Dari Tesis Bag. 9: Aku Tidak Mengerjakan Tesisku

“Pencari kebenaran tidak akan dapat, sampai ia bercermin pada dirinya sendiri dan melihat apa yang telah dirinya perbuat. Kebenaran itu menjadi benar sampai diri lah yang menjadi saksi dan buktinya.”

— Aku, yang merasa hina

***

Aku tidak mengerjakan tesisku. Mungkin sudah hampir satu bulan. Lembaran-lembaran tesisku tak beranjak dari halaman itu, sementara satu demi satu temanku meninggalkanku. Apa yang terjadi pada diriku mungkin akan sulit dipahami, tetapi jika dapat kuberikan gambarannya, aku hanya begitu terserap dalam apa yang ingin kutuliskan, embrio-embrio bayi-bayi pemahaman dalam pikiran tentang kategori terakhir yang sangat membingungkan. Geram aku dibuatnya.

Seminggu terakhir aku pulang ke rumah dengan satu ketetapan sengaja, aku tak ingin dulu mengerjakan apapun terkait tesis ini. Masa inkubasi, tahap terakhir sebelum kreativitas? Ah, gila rasanya. Antara mengerti, tapi tak mengerti. Antara tahu apa yang sebaiknya ditulis, tapi juga tahu. Tak kubuka file tugas akhirku, sudah berhari-hari. Membuka laptop, yang kulakukan adalah menonton film-film animasi impianku, mencari inspirasi untuk cerita yang sedang kubuat yang sedang macet (juga!). Menghabiskan waktu dengan adik kecil; mengerjakan pekerjaan rumah, mengajari belajar, bermain gim komputer. Merenung-renung. Pergi ke toko buku dan membeli beberapa buku baru termasuk beberapa komik. Kembali membaca, menekuni topik yang berbulan-bulan sudah mengalah demi tesis.

Itu yang kulakukan dalam kesadaran. Di dunia tak sadarku, tetapi yang ada adalah tesis. Sebelum tidur dan sebelum bangun. Ketika sendirian di atas sepeda motor, di dalam kamar mandi, membuka jendela-jendela di pagi hari, memberi makan ayam-ayam. Pengetahuan sepercik demi sepercik kukumpulkan, tanpa tahu bagaimana merangkainya dalam kata. Pengetahuan yang akhirnya dituliskan tidak sama dengan pengetahuan yang ada di dalam kepala. Pengetahuan yang ada di dalam kepala rasanya mudah dipahami, tetapi begitu “pena mulai menyentuh kertas” dan muncul kebutuhan akan berpikir yang sistematis, ketahuanlah bolong-bolong pemahaman. Tahulah, aku tidak tahu apa-apa!

Ya Rabbi, aku takut dengan tesisku sendiri. Aku takut pada apa yang (akan) kutuliskan, pada isi dan konsekuensi-konsekuensinya pada hidupku dan hidup orang lain. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Lebih dari takut tidak bisa bertanggung jawab. Antimaterialisme. Baru kali ini aku sadar, aku mengajak bertengkar raksasa besar. Aku merasa tak punya cukup kekuatan dan kebesaran hati. Bagaimana bisa aku berpikir akan merobohkannya? Tesisku hanya mencerminkan kekerdilanku dalam segala hal. Rasanya akan lebih baik jika aku seperti banyak orang… hidup dengan disetir kepentingan, bukan idealisme.

Andai aku cukup memaknai tesis sebagai sebagian syarat untuk mencapai gelar master, bukan perjalanan penemuan dan pencerahan diri. Mungkin aku sudah lulus dan memuaskan banyak orang yang ingin dipuaskan dengan pencapaianku. Aku memberikan terlalu banyak hati untuk hal yang mungkin… tidak berguna.

***

Perjalanan mengerjakan tesis adalah perjalanan meruntuhkan asumsi-asumsi. Butuh kekuatan untuk bisa menerima hal-hal berubah sekalipun hanya berupa pemikiran. Aku memulai ini dengan mengambil posisi sebagai “musuh” materialisme, sebagai pihak yang ingin menjinakkannya, mengalahkannya, membekukannya, demi satu langkah menuju dunia yang lebih baik. Namun kemudian, aku berubah. Aku tak bisa membencinya seperti dulu lagi. Bukan materi musuhku, melainkan hasrat yang ada di dalam jiwa akan dirinya, yang disetir oleh egoisme yang begitu manusiawi. Aku tidak mempersiapkan diri untuk penggalian sampai ke dalam sana.

Aku memulai dengan membuang peran spiritualisme yang sering kuanggap hanya milik kaum elit, para sufi, zahid. Aku berharap menemukan antimaterialisme orang awam, yang beragama secara wajar-wajar saja tanpa laku spiritual tertentu. Namun kemudian, aku berubah. Aku dipaksa memeluk kembali apa yang kubuang. Spiritualitas berpendar dalam jiwa orang-orang biasa, muncul tanpa kucari, tiba-tiba menampakkan diri dan berteriak, “Aku ada. Buka matamu, Bodoh!” Lagi-lagi aku tidak mempersiapkan diri untuk melihat ke arah situ.

Tentang kebersyukuran, keikhlasan menerima takdir, sikap berserah diri pada Tuhan, merasa cukup dan puas atas setiap pemberiaan, kepercayaan pada ikhtiar, keimanan pada janji Tuhan, ketenangan menghadapi kehidupan di dunia… Harus kuapakan setiap laku hati itu? Aku ingin membuka buku-buku agama, tetapi apakah psikologi menerima penjelasan agama? Dataku tak banyak berbicara, hanya memberikan indikasi-indikasi, petunjuk-petunjuk pada hal yang lebih komprehensif dijelaskan oleh agama. Berbicara apa adanya berdasarkan data tak menampilkan realitas secara utuh, tetapi etika penelitian mencegahku memasukkan hal yang tak kutemukan di lapangan penelitian…

Menangis aku. Aku tahu aku seharusnya mengambil data lagi, tetapi itu tidak mungkin… Andai ada kesempatan untuk penelitian lagi. Lebih banyak waktu di masa depan untuk mencari yang belum ditemukan… Lebih banyak kesempatan untuk memahami yang belum bisa dipahami… Dan kesempatan untuk mengalami sendiri hal-hal yang diceritakan oleh mereka dengan begitu menarik, yang mungkin dengan itu aku akan lebih mengerti tentang apa yang sedang kuteliti. Ah, rasanya gila.

Ya Rabbi, apa yang hendak Kau ajarkan kali ini kepadaku. Kau membuatku bercermin lewat apa yang aku lakukan, dan kulihat keburukan jiwaku, diriku, wajahku… Aku sudah lama hidup sederhana, belajar bersedekah dan mengenyahkan perasaan takut miskin, demi penelitian yang akhirnya kulakukan ini. Tapi, aku tak punya ketenangan yang merupakan batu terakhirnya, tak merasakan betul setiap laku hati yang menjadi kunci-kuncinya. Engkau yang Maha Mengetahui, Pemilik Segala Pengetahuan, kumohon, kasihanilah aku… Ajari aku hal-hal yang tidak mampu kupelajari dengan baik selama ini, ajari aku hal-hal yang tidak kupahami dan tidak berhasil kuhidupkan dalam kenyataanku.

Tolong aku memahami yang seharusnya kupahami, sekalipun itu mengharuskan perubahan pada diriku… agar bisa melihat fenomena dengan penglihatan yang tidak menduga-duga…

Tolong, aku ingin bisa menulis kembali…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s