Dunia dalam Tempurung

1# Kamar Keilmuan

Aku tidak tahu apa itu dunia keilmuan sebetulnya; baru dapat melihat, mengalami sedikit-sedikit, dan lebih banyak membayangkannya lewat cerita-cerita, tulisan-tulisan, dan buku-buku. Itu adalah dunia orang-orang yang bekerja memproduksi pengetahuan, pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat dan kehidupan di dunia.

Andai setiap aspek kehidupan memiliki satu kamar, dunia keilmuan memiliki kamarnya. Meski terhubung dengan kamar-kamar kehidupan yang lain, ia memiliki ciri, nuansa, atau aturan main tersendiri yang terkadang tidak dipahami dan sulit diikuti kecuali oleh seseorang yang memasuki dan hidup di dalamnya. Orang-orang di dalamnya berkutat dengan bagaimana mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, bagaimana membangun teori-teori dan cara-cara menyelesaikan masalah, melakukan penelitian-penelitian, berpikir dan merenung, menulis artikel-artikel ilmiah, mempublikasikannya dalam jurnal-jurnal komunitasnya, mendiskusikannya dengan sesama penghuni, mengajarkan apa yang ditemukan kepada orang-orang baru yang masuk, atau pergi keluar kamar tersebut untuk berkomunikasi kepada masyarakat di luar kamar itu yang berharap banyak pada pengetahuan yang diproduksi di dalam kamar yang sibuk itu.

Di zaman sekarang, hampir setiap orang pernah merasakan dunia keilmuan, terutama sebagai murid di kamar pendidikan. Dari TK kita sudah menikmati produk kamar keilmuan dalam aktivitas-aktivitas bermain dan belajar bersama bu guru. Kita naik kelas, dan naik ke jenjang yang lebih tinggi lagi sampai akhirnya berkuliah. Seiring dengan semakin dewasanya kita, kita diajarkan untuk tidak hanya bisa menikmati apa yang sudah disajikan, tetapi belajar bagaimana cara membuat hidangan ilmu pengetahuan tersebut. Kita diajarkan cara berpikir dan menyelesaikan persoalan, dipancing untuk selalu ingin tahu dan mencoba ini dan itu, dibuat terkesima oleh temuan-temuan menakjubkan… Menumpang sebagian ruang dalam kamar pendidikan, dunia keilmuan berusaha meyakinkan setiap anak muda, betapa indahnya kamar penciptaan pengetahuan, jadi… “masuklah ke sini ketika sudah dewasa nanti.”

Semua orang mendapatkan masukan dan ajakan yang relatif sama dari dunia keilmuan, tetapi tidak semua menerima dan mengikuti itu.

Ada orang yang kutahu, yang sudah dinamai orangtuanya Scientia, tetapi tidak memilih jalan untuk menjadi scientist. Scientia-nya hanya nama saja, mungkin merefleksikan keyakinan orangtuanya yang indah, tetapi tidak sampai menjadi impian untuk menjadi pribadi yang sesuai dengan nama itu.

Ada orang yang kutahu, seorang teman di sekolah menengah yang begitu cerdas dalam matematika dan ilmu pengetahuan alam. Kecerdasannya tidak membuat ia memilih jalan menuju kamar keilmuan. Realita menutupi pandangan matanya, ia tidak melihat jauh pada suatu dunia yang ia bisa saja memasukinya.

Ada juga orang yang kutahu, banyak orang yang kutahu, dengan kelimpahan rezeki bisa menempuh pendidikan tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Tetapi modal ilmu yang dipelajari itu tidak pula membuat ia memilih jalan memasuki dunia keilmuan. Mereka punya cita-cita lain.

Ada orang-orang lain yang kutahu pula, berhasil memasuki akademika dan secara resmi bekerja sebagai pegawai ilmu pengetahuan. Tetapi, bahkan dengan keberuntungan bisa memasuki kamar keilmuan, ia tidak hidup sebagai warganya yang baik. Tidak meneliti atau penelitiannya asal, tidak menulis atau tulisannya tidak berbobot, mengajarnya sekadar mengulang-ulang hal lama… Gelar-gelar itu hanya nama.

Menjadi seorang ilmuwan ternyata memerlukan lebih dari sekadar nama diri yang ilmiah, kecerdasan, prestasi akademik masa lalu, uang, pendidikan sampai tinggi, atau sudah-berada di kamar keilmuan.

***

2# Orang-orang bodoh

Kebodohan adalah penyakit yang sulit didefinisikan dan tersembunyi dari kesadaran manusia. Wajar orang yang tahu sedikit jika ia disebut bodoh, tetapi banyak orang yang tahu banyak tetap dapat pula disebut bodoh. Kebodohan yang disadari menimbulkan suatu perasaan: merasa bodoh, merasa malu diri masih bodoh; seseorang berkata, “Maaf, saya belum tahu itu,” memilih menahan diri ketimbang berbunyi nyaring seperti tong kosong, dan mencari apa yang masih kurang itu.

Bodoh itu singkatnya tidak berpengetahuan, atau berpengetahuan tetapi tidak tahu bagaimana memanfaatkanya. Orang bodoh adalah keberadaan yang wajar dalam kehidupan. Semua orang bodoh, tetapi kebodohan itu menjadi masalah ketika kebodohan membuat orang yang bodoh itu memposisikan diri sebagai orang berpengetahuan.

Tidak mudah menempatkan kembali seseorang yang demikian pada kedudukannya, agar tempat itu diduduki oleh orang lain yang layak. Kadang, pada beberapa kasus, merasa tahu dan benar, rasa puas diri, rasa bangga diri, dan kesombonganlah yang membuat seseorang berada di sana. Ucapannya tidak masuk akal, tidak menyasar pada persoalan, berbelit-belit, tak punya arah dan tujuan, tetapi tidak bisa dihentikan dan mental jika dikoreksi. Jika ditunjukkan, “Kau ini tidak tahu,” emosinya bangkit dalam ketidaksenangan, kemarahan, merasa terhina, dan diserang. Orang bodoh adalah orang yang benci kebodohan, menolak kebodohan, dan terhina dengan kebodohan.

Orang berpengetahuan adalah orang yang bisa menikmati kesadaran akan kebodohan, mengambil manfaat yang banyak dari kesadaran akan ketidaktahuan. Orang berpengetahuan tidak memahami kebodohan sebagai kualitas diri statis, melainkan bagian dari proses dinamis perjalanan hidup. Bodoh dan berpengetahuan adalah keadaan yang senantiasa bertukar, berganti-ganti dari waktu ke waktu, sehingga bukan masalah jika keduanya dialami dalam hidup. Ia bersyukur jika diingatkan bahwa ia tidak tahu. Ia bertanya atas apa yang ia tidak tahu tanpa merasa malu.

***

3# Dunia di Dalam Tempurung

Kata orang, jangan jadi seperti katak dalam tempurung… tetapi hidup dalam kamar keilmuan paling tepat dijalani adalah dengan kesadaran bahwa diri ini selamanya adalah seekor katak kecil yang hidup di bawah naungan tempurung. Jika ingat parabel gajah dan orang buta pun, hidup sebagai ilmuwan akan lebih tercerahkan dengan kesadaran bahwa diri inilah orang buta itu, yang jarang melihat fakta secara sempurna karena keterbatasan wawasan.

Bagi manusia, ironis, pengetahuan yang meluaskan wawasannya adalah yang membatasi dirinya. Orang hidup mengandalkan apa yang dipercayainya, yang diyakininya saja. Pendapat-pendapatnya, penilaian-penilaiannya, solusi-solusinya atas permasalahan tidak akan melebihi luas wawasan yang membatasi itu. Semua orang berada dalam keterbatasan ini, tetapi yang paling rugi bukanlah orang yang wawasannya paling sedikit, melainkan orang yang wawasannya terbatas pada tentang dirinya saja atau kelompok di mana ia berada saja. Pengetahuan itu tidak dapat dihitung banyak sedikitnya, tetapi sempit atau luasnya dapat ditakar dari seberapa beragam hal-hal selain diri yang diketahui. Meskipun seseorang tahu banyak dan mendalam tentang diri sendiri, tetap saja wawasannya disebut sempit karena meliputi area yang sempit, yaitu diri dan kelompok sendiri.

Ketika Allah memerintahkan manusia untuk mengamati alam semesta, itu berarti mengalihkan fokus dari diri sendiri menuju semesta yang luas di luar diri. Ketika Allah memerintahkan manusia untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat dan masyarakat manusia terdahulu, itu berarti mengalihkan fokus dari masa kini menuju masa lalu yang telah jauh dari diri yang sekarang. Seperti itu pula, ketika Allah memerintahkan manusia memikirkan dunia sesudah mati, pada masa depan yang ekstrem, tidak terjangkau prediksi manusia. Ketika Allah berfirman bahwa ilmunya tak terhingga, meliputi apapun, termasuk hal-hal yang tidak sudi diyakini manusia, tidak dipercayai, tidak disenangi, rugi manusia yang membatasi diri pada apa yang jadi preferensinya saja, dan preferensi favorit tentu adalah yang bersangkutan dengan diri sendiri.

***

One thought on “Dunia dalam Tempurung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s