Dunia Sophie Bag. 3: Page 13-16

Page 13

Spinoza (1632-1677)

… Tuhan itu bukan dalang…

Cara membaca yang kritis… , mengungkapkan sejumlah ketidakkonsekuenan.. Seorang filosof harus membantu orang-orang untuk memandang kehidupan dalam suatu perspektif baru.

… melihat segala sesuatu dari perspektif keabadian…

panteis: “Dia mengatakan bahwa Tuhan itu segalanya, dan segalanya ada di dalam diri Tuhan.”

monis: … dia mereduksi alam dan kondisi segala sesuatu menjadi satu substansi.

“Spinoza percaya bahwa Tuhan -atau hukum alam- adalah penyebab batiniah dari segala sesuatu yang terjadi. Dia bukanlah penyebab batiniah, sebab Tuhan berbicara melalui hukum alam dan hanya melalui itu saja,”

… dia menjalani kehidupan sesuai hukum alam. Masalahnya adalah dia tidak menyadarinya karena ada begitu banyak alasan rumit untuk segala sesuatu yang dilakukannya.

“… hanya ada satu zat yang sepenuhnya dan benar-benar merupakan ‘penyebab dirinya sendiri’ dan dapat bertindak dengan kebebasan penuh. Hanya Tuhan…”

Manusia dapat berjuang untuk mendapatkan kebebasan agar bisa hidup tanpa kendala lahiriah, tetapi dia tidak akan pernah meraih “kehendak bebas”. Kita tidak mengontrol segala sesuatu yang terjadi dalam tubuh kita…

Locke (1632-1704)

… sama kosongnya seperti sebuah papan tulis sebelum guru datang…

‘wujud sempurna’ … Tuhan itu ada.

empirisme: pikiran kita sama sekali tidak memiliki ingatan apa-apa yang belum pernah kita alami melalui indera.

… akal manusia mampu mengetahui bahwa Tuhan itu ada.

Page 14

Hume (1711-1776)

… maka masukkanlah nyala api…

… gagasan keliru harus segera ditolak… Jika kita mengambil buku apa saja, mati kita bertanya … Maka buanglah buku itu ke nyala api, sebab ia tak berisi apapun kecuali cara berpikir yang menyesatkan dan ilusi.

… kita kadang-kadang membentuk gagasan-gagasan kompleks yang tidak berkaitan dengan objek yang ada di dunia fisik.

Tidak ada yang benar-benar diciptakan oleh pikiran. Pikiran menyatukan segala sesuatunya dan menyusun “gagasan-gagasan” yang salah.

“Dari kesan mana asalnya gagasan ini?”

Bagaimana dengan … gagasan yang jelas dan terang tentang Tuhan?

Hume menentang semua pemikiran dan gagasan yang tidak dapat dilacak kaitannya dengan persepsi indera.

‘menghapuskan seluruh omong-kosong tak bermakna yang telah lama mendominasi pemikiran metafisika dan membuatna kehilangan nama baik’

Pikiran adalah semacam panggung, di mana beberapa persepsi secara berurutan menampilkan diri, lewat, lewat lagi, menyelinap, dan bercampur dengan berbagai sikap dan keadaan.’

“Kehancuran itu melekat pada semua benda. Usahakan keselamatanmu sendiri dengan penuh ketekunan.”

— Buddha

agnostik: orang yang berpendapat bahwa keberadaan Tuhan atau dewa tidak dapat dibuktikan kebenarannya atau ketidakbenarannya

Anak itu belum menjadi budak dari harapan akan kebiasaan; jadi pikirannya lebih terbuka. Anak memandang dunia sebagaimana adanya, tanpa menambah sesuatu pada segala sesuatu lebih dari yang dialaminya.

Hume, “Jika kita berbicara tentang ‘hukum alam’ atau ‘sebab akibat’, sesungguhnya kita sedang membicarakan tentang apa yang kita harapkan, dan bukannya apa yang ‘masuk akal’.”

Salah satu perhatian utama filsafat adalah mengingatkan orang-orang agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Sesungguhnya itu dapat mendorong timbulnya berbagai takhayul.

… bukan berarti ada hubungan kausal antara dua kejadian…

Page 15

“menghangatkan akal dengan perasaan”

Kita tidak dapat menggunakan akal sebagai ukuran bagi cara kita seharusnya bertindak. Bertindak secara bertanggung jawab bukan berarti menguatkan akal kita, melainkan memperdalam perasaan kita demi kesejahteraan orang lain.

Hume, “Tidak bertentangan dengan akal jika aku lebih suka menghancurkan seluruh dunia daripada melukai jari tanganku.”

“Itu penegasan yang sangat mengerikan.”

“Banyak di antara mereka yang sangat jernih pikirannya. Bukan hal yang luar biasa jika kita dapat menemukan perhitungan dingin di balik keputusan-keputusan yang paling tidak berperasaan.”

“… Jika bencana banjir mengakibatkan jutaan orang kehilangan tempat berteduh, perasaan kitalah yang menentukan apakah kita akan datang untuk membantu mereka. Jika kita tidak berperasaan dan menyerahkan seluruh keputusan pada ‘akal yang dingin’, kita mungkin akan beranggapan bahwa sudah sepatutnya jutaan orang mati di dunia yang terancam kelebihan penduduk ini.”

Berkeley (1685-1753)

… seperti planet yang berputar mengelilingi matahari yang membara…

… kita tidak dapat mengetahui tentang dunia lebih banyak dari yang dapat kita tangkap melalui indera…

“… terburu-buru menarik kesimpulan. Kita sama sekali tidak mempunyai pengalaman yang dapat menjadi dasar…”

Berkeley, “Segala sesuatu disebabkan oleh ruh … penyebab dari ‘segala sesuatu di dalam segala sesuatu’ dan yang ‘membentuk segala sesuatu’. … Kita dapat mengatakan bahwa keberadaan Tuhan dapat dilihat jauh lebih jelas daripada keberadaan manusia. … Segala sesuatu yang kita lihat dan kita rasakan adalah ‘akibat dari kekuasaan Tuhan’.”

End 13/1 2010

See you next time🙂

Page 16

“Pencerahan sejati bagi manusia adalah seperti matahari menyinari bumi.”

— N. F. S. Grundtvig

Zaman Pencerahan

… dari cara jarum dibuat hingga cara meriam ditemukan…

… kehausan manusia akan pengetahuan merupakan suatu kejatuhan dari surga?

“Pertanyaannya bukanlah apakah kita ada, melainkan apakah kita dan siapakah kita.”

Rosseau, “Kita harus kembali ke alam.”

Sebab alam itu bik, dan manusia “secara alami” baik; peradaban itulah yang menghancurkannya.

… sungguh tidak rasional membayangkan sebuah dunia tanpa adanya Tuhan. Dunia jauh terlalu rasional untuk itu.

deisme: kepercayaan bahwa Tuhan menciptakan dunia berabad-abad yang lalu, tapi tidak pernah menampakkan dirinya ke dunia sejak itu.

  • tantangan terhadap kekuasaan
  • rasionalisme
  • gerakan pencerahan
  • optimisme kebudayaan
  • kembali ke alam
  • agama alamiah
  • hak asasi manusia

Kant

… langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku…

Ada dua jenis filosof. Yang satu adalah orang yang mencari jawaban sendiri bagi pertanyaan-pertanyaan filosof. Yang satunya lagi adalah orang yang menjadi ahli dalam sejarah filsafat tapi tidak menyusun filosofinya sendiri.

… apa yang dapat kita ketahui tentang dunia.

… ada kondisi-kondisi tertentu yang mengatur cara kerja pikiran dan mempengaruhi cara kita memandang dunia.

… kita tidak dapat melepas kacamata akal.

Pikiran meninggalkan jejaknya pada cara kita memahami dunia.

End 14/1 ’10 h. 358

see you…

Snow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s