“Go Set a Watchman”: Keindahan Nurani dalam Sebuah Novel

“Yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, Jean Louise, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nuraninya.”

 

Beberapa waktu yang lalu saya dikejutkan dengan kabar meninggalnya Harper Lee (April 28, 1926 – February 19, 2016), novelis asal Amerika Serikat, salah satu penulis favorit saya. Saya terkenang pada “To Kill a Mockingbird”-nya (TKaM) yang saya baca bertahun-tahun yang lalu dengan meninggalkan banyak sekali kesan mendalam. Kali ini saya berkesempatan membaca novel keduanya yang merupakan sekuel dari TKaM, yaitu “Go Set a Watchman” (GSaW; Qanita, 2015). Sama seperti buku sebelumnya, kisah kali ini pun meninggalkan banyak kesan, menceritakan Jean Louise Finch yang kini telah menjadi wanita 26 tahun.

GSaW, sama seperti TKaM, menceritakan tentang persoalan rasial, diskriminasi dan ketegangan-ketegangannya di tengah masyarakat yang penuh prasangka, dengan perspektif moral yang berbeda. Di TKaM kita membaca kepahlawanan Atticus Finch, seorang pengacara dengan integritas diri yang tinggi, ayah Jean Louise “Scout” Finch, yang membela seorang warga kulit hitam yang dituduh melakukan tindak kriminal yang tidak dilakukannya dan didakwa bersalah lantaran sentimen dan bias rasial bahwa tak pernah ada sebelumnya orang kulit hitam memenangi kasus atas orang kulit putih.

Kita juga membaca bagaimana isu moral, keadilan dan kemanusiaan disorot di situ. Hal yang paling menyentuh bagi saya adalah tentang bagaimana Atticus menghidupkan hati nurani anak-anaknya, mulai dari tidak menilai orang dari kulit luarnya saja, belajar memahami orang lain dengan berusaha melihat dengan sudut pandangnya, menghargai manusia sebagai sama-sama manusia meskipun ada perbedaan-perbedaan, dan membantu mereka untuk peka mendengar bisikan hati nurani yang masih murni, belum tercemar oleh kehidupan.

Dari TKaM, saya mendapat satu kalimat bijak yang sangat kuat. “Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang.

***

Go Set a Watchman

 

GSaW adalah kelanjutan kisah perjuangan menegakkan hati nurani di tengah gempuran keyakinan dan opini mayoritas. Hanya saja, satu yang membuatnya lebih kompleks adalah ini tidak hanya tentang perlawanan terhadap dunia manusia-manusia yang zalim, tetapi juga tentang perlawanan terhadap diri dengan egonya yang selalu merasa yang paling benar dan tidak mau mendengarkan orang lain. Di sini persoalan moralitas dan hati nurani di bawa ke tingkat yang lebih tinggi, seiring dengan semakin dewasanya si tokoh utama, Jean Louise Finch. Membaca GSaW kita akan diajak untuk memahami bahwa meskipun semua manusia diberi Tuhan hati nurani yang sama, kebenaran moral yang dihasilkannya tidak tunggal. Setiap orang pun bergerak dan berjuang berdasarkan keyakinan yang lantas berbeda-beda.

GSaW menceritakan tentang pengalaman Jean Louise ketika ia pulang kampung ke Newcomb County. Dibesarkan oleh ayah seperti Atticus Finch, dan sejak kecil tak beribu, dia tumbuh menjadi seorang wanita cerdas yang keras kepala, begitu percaya diri, dan teguh pendirian terutama terkait nilai dan keyakinan-keyakinan moralnya yang menjunjung tinggi persamaan hak dan kemanusiaan sebagaimana yang ditanamkan ayahnya. Ia menjadi pecinta dan pembela kaum kulit hitam, yang demi itu ia berani melawan kaumnya sendiri yang kulit putih. Ia seorang idealis fanatik dengan pandangan yang hitam-putih.

Ia pulang dan segera menghadapi masalah besar ketika mengetahui ayahnya bergabung dengan para anggota Dewan Kota dan tampak mendukung suatu kebijakan sosial atau politik rasis yang menolak persamaan hak sipil untuk masyarakat kulit hitam pada saat itu. Hal itu benar-benar tidak seperti diri ayahnya yang dikenalnya. Ia yang begitu mengagumi dan meneladani ayahnya, berubah menjadi tidak percaya, begitu kecewa dan marah luar biasa pada ayahnya, menganggap ayahnya telah mengkhianati nilai-nilai yang beliau sendiri ajarkan dan tanamkan pada dirinya sejak ia kecil. Ia tidak bisa menerima ayahnya yang seperti itu. Ia begitu muak pada keluarganya sendiri, dan juga seluruh warga kota yang memiliki pandangan serupa.

Ia kemudian bertemu dengan seorang pamannya, Dr. Finch yang kemudian mengajaknya berdiskusi untuk memahami duduk persoalannya termasuk sikap ayahnya. Ia dibantu untuk melihat persoalan dari perspektif yang lebih besar dan sejumlah fakta-fakta tentang kaum kulit putih dan hitam. Ia dibawa untuk melihat kembali ke belakang, ke sejarah yang membuat masa kini Amerika Serikat (saat itu era pertengahan abad 20) yang dihantui persoalan rasial.

Semua berawal dari perbudakan yang dihapuskan di Amerika Serikat. Ketika orang-orang kulit hitam dibebaskan dan hidup bersama dengan orang-orang kulit putih, ada masalah sosial yang mengikuti bahwa orang kulit putih mulai merasa terancam secara sosial maupun politik. Orang kulit hitam membentuk kelas sosial baru. Seiring dengan berlalunya waktu, mereka bersatu dan membentuk National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) yang kontroversial.

Di wilayah selatan di mana meski orang kulit putih menguasai pemerintahan, tetapi mayoritas penduduk di sana adalah kulit hitam, kekuatan orang kulit hitam semakin meresahkan. Dengan sistem demokrasi, jika orang kulit hitam diberi hak sipil dan hak bersuara yang sama, maka yang dikhawatirkan selanjutnya adalah kekacauan dalam tatanan sosial yang sudah ada. Jika dibandingkan dengan orang kulit putih yang lebih berbudaya dan berpendidikan, orang kulit hitam relatif masih kurang. Dengan kekurangan semacam itu, bagaimana jadinya jika urusan-urusan publik dan pemerintahan dipercayakan atau dikuasai oleh mereka? Karena itu, mereka tidak bisa (atau belum bisa) diberi hak sipil yang sama.

Di satu sisi, memang itu tampak sebagai suatu bentuk diskriminasi, tetapi di sisi lain, itu adalah hal yang diperlukan demi kebaikan masyarakat. Jean Louise dengan nuraninya berusaha membela hak-hak orang kulit hitam dan ingin meruntuhkan setiap diskriminasi. Ia memiliki landasan yang kuat, bahkan pada agama yang dianutnya dan rasa kemanusiaannya. Ia telah hidup lama bersama orang-orang kulit hitam, akrab dan berteman dengan mereka, bahkan dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh seorang pengasuh kulit hitam. Sementara itu, Atticus, ayahnya, memiliki rasa kemanusiaan yang sama. Sebagai pengacara, ia selalu sebaik-baiknya membela hak mereka. Tetapi, kali ini, ia mempertimbangkan persoalan yang lebih besar bahwa ada konsekuensi dari persamaan hak ketika pihak yang diberikan hak itu belum mampu bertanggung jawab atas anugerah itu.

Di satu titik konflik ayah dan anak itu benar-benar memuncak. Jean Louise bertengkar dengan Atticus dan bertekad angkat kaki selama-lamanya dari kota kelahiranya dengan amarah yang berkobar-kobar.

Namun demikian kejadiannya, penulis, Harper Lee, dengan GSaW-nya ini tidak hendak ikut membawa orang-orang ke dalam konflik yang sama dan membuat pembacanya memihak pada Jean Louise atau Atticus. Persoalan dan dilema moral dibawanya lagi ke level yang lebih tinggi di akhir ceritanya. Masalah utama bukan lagi tentang apa yang benar dan siapa yang lebih atau paling benar, melainkan apa yang bijak. Seperti apa sikap yang bijak ketika menghadapi perbedaan-perbedaan pendirian lantaran perbedaan pemikiran dan kebenaran yang diyakini.

Setiap orang bebas hidup dengan hati nuraninya sebagai penjaga dirinya dan memperjuangkan keyakinannya, tetapi yang terpenting adalah bagaimana orang-orang yang memiliki hati nurani tersebut mau saling mendengarkan dan saling memahami hati satu sama lain, apa sebetulnya tujuan atau motif yang dimiliki. Dari situlah akan ada penerimaan dan perdamaian di antara orang-orang yang sama-sama baik dan benar.

.. lihatlah lebih jauh daripada tindakan seseorang… “Seseorang mungkin bisa menjadi bagian yang dari luar kelihatan tak terlalu bagus, tapi jangan menilainya sebelum kau memahami motifnya. Seseorang mungkin saja mendidih dalam hatinya, tapi dia tahu jawaban lemah lembut akan lebih berguna daripada kemurkaan. Seseorang mungkin saja mengutuk musuhnya, tetapi lebih bijak mengenal mereka.”

— Hank to Scout, “Go Set A Watchman”, h. 239-240

Satu isu yang diangkat terkait hal ini, tidak lain dan tidak bukan, adalah soal fanatisme pada kebenaran diri sendiri. Orang yang fanatik, ia percaya buta pada apakah itu agama, golongan, kepercayaan, atau pendapatnya sendiri. “Apa yang dilakukan seorang fanatik saat dia bertemu dengan seorang yang menentang keyakinannya? Dia tak mau menyerah. Dia tetap kaku. Tak mau mendengar, tapi langsung marah.” (h. 275)

Rasa keadilan dan rasa kebenaran yang bersumber dari hati nurani dapat diiringi oleh fanatisme seperti itu dan itu adalah sebab bencana yang lain. Kebenaran tidak bisa dibesarkan dalam jiwa yang kerdil semacam itu, yang kekanak-kanakan, yang hanya mau tahu tentang dirinya sendiri itu. Kebenaran yang semacam itu akan membuahkan kesalahan yang lain dan penderitaan yang lebih banyak. Banyak perang di dunia ini terjadi bukan disebabkan oleh orang yang salah dan yang benar, melainkan oleh dua pihak yang sama-sama merasa benar, fanatik pada kebenarannya sendiri.

Hati nurani orang yang sudah dewasa seharusnya tidak sama seperti ketika ia masih anak-anak. Hati nurani anak-anak masih begitu polos dan ekspresif. Ketika terjadi sesuatu yang tidak benar, ia akan langsung menangis sebagai bentuk perlawanannya yang lemah, tetapi jujur, TETAPI egoistik. Orang dewasa tidak dapat bersikap seperti itu. Ia tidak bisa lagi hanya mendengarkan teriakan dan tangisan hatinya sendiri. Ia perlu mendengarkan suara orang lain; memberikan ruang bagi pendapat orang lain, meskipun pendapat itu tampak konyol, tak masuk akal, atau tidak benar menurut dirinya. Itu adalah bentuk lain dari mata hati yang terbuka, tidak hanya pada kebenaran yang ditemukan sendiri di dalam hati, tetapi kebenaran yang juga dibawa oleh orang lain.

Ketika Jean Louise mulai mengerti, ia akhirnya tahu bahwa sikap ayahnya itu bukan disebabkan oleh jiwanya yang berubah menjadi rasis. Ayahnya tetap ayahnya, tidak sama seperti kebanyakan penduduk kota yang termakan prasangka rasial. Ia hanya melihat kehidupan dengan perspektif yang berbeda dan menggunakan pendekatan yang berbeda untuk mencegah atau mengatasi masalah yang lebih besar. Sebagai pengacara, ia tetaplah pengacara yang berintegritas dan adil terhadap siapapun kliennya, tetapi terhadap bangsa dan negaranya, sebagai warga masyarakat profesional, ia pun punya kewajiban untuk membantu memelihara tatanan sosial yang berlangsung dan tidak membiarkannya diobrak-abrik oleh sekelompok orang yang bergerak karena sentimen rasial dan keberpihakan pada kelompoknya sendiri. Sekalipun itu membuatnya harus bekerja sama dengan rekan-rekan kulit putihnya yang rasis, ia tidak kehilangan dirinya.

Akhirnya, Jean Louise pun berbaikan dengan ayahnya. Ketika hubungan keduanya mesra kembali sebagai ayah dan anak, sebagai epilog, GSaW mengajarkan tentang kebesaran hati seorang ayah. Ini seperti yang pernah dikatakan oleh Bruce Lee, satu kalimat bijaknya benar-benar saya ingat bahwa “guru yang baik melindungi muridnya dari pengaruh dirinya sendiri”. Sikap Atticus adalah penuh kebanggaan pada Jean Louise.

… kuharap putriku akan mempertahankan apa yang menurutnya benar -lagi pula dia sudah berani menghadapiku. (h. 285)

Orangtua yang baik memerdekakan anaknya dari pengaruh dirinya sendiri dan percaya pada anaknya untuk hidup dengan pemikirannya sendiri, berdasarkan apa kata hatinya tentang apa yang benar. Jika itu tercapai, itulah saat di mana pada akhirnya seorang ayah atau ibu tidak perlu lagi menjadi penjaga diri anak-anaknya; sudah ada “malaikat penjaga” ketika hati nurani, si pembisik kebenaran, menjadi pembimbing perilaku dan hidup mereka.

Itulah inti dari “Go Set a Watchman”. A watchman, seorang penjaga. Penjaga yang sebenarnya menjaga dan melindungi seseorang dari marabahaya seharusnya bukanlah setumpuk aturan yang dingin, atau keberadaan orang lain yang dianggap lebih tahu dan memiliki mata lebih tajam, melainkan sesuatu yang sudah ada di dalam jiwa setiap orang, yaitu hatinya, tempat paling suci dan paling terang oleh cahaya Ilahi. Orang yang hatinya hidup, ia tak memerlukan penjagaan aturan atau orang lain. Tuhan sendiri yang menjaganya.

***

Berikut ini adalah beberapa kalimat favorit saya dalam buku GSaW. Semoga teman-teman pembaca ikut mendapatkan pelajaran yang sama dari buku ini😀

“Kalau kau tidak punya banyak keinginan, hidupmu selalu berkecukupan.” (h. 15)

 

“… kita sedang dalam situasi rumit yang sama. Sepasti berlalunya waktu, sejarah kembali berulang, dan seyakin aku pada sifat manusia, maka sejarah adalah tempat terakhir yang dicari manusia untuk mengambil pelajaran.”

— Dr. Finch to Scout, h. 206

 

“Kelahiran manusia adalah hal yang paling tidak menyenangkan. Berantakan, menyakitkan, dan kadang berisiko. Dan, selalu berdarah. Begitu juga dengan peradaban.”

— Dr. Finch to Scout, h. 208

 

… lihatlah lebih jauh daripada tindakan seseorang… “Seseorang mungkin bisa menjadi bagian yang dari luar kelihatan tak terlalu bagus, tapi jangan menilainya sebelum kau memahami motifnya. Seseorang mungkin saja mendidih dalam hatinya, tapi dia tahu jawaban lemah lembut akan lebih berguna daripada kemurkaan. Seseorang mungkin saja mengutuk musuhnya, tetapi lebih bijak mengenal mereka.”

— Hank to Scout, h. 239-240

 

“Yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, Jean Louise, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nuraninya. Tak ada yang namanya kesadaran kolektif.”

— Dr. Finch to Scout, h. 272

 

“Ingatlah ini juga: mudah untuk mengenang kembali siapa diri kita, kemarin, sepuluh tahun lalu, tapi sulit melihat siapa diri kita sekarang. Kalau kau bisa menguasai keahlian itu, kau akan baik-baik saja.”

— Dr. Finch to Scout, h. 276

 

“Prasangka, kata kotor, dan keyakinan buta, punya kesamaan: mereka dimulai saat akal sehat berhenti digunakan.” Itulah salah satu keanehan di dunia.

— Dr. Finch to Scout, h. 278

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s