Tentang Krisis Peradaban Islam

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah Membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan supaya kamu Dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak Menyukai orang-orang yang zalim…”

QS Ali Imran 3: 140

1# Kesedihan

Minggu lalu saya menyelesaikan membaca “Krisis Peradaban Islam” karya seorang cendekiawan politikus asal Irak, Ali A. Allawi (Mizan, 2015). Sungguh buku yang dibaca dengan perjuangan hati melawan kegalauan; karena selama beberapa saat tesis jadi saya nomor duakan. Hari ini, saya merasa bersyukur karena akhirnya tesis saya mencapai kemajuan yang berarti. Saya jadi punya waktu luang (meski hanya malam ini saja) untuk menuliskan refleksi saya tentang isi buku ini.

Saya ingin tahu seperti apa opini umat Islam, dari yang fundamentalis sampai yang liberal, terhadap sang penulis. Dalam buku ini ia mengkritik semuanya, dan menganggap kelompok-kelompok dalam tubuh umat Islam sebagai salah satu biang peradaban Islam abad ini tenggelam semakin dalam dalam jurang krisis. Buku ini berusaha untuk objektif menangkap permasalahan-permasalahan umat Islam, memandang persoalan dari sudut pandang yang cukup akademis, menggunakan pengetahuan sosiologis, historis, dan politik, bahkan psikologis umat Islam setidaknya selama dua abad terakhir sejak era penjajahan. Namun, jika pembacanya bisa menangkap hati di balik tulisannya, pembaca bisa mendengar ratapan penulisnya.

Bagi saya, buku ini seperti kelanjutan buku-buku sejarah dunia Islam (setidaknya yang ada di Timur Tengah) yang pernah saya baca. Buku “Sejarah Arab” karya Philip K. Hitti, narasinya berakhir di awal abad 20. Setidaknya 100 tahun setelah itu, berbagai macam perubahan terjadi di seantero dunia Islam, mulai dari jatuhnya Kekhalifahan Ottoman di Turki, dikuasainya wilayah-wilayah berpenduduk muslim oleh penjajah Eropa, perubahan tatanan kehidupan seiring dengan laju modernitas, gerakan nasionalisme dan kemerdekaan yang melahirkan negara-negara bangsa, dianutnya sistem demokrasi di negara-negara berpenduduk muslim, sekularisasi negara dan kehidupan masyarakat, ketegangan Barat-Islam, kemunculan Islam Politik, ketegangan antara muslim fundamentalis dan muslim liberal, jihad-jihad baru, terorisme dan perang melawan terorisme, Perang Irak, Islamophobia, kemunculan Islam moderat, migrasi muslim ke dunia Barat, Arab Springs, sampai yang terakhir, krisis pengungsi Suriah.

*Andai tulisan ini dibuat oleh orang Indonesia yang tahu perkembangan terkini di Indonesia, ia mungkin akan memasukkan munculnya gerakan Islam Nusantara.

Buku ini merekam kekacauan demi kekacauan di kehidupan lahir dan batin umat Islam. Begitu banyak hal buruk yang terjadi. Ada perubahan dari waktu ke waktu, muncul gerakan di sana dan di sini, tetapi tidak ada perbaikan dan hal-hal berlangsung secara carut-marut, tak jelas arahnya. Setiap orang disetir oleh pikiran-pikiran, mimpi-mimpi, dan rencana-rencananya sendiri, berakhir dalam persaingan gagasan “apa yang baik untuk umat Islam” berdasarkan premis-premis sendiri. Ketegangan tidak terjadi hanya di antara para intelektual dan pemikir, tetapi juga di level akar rumput orang-orang Islam yang berusaha mencari jalan keluar atas persoalan, dan bahkan melahirkan konflik-konflik terbuka yang tidak sedikit memakan korban jiwa.

Atas apa yang terjadi, mungkin seseorang jadi pantas bertanya, “Apa sebetulnya mau Tuhan? Jika umat Islam adalah umat terbaik yang dicintai-Nya, mengapa takdirnya seperti ini?”

Setiap orang yang bisa berpikir pun berteori tentang sebab-sebab kejatuhan peradaban Islam, yang mana teori-teori itu berkembang dan berubah dari masa ke masa, dan berusaha menemukan solusi berdasarkan teori yang dikembangkannya itu.

Para sejarawan tradisional melihat persoalan bermula ketika Dinasti Abbasiyah dihancurkan orang-orang Mongol. Dalam era itu lahirlah seorang Ibn Taimiyah yang menjadi awal Islam puritan, “pintu ijtihad” ditutup sebagai solusi kekacauan saat itu. Kerajaan Islam yang besar kemudian terpecah-pecah dan dikuasai dinasti-dinasti kecil yang saling berebut kekuasaan. Tanpa kedamaian, berhentilah upaya kebudayaan dan matilah peradaban besar.

Para konservatif dan fundamentalis melihat persoalan ada pada krisis iman dan semakin melencengnya jalan hidup muslim dari jalan hidup yang digariskan Nabi. Mereka menyuruh orang-orang untuk kembali meniru kehidupan orang-orang terdahulu, menggelorakan eksplorasi masa lalu Islam yang gemilang untuk kemudian mengulang takdir yang sama, memperjuangkan syariah di mana-mana dan berusaha mengembalikan kekuasaan dunia di tangan orang Islam lewat perang terhadap setan bernama Barat dan penegakan kembali kekhalifahan Islam.

Para modernis yang berpemikiran bebas melihat persoalan ada pada kegagalan umat Islam melakukan pembaruan dan reformasi kehidupan di era yang baru ketika ilmu pengetahuan dan teknologi berjaya lantaran terkungkung pola-pola berpikir dan kepatuhan pada hal-hal yang kuno. Mereka menginginkan interpretasi ulang ajaran Islam agar sesuai dan mampu mengakomodasi perubahan-perubahan untuk menyambut masa depan di mana peradaban Islam akan mengejar ketertinggalan dan menjadi semaju peradaban Barat.

Para spiritualis melihat persoalan pada perceraian antara sisi batin dan sisi lahir Islam, ketika penegakan syariah tidak lagi sejalan atau diiringi dengan bahkan meninggalkan usaha penyucian jiwa dan perbaikan akhlak; krisis spiritual yang dalam lantaran tasawuf dianggap penyimpangan agama oleh kelompok-kelompok konservatif yang lebih mengutamakan aturan, hukum-hukum, dan ritual lahiriah.

Kalompok lain yang berisikan ilmuwan sosial melihat persoalan pada sejumlah faktor ekonomi, sosial dan politik yang membentuk wajah peradaban Islam: perubahan sistem ekonomi di mana kapitalisme mengganyang sistem ekonomi masyarakat Islam tradisional, perkembangan masyarakat Barat yang lebih unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan kemajuan pula di bidang kemiliteran, memberikan bahan bakar untuk eksplorasi dunia baru dan berakhir pada penjajahan wilayah-wilayah muslim yang telah berabad-abad lamanya mandeg. Peta geopolitik dunia pun berubah, kekuasaan beralih ke tangan bangsa-bangsa Barat, diikuti perubahan sistem kehidupan dari A sampai Z, gaya hidup, dan pandangan hidup muslim. Solusi yang terpikirkan adalah mengembalikan kembali sistem-sistem Islami dalam kehidupan, memperbaiki kembali pandangan hidup umat lewat pendidikan, dan mengislamisasi ilmu-ilmu agar sesuai dengan worldview Islam.

Tetapi yang terjadi, masih jauh panggang dari api… Atau ini hanya masalah waktu sampai akhirnya takdir yang berbicara, apakah peradaban Islam akan bangkit atau runtuh selama-lamanya?

Kehidupan itu ironis bukan? Kehancuran justru dituai dari perjuangan mati-matian mengembalikan kejayaan oleh berbagai pihak yang bertengkar satu sama lain. Terlalu banyak dan telah begitu mengakar kebencian, kemarahan, dan permusuhan di dalam tubuh umat Islam sendiri. Pertentangan antara Sunni-Syiah yang bertambah parah lewat perang-perang proxi Arab Saudi dan Iran bahkan sampai ke negeri Islam terjauh dari lokasi kejadian. Pertentangan antara kelompok liberal, moderat, konservatif, dan spiritualis. Pertentangan antara gerakan Islam lokal, internasional dan transnasional. Pertentangan antara kelompok ulama-ulama berlisensi dengan para intelektual religius dari berbagai bidang ilmu. Pertentangan antara yang ingin mengembalikan masa lalu, mempertahankan status quo, dan yang ingin membentuk masa depan yang berbeda.

Masalah seperti benang ruwet yang sangat sulit, jika bukan tidak mungkin, diuraikan. Setiap orang dengan keberpihakannya adalah bagian dari masalah, apakah lewat ambisi dan perjuangan membela Islam yang menggebu-gebu atau sikap antipati dan masa bodohnya pada apa yang terjadi. Perdamaian kehilangan arti dalam kenyataan keseharian, hanya berupa teori atau sesuatu yang dianggap dapat terwujud asal ada kekuasaan. Persatuan lenyap di udara, hanya berupa teori atau jargon-jargon yang dimanfaatkan orang-orang yang ingin berkuasa. Jangan bertanya bagaimana dengan kesejahteraan dan kebahagiaan. Hanya mereka yang menutup mata pada keadaan dan fokus pada diri sendirilah yang mungkin dapat benar-benar hidup tenang. Mereka yang melihat apa yang terjadi akan senantiasa resah. Kapankah pertolongan Allah akan datang?

Sebagai orang muda, perempuan, dan lemah pula dalam pengetahuan agama jika dibandingkan dengan muslim-muslim yang lebih baik dalam pendidikan keislamannya, hati saya cuma bisa meledak. Ke manakah Islam telah pergi?

***

Islamic golden age 2

2# Harapan

Kehidupan itu indah karena setiap hal memiliki makna; setiap hal adalah ayat-ayat Tuhan yang manusia diperintahkan untuk membacanya. Bersamaan dengan membaca buku ratapan ini, saya mendengarkan ceramah Nouman Ali Khan yang membahas apa sebenarnya yang dimaksud dengan “ayat”. Saya pun memahami bahwa segala hal yang bermakna bagi kita dan mengembalikan kita kepada Tuhan adalah ayat Tuhan; dan belajar menghargai peristiwa.

“Every ayah deserves attention. Everything has a value, everything has an particular direction (to Allah), everything if you pay attention to it, you will find something amazing in and it is calling for your attention. Once humanity stops appreciating the ayats, once humanity stops paying attention. This is the entire idea of ‘aql. The idea of using your mind is to pay attention, to look the world around you and pay actual attention. … The only kind of people who don’t reflect is the people who don’t pay attention.”

— Nouman Ali Khan, “What’s an ayah?” (cek di http://www.bayyinah.tv atau Youtube🙂

Selain itu, saya pun diberi pelajaran oleh seorang ahli psikologi penggagas ambigamy (pencarian kebijaksanaan di antara ambiguitas dan pertentangan-pertentangan), Jeremy E Sherman Ph.D. Saya belajar untuk menerima adanya persoalan-persoalan yang belum memiliki solusi, menoleransi ketegangan-ketegangan yang dibuatnya, menikmati pertentangan yang menjadi tontonan sehari-hari, dan mencintai kekayaan pemikiran yang muncul dari pendapat-pendapat yang berbeda-beda yang membentuk wajah dunia hari ini. Hal-hal memang tidak seburuk yang dikira sebelumnya, dengan begini.

Saya tidak ikut meratap seperti isi buku ini; saya justru belajar banyak hal-hal baru yang tidak pernah saya tahu sebelumnya dan saya kira, ini sangat mempengaruhi saya, terutama di level wawasan. Saya belajar untuk tidak hanya melihat hal-hal secara terpisah-pisah dan terlalu fokus pada yang partikular. Adalah penting untuk melihat masalah dan pihak-pihak yang bertengkar dengan segala pembenarannya itu dengan cara menjejerkannya secara sejajar dan menggunakan pandangan yang global.

Pertama, inti-inti pandangan dunia Islam

Peradaban yang kasat mata semua bersumber dari jiwa manusia, refleksi jiwa manusia ke alam lahiriah. Kemajuan peradaban adalah kemajuan unsur-unsur dalam jiwa manusia, dan begitu pula sebaliknya. Jiwa manusia memiliki isi berupa nilai-nilai dan keyakinan yang dianut yang semua itu berkumpul ke dalam hal yang dinamakan worldview atau pandangan dunia. Bagaimana pemaknaan dan pemahaman manusia terhadap dunia dan realitasnya mempengaruhi bagaimana ia bersikap terhadap dunia dan realitasnya itu.

Ajaran Islam tidak hanya memberikan seperangkat aturan yang harus dipatuhi tanpa babibu, melainkan pula pandangan hidup apa yang seharusnya dianut oleh manusia. Terkait pandangan hidup ini, sebenarnya manusia dapat memperolehnya dengan cara belajar dari kehidupan dan menyimpulkan kebajikan-kebajikan dengan akalnya, tetapi ajaran agama, yaitu Islam, memberikan penyempurnaan bagi hasil olah akal yang tidak sempurna dan cenderung mentok di hal-hal yang material dan kasat mata.

Islam mengajarkan tentang Keesaan Tuhan; bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan nalar agar manusia dapat mencapai-Nya lewat ayat-ayatnya dalam kitab, di bumi dan langit, dan pada dirinya sendiri, dan dapat mengurus bumi sebagai khalifah-Nya dengan pengetahuannya itu; bahwa Tuhan sebagai realitas tertinggi adalah tempat bergantung, yang memberikan sejumlah pedoman hidup agar manusia dapat hidup dengan keselarasan dan keadilan, dan manusia wajib tunduk agar terhindar dari ketakutan dan kesedihan hidup di bumi dan memperoleh keselamatan sampai di akhirat; bahwa Tuhan mengirimkan nabi dan rasul yang membantu manusia untuk memahami agama, menyempurnakan akhlaknya, dan menjadi teladan yang sempurna dalam pengamalan agama.

Inti pandangan dunia Islam adalah apa yang terkandung dalam syahadatain. Untuk menyatukan kepribadian muslim yang terpecah sebagai akibat peradabannya yang terpecah yang diperlukan adalah mengembalikan pandangan hidup ini ke dalam jiwanya. Intinya begitu sederhana dan mudah dipahami, tetapi banyak teolog dan ahli agama memperumitnya dengan serangkaian aturan yang diperkenalkan lebih dahulu dengan begitu ambisius, tanpa memprioritaskan kesiapan hati dan jiwa orang yang hendak diberikan aturan itu.

Jika pandangan hidup dan gaya hidup bertolak belakang karena berbagai keadaan (misal yang diyakini A, tetapi masyarakat berbuat B; atau yang diketahui dan biasa diamalkan adalah B, tetapi dipaksa meyakini A), yang terjadi adalah perpecahan kepribadian, kebingungan, dan stres. Tidak ada yang sempurna dalam hidup, karena itu yang dapat dilakukan oleh para pendidik adalah meminimalisasi sebesar mungkin ketegangan yang muncul dari kesenjangan antara pandangan hidup yang seharusnya dengan realitas cara hidup, sembari berusaha memperkecil jarak antara yang ideal dengan yang seharusnya, perlahan-lahan dari waktu ke waktu. Bagaimana hasilnya, tawakalkan kepada Allah.

Kedua, sebab-sebab kemunduran kualitas hidup, lahir dan batin, umat Islam

Satu tesis yang diperkenalkan dalam buku adalah sebab “yang paling tepat” tentang kemunduran peradaban Islam. Setiap teori yang pernah ada tentang ini adalah salah jika berdiri sendiri dan tidak mau dirajut bersama dengan teori-teori lainnya. Memang yang utama adalah erosi dalam pandangan dunia Islam, tetapi itu bukan satu-satunya kondisi yang menyebabkan kemunduran.

“… pandangan-Dunia Islam mulai mengalami erosi serius pada abad ke-18 dan ke-19. Hal ini tidak hanya disebabkan kemerosotan berbagai kerajaan Muslim pada periode itu (Mughal, Persia, dan Utsmani) yang berhadapan dengan tekanan yang tiada hentinya dari kekuatan-kekuatan Eropa yang lebih maju di bidang ekonomi, militer, dan teknologi, tetapi, tak kalah penting, karena ketidakmampuan kelas elite agama, politik, dan administratif untuk melihat krisis yang mempengaruhi peradaban Islam selain sebagai masalah hilangnya kekuasaan atau melemahnya dogma religius. Berbagai perpecahan dalam Dunia Islam segera bertambah parah, menyebabkan benturan antara kaum tradisionalis dan modernis, kaum sekuler dan revivalis. Pola tersebut terulang mulai dari bagian barat higga timur Dunia Islam, dari Maroko hingga Jawa.” (h. 53; garis bawah diberikan oleh saya)

Ada persoalan penyempitan parameter atau definisi apa itu peradaban hanya di persoalan politik dan kekuasaan. Memang sebagai kenangan dari masa lalu, aspek politik adalah yang paling wah dari peradaban Islam. Seminar-seminar sejarah Islam selalu menceritakan tentang kekhalifahan-kekhalifahan yang berjejer-jejer tak putus-putus selama berabad-abad, tetapi luput mengajarkan moral bahwa kekuasaan adalah api. Hanya sedikit penguasa yang selamat di pengadilan Hari Akhir. Khalifah yang dianggap tercerahkan saja (khulafaurrasyidin) hanya ada empat orang yang jika ditotal masa kekuasaannya tidak ada satu abad, maka apa arti peradaban emas panjang berabad-abad yang dipimpin oleh khalifah-khalifah yang korup dan berebut kekuasaan? Bukankah pemimpin mencerminkan rakyatnya?

Pengajar dan pembelajar sejarah selalu memiliki kepentingan. Mereka yang hanya berpikir tentang dan ingin mengambalikan kejayaan cenderung hanya melihat sisi gemilang peradaban yang sesungguhnya begitu materialistis dan keduniawian. Sangat sedikit orang yang betul-betul ingin belajar dari jejak umat di masa lalu dan melihat peristiwa secara berimbang, baik sisi baik maupun buruk dari peradaban. Akibat ketidakadilan sejak dalam pemikiran adalah pemujaan dan kebanggaan berlebihan terhadap masa lalu dan pandangan fatalistis bahwa masa depan tidak punya harapan lagi; masa depan hanya terdiri atas batu-batu lompatan menuju kiamat. Mereka berusaha menghindari kiamat besar dengan menciptakan kiamat-kiamat kecil karena berusaha memutar kembali waktu ke tatanan kehidupan masa lalu yang sudah berjarak berabad-abad dari masa kini. Ada pembacaan dan pengajaran sejarah yang tak cermat dan tak adil terhadap kenyataan dalam diri umat Islam, dan hanya sedikit yang sadar.

Akibat kebutaan sejarah dan kebodohan itu semakin parah ketika dua hal itu dijadikan dasar untuk membangun ideologi dan menyerang orang lain. Begitu banyak bencana bermula dari nafsu berkuasa dan mempertahankan kekuasaan dan status quo, tak pandang itu elite politik atau elite agama. Sejarah peradaban Islam di masa lalu dan kini tak ada bedanya. Kegilaan pada kekuasaan hanya mengambil bentuk yang berbeda.

Dalam tubuh umat Islam, belum pernah ada semacam gerakan mari belajar melihat kesalahan diri dan belajar dari kesalahan itu. Para pemimpin dan intelektual asyik merumuskan hal-hal baru yang dianggap akan pas dengan zaman dan akan membawa kembali kejayaan dan kekuasaan. Banyak orang melihat ke tempat yang jauh dan tidak melihat diri mereka sendiri yang jauh lebih dekat; dibuai visi-visi yang hanya merupakan nama lain dari angan-angan panjang.

Yang diperlukan sesungguhnya bukan para liberal, moderat atau konservatif, melainkan orang-orang yang mau belajar dan berpikiran terbuka, dari mana pun mereka berasal.

Ketiga, argumen untuk tesis inferioritas umat Islam

Selamatlah anak-anak Islam yang tak peduli pada identitas muslimnya, yang tidak belajar sejarah muslim di masa lalu, dan memandang diri sebagai sesama warga dunia dengan warga dunia lainnya. Satu konsekuensi besar belajar sejarah Islam (jika hati tak benar, begitu terpaku pada hal-hal yang material dan tidak diisi pandangan dunia yang islami) adalah dirasakannya kegetiran-kegetiran dan kebencian pada diri sendiri yang begitu buruk, lemah, dijajah oleh umat lain, terampas kekayaan budaya dan peradabannya dari tangannya, dan begitu tertinggal, yang berujung pada kesimpulan bahwa Islam tidak valid dan reliabel lagi di era modern.

Para tradisionalis dan fundamentalis yang memandang Islam saat ini tak valid lagi memilih mundur ke masa lalu dan bersatu dengan generasi yang sudah mati, membiarkan pikiran mereka terjajah gagasan-gagasan lampau. Mereka berusaha memurnikan kembali ajaran yang dianggap telah tercemar dan membangun harga diri dengan cara bernostalgia tentang peradaban menakjubkan yang hilang, dan mulai menggembar-gemborkan sepenggal dari masa lalu, apakah itu tiga tahun keberhasilan Umar II, kebesaran Kekhalifahan Abbasiyah, kemenangan Saladin dalam Perang Salib, atau kejayaan Kekhalifahan Utsmani, dan menyebarkan kesakitan hati, betapa Barat telah “mencuri”, memanfaatkan kemajuan umat Islam tanpa kredit.

Para modernis liberal yang melihat Islam tidak reliabel lagi untuk kehidupan modern dan masa depan memilih berkumpul bersama bangsa-bangsa Barat yang peradabannya merupakan yang termaju dan paling memukau saat ini, meminum air dari mata air-mata air pandangan hidup Barat dan segala ilmu pengetahuan yang dilahirkan dari pandangan hidup itu dan mengharapkan khasiat yang sama bagi kehidupan dan masyarakat muslimnya sendiri. Mereka bangga bersama Barat, mendorong reinterpretasi dan reformasi berdasarkan prinsip-prinsip Barat, mendekonstruksi keyakinan-keyakinan dalam agama, termasuk yang paling inti, dengan argumen relativitas kebenaran yang plural dan sifatnya yang interpretatif.

Harga diri umat Islam tidak lagi didefinisikan oleh iman, Islam, dan ihsan, melainkan oleh parameter-parameter keduniawiaan. Parameter keduniawiaan yang berasal dari kebudayaan Barat tidak akan sedemikian mudah bekerja dalam tubuh umat Islam jika umat Islam sejak awal tidak juga hidup dengan parameter yang sama di masa kejayaannya untuk mengukur kemajuan-kemajuan mereka sendiri. Jika parameternya tak sama, umat Islam tak akan membandingkan diri dengan umat lain, dan karena itu tak merasa inferior, sedih dan takut lantaran kemiskinan dan kekalahan mereka.

Keempat, pemikiran Malek Bennabi (1905-1973), pemikir, filosof moral, dan pendidik Aljazair

Bennabi mengembangan “teori mengenai kebangkitan dan keruntuhan peradaban-peradaban dan menjelaskan dominasi Barat atas Islam sebagai diakibatkan kecenderungan umat Islam membiarkan pikiran mereka terjajah; colonisabilité -kerentanan untuk dijajah. Bennabi membawa fokus regenerasi peradaban kembali seutuhnya kepada manusia sebagai aktor dan agen individual. … Dia menyelami perilaku dan persepsi individu sebagai suatu prasyarat bagi regenerasi kemasyarakatan dan kebudayaan yang berhasil.

“Seluruh peradaban muncul sebagai akibat dari prinsip keagamaan yang mengartikulasikan kontur-kontur peradaban. Agama mengorganisasikan berbagai kekuatan vital manusia dan menggerakkannya dari dominasi dorongan biologis dan insting untuk bertahan hidup pada tingkat yang padanya semua itu dijinakkan di bawah kekuasaan spiritual agama. Dalam Islam, fase ini berkorespondensi dengan periode kenabian dan masa-masa setelahnya. Fase ini memuncak pada “zaman ruhani”. Sembari berkembang, peradaban juga meningkat kompleksitas dan sumber-sumber dayanya, memicu tahap kedua kemajuan peradaban pada “zaman nalar”. Fase ini melemahkan dorongan beragama yang muncul pada era pertama, dan masyarakat mulai kehilangan komitmen mereka terhadap berbagai hukum moral dari dasar keagamaan mereka, meskipun agama itu berkembang secara materi maupun intelektual. Alam menegaskan kembali kontrolnya atas individu dan masyarakat, secara bertahap mengurangi vitalitas peradaban itu sendiri dan membawanya pada kerusakan serta kemunduran. Ikatan-ikatan kemasyarakatan terurai, mengakhiri siklus peradaban. ‘Kecerdasan selalu merupakan fungsi ruh: ketika kecerdasan tidak lagi memiliki kemurniannya [tidak disertai spiritualitas dan keberagamaan yang patuh], ruh tidak lagi memiliki kearifannya.'” (h. 127-128)

Selanjutnya, “… ada dua fase yang menandai evolusi manusia: ‘praperadaban dan pascaperadaban. Pada fase pertama, manusia memiliki potensi menciptakan peradaban, sebagaimana halnya orang Arab pra-Islam; dalam fase pascaperadaban, manusia telah kehilangan kapasitasnya untuk bertindak membangun peradaban. Umat Muslim kini berada pada kondisi yang di dalamnya kekuatan peradaban mereka telah habis. Mereka terperangkap dalam silogisme berbahaya “Kami Muslim, karenanya kami sempurna”, yang cenderung melemahkan kemungkinan kesempurnaan pada individu dengan menetralisasikan semua hasrat dalam dirinya untuk mencapai kesempurnaan. Masyarakat melahirkan individu-individu yang tak bergerak karena terperangkap dalam kondisi biasa-biasa saja, tidak melakukan apa pun, dan kebanggaan diri. Semua hal ini membentuk elite moral baru pada manusia pascaperadaban Islam. Kelumpuhan moral membawa pada kelumpuhan intelektual. Pemikiran membatu “dalam dunia yang padanya tidak adalah lagi penalaran karena penalaran tidak lagi memiliki objek sosial”.” (h. 128)

“Hilangnya dorongan agama dalam masyarakat Muslim, khususnya, hilangnya hukum-hukum moral bagi tindakan kemasyarakatan dan individu -telah mendorong berbagai masyarakat Muslim menjadi tergantung sepenuhnya terhadap produk dan proses dari peradaban lainnya. Ketergantungan dan kemelaratan merupakan konsekuensi-konsekuensi yang tak terhindarkan.” (h. 128-129)

“Elemen pokok dari konstruksi Bennabi adalah gagasan colonisabilité, atau kecenderungan untuk menerima secara tak kritis berbagai norma, nilai, dan hukum dari peradaban-peradaban dominan atau penakluk. … masyarakat Islam berada dalam fase ‘pascaperadaban’ dan lebih rentan terhadap tuduhan ini. Umat Muslim mungkin tidak akan sedemikian terpengaruh berbagai gagasan Barat jika mereka sebelumnya tidak berada dalam kondisi cenderung menerimanya. Berbagai peradaban yang tenggelam sebenarnya telah kalah sebelum terjadinya pertemuan langsung dengan kekuatan-kekuatan dominan. Mereka telah kehilangan vitalitasnya dan dengan demikian, menjadi mangsa empuk. Peradaban dominan mungkin tidak perlu memulai penaklukan fisik untuk mencapai tujuan-tujuannya. Masyarakat yang terjajah, dan, lebih penting lagi, individu yang terjajah, telah takluk pada norma-norma penakluk, kerap dengan sedikit atau tanpa perlawanan sama sekali.” (h. 131)

“… seruan untuk kembali ke masa lalu awal Islam yang murni tidak akan mengarah pada pengembalian kesadaran orang-orang Muslim awal, tetapi pada berbagai teologi dan perdebatan Islam Abad Pertengahan. … Bahkan, proyek-proyek yang tampak menyeru untuk ‘kembali’ pada kehidupan Islam, seperti seruan untuk pemberlakuan kembali hukum Syariah, terbingkai sebagai tuntutan-tuntutan politis, terlepas apakah individu tersebut menerapkan Syariah dalam perilakunya sendiri. Dunia Islam mengalami erosi akibat berbagai skema dan proyek besar yang diekspresikan sebagai tuntutan politik. Padahal, kebutuhan yang sebenarnya adalah perubahan-perubahan dalam skala lebih kecil, bahkan berskala pribadi, yaitu perubahan perspektif dan perilaku yang secara kolektif mungkin menghasilkan lingkungan yang lebih kondusif bagi regenerasi sosial.” (h. 132)

Proposal Malek Bennabi adalah ciptakan kembali individu Islam bermoral melalui program kebudayaan yang luas.

Kelima, tantangan cendekiawan religius di tengah hegemoni cendekiawan agama

“Cendekiawan religius atau cendekiawan agamais adalah individu-individu yang mengombinasikan antara tekad teguh terhadap Islam sebagai sebuah ideologi perubahan dan kontak dengan Barat dalam derajat yang berbeda-beda. Mereka tidak sama dengan orang-orang yang memperoleh pendidikan dari jalur sekolah agama tradisional, baik Sunni maupun Syiah. … Ulama tradisional umumnya menganggap intelektual religius tak memiliki otoritas ilmu agama, apalagi semangat antikemapanan para intelektual religius kerap berkembang menjadi kampanye melawan peran dan kekuasaan ulama.” (h. 133-134)

Keberadaan intelektual religius adalah fenomena baru di dunia Islam, terjadi ketika sistem pendidikan telah terpisah sedemikian rupa antara sekolah agama dan sekolah negeri yang berdasar pada sistem pendidikan dan mengajarkan ilmu pengetahuan Barat. Saat ini, sulit menemukan polymath, yaitu orang-orang yang cendekiawan besar dalam ilmu pengetahuan sekaligus ulama atau ahli hukum Islam karena hal ini. Persoalannya adalah ketika antara ulama dan cendekiawan religius pun memiliki perseteruan, ulama yang berpikiran tradisional dan tak sensitif perkembangan zaman merasa terancam. Kasus yang terkenal mungkin adalah upaya-upaya penafsiran ilmiah Al Quran oleh ilmuwan muslim dari berbagai disiplin ilmu yang langsung diserang dengan argumen itu berbahaya karena para ilmuwan tersebut tak bisa berbahasa Arab, tidak tahu ilmu agama dari A sampai Z, bukan penafsir, dan sebagainya.

Para cendekiawan semacam ini banyak di dunia, tetapi mereka tak terangkat ke permukaan. Sebagian menjadi korban orang-orang tidak mampu menangkap niat baik dan apa yang ada di dalam hati mereka yang ingin berjuang membangkitkan Islam lewat ilmu pengetahuan yang tidak dikuasai oleh ulama-ulama tradisional. Persoalan bertambah parah ketika identitas lantaran keyakinan keagamaan personal cendekiawan religius ini berbeda. Pelajaran dalam dipetik dari kasus Abdus Salam, ahli fisika teoretis, yang Ahmadiyyah; banyak ilmuwan Syiah terhadap mayoritas Sunni, dan pula sebaliknya; kasus Syed Hossein Nasr, filsuf muslim kontemporer yang menganut filsafat perenial; atau bahkan Tan Malaka yang Marxis, kontribusinya tidak dihargai dan ditolak oleh kelompok-kelompok yang tidak sealiran dengan mereka karena perbedaan preferensi keyakinan tersebut.

Dunia intelektual Islam menyempit lantaran sentimen dan politik aliran-aliran yang memecah belah Islam yang besar. Cap kafir, antek Barat, liberal, sesat, atau keblinger, ditempelkan pada dahi mereka, jika tidak karena preferensi keyakinan pribadi, maka karena pemikiran mereka yang keluar dari pemikiran arus utama. Mereka tidak didekati dengan level pemikiran dan semangat keilmuan yang sama untuk kemudian dipahami pemikirannya dan dihargai sebagai khazanah dalam kebudayaan Islam, padahal mereka sama-sama menekuni ayat-ayat Allah seperti para ulama, hanya berbeda jenis, yang satu dari kitab, yang lain dari alam dan realitas sosial kemasyarakatan dan diri manusia.

Keenam, disintegrasi sejak di alam pikiran

Satu penyebab  kemunduran pemikiran dan pengetahuan dalam tubuh umat Islam adalah disintegrasi cara pikir muslim. Muhammad ‘Abid Al-Jabiri menulis tentang kritik pikiran Arab, yang dapat pula digeneralisasi pada seluruh Muslim di dunia Islam, bahwa “perumusan garis-garis besar pengetahuan Islam tidak terjadi selama periode pewahyuan, pada abad ketujuh atau tidak lama sesudahnya. Ia justru terjadi sewaktu kekuasaan Islam mulai mapan pada imperium luas dan mulai berurusan dengan berbagai sistem pemikiran yang sedang berkembang.” (h. 180)

“Pada abad-abad awal Islam, tiga bentuk pengetahuan Islam yang khas berevolusi, masing-masing mencerminkan cara tertentu berinteraksi dengan agama Islam.”

Pengetahuan pertama adalah al-bayan yang berdasarkan teks. Pengetahuan ini mengandalkan kajian teks-teks dasar Islam (Al Quran dan hadist) serta riwayat hidup, ucapan, dan tindakan Nabi. Pengetahuan ini berasal dari teks-teks yang otoritatif sehingga tidak ada bentuk pengetahuan lain yang dapat digunakan untuk mengubah keputusan atau aturan, sepanjang pengetahuan ini diperoleh berdasarkan analisis tekstual yang tepat. Pengetahuan ini sangat membutuhkan kemampuan berbahasa Arab dalam rangka mencari kesimpulan yang benar untuk meletakkan dasar teologi, yurisprudensi, dan penalaran hukum Islam. Pengetahuan tekstual ini dipandang telah mencapai akhir. Semua hal telah dicapai beberapa abad setelah Islam muncul, semua hal bermanfaat yang dapat disampaikan telah disampaikan. Tipe penalaran tekstual ini adalah yang dianut orang-orang Salafi dan Wahhabi.

Pengetahuan kedua adalah al-irfan, yakni pengetahuan mistik yang berasal dari keadaan batin yang mendapatkan pencerahan spiritual. Bentuk-bentuk pengetahuan ini meliputi cabang-cabang esoteris Islam, seperti sufisme, hikmah (filsafat kebijaksanaan), filsafat pencerahan, dan kosmologi. Bentuk pengetahuan ini menciptakan alam semesta simbol dan kiasan, makna tersembunyi dan nyata, pengetahuan-pengetahuan yang “tinggi” dan “rendah”. Pengetahuan ini, berbeda dengan al-bayan yang penuh aturan dan terbatas (karena sudah final), tidak terikat oleh aturan khusus dan dapat berkembang ke berbagai arah yang tak terbatas jumlahnya. Bentuk pengetahuan ini menghidupkan dan menumbuhkan kepekaan estetika dan budaya/ spiritual, meski tidak punya peran dalam pengelolaan dan penataan hal-hal duniawi.

Pengetahuan ketiga adalah al-burhan yang berasal dari pengamatan dan bukti empiris. Pengetahuan ini didasarkan pada hubungan sebab-akibat dan memberikan ruang bagi perkembangan rasionalitas yang berpatokan pada hukum-hukum alam. Tipe pengetahuan inilah yang paling tertinggal dalam kehidupan modern umat Islam, dan seharusnya dapat berkembang mengikuti perkembangan rasionalitas modern.

Sebabnya adalah: 1) pengetahuan ini selalu dianggap sekunder jika dibandingkan dengan al-bayan dan al-irfan. Para praktisinya, para ilmuwan Muslim, wajib tunduk pada dua tipe pengetahuan lainnya dan hampir pasti menemui hambatan ketika pendapat berdasar temuan mereka bertentangan dengan teks-teks dasar Islam.

2) Sejak di masa lalu, telah terjadi dikotomi Islam Barat (yang berkembang di Afrika Utara/ Maghreb dan Spanyol/ Andalusia dan Islam Timur ( di Timur Tengah). Corak Islam Barat adalah rasional, karena pengaruh tokoh-tokoh seperti Ibn Rusyd, Ibn Khaldun, dan teolog Al-Syatibi yang mendukung Islam yang empiris dan utilitarian. Penalaran rasional ini pada masa itu dihambat oleh para ulama, Sufi, dan teolog dari timur yang menolak filsafat, penalaran, dan kecerdasan manusia yang tanpa bimbingan wahyu. Tradisi pemikiran Islam Barat ini punah sehingga pendefinisian pengetahuan Islam hanya berpijak pada teks-teks dasar dan pengetahuan mistis. Penalaran hanya menjadi alat untuk mendorong kemajuan al-bayan dan al-irfan dan kurang diberi kesempatan untuk berkembang secara independen. Perlu diketahui bahwa tipe penalaran rasional inilah yang kemudian dibawa ke Eropa dan mendorong perkembangan keilmuan di sana.

Menurut al-Jabiri, “Masalah pemikiran Islam ialah ia terperangkap dalam lingkaran setan. … Ketika rasionalitas diberikan peran sekunder, hanya sebagai pendukung (pengetahuan yang berpijak pada teks serta dimensi esoteris dan mistiknya), nilai pengetahuan empiris berkurang, dan capaian apapun yang mungkin dihasilkannya kemudian dicap sebagai meniru pemikiran Eropa. Bangsa Eropa berhasil melampaui segi-segi pengetahuan agama yang bersifat membatasi dan membangun peradaban sains dan teknologi berdasarkan pemisahan yang sistemis dengan masa lampau. Pengetahuan empiris didasarkan pengamatan. Pengujian dan pengukuran menjadi tolok ukur interpretasi dan eksploitasi alam. Sementara itu, pengetahuan Islam terus berkisar pada sistem-sistem pengetahuan yang sifat-sifat esensialnya telah ditetapkan. Otoritas masa lalu menjadi yang tertinggi dan membuat usaha apa pun untuk meninggalkan otoritasnya menjadi patut dicurigai.” (h. 183)

Disintegrasi cara berpikir ini tidak bersumber dari ajaran Islam melainkan hasil ketegangan-ketegangan dalam masyarakat intelektual ini. Pengetahuan Islami seharusnya didirikan dengan tiga kaki: prinsip-prinsip dari al-bayan, kepekaan spiritual dari al-irfan, dan bukti-bukti ilmiah dan penalaran yang masuk akal dari al-burhan. Dengan begitu, tidak akan pernah terjadi kasus “hoax penyubur iman” yakni keimanan yang dibangun berdasarkan temuan ilmiah yang bohong dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, atau kasus para intelektual liberal dan ulama fundamentalis yang ekstrem dengan ideologi-ideologi mereka yang berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia gara-gara cara berpikir yang cacat, atau para mistikus kebablasan yang melanggar syariat.

Sistem pendidikan Islam masih lemah dalam usaha mengintegrasikan kembali ketiga hal tersebut dalam diri anak didik. Mereka yang belajar di pesantren dan sekolah agama cenderung tenggelam dalam al-bayan; mereka yang dididik dalam institusi pendidikan sekuler atau yang kecewa pada ajaran agama yang tidak masuk akal dan tidak bisa menjawab persoalan kehidupan modern, menjadi liberalis yang mendewa-dewakan al-burhan; mereka yang muak dengan atau sejak awal tidak kompeten dalam al-bayan dan al-burhan, mengasingkan diri dan mencari sendiri Tuhan lewat tradisi-tradisi mistik yang sesat. Persoalan juga bertambah berat ketika bahkan dari para guru mereka pun sudah saling berkelahi, tidak mau mengakui, dan mendiskreditkan guru-guru dengan cara berpikir lain sebagai sesat, sesat, dan sesat. Permusuhan abadi para ahli tasawuf dan ahli syariat, sufi dan salafi adalah buktinya; ketidakcocokan banyak ilmuwan dengan ulama pun buktinya yang lain.

Semua menjadi begitu bodohnya karena tidak melihat kebodohan dalam diri sendiri! Ya Allah, selamatkanlah kami dari kebodohan ulama-ulama, ilmuwan-ilmuwan, dan para spiritualis yang seperti itu… Ya Allah, parabel “orang buta dan gajah” benar-benar dapat diterapkan untuk umat Islam…

***

Setelah menulis bagian yang saya kira akan memberikan harapan ini, saya justru semakin sedih… Begitu banyak rakyat di akar rumput yang sudah menjadi korban penguasa-penguasa yang korup dan zalim, juga menjadi korban para ulama dan ilmuwan yang bodoh. Tidak cukup bencana alam dari waktu ke waktu, gempuran-gempuran dari peradaban asing, entah dari Eropa, Amerika, India, Jepang, Tiongkok, Korea, melunturkan identitas keislamannya, mengkritik cara hidupnya, menggodanya ke sana dan ke mari…

Krisis peradaban Islam adalah ketika Islam sudah hampir tinggal nama dan diri Muslim ibarat kerompong ketupat, dimasak lama, tetapi isinya kosong.

Bagaimana kita setelah ini?

4 thoughts on “Tentang Krisis Peradaban Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s