesuatu yang benar kecuali jika kita dapat dengan jelas dan tegas memahaminya.”

Penalaran Descartes: Tujuannya adalah mendapatkan kepastian mengenai hakikat kehidupan, dan dia memulai dengan menyatakan bahwa pertama-tama orang harus meragukan segala sesuatu. … tidak ingin membangun rumah di atas pasir…

… Tidak masuk akal jika kita meragukan semuanya, tapi dia menganggap secara prinsip kita bisa meragukan segala sesuatu… Descartes merasa perlu untuk membebaskan dirinya dari pengetahuan yang diwarisi, atau diterima, sebelum memulai penyusunan filsafatnya sendiri…

‘Bagaimana kamu dapat yakin bahwa seluruh kehidupanmu bukan hanya impian?’

Cogito ergo sum – Aku berpikir, karena itu aku ada.

… satu hal pasti benar, dan itu adalah bahwa dia ragu ketika dia ragu, dia pasti sedang berpikir, dan karena dia berpikir, pastilah bahwa dia seorang makhluk yang berpikir.

… ada kaitan antara akal dan keberadaan. Semakin nyata sesuatu itu bagi akal seseorang, semakin pasti bahwa ia ada.

… Akal tidak menjadi bungkuk dan lemah. Badanlah yang menjadi tua.

End 6/1 ’10

See you next time, Sophie

Glasswinged Butterfly

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s