Diari Tesis Bag. 8: Terima Kasih :D

Kita tidak tahu seperti apa takdir kita. Kadang-kadang kita merasa beruntung, tetapi kadang-kadang pula rasanya keberuntungan itu pergi. Ya, ada saatnya hidup itu mudah. Ada saatnya hidup itu susah. Haha… sungguh manusia. Memang begitulah pembawaan dirinya: memikirkan diri sendiri dan kehilangan perspektif yang lebih besar dalam memandang kehidupan.

Lama sekali tidak memperbarui diari tesis. Bulan-bulan vakumku aku akui adalah periode hidup yang tidak mudah. Ada saja masalahnya, namun hikmahnya, aku jadi belajar sesuatu. Bagi seseorang yang bekerja dengan banyak menggunakan otak, pikiran dan hati yang tenang itu penting. Hiduplah yang lurus-lurus saja, yang benar-benar saja, agar terhindar dari masalah yang aneh-aneh, yang berpotensi mengacaukan pikiranmu dan membuatmu tidak bisa bekerja🙂

Ada banyak hal yang terjadi dan ingin kuceritakan secara kronologi sejak Mei 2015 yang lalu. Bulan itu adalah pertengahan semester keempatku. Saat itu pengambilan data dari 11 orang narasumber sudah selesai dan aku menyibukkan diri dengan analisis data tahap pertama. Luar biasa ternyata rasanya bekerja dengan teks yang tebal itu. Rasa bosan adalah penghambat nomor satu. Ada banyak hari aku sulit produktif, tak bisa bekerja delapan jam per harinya. Untuk memperbaiki suasana hati, aku membaca hal lain seperti buku-buku yang baru kubeli atau melanjutkan cerita yang sedang kutulis.

Meski demikian, aku tetap memasang target dan terpaku terus pada target itu, bahwa bulan berikutnya aku harus bisa bertemu dengan dosen pembimbingku untuk menunjukkan hasil. Aku berupaya keras agar bisa seminar hasil bulan Agustus atau September (grrh… demi orang gila yang ingin aku sudah lulus bulan Oktober). Inilah masalah keduaku setelah bosan: tertekan. Sebabnya bukan hanya karena aku harus bekerja keras menyelesaikan tesis dalam waktu yang sangat singkat, tetapi lebih karena aku tidak bisa meyakinkan diriku untuk mengorbankan idealismeku sebagai peneliti.

Dihadapkan pada target yang tidak realistis, menyelesaikan penelitian grounded theory dengan lebih dari sepuluh orang subjek dalam waktu tiga bulan saja, bagaimana bisa kau tidak korup?! Banyak waktu kuhabiskan untuk berpikir bagaimana caranya bicara pada dosen pembimbingku macam… “Bu, saya kira penelitian saya cukup dengan hanya satu kali wawancara saja ya bu. (Saya harus cepat lulus).” Aku dihantui pikiran, aku tahu ini belum cukup, masih banyak informasi yang kosong, dan jumlah 11 orang itu kurang ideal untuk penelitian grounded theory yang butuh basis data yang kaya, tebal, dan jenuh.

Ternyata aku tidak bisa bertindak korup macam itu. Di titik itulah aku mengenal satu hal dalam diriku: lebih mudah dan ringan bagiku untuk mengikuti apa yang ideal meski berat ketimbang yang tidak. Jangan suruh aku berbuat yang tidak seharusnya karena itu justru membuatku tertekan, terganggu dan tidak bisa bekerja. Akhirnya aku membuat keputusan besar untuk melakukan wawancara ronde kedua bagi seluruh subjekku. Aku tahu risikoku tak bisa seminar hasil dalam waktu yang kurencanakan.

Bulan Mei berlalu, dan bulan Juni pun sebentar lagi berlalu. Diliputi perasaan tidak enak karena hampir satu semester lamanya belum pernah menemui dosen pembimbingku, aku berupaya agar bisa sekali menemui beliau untuk menunjukkan hasilku. Di saat itulah peristiwa sedih itu terjadi. Dosen pembimbingku rupanya sedang sakit dan dipanggil ke rahmatullah pada akhir Juni itu.

Aku semakin yakin tidak mungkin bisa seminar hasil bulan Agustus atau September karena pada bulan Juli, bulan Ramadhan, keluargaku punya agenda pulang kampung ke Banda Aceh. Selama Juli aku benar-benar tak bisa menyentuh tesis atau melanjutkan ambil data ronde kedua karena itu masa libur semester mahasiswa. Masuk bulan Agustus, alhamdulillah aku mendapatkan dosen pembimbing baru. Pada kali pertama aku bimbingan, aku diminta menjadi asisten untuk penelitian dalam rangka penyusunan rencana pengembangan keilmuan Fak. Psikologi dan aku menerimanya. Aku bekerja sehari delapan jam, seminggu 40 jam, selama tiga bulan sampai Oktober untuk proyek itu.

Coba tebak, apa yang aku rasakan terkait tesisku setelah mengalami tiga peristiwa itu? Dosen pembimbing meninggal, vakum satu bulan karena agenda keluarga dan liburan, dan direkrut dalam penelitian dosen. Aku tidak merasakan apa yang mungkin biasanya dirasakan orang ketika rencana penyelesaian tesisnya jadi luar bisa berantakan seperti itu.🙂 Justru merasa bersyukur, misalnya, karena dari mengikuti proyek itulah aku jadi berkenalan dengan software NVivo. Aku belajar dan akhirnya mahir menggunakan program pembantu analisis data kualitatif itu selama September, dan itu membuka kesempatan baru untuk melakukan penelitian tesis yang lebih baik lagi.

Pada bulan Oktober dengan penuh keyakinan aku sampaikan kepada dosen pembimbingku yang baru, “Bu, saya ingin menggenapkan subjek saya menjadi 20 orang.” Penelitianku memang membutuhkan beberapa subjek lagi. Jika sebelumnya subjekku mayoritas muslim dan perempuan, pada ronde ketiga ini aku menambahkan beberapa orang lagi. Untuk analisis data yang menjadi lebih banyak itu, aku sangat terbantu dengan NVivo.

Kebahagiaan yang lain yang membuatku bersyukur, di bulan Oktober itu, aku bisa ikut konferensi internasional psikologi Islam di Yogyakarta! Aku mempresentasikan hasil sementara tesisku. Di bulan Oktober itu pula aku mengikuti pelatihan membangun teori dalam psikologi. Akhirnya semua hal yang memberati hatiku gara-gara tak mengerti beberapa hal dalam grounded theory method terselesaikan semua.🙂 Saat ini, aku sedang bersemangat menyelesaikan analisis tahap pertama untuk seluruh subjek yang akhirnya bertotal 16 orang. Tinggal empat orang lagi! Aku berencana, insya Allah bulan Desember nanti bisa seminar hasil dan wisuda pada April tahun depan🙂

Ya Allah, terima kasih atas semuanya!!! Bagi sebagian orang, aku mungkin terlambat lulus karena masalah ini dan itu, tetapi takdir-Mu aku sadar benar-benar adalah yang terbaik. Aku bahagia bisa melakukan penelitian ini secara ideal tanpa menciderai etika keilmuan mana pun. Benar-benar bahagia!

Ya Tuhan, menulis ini aku menangis terharu… Terima kasih, terima kasih, terima kasih.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s