Untuk Psikologi 30 Tahun Lagi Bag. 5: 30 Tahun Lagi

Ada satu hal yang saya simpan saja selama ini, tetapi menjadi teringat kembali dengan baik karena kalimat-kalimat lama yang saya temukan lagi benar-benar mirip seperti yang saya simpan itu.

“Bayangkan kamu menjadi anggota suatu dewan terkemuka yang tugasnya adalah merumuskan seluruh undang-undang bagi masyarakat masa depan. Mereka berkewajiban untuk mempertimbangkan setiap rincian, sebab begitu mereka sampai pada suatu persetujuan -dan setiap orang telah menandatangani undang-undang tersebut- mereka semua akan mati. Tapi mereka akan hidup lagi di dalam masyarakat yang mereka ciptakan undang-undangnya. Masalahnya adalah, mereka tidak tahu kedudukan apa yang akan mereka tempati di masyarakat itu.”

— John Rawls, dalam “Dunia Sophie”

Ada hal yang membangkitkan perasaan sedih ketika saya melihat dosen-dosen saya, baik yang masih muda maupun yang sudah berumur, teman-teman saya, dan diri saya sendiri, yang berusaha pada bagian masing-masing untuk menyusun rencana pengembangan kampus sampai 30 tahun ke depan. Tiga puluh tahun sungguh adalah masa yang panjang yang mungkin tidak akan tercapai oleh orang-orang yang hari ini sedang berusaha menerawangnya. Ketika yang merencakan akan sudah tidak ada lagi, apa makna apa yang direncanakan? Apa gunanya memikirkan begitu keras sebuah dunia yang tidak akan menjadi tempat kita?

Sangat masuk akal keputusan sebagian orang dalam pekerjaan semacam itu untuk membatasi diri sedemikian rupa sehingga berbuat seperlunya dan secukupnya saja, dan aneh tampaknya, ada saja orang yang begitu menghayatinya dan bekerja seakan-akan pekerjaan ini adalah barang yang begitu berharga.

Saya termasuk yang tersedot ke dalam pekerjaan menerawang masa depan ini. Saya menyadari rasanya lelah, tetapi ada hal yang membuat saya tidak bisa menyerah. Sebabnya sederhana: karena semua ini bermakna sedemikian besar; bermanfaat begitu besar bagi diri saya. Ada begitu banyak yang saya dapatkan dan itu semua mengkompensasi setiap pengorbanan. Kesempatan kali ini adalah kesempatan untuk belajar, dan kesempatan belajar kali ini adalah kesempatan bagi peningkatan diri yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ada ide-ide yang sebelumnya selalu liar dan tidak mau duduk diam, kini begitu jinak dan duduk manis di tempatnya masing-masing dalam ruang pikiran saya.

Saya mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih mengalir tentang psikologi, ilmu yang saya tekuni. Dan dari pemahaman itu, tumbuh penghargaan yang besar pada kerja intelektual dari zaman ke zaman. Ada kalanya saya tidak memperhatikan bahwa pekerjaan saya adalah soal melihat ke masa 30 tahun ke depan, melainkan asyik memahami apa yang telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu sehingga psikologi hari ini seperti ini. Bagi saya, tak ada masa depan tanpa pemahaman apa yang terjadi di masa lalu dan di masa kini.

Saya pun memiliki suatu perasaan lagi; perasaan yang biasa dirasakan orang ketika menyadari bahwa Tuhan telah mengatur hidupnya dengan sebaik-baiknya. Benar-benar, hal yang membantu saya untuk memahami psikologi justru adalah hal-hal yang telah saya pelajari sendiri sebelumnya, yaitu bidang-bidang ilmu bukan psikologi. Semua ini membawa saya mengingat kembali beberapa hal yang telah lalu, dimulai pada masa setelah lulus S1 ketika saya merasa tersiksa dengan kesadaran betapa sempitnya ilmu psikologi dengan dirinya sendiri.

Baru saja bulan lalu saya menyelesaikan buku karya E. H. Carr, “Apa Itu Sejarah?” sehingga saya dapat memahami perjalanan historiografi yang berkembang dan membuat orang sadar untuk melihat masa lalu dengan pandangan yang lebih komprehensif, memasukkan faktor-faktor yang sebelumnya tidak dipertimbangkan, yaitu: zaman. Setiap zaman memiliki persoalan dan pertanyaannya sendiri. Setiap zaman memiliki corak sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang tidak bisa dilewatkan sebagai faktor pembentuk suatu bidang ilmu. Apapun yang sebagian orang kritisi tentang psikologi, kebijaksanaan terbesar adalah tidak menyalahkan masa lalu. Sebagian psikologi yang dipandang tengah krisis pada hari ini pernah dipandang sebagai penyelamat dan benar di hari yang lalu. Betapa pun kita begitu yakin dengan kebenaran kita hari ini, di hari yang akan mendatang, pemikiran kita pun akan dikalahkan, cepat atau lambat.

Baru saja tahun lalu saya mengikuti Asian Community Lecture Series, sehingga saya memiliki gambaran yang nyata tentang apa itu multikulturalisme dalam sebuah komunitas yang majemuk, termasuk di dalamnya gagasan-gagasan postkolonial yang terjelma dalam tekad untuk bangkit dari dominasi dan hegemoni Barat dengan cara membangunkan raksasa Asia yang tidur. Indigenous psychology yang diperkirakan akan menjadi corak psikologi masa depan sangat jelas dipahami dalam konteks sosial, politik, dan budaya ini. Dan sebelum itu saya mengikuti Kuliah Pascasarjana tentang Teori-teori dalam Studi Budaya dan Media yang diampu oleh Prof. Mark Hobart dari SOAS Universitas London, yang mana di dalamnya saya mati-matian memahami hal-hal yang begitu baru: pemikiran-pemikiran postmodernisme. Hari ini, semuanya menjadi jelas, bahkan membantu menjelaskan psikologi hari ini.

Rasanya terharu karena sangat berterima kasih pada Tuhan, akhirnya bisa belajar secara lebih baik hal-hal yang dulu cuma impian, harapan, dan rencana: filsafat psikologi, sejarah psikologi,sosiologi psikologi, dan sains psikologi itu sendiri. Jika dulu potongan-potongan puzzle saya banyak yang hilang, kemudian ditemukan satu demi satu dan masih berantakan, saat ini saya memiliki modal pengetahuan untuk merangkainya. Sangat bersyukur kepada Tuhan, bahkan setelah mengetahui macam-macam hal yang sering diwanti-wantikan orang, kedudukan Tuhan dan agama tak berubah. Tak ada yang perlu ditakutkan dari belajar hal-hal yang asing dan berbeda.

Untuk masa tiga puluh tahun ke depan, tentu saja saya memiliki harapan bagi diri saya sendiri. Di samping menyadari bahwa pada masa itu pada akhirnya saya akan menjadi wanita tua, yang mungkin akan menerima tongkat estafet dari guru-guru saya untuk kembali memikirkan ilmu psikologi 30 tahun lagi, saya berharap akan bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab dengan ilmu berpuluh-puluh tahun dicarinya.

Ada hal yang akan saya ingat betul sebagai orientasi penyelidikan saya di masa depan.

Pertama, saya ingin mencari tahu, memahami, dan mendokumentasikan karakter-karakter baik orang Indonesia (Indonesian’s virtue). Kelak ingin menulis tentang “manusia Indonesia”, seperti Mochtar Lubis, tetapi dengan perspektif yang lebih membahagiakan dan mendidik dalam praktiknya. Ini ingin saya persembahkan untuk bangsa dan negara saya.

Kedua, saya ingin mengembangkan psikologi Islami sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai bagian dari masyarakat muslim. Ingin untuk ini diberi kesempatan oleh Allah untuk menguasai bahasa Arab karena saya ingin merapikan pengetahuan-pengetahuan psikologis-filosofis ulama-ulama muslim di masa lalu dan mendudukkan mereka di tempat yang layak di dalam mata rantai sejarah psikologi. Ingin juga menegaskan paradigma psikologi yang Islami, menjelaskan asumsi-asumsinya kepada masyarakat dunia, dan potensi kontribusinya dalam riset dan praktik psikologi yang lebih baik. Terakhir, ingin membebaskan ilmu pengetahuan dari Islamisme yang sempit dalam berpikir, egoistis dalam orientasi, dan arogan dalam sikap sosialnya.

Ingin mendefinisikan ulang apa itu islamisasi ilmu, terutama psikologi…

Dalam tiga puluh tahun ke depan, itulah rencana saya sebagai pribadi. Insya Allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s