Bom Jakarta 2016: Sedikit Melihat Sisi Psikologisnya

1# Selama dan Setelah Bom Jakarta 2016

Kamis, 14 Januari 2016 lalu, ketika sedang asyik-asyiknya mengikuti persidangan Jero Wacik yang dihadiri wapres Jusuf Kalla sebagai saksi di salah satu stasiun televisi swasta, tiba-tiba saja pemberitaan berubah. Sekitar pukul 11 diberitakan telah terjadi aksi terorisme di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Itu menjadi peristiwa nasional besar yang masih diperbincangkan sampai hari ini.

Saya benar-benar mengikuti peristiwa itu dari awal sampai akhir breaking news akhirnya berakhir, bergonta-ganti saluran, memperhatikan bagaimana narasi peristiwa berkembang dari yang awalnya cuma bisa meraba-raba kejadian sampai diperoleh kepastian dan keterangan resmi. Saya terserap dalam banyak hal yang tampak di layar kaca, mulai dari potongan-potongan kejadian dari video-video warga yang diputar berulang-ulang sampai dialog mendalam pewarta di beberapa stasiun TV dengan para pakar dan pengamat terorisme. Itu satu hari yang berharga bagi saya yang sangat tertarik dengan psikologi terorisme. Satu hari itu adalah kelas yang nyata, yang membuat saya sampai rela meninggalkan tesis!

Setelah berita utama selesai, kelas saya tidak berakhir. Perhatian saya kini tidak hanya terpusat pada televisi, tetapi juga pada media sosial. Ada berbagai kejadian-kejadian ikutan yang sangat menarik dan tentu semua orang tahu, tentang bagaimana orang Indonesia berperang melawan teroris dengan kata-kata. Saya cukup mengikuti bagaimana hashtag di media sosial berkembang. Adik saya melaporkan bagaimana grup WA-nya ramai. Hashtag yang awalnya #prayforjakarta segera setelah peristiwa terjadi, meniru peristiwa terorisme di Prancis #PrayforParis, berubah menjadi #kamitidaktakut beberapa jam kemudian dan akhirnya berubah lagi menjadi #indonesiaberani hari ini.

Hashtags tersebut bagi saya mencerminkan perkembangan sisi psikologis masyarakat Indonesia dalam menghadapi peristiwa terorisme. Hashtag pertama, bagi saya itu menggambarkan usaha pertama masyarakat memahami peristiwa buruk ini dengan jantung berdebar dan hati sedih, apakah akan berlangsung semenakutkan dan akibatnya akan seberat yang terjadi di Prancis di mana seratus lebih orang menjadi korban? Semua orang berdoa, semoga Indonesia baik-baik saja.

Namun, kemudian waktu berlalu. Seiring dengan meredanya ketegangan karena skala serangan dan kerusakan yang ternyata tidak besar dan situasi yang semakin terkendali, siaran televisi dan reportasi warga menunjukkan sisi yang berbeda dari peristiwa. Ternyata masyarakat yang ada di sekitar berespon secara tak terduga. Ketimbang lari menyelamatkan diri dan terus bersembunyi, entah apa yang memotivasi mereka, mereka yang awalnya pergi berlarian, lalu ditahan petugas 200 meter jauhnya dari lokasi pengeboman, kembali mendekat ke titik 100 meter dari lokasi, dan lebih dekat lagi. Itu adalah “ketidaknormalan” di tengah situasi yang berbahaya karena normalnya orang pergi menjauhi bahaya dan cari selamat.

Keberanian itu adalah fenomena yang ingin sekali saya pahami, karena itu sangat psikologis. Di samping keberanian itu, banyak pula kemudian beredar fenomena bagaimana masyarakat di lokasi dapat “menikmati” situasi tersebut. Para pedagang tetap berdagang, para pejalan kaki asyik mengambil gambar atau menonton, seakan aksi terorisme itu adalah tontonan atau “syuting film” (seperti kata salah satu meme). Hal itulah yang setelah peristiwa berakhir menjadi fokus perhatian dan bahan selanjutnya evaluasi peristiwa terorisme sehingga muncul hashtag #kamitidaktakut dan lebih jauh, meme-meme penuh humor yang terkesan meremehkan.

Sumber: Google Image, dengan kata kunci “meme bom jakarta”

Meme KitaTidakTakut 1

 

Meme KitaTidakTakut 2

Meme KamiTidakTakut 4

 

Orang melupakan gambaran serangan teror yang terjadi di negara lain dan fokus pada yang terjadi di Indonesia, bahwa (orang-orang) Indonesia berbeda! Keberanian orang-orang di lokasi menyebar lewat media sosial dan membangkitkan keberanian orang-orang di tempat yang lain yang jauh. Dari yang awalnya “lemah”, berperan sebagai korban, dan cuma bisa berdoa, berubah kedudukannya menjadi lebih kuat dan membalik keadaan sebagai pemenang dalam pertarungan. Kemenangan atas teroris menumbuhkan kepercayaan diri untuk bertindak lebih berani, lebih kuat melawan dan menyerang balik, meski cuma dengan gambar dan kata-kata (meme).

Aksi masyarakat di dunia maya (online) mulai terwujud di dunia nyata (offline). Itu tampak dari gerakan sejumlah kelompok masyarakat di ibukota dan di beberapa daerah yang menyuarakan #kamitidaktakut secara terbuka (baca KOMPAS, 16 Januari 2016, h. 1). Gerakan bersatu melawan terorisme menjadi topik utama di hari kedua. Gerakan ini merupakan pernyataan sikap terhadap terorisme. Tujuan aksi teror adalah menyebarkan ketakutan dan mengambil keuntungan dari itu. Jika ingin melawan terorisme, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan tidak membiarkan diri terpengaruh (menjadi korban tidak langsung) dari aksi terorisme. Dengan bersikap tenang dan tidak takut, kehidupan berlangsung normal kembali, dan itulah fundamen yang penting bagi stabilitas di level yang lebih makro, sosial, ekonomi, dan keamanan nasional.

 

#KamiTidakTakut

Sumber gambar: liputan6.com

KamiTidakTakut 2

Sumber: http://www.bbc.com

***

2# Melihat Narasi-narasi Kecil

Bom Jakarta 2016 mengakibatkan tujuh orang korban tewas (lima di antaranya adalah pelaku) dan 26 orang luka-luka. Terhadap para korban, ada simpati yang mendalam dari berbagai pihak. Meski begitu, itu tidak menghentikan masyarakat untuk melihat hasil dari keseluruhan peristiwa (tidak hanya berfokus pada individu-individu korban) dan merasakan suatu kelegaan dan suka cita. Sebagai bangsa, Indonesia berhasil bersama-sama melawan rasa takut yang ditimbulkan oleh aksi teror dan menggalang kekuatan yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat untuk menghadapi ancaman terorisme. Tidak bisa dipungkiri, keberhasilan ini penting bagi bangsa Indonesia.

Meme-meme yang nyeleneh dan terkesan meremehkan terorisme diapresiasi sebagai hal yang positif. Program berita dua hari terakhir ini membahas itu sebagai kekuatan bangsa Indonesia; benar-benar bangsa yang humoris, seperti kata Mochtar Lubis dalam buku Manusia Indonesia.

Di artikel “Pakar Medsos Anggap Wajar Meme Lucu Pasca Teror” misalnya, dibahas oleh pakar media sosial dan teknologi informasi bahwa meme-meme lucu tersebut wajar sebagai bentuk pelepasan ketegangan dan kekesalan terhadap aksi teror. (Dalam psikologi, berguyon memang adalah salah satu metode pereda stres.) Mampu menangkap sisi humor suatu peristiwa menunjukkan bahwa masyarakat berhasil move on. “Dalam sehari mereka bisa berubah dari berduka, lalu berempati, dan tak lama kemudian santai bercanda. Berbeda halnya dengan netizen Eropa dan belahan dunia lain pasca Tragedi Paris yang berduka selama berhari-hari dengan tagar #PrayforParis.”

Itu adalah narasi arus utama pasca serangan bom.

Hal yang mungkin luput dari perhatian kebanyakan orang yang tergabung dalam opini arus utama adalah bahwa ada narasi lain yang berbeda dari itu.

Pertama, satu yang masuk akal adalah terkait kritik terhadap sebagian masyarakat yang tampak bersikap berlebihan dalam menikmati situasi buruk. Selfie di tempat kejadian terorisme seakan-akan tempat tersebut adalah tempat wisata, lupa bahwa terjadi korban jiwa dan luka-luka di situ. Hal itu dirasakan tidak empatik, membanggakan diri bisa saksi mata kejadian, tak kenal situasi; atau berusaha mencari sensasi dengan menyebarkan gambar-gambar korban tanpa disamarkan. Karena itu, sangat disarankan adanya pendidikan etika untuk jurnalisme warga dan pendidikan etika penggunaan media sosial.

Kedua, hal lain yang menuai kritik adalah adanya pihak yang berusaha memelintir peristiwa, mengalihkan isu, berusaha menawarkan skenario lain untuk menjelaskan peristiwa. Contoh yang paling menonjol berasal dari portal resmi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), http://www.portalpiyungan.com.

Ketika kebanyakan orang bersatu meyakini bahwa ISIS ada di balik serangan bom Jakarta berdasarkan data-data pihak kepolisian dan pengakuan pihak ISIS sendiri, muncul pemberitaan di situs tersebut bahwa “Akun Pendukung Jokowi Tuduh Prabowo Dalang Bom Sarinah” (16/1) dan Pelintiran Media “ISIS Klaim Bom Jakarta” (15/1) yang semuanya menolak peran ISIS secara tidak langsung. Tulisan yang lain yang justru mencurigai pihak inteligen negara sebagai yang sengaja menciptakan gerakan radikal dan aksi teror untuk mendepolitisasi umat Islam dengan mengutip perkataan Busyro Muqoddas yang dikeluarkan 30 Desember 2015 lalu; “Busyro: Teroris Di Indonesia Ada Kesan Dipelihara dan Sistemik” (14/1). Tulisan lain menganggap peristiwa bom Jakarta sebagai aksi yang sengaja dilakukan untuk pengalihan isu terkait kasus Freeport, “Bertepatan “Deadline” Freeport, Bom Meledak di Jakarta” (14/1). Berita lain memuat hal yang tidak benar, “Bom Sarinah, Dolar AS Akhirnya Tembus Rp14.000” (14/1). Rupiah memang melemah, tetapi tidak tembus level Rp14.000,00 (baca Kompas, 16 Januari 2016, berita Ekonomi).

Ketika orang-orang berjuang untuk bersikap tegar dan tetap positif, berita-berita tak benar semacam ini muncul dan dikonsumsi publik anggota PKS dan simpatisannya. Ada yang kemudian jadi membenci Presiden Jokowi, membenci pemerintah, membenci aparat keamanan, dan membenci media. Mereka berkeyakinan bahwa ada “grand design atau skenario besar yang bertujuan menjatuhkan Islam” di balik aksi terorisme yang dilakukan muslim ekstremis dan radikal. Tetapi, mereka pun membuat skenario lain yang sulit dipercaya dan membuat orang bertanya, apa sebetulnya maunya?

Ketiga, terakhir yang saya dapatkan sejauh ini, bersumber dari curahan hati seorang teman. Ia berharap masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya tidak menghakimi sembarangan dan dapat menghargai jalan beragamanya sebagai muslim bermanhaj salafi; agar masyarakat tidak mencurigai dan menuduh dirinya dan keluarganya terkait dengan kelompok teroris atas dasar penampilannya. Iya, ia berjilbab lebar dan suaminya berjengot dan mengenakan celana cingkrang, tetapi itu adalah ekspresi ketakwaan kepada Allah dan ketaatan pada sunnah nabi. Mereka tidak menganut ideologi yang diusung kelompok teroris. Mereka cinta damai dan ingin kedamaian di Indonesia, sama seperti warga lainnya.

Masyarakat umum takut pada kelompok Islam garis keras, yang menghalalkan kekerasan dan darah sesama muslim. Bagi mereka yang tidak mengenal dan tidak mendalami Islam dengan baik, banyak yang termakan prasangka. Stereotipe para teroris, thanks partly for Arab’s culture, adalah mereka (muslim) berjenggot, berjidat hitam, bercelana cingkrang, dan bersorban untuk pria, berjilbab besar dan bercadar untuk wanita. Pada kenyataannya, teroris dapat muncul dengan penampilan apa saja, meski tidak tertutup kemungkinan mereka dapat juga muncul dengan penampilan seperti yang distereotipekan itu.

Di masyarakat Indonesia saat ini, terkait masalah terorisme, mungkin merekalah kelompok yang paling tertekan saat ini. Pascakejadian teror kemarin, muncul rencana segera revisi UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme untuk menambah kewenangan kepada aparat untuk dapat menangkap dan menahan terduga terorisme sebagai langkah pencegahan. Dalam diskusi di Editorial Media Indonesia, MetroTV, 16 Januari 2016 ini, sempat terlontar untuk berhenti menggunakan asas praduga tak bersalah dan menomorduakan HAM dalam penanganan aksi terorisme karena teroris sendiri bertindak tanpa memperhatikan HAM orang lain. Saya pikir, penegakan hukum tidak dapat dibuat berlawanan dengan penegakan HAM!

Akhirnya, perlu disadari bersama bahwa dalam pemberantasan aksi kejahatan terorisme untuk menjaga keamanan dan keselamatan banyak orang, perlu dipikirkan cara agar itu tidak mengorbankan keamanan dan keselamatan pihak minoritas, yaitu kelompok masyarakat yang rawan dituduh teroris dan juga terteror dengan adanya fobia, prasangka, stereotipe, dan represi pemerintah. Mereka adalah warga negara yang berhak mendapatkan perlindungan dari pemerintah.

Namun demikian, perlu juga aksi positif dari pihak kelompok minoritas yang rawan tertuduh ini. Para terduga teroris dan teroris di Indonesia cenderung dikenal oleh lingkungan mereka sebagai orang-orang yang tertutup. Mereka tidak macam-macam, biasa-biasa saja, tetapi tidak bergaul atau jarang berinteraksi dengan warga sekitar. Inilah yang harus diperhatikan. Jika benar bukan teroris, buktikan diri bukan teroris. Jangan berharap orang lain yang pertama kali mendekat dan mau mengenal, melainkan sebaliknya, buka diri dan jalin silaturahim dengan tetangga, muslim-muslim lain yang mungkin berbeda ekspresi keislamannya. Tidak dipungkiri, bahwa tidak sedikit mereka yang “berjilbab besar dan bercelana cingkrang” cenderung mengeksklusifkan diri dan bergaul hanya dengan kelompoknya saja.

***

3# Meme Terbaik

Sungguh ada banyak drama dalam kehidupan kita. Apapun yang terjadi bisa berarti sesuatu bagi kita, sepanjang kita bisa memaknainya dengan baik dan bijak. Di antara banyak meme, inilah meme favorit saya. Meme yang bijak. Menyatukan humor dengan hikmah.

Meme KamiTidakTakut 3

 

Dalam satu hari, pada waktu dan tempat yang sama, ditakdirkan Allah tampak dua wajah “jihad”. Yang satu berusaha membunuh orang, yang lain berusaha menghidupi orang. Silakan pilih, hati Anda suka yang mana?

 

PS: Sepertinya, untuk selanjutnya, saya ingin menulis tentang psikologi terorisme🙂 Ya Allah, semoga ada waktu, semoga tesis saya segera selesai😀

2 thoughts on “Bom Jakarta 2016: Sedikit Melihat Sisi Psikologisnya

  1. Waaah itu beneran meme terbaik!
    Jadi inget, kemarin lihat foto-foto orang dagang itu dengan keterangan ‘kami nggak takut teroris, kami lebih takut anak istri ga makan’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s