Terror in Resonance: Terorisme dalam Anime

Menonton anime hampir bukan menjadi kebiasaan saya. Beberapa bulan lalu, sensei di tempat saya belajar bahasa Jepang berkata bahwa untuk belajar bahasa Jepang, menonton anime dapat sangat membantu. Dari situ bisa belajar macam-macam kata dan frasa. Sejak itu, saya memaknai anime, dorama, dan sejenisnya yang berbahasa Jepang secara berbeda. Terima kasih, sensei.­čÖé

Di sela-sela mengerjakan tesis, ada satu anime yang saya tonton dengan sangat antusias. Sudahdua kali saya tonton ulang: Terror in Resonance (Zankyou no Terror). Anime ini berkisah tentang dua orang teroris remaja, Nine dan Twelve, dan seorang anteknya, Lisa Mishima, seorang gadis korban bullying yang tertekan pula oleh ibunya yang overprotektif. Menggunakan nama Sphinx, mereka melakukan serangkaian aksi pengeboman di Tokyo dan membuat polisi Jepang kewalahan. Aksi mereka sangat cerdas, canggih, dan terencana. Sebelum mereka melakukan pengeboman, mereka mengunggah video ancaman mereka ke situs media sosial dan memberikan teka-teki yang pemecahannya adalah kunci menghentikan bom yang mereka siapkan.

Mereka sengaja melakukan pengeboman sebagai aksi teror simbolis. Mereka tidak hendak menyebabkan korban jiwa lewat tindakan mereka. Dengan insiden tersebut mereka hanya ingin menarik perhatian seluruh masyarakat Jepang bahkan dunia pada suatu kasus pelanggaran HAM yang mereka menjadi korbannya. Mereka adalah survivor yang melarikan diri dari proyek eksperimen manusia (Athena Plan) yang dilakukan oleh pemerintah Jepang secara rahasia. Mereka ingin menegakkan keadilan atas rekan-rekan mereka yang tewas karena eksperimen tersebut. Harapan mereka, kasus tersebut akan terungkap dan pejabat-pejabat pemerintah jahat yang terlibat di dalamnya, yang selama ini kebal hukum, akan diproses.

Anime ini sangat menarik bagi saya karena ragam isu yang diangkatnya.

Pertama, neonasionalisme. Setting anime ini adalah 70 tahun pasca Perang Dunia 2 di mana Jepang mengalami kekalahan dan terpaksa tunduk pada Amerika Serikat (AS). Perasaan kalah tersebut memicu nasionalisme sejumlah elite pemerintah. Mereka ingin menciptakan generasi istimewa sebagai fondasi kedaulatan dan kejayaan Jepang di masa depan. Untuk mencapai itu, mereka melakukan eksperimen pada sejumlah anak cerdas dengan savant syndrome dan mengujikan semacam obat. Eksperimen tersebut mengalami kegagalan dan setelah ada intervensi dari pemerintah AS yang curiga dengan proyek tersebut, akhirnya proyek tersebut dihentikan. Selain proyek manusia itu, pemerintah Jepang juga diam-diam mengembangkan bom atom di fasilitas-fasilitas nuklir mereka. Bom atom ini salah satunya kemudian dicuri oleh duo teroris kita dan akhirnya diledakkan sebagai puncak aksi mereka.

Kedua, terorisme. Ini adalah isu global di abad 21. Tidak ada negara di dunia sekarang yang tidak tersentuh secara langsung maupun tidak langsung oleh terorisme dalam bentuk apapun, termasuk Jepang. Terror in Resonance dengan tokoh utama Nine (9) dan Twelve (12) seakan-akan adalah kelanjutan dari peristiwa 9/11. Bom pertama yang diledakkan oleh keduanya pun kejadiannya dibuat seperti peristiwa runtuhnya menara WTC. Ini benar-benar membangkitkan kenangan tentang peristiwa besar 15 tahun yang lalu itu dan juga memancing diri untuk memikirkannya.

Menonton ini, saya pribadi jadi berpikir bahwa teroris dan terorisme yang baik itu ada. Apa yang saya pahami dari  Nine dan Twelve adalah mereka beraksi karena dorongan moral dan kemanusiaan. Aksi terorisme mereka tidak ditujukan untuk menebarkan ketakutan dan membunuh orang, melainkan sekadar menciptakan insiden besar demi menarik perhatian seluruh masyarakat pada diri mereka, proyek, dan institusi yang menciptakan diri mereka sehingga mereka bertindak seperti itu. Mereka ingin menyeret keluar para pejabat korup yang selama ini tak tersentuh hukum. Mereka bukan ingin memerangi negara mereka, melainkan mencari keadilan. Dalam rangkaian aksi mereka, tidak satu pun mereka menyebabkan korban jiwa dan bahkan mereka berusaha mencegah jatuhnya korban.

Mereka bukan teroris. Hanya karena dunia trauma dan menamai setiap aksi pengeboman sebagai terorisme, hal-hal yang tampaknya seperti itu disebut serangan teror dan pelakunya disebut teroris. Ketika waktu berlalu dan akhirnya jelas semuanya, mereka adalah pahlawan. Mereka pahlawan yang tragis. Mati sebelum merasakan kebenaran mereka terungkap.

Ketiga, psikologi. Cerita dalam anime ini mengangkat beragam isu yang dibahas dalam psikologi, yang tentu saja, saya yang mahasiswa psikologi jadi sangat mengerti. Saya terutama sangat tertarik pada bagaimana karakterisasi setiap tokohnya. Lisa Mishima, gadis korban bullying yang selalu berharap pergi dari dunia ini, akhirnya menemukan makna hidup setelah pertemuannya dengan Nine dan Twelve. Ibu Lisa adalah seorang wanita paranoid karena ditinggal pergi suaminya, membesarkan Lisa dengan sangat protektif. Nine adalah karakter yang cerdas, dingin, dan sangat teguh pendirian. Twelve adalah sahabat Nine, seumur hidup hanya bersama Nine. Pada mulanya ia hanya terpaku pada misinya, tetapi kemudian ia berkenalan dengan Lisa dan menemukan cinta. Selain itu, ada pula tentang bagaimana manusia menghadapi trauma dan hal-hal buruk, yang mana itu mencerminkan ketangguhan jiwa.

Proyek Athena sendiri terkait dengan isu neurosains dan psikologi, tentang anak-anak berbakat yang sering kemampuan mereka membuat iri orang normal, tetapi sebetulnya mereka juga kehilangan hal-hal dalam hidup mereka, seperti persahabatan dan kehidupan sosial yang normal. Ini sungguh persoalan eksistensial ketika orang-orang berbakat tampaknya selalu diharapkan hidup untuk mengemban tugas yang besar, demi kepentingan yang besar, sampai-sampai tidak bisa memilih jalan hidup mereka sendiri, dikendalikan oleh orang-orang yang berkuasa atas diri mereka.

Keempat, budaya populer. Anime ini realistis menampilkan budaya masyarakat di era digital. Orang-orang memakai smartphone, melakukan wefie,┬ádan sangat aktif di media sosial online.┬áTampak dinamika bagaimana media sosial dimanfaatkan oleh masyarakat saat ini, termasuk kelompok “teroris”, bagaimana reaksi orang-orang di dunia maya mempengaruhi pemerintah dan otoritas keamanan, bagaimana masyarakat bersuara lewat dunia maya. Itulah kehidupan zaman sekarang.

Kelima, kritik sosial. VON = HOPE. Itu esensi yang ingin disampaikan lewat kisah Nine dan Twelve. Orang hidup, berjuang, atau memberontak adalah demi harapan akan dunia yang lebih baik, meskipun cara yang digunakan untuk mewujudkan harapan itu terkadang sulit diterima oleh sosial atau meminta pengorbanan yang besar, termasuk nyawa. Anime ini jika tidak berlebihan merupakan kritik sosial atas terorisme, perang-perang, hilangnya kedaulatan negara karena hegemoni negara lain, penyalahgunaan sains, perilaku korup pejabat pemerintahan, penegak hukum yang ibarat harimau tak punya taring dan cakar, dan egoisme dalam nasionalisme yang berlebihan.

Mungkin masih banyak hal lagi yang bisa diceritakan kalau saya mencari-carinya.­čÖé

Resonance in Terror sungguh sangat berkesan, tetapi sayangnya oleh para reviewer anime, ia kurang dihargai. Sasaran para pengkritik adalah jalan ceritanya yang tidak masuk akal dan menyeleweng dari harapan mereka tentang bagaimana seharusnya anime yang mengangkat isu terorisme dan berisi aksi-aksi cerdas dalam┬ápsychological thriller. Soal jalan cerita yang tidak masuk akal, tidak mungkin, saya sendiri berpikir, namanya juga cerita, fiksi… Jangan terlalu dihadapi dengan otak, tidak perlu terlalu dipikirkan hal-hal yang tampaknya tidak logis selama ketidaklogisan itu masih bisa dimengerti. Sepanjang substansinya ada, esensinya bisa dicerna, dan memberikan makna bagi hidup kita, itu bukan masalah.

Jadi, tertarik ikut menontonnya?­čśÇ

 

Zankyou no Terror 2

 

7 thoughts on “Terror in Resonance: Terorisme dalam Anime

  1. Yah, sudah nonton…
    Saya ngopi film ini dari sepupu. Dia seorang Otaku (ini pengakuannya sendiri), jadi punya beberapa koleksi anime di laptopnya. Di antaranya yang judul ini. Tapi ini menurutku kurang bagus.

    Ada sebuah judul yang menurutku bagus: Steis;gate dan Psycho Pass. Whuuu…. itu anime2 jagoan:mrgreen:

    • Kalau masalah plot, character development etc etc memang banyak yang mengkritik anime ini. Kalau saya, yang saya suka adalah latar belakang di balik si produser membuat anime ini: ingin generasi muda di negaranya melek persoalan politik.­čÖé

      • Setelah nonton anime ini, karena saya terkesan sekali dengan isu politik yg diangkat di dalamnya, saya mencari cari review-reviewnya. Ada beberapa tulisan yg membahasnya dengan serius, juga wawancara dgn si produser.

        Btw, Hilal, kebetulan bisa ketemu di sini. Ada yg ingin saya tanyakan ttg studi filsafat. Boleh saya mengirim email?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s