Poetry of The Week: Anti-Utopia

mengapa berpikir negeri ini akan hancur?
ketika kiamat masih seratus ribu tahun lagi

dalam seabad napasmu, ada waktu untuk perdamaian
ada waktu untuk menyemai padang-padang
dan menanam mawar-mawar

mengapa memenjarakan diri dalam ketakutan?
perang tiada akhir antara cahaya-cahaya yang bertarung dengan api

kebaikan dan kejahatan, Tuhan penggenggam misteri keduanya
mengapa mata dibuat buta karena persepsi, asumsi,
pengetahuannya sendiri?

mengapa mengorbankan kemanusiaan?
demi peradaban impian yang bukan domain manusia

apa arti keberpihakan, gelora di dalam dada, dan rasa kemenangan?
setelah liku-liku menghadirkan surga di bumi
kesemuan adalah pembunuh

Semarang, 16 Februari 2016

 

Taiga 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s