Islam dan Sains Modern, dan Psikologi: Bagian 1

 

 

1# Integrasi Islam dan Sains Modern

Saat ini saya tengah membaca buku berjudul “Islam dan Sains Modern” karya Nidhal Guessoum (Mizan, 2011), guru besar fisika dan astronomi di American University of Sharjah, UAE. Tesis utama dalam bagian pertama buku tersebut berkenaan dengan persoalan bagaimana mengintegrasikan (kembali) sains modern dengan agama, dalam hal ini adalah Islam, dalam konteks masyarakat muslim.

Membaca buku ini, saya tidak semata tertarik pada konten yang disajikan berupa pemikiran-pemikiran, teori-teori yang hendak dipraktikkan terkait bagaimana mengembangkan sains yang islami, melainkan juga sebuah moral dan pelajaran. Ada kalimat yang sangat mengena pada bagian ucapan terima kasih, tentang pada siapa buku ini didedikasikan. Prof. Nidhal dengan bukunya ingin membantu anak-anak muda Muslim mengembangkan sebuah identitas, yaitu identitas yang otentik dan modern, tanpa dilema, kontradiksi, dan krisis.

Saya masih muda, dan itu membuat saya merenungkan identitas diri saya sebagai seorang Muslim yang tengah belajar dan membangun kepakaran di salah satu bidang ilmu. Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi dalam perkembangannya, dalam tubuh umat sendiri terjadi berbagai perdebatan dan pertentangan tentang: Ilmu apa yang seharusnya dikembangkan oleh orang Islam; apakah boleh belajar ilmu dari Barat atau dari tradisi masyarakat dunia lainnya; apakah benar dikotomi antara ilmu agama-ilmu dunia, ilmu Islam-ilmu Barat; apakah sebaiknya melihat ke belakang (pada khazanah keilmuan Islam klasik) atau menatap ke depan (pada ilmu-ilmu modern dan teknologi baru yang berusaha menjawab tantangan hidup masa kini dan masa depan); bagaimana membangun ilmu yang sesuai dengan keyakinan dan nilai Islam; apakah belajar hal-hal baru dan berinovasi yang tidak ada dalam Al Quran dan sunnah adalah bid’ah; apakah pengetahuan ilmiah yang melawan pemikiran Islam ortodoks menjadikan diri kafir; apakah ada kebebasan berpikir, bergagasan, dan mencoba dalam Islam; apa sebenarnya dan sejauh mana peran Al Quran dan sunnah dalam pengembangan ilmu; apakah ilmuwan boleh ikut menafsirkan Al Quran; apa itu islamisasi ilmu, mengapa ilmu perlu diislamisasikan, apakah ada ilmu yang tidak Islami, apakah ada ilmu yang di luar Kemahatahuan Tuhan?

Tidak ada satu jawaban untuk semua pertanyaan itu, sementara diri perlu memiliki sikap dan mengambil posisi berdasarkan prinsip yang benar. Bagi saya, tidak ada yang lebih benar dan lebih indah dari prinsip yang terinspirasi dari sebuah hadist nabi, “Hikmah adalah milik muslim yang hilang, di mana saja dia menemukannya, maka ia berhak mengambilnya.” (HR. Tirmidzi). Semua hal pantas untuk dipelajari, dari mana pun ia berasal atau bersumber, dengan tujuan tertinggi dari pencarian atas ilmu bukanlah ilmu itu sendiri, melainkan hikmah, pelajaran. Satu hikmah sederhana itu menyelesaikan semua pertanyaan di atas. Integrasi sains dan agama dimulai dari alam pikiran yang tidak mengkotak-kotakkan dan membeda-bedakan antara ilmu yang satu dan yang lain. Semua adalah jalan untuk mendekatkan diri pada Allah. Dengan tujuan yang benar, jika hampir atau sudah salah jalan, insya Allah, Allah yang akan meluruskan kembali ke jalan yang akan membawa si pencari ilmu kepada-Nya.

Ada sebuah cerita menarik dalam buku “Islam dan Sains Modern”, yaitu sejarah singkat kehidupan Ibn Rusyd. Ia adalah tokoh yang sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Barat, dikenal sebagai seorang “pemikir bebas”. Ibn Rusyd menulis buku kecil yang berjudul “Wacana Pamungkas tentang Keselarasan Agama dan Filsafat” yang berisikan teorinya bahwa “seseorang yang mencari kebenaran dari agama dan filsafat tidak akan menemukan sesuatu yang bertentangan dari keduanya. … dengan agama, yakni melalui ayat-ayat suci Al Quran dan hadis nabi, seseorang dapat menemukan pernyataan-pernyataan yang dapat diinterpretasi dengan benar. Sementara itu, dengan filsafat, … akal juga bisa mencapai kesimpulan yang benar dengan metode yang cermat dan hati-hati.”  “Kebenaran (wahyu) tidak dapat bertentangan dengan kebijaksanaan (filsafat), sebab keduanya saling menguatkan dan mendukung.” (h. 18)

“Hukum Ilahi menggabungkan wahyu dengan akal. Hal ini harus dipahami berdasarkan sebab, sarana, dan tujuan. Wahyu dilengkapi dengan unsur-unsur dalam akal, sedangkan akal juga dilengkapi dengan unsur-unsur dalam whyu. … sangat masuk akal bahwa filsafat seharusnya tidak saja menjadi sarana yang boleh digunakan dan dipraktikkan Muslim, tetapi juga diharuskan, setidak-tidaknya bagi kelompok pemikir elite, sebab Tuhan telah menyuruh manusia mencari kebenaran dengan menggunakan akal dan indera. … Ayat Al Quran yang paling sering dikutip Ibn Rusyd adalah, ‘Maka jadikanlah (kejadian itu) sebagai pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai penglihatan.’ QS 59: 2.”

Ibn Rusyd tidak hanya seorang yang menjunjung penggunaan akal, tetapi juga bersikap toleran pada semua pandangan. “… intoleransi dan pertentangan muncul ketika orang-orang hanya berpegang teguh pada satu kemungkinan pemahaman.”

Integrasi Islam dan khazanah sains modern menjadi mungkin dengan dianutnya pola pikir yang terbuka semacam yang dipaparkan di atas. Dengan memanfaatkan kapasitas akal dan indera sebaik-baiknya, belajarlah sebanyak-banyaknya hal, baik dalam agama maupun di luar agama, tentang ilmu pengetahuan, alam semesta yang material dan manusia yang hidup di dalamnya.

***

Seseorang perlu membangun filsafat pribadinya mengenai alam dan kehidupannya…

Merenungkan keadaan dalam agama dan ilmu pengetahuan yang terpecah-pecah mengingatkan saya ada parabel gajah dan orang-orang buta. Terhadap satu objek pencarian yang sama, karena sempitnya pandangan masing-masing hanya pada satu pemahaman yang diyakini sendiri benar, semua kehilangan pemahaman yang utuh dan lebih bermanfaat. Orang dengan hanya pengetahuan agama, hanya tahu tentang agama; hanya dengan pemikiran filsafat, hanya tahu tentang pemikiran filsafatnya; hanya dengan pengetahuan hasil penyelidikan ilmiah, hanya tahu tentang itu; hanya dengan common sense pun, hanya tahu tentang common sense-nya itu.

Ketika satu orang tidak mungkin bisa memahami semua perspektif, hal yang sangat bisa dilakukan adalah saling bertukar pikiran, saling mau mendengarkan, antara orang-orang dengan berbagai perspektif. Namun, itu tidak bisa atau sulit dilakukan jika orang tetap keras kepala dengan satu pemahamannya dan memonopoli pendapat tentang apa yang benar, dan terlalu mudah sakit hati jika pemahamannya itu dikritik dan ditunjukkan celanya. Karena itu, kecerdasan untuk berpikir dan keterampilan bertukar pikiran perlu dibarengi dengan keterbukaan pikiran, dan kesediaan untuk mengubah pendapat berdasarkan hikmah yang ditemukan.

Saya menyadari bahwa keterbukaan pikiran (yang merupakan syarat integrasi) bukan hal yang mudah dicapai. Kenyataannya memang, kebenaran yang sudah lama dianut dan ditanamkan sebagai benar, benar, dan benar tanpa diizinkan pemikiran kritis terhadapnya, tidak mudah digoyahkan. Jika seseorang sudah terlalu terdoktrinasi, ia berpikir bukanlah untuk menemukan hikmah dan pemahaman yang lebih baik, melainkan untuk mempertahankan keyakinannya.

Kebenaran (keyakinan yang dianggap benar) adalah suatu bentuk zona nyaman lainnya. Rasanya akan tidak nyaman atau menakutkan jika memasuki belantara di luar arena kebenaran itu karena risiko-risikonya, apakah itu berupa rasa-benar sumber ketenangan diri yang hilang, kembali dalam keraguan dan pencarian, takut salah, takut berdosa dan dihukum oleh Tuhan, takut dibenci dan ditinggalkan rekan-rekan sepemikiran. Apakah Tuhan mengharamkan manusia berpikir kritis dan keluar dari kebiasaan, adat, dan zona nyamannya?

Selain itu, memang ada faktor-faktor lain selain di atas. Ada politik di dunia ini, di mana ilmu pengetahuan dan agama dijadikan alat untuk mempertahankan atau membangun hegemoni. Pengetahuan diproduksi dan pemahaman-pemahaman baru dicapai, tetapi sebagian orang tak mau atau tak bisa menerima itu karena kepentingan-kepentingan politiknya, baik sebagai individu atau anggota dari kelompok.

Atau mungkin, dibutuhkan cara yang lebih lembut dan penuh hikmah agar seseorang yang sekeras apapun hati dan tempurung kepalanya, bisa melihat bahwa dirinya akan lebih baik jika mengetahui lebih banyak hal baik, ketimbang hanya tahu apa yang ia tahu saja. Tidak semua orang punya kesadaran yang hidup untuk membuka pikiran dan menerima keragaman, tetapi bakat ke arah itu, semua orang memilikinya karena Allah menganugerahkan setiap manusia rasionalitas untuk menilai hal-hal. Seorang pengajar yang baik, tidak hanya mengajarkan hikmah, tetapi juga mengajarkan dengan cara yang bijak🙂

 

Di tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan isi lainnya dari Bagian 1 buku Islam dan Sains Modern. Ini penting, karena memberikan pandangan bagi orang-orang yang ingin mengembangkan sains tanpa mengorbankan spirit keislamannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s